Steik Tuna Pak Presiden

“Kami makan di restauran,” Keith berkata padaku. “Aku, Pak Presiden, Ibu Negara, dan Dr. Lee.”

Keith adalah pasien baruku, sehingga aku harus benar-benar mempelajari catatan medisnya.

Keith mengalami gangguan nafas akut, demam di malam hari dan sering mengeluh masalah ginjalnya. Terapi yang diberikan Dr. Lee hanya pengobatan jangka pendek, dan ini sangat menggangguku.

Namun aku dokter berpengalaman. Aku tahu lebih dari dua ribu komposisi obat berserta nama paten dan nama perusahaan farmasi yang memproduksinya. Itu karena aku selalu meminta Bob untuk membelikanku buku panduan daftar obat terbaru setiap bulan—kami menyebutnya MIMS—sebagai upayaku mengikuti perkembangan obat-obatan terbaru.

“Baiklah Keith, buka kancing bajumu.”

Keith agak lama merespon permintaanku sehingga aku harus mengulang sekali lagi dengan lebih keras.

“Maafkan aku, Dok. Aku masih teringat makan malamku dengan Pak Presiden.”

“Kau selalu mengingatnya. Kau selalu ingin menceritakannya.”

Keith membuka kancing bajunya, tapi ia membuka semuanya.

“Keith, kau tidak perlu membuka semuanya. Dua kancing saja.”

“Oh, eh. Maaf, Dok.”

Keith selalu minta maaf. Maaf untuk ini, maaf untuk itu. Aku tidak mengerti apa kesalahannya pada orang lain. Untungnya aku seorang dokter profesional yang dengan kesabaranku mendengar segala keluhan non medis pasien-pasienku. Kautahu, sering kali hanya dengan mendengar keluhan dan memberi sedikit masukan, pasien bisa sembuh lebih cepat.

“Jadi, kau makan malam apa dengan … Presiden kita?” tanyaku sambil menahan geli ketika menyebut ‘Presiden kita’.

“Kau tertawa, Dok.”

“Tidak. Aku tidak tertawa.”

“Ya, kau tertawa.”

“Ok, Keith. Aku tertawa. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Dok.”

“Diam, Keith! Aku tidak bisa mendengar detak jantungmu.”

“Maaf, Dok.”

Aku selesai memeriksa detak jatungnya. Tidak ada masalah. Iramanya stabil dan terdengar sangat kencang di telinga. Stetoskop membuat kedua telingaku sakit.

“Sekarang buka mulutmu lebar-lebar.”

Keith membuka mulutnya sangat lebar, bau tidak sedap keluar dari dalamnya.

“Keluarkan lidahmu dan katakan: ‘AAA’.”

Keith menuruti perintahku. Aku mulai mengarahkan senter kecilku sambil menahan bau mulutnya. Kulihat gigi graham atas dan bawahnya berlubang dan lidahnya sangat pucat. Aku berpikir sebentar. Sepertinya itu hanya gejala tifus. Tapi diagnosaku mengarah pada penyakit aneh yang terjadi belakangan ini seperti covid-19, flu babi, flu burung, atau sapi gila.

Keith mengatakan sesuatu yang tidak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya.

“Sebentar, Keith,” kataku. “Aku sedang berpikir.”

Keith mengangguk. Seharusnya ia mengerti tugas seorang dokter. Menentukan penyakit dan obat-obatan yang akan diberikan pada pasien merupakan sesuatu yang penting dan butuh kesabaran.

“Oke, kau boleh menutup mulutmu.”

Setelah menutup mulutnya Keith berkata, “Aku sakit apa, Dok?”

“Entahlah. Sekarang berbaringlah.”

Aku menekan bagian kiri perutnya. “Kau merasa sakit di bagian ini?”

“Tidak, Dok. Bagian itu baik-baik saja.”

“Bilang kalau terasa sakit.”

Kemudian aku memindahkan tanganku ke bagian tengah perutnya, lalu naik sedikit, dan menekannya lebih keras.

“Hu-uh, itu sakit sekali, Dok. A-aku tidak bisa bernafas.”

Aku kembali ke mejaku dan berpikir lagi. Dan setelah mendapat kesimpulan, aku memanggil Keith dan menyuruhnya duduk di hadapanku.

Keith melompat dari ranjang seperti anak kecil, kemudian ia duduk menunggu dengan tenang sementara aku menulis resep obat untuknya.

Aku seorang dokter spesialis jantung lulusan Harvard yang bertugas multifungsi sejak menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Rumah sakit yang kumaksud adalah rumah sakit kelas satu di Chicago dengan fasilitas payah. Ini malam Natal, semua dokter merayakan Natal bersama keluarga. Kecuali, tentu saja aku, yang dengan tulus selalu mendampingi pasien, dan kedua juniorku di UGD. Satu jam lagi aku akan melakukan operasi usus buntu, lalu setelah itu berkunjung ke bangsal TBC untuk memantau keadaan pasien-pasienku. Dan dalam semua kasus, aku terpaksa menjadi psikiater.

“Keith, kau belum menceritakanku tentang makan malammu.”

Well, Dok. Pak Presiden memesan makanan untukku. Beliau bertanya, apakah aku suka steik? Aku jawab aku sangat suka steik. Kautahu Dok, aku suka semua makanan.”

“Jadi, apa yang kaumakan?”

“Steik tuna.”

“Kaumakan steik tuna?”

“Pak Presiden juga makan steik tuna. Sangat lezat, Dok.”

“Presiden tidak makan steik. Ia vegetarian sama sepertiku.”

“Tidak, Dok. Pak Presiden makan steik tuna, dan beliau bilang ini steik terlezat di Chicago.”

“Kau salah, Keith. Presiden tidak makan daging. Begitu juga istri dan ketiga anaknya. Ia mendidik keluarganya dengan baik untuk hidup sehat. Kautahu, daging itu penuh dengan parasit. Parasit itu sumber penyakit. Aku mempelajarinya di Harvard.”

“Tapi ikan bukan daging, Dok. Pak Presiden makan Steik tuna. Beliau menghabiskannya dan hampir nambah jika tidak menyadari dirinya sedang berada di hadapan wartawan.”

“Aha! Kau pintar, Keith. Tapi kau tidak cukup cerdas. Apakah kau punya cukup bukti bahwa Presiden makan steik? Kaubilang ada wartawan. Kau bisa menunjukkan beritanya padaku?”

“Tidak, Dok. Aku tidak punya korannya.”

“Jadi kau mengakui kalau aku yang benar dan kau yang salah.”

“Kau benar, Dok. Aku yang salah. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Keith.”

Aku merobek lembaran kopi resep dan memberikannya pada Keith. Ia membaca resep yang kutulis. Lama sekali ia membacanya.

“Kau tidak perlu menatapnya. Berikan saja pada orang di apotik dan ambil obatnya.”

“Baik, Dok.”

Keith berjalan ke luar ruangan, tapi ia berhenti di tepi pintu, lalu mengucapkan sesuatu yang tidak perlu padaku.

“Terima kasih, Dok.”

Aku ingin tertawa setiap kali mengingat Keith yang terobsesi ingin bertemu Presiden. Keith memang pasien yang spesial. Dan untuk setiap pasien spesial yang kutangani, aku memang sering mengikuti permainannya. Tapi menyetujui Presiden makan steik adalah mustahil, karena aku tahu betul kawan masa kecilku itu.

Aku bangkit dan berdiri di hadapan cermin, memandang diriku dalam jas putih baru yang terlalu sempit hingga membuat perih ketiakku. Mungkin lain kali aku akan meminjam jas dr. Allan. Ukuran tubuhnya sama denganku.

Sebentar kemudian dr. Lee datang bersama Bob. Aku menyukai dr. Lee karena ia seorang wanita cerdas meskipun harus kuakui ia tidak lebih cerdas dariku dalam menganalisa penyakit dan memberikan terapi untuk para pasien.

“Jadi, Keith pasien terakhirmu, Joe?”

“Aku masih ada satu operasi dan beberapa kunjungan, Dok.”

“Kau sangat sibuk, ya?”

“Begitulah. Oh ya, aku memberi Keith resep obat terbaik. Ia akan sembuh dalam beberapa hari.”

“Kau memang hebat Joe. Jadi, boleh kuminta jasku kembali.”

“Silahkan, Dok.”

Aku melepas jasnya dengan susah payah dan memberikannya padanya.

“Dok, boleh aku bertanya padamu?”

“Tentu.”

“Apa betul Presiden menyukai steik tuna?”

“Presiden sangat menyukai steik tuna, Joe. Darimana kautahu? Ah, Keith pasti memberitahumu.”

Aku melihat Bob memberikan koran pada Dr. Lee, lalu Dr. Lee menunjukkan padaku halaman depannya. Di situ ada foto Dr Lee, Keith, Presiden dan Ibu Negara, dan Bob berdiri di samping mereka. Aku meminta koran itu untuk kubaca. Bob memberikannya padaku. Tapi aku tidak membaca apapun. Tapi kalau kau bisa membaca, seperti inilah tulisan tersebut di koran:

PRESIDEN MENYUMBANG US$ 200.000 UNTUK RSJ CHICAGO

“Seharusnya kau yang makan malam dengan Presiden, Joe. Tapi malam itu kau terus menendang-nendang ranjang dan menyakiti dirimu sendiri. Bob terpaksa harus mengikatmu. Kauingat, kan?”

“Aku ingat, Dok. Maafkan aku.”

“Sekarang kau kembalilah ke kamarmu. Bob akan mengantarmu.”

“Okay, Dok.”

Bob menarik tanganku dengan lembut, tidak seperti yang biasa dilakukannya padaku. Aku baru akan melangkah ketika teringat sesuatu.

“Dr Lee?” panggilku.

“Ya, Joe,” jawabnya, tersenyum. Senyumnya seperti malaikat.

“Terima kasih sudah mengusir iblis-iblis itu dari kamarku.”

“Sama-sama, Joe.”

Aku memandang Dr. Lee untuk terakhir kalinya malam itu. Aku menyukai 89 di bajuku. Dr. Lee bilang iblis-iblis tidak akan datang kembali selama 89 itu masih menempel di bajuku.

*      *      *

Catatan: Judul asli cerpen ini “Steik Tuna Mr. Obama”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!