Dua Juta Dolar

Setelah hampir dua puluh tahun tidak bertemu, kami bertemu lagi di Indomaret, waktu itu saya baru akan ke kasir saat mendengar seseorang memanggil nama saya,

“Supri!”

Saya menoleh ke belakang dan melihat teman SMA saya sedang membawa satu kaleng minuman. Saya masih ingat betul namanya. Saya juga masih ingat BMW merah, Jeep atau Mazda-nya yang dipakainya bergantian ke sekolah, yang diparkir dekat ruang koperasi, di bawah pohon beringin yang rindang, sampai semua orang di sekolah paham bahwa, tempat itu dikhususkan untuk parkir mobilnya.

“Bobby?” sahut saya pura-pura lupa, supaya lebih seperti kejutan, terlebih dengan penampilan Bobby yang terlihat keren; dengan jam tangan Rolex-nya, sepatu sneaker edisi terbatas, kaos bertuliskan huruf LV besar.

Kami pun bersalaman. Jabatan tangannya mantap seperti jabatan tangan orang sukses. Sekilas matanya melirik barang-barang di dalam keranjang belanja saya, yang berisi tepung terigu, minyak goreng, roti, susu, popok, makanan kucing.

“Tunggu sebentar,” kata Bobby pergi ke lemari es, dan kembali dengan satu kaleng minuman lagi. “Biar aku yang bayar.” Ia menunjuk belanjaan saya.

Tentu saja saya tidak menolaknya, seperti pepatah bilang, jangan menolak kebaikan orang lain. Saya kemudian menaruh barang belanjaan saya di meja kasir, Bobby menaruh dua kaleng minuman di sebelahnya, lalu kasir menghitungnya, dan Bobby membayar semuanya dengan kartu debit-nya. Bobby memang seperti itu sejak SMA, suka mentraktir teman-temannya. Saya ingat pernah ditraktirnya tiga atau empat kali, yang saya pikir ia sedang menunjukkan kedermawanannya di hadapan teman-temannya. Sekalipun begitu, saya tidak malu diperlakukan demikian. Traktiran Bobby sangat berarti saat itu.

“Lagi nggak sibuk, kan?”

Saya menggeleng kepala.

“Bagus. Kita duduk dulu, ngobrol-ngobrol sebentar. Sekalian nunggu mobilku diservis.” Ia menunjuk bengkel di seberang jalan, atau lebih tepatnya menunjuk sebuah Mercedes Benz putih. Kemudian kami berjalan ke luar dan duduk di kursi besi di teras mini market. Bobby membuka kaleng minumannya dan berkata, “Ayo, diminum.”

Sebetulnya sudah hampir tiga bulan saya diet minum soda, tetapi saya merasa tidak enak kalau traktirannya tidak diminum.

“Sudah berapa lama?”

“Dua puluh tahun.”

“Oh iya, dua puluh tahun. Nggak nyangka sudah selama itu. Sepertinya baru kemarin kita lulus. Kamu nggak datang ke reunian ya?”

Yang dimaksud Bobby reunian dua tahun lalu, di The Ritz-Carlton Jakarta. Saya dapat kabarnya dari Deden, yang datang ke reunian itu. Deden bilang mereka mengundang DJ terkenal, juga disediakan minuman beralkohol, sehingga lebih mirip pesta ketimbang reunian. “Mending nggak usah datang,” kata Deden. Deden, yang nasibnya dulu sepertiku, miskin, lebih memilih memisahkan diri, duduk di pojokan bersama Rizky dan Mahdi. Ketiganya akhirnya memutuskan pulang sebelum acara selesai.

“Sayang banget kamu nggak datang. Memang sih undangannya pakai tiket, tapi kurasa tidak mahal-mahal amat. Kalau tahu kamu tidak datang karena masalah tiket, aku bisa bayari kamu kok.”

Kemudian, ia membicarakan dirinya sendiri. Yang dilakukannya usai lulus SMA. Ia sempat dua tahun kuliah di UI sebelum pindah ke Universitas di Amerika, mengambil jurusan hukum, magang di firma terkenal dan melanjutkan S2-nya di universitas yang sama. Ia menceritakan tentang pekerjaan paruh waktunya di McD, dan bangga bisa bayar sewa apartemennya dengan uangnya sendiri. Ia bersyukur, ayahnya yang bekerja di Pertamina pensiun beberapa bulan setelah ia lulus kuliah. Ia kemudian kembali ke Indonesia, membuka kafe bersama temannya di Bandung yang bubar setahun kemudian karena masalah internal. Ia tidak memberitahu yang dimaksud dengan masalah internal, padahal saya tertarik untuk mendengarnya. Setelah itu ia melamar ke berbagai perusahaan dan diterima di sebuah perusahaan investasi. Ia menyebut nama perusahaannya: XXX XXXX Investment. Yang katanya salah satu 100 Perusahaan Terbaik versi Forbes. Pekerjaannya menyiapkan surat-surat perjanjian, kontrak kerja atau sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Tahun lalu, perusahaannya baru mengakuisisi perusahaan tambang Australia terkenal. Sekarang, ia sibuk menyiapkan surat-surat perjanjian untuk pembelian salah satu klub Liga Dua Inggris. Kalau pembeliannya sukses, maka ia akan kecipratan bonus sebesar 200 juta rupiah.

“Sabtu depan aku terbang ke London,” katanya mengakhiri cerita dua puluh lima menitnya. “Jadi, sekarang kamu kerja di mana?”

Saya paling tidak suka ditanya masalah pekerjaan. Paling tidak hal itu akan merembet ke pertanyaan lain, seperti nama perusahaan, masalah gaji atau serikat kerja. Bukannya saya minder, tetapi pertanyaan itu sangat tidak perlu. Saya lebih nyaman ditanya tentang keluarga. Saya ragu Bobby tahu saya menikah dengan Juriah, teman satu kelas kami. Atau, bukankah akan jauh lebih baik bertukar kabar teman-teman yang lain?

“Aku dagang.”

“Dagang apa?”

“Sabun cuci piring, deterjen, softener, pembersih oli. Apa saja yang bisa dijual.”

“Sudah lama?”

“Lumayan lama.”

Bobby terdiam sejenak, matanya memandang mobilnya yang sedang diservis. Rolex-nya berkilauan memantulkan cahaya matahari pagi. Kemudian ia minum sodanya lagi dan setelah itu melanjutkan,

“Kalau boleh tahu, berapa omsetnya?”

Sekarang gantian saya yang terdiam. Pertanyaan itu akhirnya datang juga.

“Dua juta,” jawab saya.

“Dua juta per bulan? Ya ampun. Itu jauh di bawah standar UMR. Apalagi itu baru omset, bukan penghasilan bersih. Memang kamu bisa hidup dengan penghasilan segitu sebulan? Dengar ya. Kalau kamu mau, kamu bisa saja kerja sama aku. Kamu bisa jadi sopirku. Aku bisa gaji kamu 4.5 juta sebulan. Bersih. Atau, kamu bisa jadi tukang kebun di rumah ayahku sekalian bantu-bantu yang lainnya.”

Saya sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya, tetapi dalam hal menolak kebaikannya, saya baru kali ini melakukannya.

“Per hari,” kata saya, pelan.

“Apa?”

“Dua juta per hari. Itu omset seharinya. Kamu bisa hitung sendiri berapa sebulannya.”

“Tapi itu baru omset kotor, kan? Bersihnya paling lima belas atau paling banyak dua puluh persennya. Jadi omset bersih kamu sekitar dua belas juta. Lumayanlah.”

“Dolar.”

“Apa?”

“Omsetku dua juta dolar per hari.”

“Serius?”

“Mungkin aku terdengar mengada-ada. Biar kujelaskan. Aku mensuplai kimia ke perusahaan-perusahaan besar. Kebanyakan perusahaan tambang, seperti Pertamina, Chevron, BP, dan banyak lagi. Aku juga mengerjakan WWTP-nya. Wastewater Treatment. Pengolahan limbahnya. Mengurus cleaning pipa, cooling tower, tangki-tangki, tangki-tangki truk. Itu belum termasuk suplai sabun cuci piring dan sabun-sabun yang lain ke hotel-hotel, kafe, restoran, berbagai kimia untuk kebersihan kolam renang.”

Saya juga menyebutkan proyek-proyek lainnya beserta istilah-istilah teknis yang tampaknya tidak dipahaminya. Saya pikir, setelah mendengar pemaparan saya, bisa dibilang harga dirinya mulai terancam, dan ia sepertinya mulai menyadari posisinya yang berada di pihak antagonis – tokoh jahatnya. Sedangkan saya sebagai tokoh protagonisnya, yakni orang yang dulunya miskin dan sekarang sukses namun menyembunyikan kesuksesannya dengan penampilannya yang sederhana. Seperti dalam cerita, biasanya sang antagonis akan merasa malu setelah tahu posisinya, lalu meminta maaf karena telah merendahkan sang protagonis. Kalau Anda suka nonton sinetron pasti tidak asing dengan cerita seperti ini.

Saya diam sejenak, memberikan kesempatan kepada Bobby untuk bicara. Namun ia tidak berkomentar sama sekali. Wajahnya muram dan terlihat tidak nyaman. Ia mungkin berpikir kalau dirinya sedang dipermalukan. Asal tahu saja, saya sebetulnya tidak bermaksud demikian, kecuali hanya ingin menutup mulutnya. Itu saja. Atau, anggap saja sebagai prank. Lucu-lucuan.

“Aku bercanda,” lanjut saya, tertawa lepas. “Dua juta dolar per hari? dan kamu percaya?”

“Brengsek. Nggak lucu, sialan!” kata Bobby kesal, wajahnya berubah merah padam.

“Oh Bobby, maafkan aku.”

Tapi Bobby tidak menghiraukan permintaan maaf saya. Ia malah berdiri, lalu meninggalkan saya begitu saja.

Saya menghabiskan soda saya sambil memandang Bobby yang tengah menyeberangi jalan menuju bengkel. Ia sama sekali tidak menengok ke belakangnya, ke teman lamanya ini. Meskipun demikian, saya tidak menyesal dengan apa yang barusan saya lakukan. Bobby memang pantas mendapatkannya.

Sinar matahari sudah menerangi sebagian teras mini market, menerpa wajah dan menyilaukan mata. Saya berpindah tempat duduk di kursi yang tadi diduduki Bobby. Mercedes Benz-nya Bobby terlihat mundur ke luar bengkel, seorang mekanik membantunya turun ke jalan, kemudian mobilnya dibelokkan ke kanan, lalu melaju ke arah timur.

Baru jam 9.15. Masih 15 menit lagi hingga anak bungsu saya selesai sekolah. Saya menelpon Bambang, adik kelas saya di SD, yang jadi CEO di perusahaan yang disebutkan Bobby tadi, XXX XXXX Investment itu.

“Bang, tolong dicek, ada karyawan yang namanya Bobby, … Bobby Ferdian?”

“Ada, Mas. Manajer di bagian Legal,” sahut Bambang. Bambang memang seperti itu, kenal semua nama-nama karyawan. Bahkan sampai nama office boy sekalipun.

“Bagaimana dia?”

“Rajin, loyal, kerjanya bagus. Dia yang pergi ke London Sabtu nanti sama Mr. David dan Pak Tanto. Ada apa ya, Mas?”

“Nggak apa-apa.”

“Lagi di mana, Mas?”

“Biasa, jemput Sekar pulang sekolah. Oh, iya, Bang. Apa kita punya bengkel di Ahmad Yani?”

“Yang di Bekasi?”

“Betul.”

“Ada. Kalau nggak salah dekat sekolahnya Sekar.”

* *

Komentar