Cerita Sholat

Apakah aku sudah berada di barisan yang lurus? Kulihat kedua tumitku sejajar dengan tumit dua orang di sebelahku. Imam memberitahu kalau tempat kosong dalam shaf sholat akan diisi setan. Aku berada di shaf kedua di sebelah kanan imam.

Imam mengucap takbir. Aku mengikutinya mengangkat kedua tangan dengan khusyu.

Kipas yang menempel di dinding berembus di pelan di atas kepala, hujan baru saja reda. Aku mengingatkan diriku menyimpan payung di dekat tempat wudhu.

Tadi siang aku terpaksa menembus hujan hanya untuk menyerahkan surat penawaran dan profil perusahan pada salah seorang staf di sebuah perusahaan kontraktor. Ia berjanji akan langsung memberikannya pada pimpinannya besok pagi. Surat penawaranku bisa saja tersendat seandainya aku tidak memaksakan diri untuk terus mengetik dan menyelesaikannya.

Imam membaca surah Al-Kaustar, surah terpendek dalam Al-Qur’an. Seingatku imam ini jarang membaca surah pendek.

Seminggu lagi Hari Raya Idul Adha, aku sudah membeli dua ekor kambing jantan atas namaku dan adikku. Harga kambing tahun ini naik dua ratus ribu rupiah, tetapi itu bukan masalah. Aku bersyukur insentifku sudah masuk dua pekan lalu sehingga aku bisa membeli kambing lebih cepat.

Imam sujud lama sekali padahal setahuku bacaan sujud hanya tasbih tiga kali meski diperbolehkan melakukan doa tambahan. Sial, perutku keroncongan, aku bahkan lupa makan siang.

Orang di sebelah kiriku bersin, menutup mulutnya dengan tangan kanan. Yakk! pastinya banyak virus yang menempel. Aku tidak akan bersalaman dengannya selesai sholat. Aku akan akan berpura-pura berdoa sambil menutup mata, atau langsung pergi dan duduk di belakang.

Imam membaca surah Al-Ikhlas di rakaat kedua, aku mengikuti bacaannya dalam hati.

Sesaat menjelang sujud entah kenapa aku jadi teringat draft naskah novel yang kusimpan sejak kuliah. Empat tahun! Waktu yang lama, bukan? Itu cerita yang bagus. Tapi sayangnya aku masih belum bisa menyelesaikannya. Ceritanya mandeg, sementara sang tokoh tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memberi nama bagus buat sang tokoh utama: Vincent West, untuk inisial VW supaya mudah diingat. Vincent West melakukan perjalanan ke masa lalu, menjadi saksi atas sebuah pembantaian.

Duduk tahiyyat awal. Pria berjenggot di sebelah kananku menggoyang-goyangkan telunjuknya ke atas dan ke bawah. Aku masih memikirkan Vincent West dan perjalanannya; tentang kereta kuda, pakaian-pakaian abad ke-18, pekik kematian orang-orang tak bersalah. Semuanya tervisualisasi di dalam kepalaku.

Terdengar suara imam mengucap takbir tanda memasuki rakaat ketiga. Di rakaat terakhir itu aku teringat pesan Ibu untuk membelikannya martabak telur. Uangnya masih ada di kantong celana sebelah kiri. Kasihan Ibu, sudah lama tidak makan martabak telur.

Aha! Tiba-tiba saja aku mendapat solusi bagaimana sang tokoh bisa keluar dari permasalahannya. Aduh, kenapa sih imam lama sekali sujudnya, padahal aku tidak sabar untuk segera membuka laptop lalu menulis ide-ide yang masih segar itu. Meski begitu, aku tetap berusaha khusyu di akhir sholat.

Kemudian imam mengucap salam, menggeser duduknya menghadap makmum. Orang di sebelah kiriku menyodorkan tangannya, aku pun bersalaman dengannya. Orang di sebelah kananku sibuk berzikir tanpa mempedulikan orang di sebelah kirinya yang ingin bersalaman. Dan aku? Sepertinya aku baru saja dapat ide brilian untuk sebuah cerita lain.

* *

Komentar