glass panel white frame door

Rumah Baru

Aku baru mengunjungi rumah baru temanku setelah dua setengah bulan lalu ia pindahan, padahal letaknya tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pagi itu langit agak mendung, angin bertiup kencang. Hujan turun saat aku menapaki jalan sempit menuju rumahnya, tapi itu tidak berlangsung lama. Langit berangsur-angsur cerah, jalan-jalan yang sepi kembali diramaikan para peziarah. Lantunan doa dan ayat-ayat kitab suci terdengar saat aku melewati mereka. Aku tidak perlu bertanya untuk menemukan rumah temanku, yang tampak indah dengan rumput yang tertata dan pohon rindang. Meski jauh lebih kecil dari rumah sebelumnya, rumah temanku yang sekarang sangat menenangkan, setidaknya itulah yang terlihat di wajah temanku yang damai.

Kami sudah berteman lama, ia tetanggaku sejak kami berusia lima tahun. Kami pergi ke TK, SD dan SMP yang sama, dan berpisah di SMA. Kami sama-sama mendaftar ke SMA Taruna Nusantara, sama-sama ikut tes awal di Kodim, dan mengikuti beberapa tes berikutnya. Bedanya, temanku berhasil lolos tes dan diterima, sementara aku, … entah aku gagal di seleksi yang mana.

Aku melanjutkan sekolahku ke STM. Di sana, aku merokok untuk pertama kalinya, sesuatu yang nantinya kusesali. Aku lebih sering ikut tawuran ketimbang berada di kelas, mendaki beberapa gunung dengan uang seadanya, dan yang terpenting, aku bisa berkenalan dengan seorang murid SMEA yang kelak jadi istriku. Waktu kuceritakan pengalamanku kepada temanku setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ia berkata,

“Jadi, kau menyesal sekolah di STM?”

Aku pun tertawa.

Setelah lulus SMA, ia memilih melanjutkan studinya ke ITB ketimbang berkarir di militer, kemudian bekerja di perusahaan konsultan ternama di Singapura, melanjutkan studi S2-nya sebelum kembali ke tanah air untuk memulai bisnis software-nya. Aku pernah ditawari bekerja di perusahaannya, tapi aku orang yang tahu diri. Aku bukan sarjana, atau seseorang yang pantas bekerja memakai dasi dan sepatu mengilap. Aku lebih pantas berada di pabrik, bengkel, atau dapur. Petualangan kerjaku membawaku ke tiga tempat itu, yang berakhir jadi tukang bakso.

Tapi temanku sepertinya tidak akan pernah makan bakso buatanku, karena ketika aku memulai usaha bakso-ku, ia sedang sakit berat, semacam kanker. Aku pun tidak yakin ia boleh makan bakso setelah sembuh nantinya.

Berita sakitnya terdengar ganjil di telingaku mengingat ia bukan seorang perokok atau peminum. Aku tidak tahu jika ia bermasalah dengan pola makannya, tapi kunjunganku ke rumah lamanya tiga bulan lalu menjelaskannya. Itulah hari pertama kami bertemu lagi setelah dua belas tahun. Hari itu juga jadi hari pertamaku berkunjung ke rumahnya yang megah di Tebet, sekaligus jadi hari terakhir sebelum ia pindah ke rumah barunya.

Aku pergi naik motor, macet menghambatku selama lima belas menit, tapi aku berhasil tiba di rumahnya tepat waktu. Aku sudah mengucap salam tiga kali sebelum kusadari rumah berpagar tinggi itu memiliki bel di dinding pagar. Aku masukkan tanganku ke lubang pintu pagar dan langsung menemukan tombolnya. Bunyi belnya tidak terdengar, tapi sebentar kemudian terdengar suara seorang wanita dari speaker berkata, “Siapa?” Aku menyebut namaku dan janji temu dengan pemilik rumah. “Sebentar,” katanya. Lalu pintu pagar terbuka secara otomatis.

Seorang wanita gemuk datang dari dalam rumah menyambutku. Dia asisten rumah tangga. Dia menyuruhku membawa sepeda motorku ke dalam, lalu menunjuk ke suatu tempat di antara Ducati, Harley Davidson, dan Vespa. “Parkir di sana,” katanya.

Aku agak malu dengan bunyi knalpot sepeda motorku yang berisik dan asap knalpot yang membuat wanita itu mengibas-ibaskan tangannya di hidung. Aku memarkirnya di tempat yang ditunjuknya. Terdengar bunyi pintu pagar menutup, wanita itu membawaku masuk ke dalam rumah lewat samping, mempersilahkanku duduk, lalu setelah itu dia meninggalkanku.

Aku tahu temanku orang kaya, tapi bayanganku tidak sampai sejauh ini. Aku mengagumi rumahnya yang indah dengan halamannya yang luas, taman yang asri, pohon-pohon yang rindang, dan ruangan yang nyaman. Ruangan ini pasti kantor pribadinya. Ada meja kerja yang besar dan bersih, rak yang dipenuhi buku-buku yang tertata rapih di belakang meja, rak dengan plakat dan foto-foto di sebelah kiri. Ada fotonya semasa di SMA, foto wisudanya, fotonya bersama keluarganya di paris, London, New York, fotonya di atas kapal, fotonya berjabat tangan dengan presiden. Tapi tidak ada foto kami. Wajar saja, kami memang jarang berfoto bersama, dan lagi pula, siapa aku?

Setelah melihat-lihat, aku masih menunggu sekitar lima menit lagi sebelum akhirnya temanku muncul dari pintu sebelah kanan bersama seorang remaja laki yang kukenal sebagai putra keduanya.

Ia berjalan dengan tongkatnya. Tubuhnya terlihat sangat gemuk, atau kusebut saja bengkak, namun rambutnya masih lebat dan hitam. Ia mengenakan kaos putih dan kain sarung hitam. Kami bersalaman dan berpelukan. Aku menanyakan kabarnya yang dijawabnya dengan senyum. Ia kemudian duduk di kursi direktur di belakang meja kerjanya, sementara putranya duduk di kursi di sebelah kirinya. Ia kelihatannya memang harus selalu didampingi, selain untuk berjaga-jaga kalau ia butuh sesuatu, ia butuh putranya untuk membantunya berkomunikasi. Penyakitnya membuatnya kesulitan bicara.

“Ah, ternyata kau berbohong tentang sakitmu,” kataku. “Mana ada penyakit yang bisa bikin orang jadi lebih gemuk dan tampan?”

Aku berhasil membuat temanku tertawa hingga putranya menjadi cemas melihat ayahnya terbatuk-batuk kecil. Tapi temanku mengangkat tangannya, seakan mengatakan ia tidak apa-apa.

“Sial! Ternyata aku yang bikin kamu sakit!”

Ia pun tertawa lagi. Batuk-batuk lagi. Lalu, kulihat ia berusaha keras untuk bicara. Suaranya yang serak dan putus-putus sama sekali tidak kupahami.

“Ayah bilang terima kasih Anda sudah datang,” putranya berkata. “Ia minta maaf tidak lama mengabari Anda. Anda … Anda terlihat menyedihkan.”

Gantian aku yang tertawa. Aku tahu yang dimaksudnya dengan menyedihkan: kepalaku yang botak.

“Seharusnya Anda yang kena kanker,” tambahnya. Lewat putranya.

“Sudah rontok sejak usiaku dua puluhan,” kataku, mengusap-usap kepalaku. “Aku mencukurnya tiga hari sekali. Ya, memang menyedihkan.”

Aku kemudian memberitahu keadaan keluargaku, anak pertamaku yang baru saja masuk SMP, usaha baksoku yang sejauh ini berjalan lancar, kabar beberapa teman kami yang sempat kutemui, dan sedikit mengenang masa lalu, ketika kami duduk di atas bangku kayu di halaman belakang rumah memandangi barisan pohon singkong yang ditanam orang tua kami, bercerita tentang guru TK kami yang cantik dan mimpi-mimpi kami. Aku berhenti bercerita saat melihat air mata yang jatuh di pipi temanku. Ada keheningan sejenak. “Maafkan aku,” kataku. Temanku tersenyum. Ia memberi isyarat dengan tangannya supaya aku meneruskan ceritaku, tapi aku memilih untuk tidak meneruskan. Ada keheningan lagi sebelum ia menoleh ke arah putranya, dan menunjuk ke suatu tempat di rak di belakangnya. Putranya mengambil sebuah amplop coklat, lalu menyerahkannya padaku.

“Ayah menulisnya tadi malam,” kata putranya. “Kalau Anda mau, Anda bisa membacanya di sini.”

Aku membuka amplop tersebut, dan membacanya.

Kawan,

Aku menulis ini untuk cerita yang panjang, yang sebagaimana kautahu aku terlalu sulit untuk mengatakannya langsung.

Aku menghitung sudah tiga puluh enam tahun kita berteman dan aku beruntung memiliki teman sebaik kau. Kau sudah banyak membantuku dan keluargaku. Aku selalu bertekad untuk membalas kebaikanmu. Tapi waktu yang kutunggu itu tidak pernah ada. Aku ingat pernah menawarimu pekerjaan saat kau di-PHK, tapi kautolak. Kau pernah sekali meminta bantuanku, meminjam uang untuk biaya persalinan istrimu. Aku pun segera men-transfer uangnya melebihi jumlah yang kauperlukan. Kubilang, uang itu untukmu, tidak usah dikembalikan. Tapi kau bersikeras bilang hanya meminjamnya. Kau bahkan mengembalikannya sebesar uang yang ku-transfer di tanggal yang kaujanjikan. Kau pastinya tidak tahu kalau aku diam-diam pernah memberikan uang kepada ayahmu. Tapi, ayahmu pun mengembalikannya.

Kawan, aku minta maaf karena tidak meluangkan waktu untuk bertemu denganmu. Masa-masa itu aku memang sangat sibuk. Setelah berhasil di bisnis software, aku membuka usaha lainnya. Aku punya restoran, hotel, kebun sawit, pabrik kimia dan baru-baru ini pertambangan. Terdengar keren bukan? Aku dulu juga merasa seperti itu. Hingga penyakit ini pun datang.

Kau pasti tidak menyangka bagaimana aku yang tidak pernah merokok dan minum bisa kena penyakit ini. Apalagi aku rutin berolah raga dan menjaga pola makan. Tentunya memikirkan penyebab penyakitku ini tidak akan menyembuhkanku. Sampai suatu hari aku berpikir bahwa penyebabnya di luar kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan dokter. Aku serakah. Aku banyak berbuat kesalahan di masa lalu. Mungkin karena itulah Tuhan menurunkan penyakit ini untukku.

Kabar baiknya, dokter bilang aku masih ada harapan. Aku bisa sembuh lewat operasi. Kemungkinan sembuhnya pun sangat besar, di atas 95%. Ini penemuan baru, orang-orang kita sudah bisa melakukannya.

Kawan, aku tidak bernazar untuk kesembuhanku. Jadi, apapun hasilnya nanti, aku akan lepaskan sebagian kekayaanku. Dan kau, kawanku, kau akan mendapat bagiannya. Aku akan menangis jika kau menolaknya. Jangan berpikir ini untuk membalas kebaikanmu di masa lalu. Tidak. Kebaikanmu tidak akan pernah bisa kubayar sampai kapan pun.

Aku juga sudah membeli rumah baru di tempat yang sunyi di Bogor sebulan lalu. Aku akan meninggalkan urusan duniawi dan menetap di sana. Karena itu, aku tidak mengajak istri dan kedua putraku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pada saat itu aku sudah bisa mengurus diriku. Mungkin aku terdengar egois, tapi istri dan kedua putraku sudah menyetujui. Mereka bisa mengunjungiku kapan saja. Tentu saja kau juga bisa mengunjungiku. Akan kukabari kalau sudah tiba waktunya nanti.

Ttd,

Kawanmu.

Hari ini kami bertemu lagi, duduk di atas kursi jongkok di halaman rumahnya yang sempit. Ia tampak sehat … jauh lebih sehat. Bentuk tubuhnya seperti saat usianya tiga puluhan; tegap dan berisi, rambutnya dipotong cepak, wajahnya berseri-seri. Kami memandang ke arah yang sama, ke rumah-rumah yang berbaris dengan bentuk dan ukuran yang sama. Beberapa dari rumah tersebut sedang dikunjungi tamu. Di bagian lain, ada sekumpulan orang di bawah tenda yang sedang mengantar seseorang pindahan. Mereka berpakaian serba hitam, sedang berdoa. Tiba-tiba angin berembus kencang, bunga-bunga putih berjatuhan menebar bau harum, setangkai mawar merah di atas tanah terlihat segar.

“Operasinya berhasil,” temanku berkata. “Aku berada di tangan orang-orang profesional. Seperti mukjizat, aku bisa kembali bicara normal. Tanpa rasa sakit. Tapi, itu hanya bertahan selama enam hari. Mobil yang membawaku pulang pecah ban dan terbalik di jalan tol. Aku satu-satunya yang tewas.”

“Itu … sangat tragis,” kataku. “Aku ikut prihatin.”

Ia terdiam, matanya memandangi batu yang tertulis namanya dan setangkai mawar merah yang masih segar itu.

“Akhirnya, aku pindah ke rumahku yang baru, meskipun bukan di Bogor seperti pernah kubilang. Aku memang selalu ingin pulang ke Bekasi.”

“Aku juga, kawan. Aku selalu merindukan Bekasi. Aku senang kita kembali.”

“Kau sendiri bagaimana? Kapan kejadiannya?”

“Lima hari lalu. Sakit paru. Aku seharusnya berhenti merokok dari dulu,” jawabku, memandangi rumah baruku di blok F.

**

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.