close up photo of yellow and white cat

Ahli Kucing

Setelah adik perempuanku mendapatkan izin orang tua kami untuk memelihara anak kucing, kami membuatkan kandang untuknya. Kandangnya terbuat dari kardus yang dibentuk seperti rumah, ada atap dan jendela, diberi gambar pohon, bunga, dan rumput dari kertas warna. Kasurnya memakai handuk bekas.

Aku, ayah, ibu, dan adikku berdebat apakah anak kucing itu jantan atau betina. Ayah dan aku menebak kalau itu kucing jantan, sementara ibu dan adikku bilang itu kucing betina. Kami perlu melihat bokongnya beberapa kali sampai akhirnya disepakati bahwa tonjolan di bagian belakangnya adalah biji testis-nya. Selanjutnya, adikku yang dapat kehormatan memberikan namanya.

Bobby memang nama umum untuk kucing, nama itu juga yang pertama kali terlintas di kepala adikku. Tidak ada yang mengusulkan nama lain. Semuanya setuju dengan nama Bobby. Setelah itu, kami menetapkan tanggal ulang tahunnya dengan menghitung mundur sebulan.

Sebetulnya, aku yang pertama kali menemukan Bobby.

Sore itu aku sedang mengeluarkan sepeda waktu kudengar suara anak kucing mengeong nyaring seperti anak ayam. Sepertinya ban sepedaku melindas kakinya. Aku tidak pernah membunuh atau menyakiti hewan yang lebih besar dari kecoa sebelumnya, sehingga melindas kucing membuatku merasa sangat bersalah.

Anak kucing itu jenis kucing kampung, bulunya berwarna oranye dan sebagian putih di bagian wajah dan bawah tubuhnya, ekornya panjang dan bengkok di ujungnya. Aku memeriksa kakinya. Tidak ada luka. Anak kucing itu masih bisa berjalan normal meskipun suara mengeongnya masih terdengar nyaring. Adikku yang muncul tiba-tiba dari dalam rumah menunjuk ke arah anak kucing dan berkata,

“Kucing siapa?”

Aku mengangkat bahuku.

“Beliin makanan, Kak. Kasihan ia lapar.”

Aku tidak pernah beli makanan kucing sebelumnya, tidak tahu belinya di mana dan tidak tahu berapa harganya. Tapi adikku bilang di mini market ada. Harganya tujuh ribu. Bawa saja uang sepuluh ribu.

Aku pun menuruti perintahnya. Aku pergi ke kamar, mengambil sepuluh ribu di dalam tasku, pergi naik sepeda ke mini market, membeli satu saset makanan kucing usia di bawah 12 bulan seharga tujuh ribu lima ratus, kemudian kembali ke rumah.

Aku membuka bungkus saset dengan gunting—tercium bau ikan yang membuatku mual—lalu kutuang sedikit makanan tersebut ke dalam mangkuk plastik. Anak kucing itu mengendus-endusnya, menempelkan lidahnya, mengecap-ngecapnya, dan sebentar saja ia sudah menghabiskan setengah saset.

“Beli lagi, Kak!” kata adikku.

Aku pergi lagi ke kamar, mengambil uang lima ribu di dalam tasku, pergi naik sepeda ke mini market, membeli satu saset makanan kucing usia di bawah 12 bulan, kemudian kembali lagi ke rumah.

Aku masih membeli satu saset makanan kucing lagi sebelum orang tuaku mengizinkan adikku memeliharanya. Selanjutnya, ayahku yang membeli makanan kucing. Ayahku juga yang membeli kalung huruf B, sampo, pasir dan kotak pasirnya, dan lainnya.

Adikku senang punya hewan peliharaan pertamanya. Dia merawatnya dengan telaten; memandikannya setiap tiga atau sepekan sekali, menyisirnya, memberinya pita, mengajaknya jalan-jalan dan mengobrol, memfoto dan membuat video-nya yang di-posting ke instagram. Dia juga yang merawat Bobby saat sakit, menyuapinya makan dan minum hingga Bobby kembali sehat.

Tahu kami punya anak kucing lucu, seorang bocah laki-laki tetanggaku—yang berumur lima tahun—jadi sering main ke rumah kami. Adikku membiarkannya main bersama kucingnya, tapi juga mewanti-wantinya supaya tidak melakukan ini-itu sehingga membuat kucingnya terlihat tidak nyaman.

Bocah laki-laki itu rupanya juga kepingin anak kucing. Seekor anak kucing kampung yang dipungut ayahnya di jalan akhirnya jadi peliharaannya. Warnanya abu-abu belang, usianya sedikit lebih muda dari Bobby. Ayahnya membelikan kandang yang bagus dan makanan yang lebih mahal dari Bobby.

Suatu hari ketika anak kucing itu sakit, adikku jadi semacam ahli kucing. Dia memberitahu ibu bocah laki-laki itu agar si anak kucing terus diberi makan dan dipakaikan selimut waktu tidur malam. Jangan sampai kedinginan, kata adikku. Sayangnya, meskipun sudah menuruti yang dikatakan adikku, anak kucing tersebut akhirnya mati.

Merasa kasihan pada anaknya, ayah bocah laki-laki itu membelikannya seekor anak kucing persia.

Namanya Lusi. Usianya lebih tua dari Bobby, bulunya berwarna abu-abu kehitaman, matanya tajam, wajahnya merengut, buntutnya seperti kemoceng, dan sangat gesit. Tapi adikku sama sekali tidak iri. Dia bahkan menganggap Bobby jauh lebih tampan dari si kucing persia.

Sejak dihadiahi kucing persia, anak laki-laki itu hanya sesekali datang ke rumahku. Itu pun untuk menanyakan apakah kami melihat Lusi?

Lusi tidak pernah main ke rumah kami, tapi kami sering melihatnya bermain-main di jalanan depan rumah atau mengejar-ngejar kucing kampung. Bobby pun kadang-kadang dikejar Lusi dan membuatnya ketakutan setengah mati. Karena itu, adikku benci dengan Lusi.

Lusi memang seperti hewan liar yang hinggap ke sana kemari. Aku pernah sekali dicakarnya. Setelah Lusi betul-betul pergi, aku baru tahu jika bocah laki-laki itu juga takut dengan Lusi. Beberapa hari kemudian, kucing persia Lusi digantikan seekor kelinci.

Bobby terlihat dewasa di usianya yang baru enam bulan. Kandangnya sudah lama dibuang dan ia tidur di atas karpet di kamar adikku. Ia kucing yang penurut. Tidak perlu memanggil namanya supaya ia mendatangiku. Asalkan suaranya ditujukan untuknya ia pasti datang.

Ia lebih suka bermain di luar ketimbang di rumah, dan sesekali ia membawa temannya, seekor kucing betina ke rumah kami. Adikku yang terlihat senang memberikan makan buat si kucing tamu. Adikku menamakannya Kimi.

Tapi Kimi suka kencing di teras; dia mengencingi sandal, kursi, dan sepeda motor. Aku yang sering disuruh Ibu mengusir Kimi.

Kimi paham, setelah sering diusir, dia tidak dapat tempat di rumah kami. Jadi, ketika dia ingin bermain dengan Bobby, Kimi mengeong di depan rumah, lalu tidak berapa lama Bobby melompat ke luar pagar.

Bobby biasa kembali ke rumah menjelang siang untuk makan, setelah itu ia tidur di kamar adikku atau di meja ruang tamu. Ia sebetulnya bisa tidur di mana saja sesukanya, tapi dua tempat itu tempat tidur favoritnya.

Adikku sangat sedih waktu menemukan Bobby pulang dengan jalan yang pincang. Kaki kanan depannya bengkak dan berdarah, suara meongnya pelan sekali seperti memelas. Ayahku bilang ada orang yang menyakitinya. Bobby juga susah makan. Badannya semakin lemah. Ia menghabiskan waktunya dengan berbaring. Sementara, Kimi yang setiap kali datang mengeong di depan rumah tidak menemukan Bobby, akhirnya tidak pernah datang lagi.

Adikku tidak menyerah merawat Bobby. Setelah dua minggu Bobby pun kembali sehat, sudah mampu berlari ke sana-kemari. Adikku sangat senang karena usahanya berhasil. Dia memamerkan kemampuan merawat kucingnya kepada teman-temannya. Sejak saat itu, banyak teman-temannya yang bertanya padanya tentang cara merawat kucing. Ada yang datang ke rumah, ada juga yang bertanya lewat instagram-nya. Adikku menjawabnya sebisanya, atau malahan kadang-kadang dilebih-lebihkannya.

Adikku memang tidak pernah bosan dengan Bobby, tapi Bobby bukan boneka atau mainannya. Ada saatnya Bobby pergi. Entah karena bertemu dengan betina pujaannya, diculik, atau mati.

Bobby berusia setahun lebih beberapa bulan ketika meninggalkan rumah kami. Di dua atau tiga hari pertama sejak kepergiannya adikku terlihat sangat sedih, tapi setelah itu dia sudah terbiasa dengan ketidak hadiran Bobby. Dia sepertinya sudah bisa memahami bahwa Bobby punya kehidupannya sendiri.

Kini, ruang kosong yang pernah ditempati Bobby di kamarnya diisi dengan boneka barunya. Dia menyibukkan diri dengan bermain bersama teman-temannya atau mengerjakan tugas-tugas sekolah. Meskipun begitu, ada kalanya dia merindukan Bobby, ketika dia memintaku jalan-jalan dengan sepeda untuk melihat Bobby bermain bersama Kimi dan anak-anak mereka di sekitaran lapangan voli.

**

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.