Cerita Pagi

Tampaknya Randi sudah bisa melihat sisi lain Gita pagi itu

Sarapan siap dihidangkan, sepiring nasi goreng dengan telur dadar terpisah, irisan timun dan tomat sebagaimana saran Randi. Itu usaha ketiga Gita sejak dia memaksakan diri membuatkan sarapan untuk suami tersayang. Gita berdiri di samping Randi, wajahnya tampak puas dengan usaha terakhirnya. Di usianya yang ke-30 Gita baru mulai memasak, tepatnya sejak asisten rumah tangga mereka berhenti kerja dua bulan lalu. Sejak saat itu mereka terbiasa membeli makan di luar atau pesan online. Hal tersebut membuat pengeluaran Randi lebih banyak, bahkan hanya untuk makan saja bisa melebihi gaji asisten rumah tangga mereka. Randi tahu, kalau ia meminta istrinya memasak pastilah istrinya akan mengalihkan pembicaraan lain.

Memasak memang kelemahan Gita. Tapi entah kenapa, tiba-tiba Gita menyodorkan sepiring nasi goreng. Itu usaha pertamanya sejak mereka menikah. Sepiring nasi goreng yang terasa hambar dan kering. Randi tahu ia tidak mungkin mengkritiknya, karena itu ia hanya bilang, “Coba tambah garam sedikit lagi.” Keesokan lusanya Gita membuatkannya lagi. Kali ini Gita menuang terlalu banyak garam. Tapi Randi menghabiskannya, setelah menambahkan kecap manis.

Pagi itu porsi nasi goreng yang dihidangkan lebih sedikit dari dua percobaan sebelumnya mengingat nasi yang digunakan sisa nasi semalam. Randi yang masih memasak nasi. Memasak nasi artinya juga mencuci beras dan menakarnya dengan air, selebihnya tinggal melihat lampu rice cooker. Pekerjaan sederhana itu masih belum bisa dilakukan Gita. Entah airnya terlalu sedikit atau terlalu banyak. Padahal Randi sudah menunjukkan batas airnya setinggi ruas tengah jari telunjuk. Tapi sungguh, kali ini nasi goreng buatan Gita sangat enak. Saking menikmatinya, ia bahkan tidak sadar Gita sudah menghilang ke dapur.

Panggilan seluler itu berasal dari seorang pria, teman SMA Gita. Itu telepon pertamanya sejak mereka bertemu kembali di reuni sebulan lalu. Gita menengok ke meja makan dan melihat Randi masih makan. Dia bicara pada Tomi dengan suara setengah berbisik, “Aku lagi sibuk. Di WA aja.” Setelah itu dia mematikan teleponnya dan kembali ke meja makan, duduk di samping suaminya.

“Buatan kamu jauh lebih enak dari nasi goreng Bang Pe’i,” kata Randi. Bang Pe’i tukang nasi goreng langganan mereka.

Gita sudah tahu masakannya lumayan enak. Dia sudah mencobanya sesendok sebelum dihidangkan, dan tidak menyangka bisa seenak itu. Tapi dia masih ragu apakah bisa melakukannya dua kali. Bikin nasi goreng seperti itu saja rasanya setengah mati. Apalagi kalau dia mesti masak sayur asem kesukaan Randi, menggoreng tempe, atau mengolah ayam. Setidaknya dia masih bisa menghibur diri karena bisa menggunakan beberapa peralatan dapur, termasuk mengulek yang sebelumnya dianggap sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Memasak hanya satu dari lusinan pekerjaan rumah yang lain. Beberapa hari terakhir Gita sudah bisa mencicil. Dia sudah bisa mencuci piring. Dia bahkan bisa mencuci piring lebih cepat tanpa menghabiskan banyak sabun. Dia juga sudah bisa memandikan Novi, putri mereka. Sebentar lagi, dia akan mendapat pelajaran lain setelah mereka sepakat tidak ada lagi cuci pakaian di laundry. Mesin cuci yang hampir sebulan menganggur akan dipekerjakan kembali.

Seluler Gita berbunyi. Pastinya itu WA dari Tomi. Dia membacanya ketika Randi pergi untuk mengambil air minum. Tomi mengatakan, “Aku lagi di Jakarta, bagaimana kalau ketemu hari Senin?”

Tawaran itu terlalu indah untuk dilewatkan, dia tidak sabar ingin memandang wajah mantan kekasihnya itu. Dia menjawab, “OK.” Tentunya dia ingin menjawab lebih panjang, seperti menanyakan kapan atau di mana. Tapi Randi sudah kembali. Gita meletakkan selularnya dengan posisi terbalik di atas meja. Dia pikir OK juga sudah cukup.

“Ibumu harus mencobanya,” kata Randi, minum seteguk air dingin.

“Tentu,” jawab Gita yang lebih menginginkan ibunya Randi yang mencoba masakannya ketimbang ibunya sendiri. “Jadi pergi meeting nanti sore?”

“Jadi. Aku berangkat jam 4. Aku sudah telepon bibik, dia bisa datang jam lima,” kata Randi, memastikan anak mereka mendapat perhatian yang baik selama dia pergi.

“Pulang jam berapa?” tanya Gita. Sebenarnya Gita mulai terbiasa menggendong dan bahkan memandikan anak mereka, tapi akan lebih baik jika ada orang yang berpengalaman dengan balita di sisinya.

“Jam sebelasan,” jawab Randi. “Kamu nanti belum tidur kan?”

Gita selalu mempercayai suaminya. Randi selalu terbuka tentang apa saja padanya, bahkan ketika ia menceritakan asisten barunya di kantor, seorang perempuan muda yang menarik. Gita sama sekali tidak cemburu. Ia mungkin juga tidak cemburu meskipun sang asisten baru tersebut mengajak suaminya pergi keluar malam Minggu. Tapi sebulan belakangan sikapnya berubah. Dia jadi sedikit pecemburu ketika mendengar suaminya mengobrol dengan perempuan di telepon. Dia akan menanyakan “Siapa yang di telpon?” tanpa menunjukkan wajah penasaran. Randi tahu perubahan itu. Ia pernah melihat Gita membaui baju kerjanya.

Gita mengambil piring bekas makan Randi dan membawanya ke tempat cuci piring. “Kemarin jalan-jalan ke mal sama Nina,” dia membuka keran, air jatuh di atas piring. “Bagus juga kalau kita ganti rice cooker. Nina bilang rice cooker juga berpengaruh sama nasi.” Dia menggosok piring dengan spons tanpa diairi. Barulah setelah semuanya digosok, dia membilasnya. Setelah itu ia membentuk huruf V di atas piring dengan telunjuknya. Randi yang sedang melihat hasil pertandingan sepak bola tadi malam di selulernya tidak terlalu mempermasalahkan membeli rice cooker baru meskipun milik mereka tidak bermasalah. Kalau itu bisa membantu istrinya memasak, kenapa tidak?

“Berapa harganya?”

Gita mengeluarkan selularnya dari dalam saku celana jeans pendek-nya. Dia suka memakai celana pendek jeans dan kaos santai di rumah, rambutnya diikat dengan gelang karet memperlihatkan lehernya yang panjang. Randi suka memegang rambut di bagian bawah telinganya, tapi ia lebih mengharapkan kesukaan lain dari sekedar keindahan fisik.

“Satu juta setengah,” jawab Gita. Tomi mengirim WA lagi, mengatakan ia kangen berat dan tidak sabar ingin bertemu.

“Ok. Nanti kita beli,” kata Randi, memandang foto profil Ratih di WA. Ada pesan yang sedari tadi masuk namun belum dibacanya. Pesan dari Ratih.

“Aku saja yang beli. Kebetulan Nina juga kepengen.”

Randi membaca pesan dari Ratih. Ratih menanyakan kabar Gita, apakah sudah ada kemajuan mereka. Randi menjawab bahwa sebentar lagi ia akan mengajarkannya menggunakan mesin cuci. Hampir bersamaan dengan itu, Gita menjawab pesan Tomi, mengatakan bahwa dia juga kangen. Dia ingin menambahkan kalimat “I Love You” tapi tidak jadi. Gita menunda mengetik kalimat itu karena dia ingin memberitahu Tomi perihal teman SMA mereka yang meninggal karena serangan jantung bulan lalu.

“Kapan?” tanya Randi.

Tomi menjawab ia sudah tahu berita itu. Satu menit kemudian Tomi mengirin pesan lagi, isinya: ‘Gita, … I love you’. Gita melirik Randi.

Tomi datang ke acara reuni tanpa pasangan, yang membuat Gita merasa beruntung tidak mengajak Randi. Mereka memisahkan diri dari kelompok dan memilih mengobrol di luar kafe. Tomi masih sama seperti dulu, tampan dan menyenangkan. Ia punya karir bagus di perusahaan pertambangan, mobilnya keren dan tinggal di komplek perumahan mewah di Bekasi. Perjalanan cintanya seharusnya berjalan mulus jika ia tidak membandingkan pacar-pacarnya dengan Gita. Gita merasa tersanjung mendengarnya. Kalau bukan karena ibunya yang terus mendesaknya untuk menikah, barangkali dia sudah menikah dengan Tomi dua tahun lalu, tepatnya waktu Tomi kembali dari studinya di Amerika. 27 tahun, usia yang masih cukup untuk menikah.

“Hari Rabu. Sekalian aku bawa Novi,” jawab Gita. “Adik kamu juga ikut.”

Randi senang Gita mulai akrab dengan Nissa, adik perempuannya. Mungkin itu karena usia Nissa yang semakin dewasa. Saat menikah dulu, usia Nissa masih dua belas tahun. Sekarang dia sudah tujuh belas tahun. Ia malah terpikir untuk mengenalkan Nissa pada Ratih suatu saat nanti.

Randi bertemu Ratih tiga bulan lalu di bioskop. Waktu itu Randi sengaja tidak masuk kerja, menghabiskan waktunya di mal dan berakhir di bioskop. Tidak banyak yang nonton siang itu, Randi menyerahkan karcis dan kartu nama di bawahnya kepada seorang guide. Ide itu pernah terlintas ketika ia masih kuliah. Siapa tahu, ya siapa tahu sang guide menghubungi nomornya. Tapi zaman itu ia tidak pernah melakukannya. Guide itu baru menghubungi Randi keesokan lusanya di hari libur kerjanya. Dia memperkenalkan diri dengan sopan, lalu menanyakan kabarnya. Randi sudah tahu namanya Ratih dari name tag-nya. Ratih menganggap Randi lelaki yang lumayan tampan, terlebih dengan jabatan di kartu namanya: Marketing Manager. Tapi yang diberikan itu kartu lama Randi. Sudah setahun ini Randi memulai bisnisnya sendiri, sebuah perusahaan ritisan digital. Ia mengakui di pertemuan pertama mereka di Starbucks. Ia juga mengatakan bahwa ia sudah menikah dan sepertinya pernikahannya sedang di ambang perceraian. Ia mengeluhkan istrinya yang terlalu bergantung pada asisten rumah tangga dan kurang telaten mengurus anak mereka. Ratih pendengar yang baik. Namun lebih dari itu, Ratih hobi baca. Bacaannya pun bukan hanya novel fiksi, Ratih menyukai buku-buku manajemen. Randi berpikir Ratih terlalu cerdas untuk bekerja sebagai guide. Ia mungkin akan mempekerjakannya jika perusahaan rintisannya sudah cukup berkembang. Setelah itu pertemuan mereka cukup sering, setidaknya dua kali dalam sepekan. Keduanya sudah tidak malu-malu lagi saling memanggil dengan panggilan ‘sayang’.

“Aku dari rumah jam 4. Nanti aku jemput kamu,” pesan Randi pada Ratih lewat WA.

Sementara Randi memikirkan Ratih, Gita punya kesibukan sendiri dengan selularnya: melihat foto-foto Tomi di Instagram. Dia menganggap Tomi bahkan jauh lebih tampan dari waktu sekolah dulu. Ada cinta yang tertinggal, yang bisa dia tegaskan dengan menjawab pesan itu. “I LOVE YOU 2,” ketik Gita di WA. Dia melirik suaminya sebelum mengirimkannya. Namun dia menunda mengirim pesan tersebut tatkala melihat Novi mendatangi mereka. Gita tahu siapa yang akan menjadi tujuan putri mereka. Novi akan mendatangi Randi lalu meminta Randi untuk memangkunya, sementara dia hanya bisa memandang mereka dalam kecemburuan.

Novi melangkah memutari setengah meja makan, menyeret tangannya ke tepian meja dan berhenti di sisi ibunya tanpa memerhatikan ayahnya yang sedang membungkuk. Matanya masih mengantuk. Novi menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Gita dan memeluknya.

“Mami …,” panggil Novi.

Gita mengangkat putrinya lalu meletakkannya dalam pangkuan. Dia membelai rambutnya yang panjang dan memandangnya dengan penuh perhatian. Dia berkata dalam hati bahwa dia yang akan memandikan Novi pagi ini. Dia juga yang akan memilihkan baju dan mendandaninya.

Randi sudah bisa melihat sisi lain Gita pagi itu, sesuatu yang mungkin luput dari perhatiannya selama ini. Dan tampaknya tidak ada yang pantas diucapkannya kecuali kalimat ‘I LOVE YOU’ yang disampaikan melalui WA untuk sang istri tercinta. Sedangkan, tulisan ‘I LOVE YOU 2’ yang sudah diketik Gita lebih pantas dikirim untuk suaminya.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar