Jamali dan Ibunya

— Cinta itu saling memberi dan menerima —

“Abang dari mana?” tanya gadis kecil Jamila pada Jamali di serambi masjid di Minggu pagi yang cerah. Dia memakai baju lengan panjang putih yang menutup sebagian jari-jari kecilnya dan celana panjang hitam, rambut hitamnya tersembul dari balik kerudung putih. Dia menatap wajah Jamali, menunggunya mengucapkan sesuatu. Kedua mata itu terlihat besar dengan bulu mata lentik di atas hidung nan mungil. Jamila adik bungsu Jamali, usianya akan genap enam tahun bulan depan. Bapak mereka terpikir memberi nama yang agak mirip saat melihat Jamali berdiri di samping ibunya yang baru saja melahirkan Jamila.

Jamali tidak tahu Jamila menatapnya sejak tadi. Pikirannya sedang melayang entah kemana.

Jamila melompat duduk di hadapan Jamali dan berkata, “Ibu nunggu abang semalaman.”

Jamali menarik kedua kakinya hingga tampak jarak diantara mereka. Ia sebenarnya tidak mengacuhkan Jamila atau enggan menjawab, hanya sedang memikirkan bahasa yang bisa dimengerti adiknya.

Jamila menunduk memandangi tanah, diayunkan kedua kakinya bergantian. “Kenapa nggak pulang?” tanyanya sedih, menggeser duduknya mendekat ke Jamali, berharap sedikit jawaban.

“Pulanglah, nanti abang nyusul,” jawabnya. Kemudian ia mengambil lima ribu rupiah dari dalam dompet dan memberikannya pada Jamila.

Jamila terlihat senang. Dia tahu Jamali tidak akan mengecewakannya, tidak juga pada ibunya.

*

Tadi malam, ibu mereka, seperti malam-malam sebelumnya menunggu Jamali pulang kerja. Matanya sayu, sebagian rambutnya memutih, kulit wajahnya memperlihatkan guratan-guratan kelelahan dan kerja keras.

Dia tinggal bersama keempat anaknya di rumah sederhana di dalam gang. Hanya ada dua kamar tidur di rumah itu. Kamar depan ditempati dia dan Jamila, sementara di kamar belakang ditempati dua adik laki-laki Jamali. Jamali tidur di ruang tengah, di atas lantai keramik beralas kasur tipis warna merah.

Wanita itu hampir tertidur jika tidak mendengar bunyi pintu kamar terbuka dan menemukan Jamila bersandar di dinding dengan mata masih mengantuk.

“Kapan abang pulang?” tanya Jamila lirih, melangkah malas dan berakhir jatuh dalam pangkuan wanita itu.

“Sebentar lagi, Nak … sebentar lagi,” jawabnya pelan hampir-hampir berupa bisikan.

Air hujan sedang mengatur iramanya di atap rumah, gemuruh sesekali saja. Sudah hampir jam sepuluh, tidak biasanya Jamali belum pulang. Dia belum pernah secemas ini.

Mungkinkah sesuatu terjadi pada Jamali? Mungkin dia sedang kedinginan di luar sana. Mungkin dia kelaparan. Mungkin … dan segala kemungkinan lain.

Lalu, apa yang bisa dilakukannya selain berdoa?

Rasanya baru kemarin dia melahirkan Jamali, mengantarnya di hari pertamanya sekolah, dan membelikannya sepatu lari seharga seratus dua puluh lima ribu. Jamali senang berlari. Sebuah piala di lemari bufet didapat Jamali dari lomba lari sewatu di SMP. Kini sepatu Jamali dipakai Ahmad, anak keduanya. Ahmad tidak pernah mengeluh masalah sepatu. Sepatunya masih bagus dan kuat. Ia memakainya ke sekolah.

Waktu berlalu begitu cepat, kini Jamali sudah terlihat besar dan dewasa. Di usianya yang baru sembilan belas Jamali sudah memikul beban keluarga yang teramat berat.

“Kasihan abangmu, Nak. Kasihan abangmu,” bisik wanita itu sambil membelai rambut Jamila yang panjang.

Jamila mencoba mengerti, sedangkan yang dia tahu Jamali adalah seorang kakak yang baik.

*

Menjelang tengah malam Jamali tiba di rumah. Ia membuka pintu pagar, melangkah masuk dan menutupnya. Wajahnya tampak lelah dan mengantuk. Melihat lampu ruang tamu yang masih menyala, ia memilih untuk tidak membuka pintu. Lewat celah gorden dilihatnya ibu dan adiknya sedang tidur di ruang tamu. Kasihan, ibunya pasti sudah lama menunggunya pulang.

Ia duduk di kursi teras, memandang hujan yang turun deras, mengingat-ingat kebaikan ibunya. Angin yang membuai matanya hampir menidurkannya. Diusapnya mukanya dengan telapak tangannya yang basah, setelah itu ditengoknya lagi ke dalam rumah. Ia kemudian bangkit, lalu berjalan menuju masjid, tempat ia bermalam dan mendoakan ibunya.

*

Wanita itu terbangun begitu saja. Dia melihat jam di dinding, kemudian membaringkan Jamila dengan hati-hati di atas bantal kursi, lalu menengok ke jendela. Dia menggosok kaca yang berembun, melihat ke luar menembus kabut dan air hujan, berharap Jamali ada di sana, sedang membuka pintu pagar. Namun, yang dilihatnya hanya tempat yang kosong. Dia pun kembali duduk. Tidak ada yang bisa dilakukannya sepanjang sisa malam itu, kecuali kembali menunggu dan membiarkan dirinya terjaga hingga pagi.

— Cinta itu saling memberi dan menerima, tapi seorang ibu lebih banyak memberi —

* *

Komentar