Jamali dan Ibunya

Jamali dan Ibunya
Photo by Kristina Tripkovic on Unsplash

— Cinta itu saling memberi dan menerima —

“Abang dari mana?” tanya gadis kecil Jamila pada Jamali di serambi masjid di Minggu pagi yang cerah. Dia memakai baju lengan panjang putih yang menutup sebagian jari-jari kecilnya dan celana panjang hitam, rambut hitamnya tersembul dari balik kerudung putih. Dia menatap wajah Jamali, menunggunya mengucapkan sesuatu. Kedua mata itu terlihat besar dengan bulu mata lentik di atas hidung nan mungil.

Jamila baru berumur enam tahun, tapi kalau sedang berbicara dia terkadang melupakan umurnya. Orang bilang itu karena keingintahuannya. Dia adik bungsu Jamali. Bapak mereka terpikir memberi nama yang agak mirip saat melihat Jamali berdiri di samping ibunya yang baru saja melahirkan Jamila.

Jamali bersandar di pilar masjid. Matanya memandang orang-orang yang bersuka cita sepanjang jalan menuju GOR. Ia juga mempunyai bulu mata lentik seperti Jamila, tapi matanya yang indah itu tersembunyi dalam kesedihan.

Jamila adik kesayangannya. Terkadang, hanya dengan memandang wajah Jamila maka terbayanglah wajah ibunya, dan jika terbayang wajah ibunya maka kebaikan-kebaikan ibunya akan melintas di pikirannya.

Jamila melompat duduk di hadapan Jamali dan berkata, “Ibu nunggu abang semalaman.”

Jamali menarik kedua kakinya hingga tampak jarak diantara mereka. Jamila menunduk memandangi tanah, diayunkan kedua kakinya bergantian. “Kenapa nggak pulang?” tanyanya sedih, menggeser duduknya mendekat ke Jamali, berharap sedikit jawaban.

Jamali sebenarnya tidak mengacuhkan Jamila atau enggan menjawab. Ia hanya sedang memikirkan bahasa yang bisa dimengerti adiknya.

“Pulanglah, nanti abang nyusul,” jawabnya. Kemudian ia mengambil lima ribu rupiah dari dalam dompet dan memberikannya pada Jamila.

Raut wajah Jamila berubah. Dia tahu Jamali tidak akan mengecewakannya, tidak juga pada ibunya.

*

Tadi malam, ibu mereka, seperti malam-malam sebelumnya menunggu Jamali pulang kerja. Matanya sayu, sebagian rambutnya memutih, wajah tirusnya memperlihatkan guratan-guratan kelelahan dan kerja keras.

Dia tinggal bersama keempat anaknya di rumah sederhana di dalam gang. Hanya ada dua kamar tidur di rumah itu. Kamar depan ditempati dia dan Jamila. Di kamar belakang ditempati dua adik laki-laki Jamali. Sementara Jamali tidur di ruang tengah, di atas lantai keramik beralas kasur tipis warna merah.

Wanita itu hampir tertidur jika tidak mendengar bunyi pintu kamar terbuka dan menemukan Jamila bersandar di dinding dengan mata masih mengantuk.

“Kapan abang pulang?” tanya Jamila lirih, melangkah malas dan berakhir jatuh dalam pangkuan wanita itu.

“Sebentar lagi, Nak … sebentar lagi,” jawabnya pelan hampir-hampir berupa bisikan.

Air hujan sedang mengatur iramanya di atap rumah, gemuruh sesekali saja. Sudah hampir jam sepuluh, tidak biasanya Jamali belum pulang. Dia belum pernah secemas ini, pikiran buruk mulai menghantuinya.

Mungkinkah sesuatu terjadi pada Jamali? Mungkin dia sedang kedinginan di luar sana. Mungkin dia kelaparan. Mungkin … dan segala kemungkinan lain.

Lalu, apa yang bisa dilakukannya selain berdoa?

Rasanya baru kemarin dia melahirkan Jamali, mengantarnya di hari pertamanya sekolah, dan membelikannya sepatu lari seharga seratus dua puluh lima ribu. Jamali senang berlari. Sebuah piala di lemari bufet didapat Jamali dari lomba lari sewatu di SMP. Kini sepatu Jamali dipakai Ahmad, anak keduanya. Ahmad tidak pernah mengeluh masalah sepatu. Sepatunya masih bagus dan awet. Ia memakainya ke sekolah.

Waktu berlalu begitu cepat, kini anak itu sudah terlihat besar dan dewasa. Di usianya yang baru sembilan belas Jamali sudah memikul beban keluarga yang teramat berat.

“Kasihan abangmu, Nak. Kasihan abangmu,” bisik wania itu sambil membelai rambut Jamila yang panjang.

Jamila mencoba mengerti, sedangkan yang dia tahu Jamali adalah seorang kakak yang baik. Dia hanya ingin tertidur dalam kehangatan dan merasakan kenyamanan di saat bunyi guntur menakut-nakutinya.

*

Menjelang tengah malam Jamali tiba di rumah. Ia membuka pintu pagar dan melangkah masuk. Badannya kurus, kemeja yang dipakainya longgar dan kusut, celananya sempit di bagian paha. Tapi Jamali tidak pernah mengeluh.

Ruang tamu yang masih terang membuatnya tidak berani membuka pintu. Ia mengintip melalui celah jendela, matanya terpaku pada ibu dan adiknya yang sedang tidur di atas kursi tamu. Ia duduk sebentar di kursi teras.

Tadi pagi ia menemukan beberapa helai rambut putih di lantai kamar mandi. Tapi itu bukan yang pertama kali. Ia terkadang menemukan helai-helai rambut itu di setiap sudut rumah. Ia tahu pemilik rambut itu. Pemiliknya adalah orang yang menyiapkannya sarapan dan menyetrika baju kerjanya, orang yang memasak makan malam untuknya lalu menunggunya pulang kerja dengan segelas teh manis hangat di atas meja.

Lalu, apa yang sudah diberikannya untuk membalas kebaikannya?

Jamali terlalu sedih untuk memikirkan itu. Ia bahkan belum pernah membelikan ibunya baju baru.

Suara guntur membangunkannya dari lamunan, dan ia memutuskan pergi menuju masjid, tempat ia akan bermalam dan mendoakan ibunya.

*

Wanita itu terbangun begitu saja. Dia melihat jam dinding. Pukul 02.00. Dia membaringkan Jamila dengan hati-hati di atas bantal kursi dan setelah itu menengok ke jendela. Dia menggosok kaca yang berembun itu, dan setelah itu mencoba melihat ke teras. Tidak ada tanda-tanda Jamali sudah pulang. Lalu dia mengalihkan pandangannya menembus kabut dan air hujan. Yang dilihatnya hanya jalanan sepi. Kemudian dia kembali duduk dan terpaku. Tidak ada yang bisa dilakukannya sepanjang sisa malam itu, kecuali kembali menunggu dan membiarkan dirinya terjaga hingga pagi.

— Cinta itu saling memberi dan menerima, tapi seorang ibu lebih banyak memberi —

* *

Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply