Pameran Lukisan

Setelah tiga atau empat kali menolak ajakannya, akhirnya aku menerima ajakan Jaelani untuk menemaninya pergi ke pameran lukisan tunggal di Jakarta. Pelukisnya bernama Ibu Suryati, seorang perempuan enam puluh tahun yang juga pengusaha tambang batu bara. Jaelani menggantikan dosennya yang tidak bisa datang karena suatu urusan. Ibu Suryati lulusan ITB jurusan seni rupa, kawan baik dosennya. Jaelani menunjukkan beberapa lukisan Ibu Suryati dari website galerinya.

“Sudah banyak yang terjual. Harga satu lukisannya di atas 100 juta.”

Dasar orang kaya.

“Semua uang penjualannya disumbangkan untuk panti asuhan dan pendidikan di daerah.”

Orang kaya yang dermawan.

Karena yang mengundang seorang pelukis-pengusaha, bukan mahasiswa seni atau seniman jalanan seperti biasanya, kupikir kami harus memakai pakaian khusus, seperti jas, dasi atau sepatu pantofel. Tetapi Jaelani bilang ini bukan pesta sosialita, jadi pakai sajalah pakaian yang … berseni.

Aku tidak paham apa yang dimaksudnya dengan pakaian yang … berseni? Yang kupunya hanya kaos lusuh dan celana jeans usang. Menjawab keresahanku, sesampainya di Jakarta, Jaelani mengajakku ke mal, lalu aku dibelikannya kaos, sweater, dan sepatu. Aku bertanya-tanya dalam hati, dari mana ia punya uang sebanyak itu? Untuk sepatu, kaos dan sweater-ku saja totalnya sudah hampir satu juta, sementara ia membeli topi, jaket, kaos dan sepatu yang total harganya satu juta setengah. Jangan-jangan ia anak orang kaya yang berpura-pura kere.

Setahuku, Jaelani sama sepertiku, sama-sama mahasiswa yang dompetnya ngap-ngapan di pertengahan bulan, yang berbagi nasi bungkus warteg atau sengaja mampir ke kosan teman untuk sekedar numpang ngopi dan ngemil, atau, kalau beruntung bisa ditraktir makan. Datang ke pameran seperti ini jadi lompatan besar buat kami, yang disebut Jaelani akan ada gala dinner. Namun, terlepas dari itu, harus kuakui seleranya bagus dalam fesyen, penampilanku terlihat keren.

Kami tiba di depan gedung galeri lima belas menit sebelum acara di mulai. Gedungnya sangat indah, tamu-tamu undangan datang dengan mobil bagus yang diparkir valet. Betul apa yang dibilang Jaelani tentang tidak perlu datang dengan pakaian khusus. Tamu undangan laki-laki hanya sedikit yang memakai jas atau berdasi, sisanya berpakaian kasual. Kebalikannya, yang perempuan terlihat anggun dalam gaun dan hanya sedikit yang tampil kasual. Kami mengisi daftar tamu undangan, mendapatkan buku panduan pameran yang berisi katalog, foto-foto dan harga lukisan, kemudian setelah itu kami diarahkan ke sebuah aula, tempat para tamu undangan berkumpul.

Jaelani tampak luwes berbaur dengan para tamu. Aku, yang ditinggalkannya sendiri, mencicipi berbagai kudapan di atas meja di sisi kanan. Seorang petugas pemandu bernama Ratih (aku tahu namanya dari kartu panita) mencoba beramah tamah denganku; mengucapkan terima kasih atas kehadiranku, menjelaskan tentang latar belakang sang pelukis itu, galerinya, dsb., kemudian dia menunjukkan jadwal acara dalam buku panduan di halaman yang kulewatkan. Di situ ada sambutan, hiburan musik, pameran – tentu saja, makan malam (bukan gala dinner seperti disebut Jaelani) sekaligus lelang lukisan.

“Anda masih kuliah?” tanyaku.

“Ya,” jawabnya. “Masih kuliah juga?”

“Ya. Aku datang bersama teman,” diarahkannya pandanganku ke Jaelani yang sedang asik mengobrol dengan seorang pria bertopi pet. “Ia menggantikan dosennya. Mungkin Anda kenal, Pak Darsono … dari ITB.”

“Oh, tentu. Beliau kawan baik Ibu Suryati. Anda kuliah jurusan seni rupa juga?”

“Panggil saja Ali. Aku mahasiwa jurusan fisika dan aku suka sekali lukisan. Monet, Picasso, Affandi, Basuki Abdullah, dan tentu saja Ibu Suryati.”

Tepat jam tujuh malam acara dimulai. Seorang MC naik ke atas panggung, acara pembukanya dibawa santai dengan diselingi humor. Setelah lima menit, giliran Ibu Suryati yang naik ke atas panggung. Dia terlihat anggun, tubuhnya berisi, kulitnya putih dan kencang seakan dia baru berusia empat puluhan. Bukan itu saja, dia tampil bersemangat, tidak menonjolkan dirinya sebagai seorang pelukis ternama atau seorang pengusaha. Aku menghitung, dia tujuh kali mengucapkan kata terima kasih, yang mana cukup banyak untuk sambutan singkat. Aku bertepuk tangan keras sekali di akhir sambutannya, dan terus tepuk tangan walaupun yang lainnya sudah berhenti tepuk tangan.

Selanjutnya, giliran pemain musik naik ke atas panggung. Begitu musik dimulai, petugas pemandu membawa kami ke ruang pameran, ada Ratih di seberang sana, juga Jaelani yang hampir saja kulupakan. Kulihat Ibu Suryati dikelilingi banyak orang, dia sedang beramah tamah, melayani wartawan dan foto bersama.

Semua lukisan yang dipamerkan ada di dalam katalog buku panduan, temanya: Masa Lalu. Lewat pameran ini, Ibu Suryati seakan sedang menceritakan masa lalunya. Seperti tercantum dalam buku panduan, Ibu Suryati lahir dan besar di Kalijati, Subang, dekat Pangkalan Udara. Bapaknya seorang kapten, ibunya seorang guru. Dia punya dua adik perempuan, adik bungsunya meninggal saat usianya delapan belas tahun. Ada 117 lukisan yang dipamerkan, ratusan lainnya ada di ruang galeri berbeda. Masing-masing lukisan sudah dihargai seperti tercantum dalam buku panduan. Galeri depannya didominasi lukisan anak-anak. Ada anak-anak bermain kelereng. Ada anak berambut cepak yang sedang memancing. Ada dua anak yang bermain badminton dengan raket kayu. Saat aku sedang melihat lukisan bocah perempuan sedang membaca buku di pasar, tiba-tiba Ratih sudah ada di sampingku. Dia menjelaskan latar belakang lukisan tersebut. Dibilangnya lukisan itu dibuatnya berbulan-bulan. Bocah perempuan itu adiknya Ibu Suryati dan pasar itu masih ada, letaknya tidak jauh dari rumah masa kecil Ibu Suryati. Penjelasannya terhenti ketika seorang perempuan, mungkin atasannya, memintanya untuk menemani salah satu tamu, yakni seorang wanita berpenampilan menarik.

Aku berpindah ke lukisan lain. Aku memandangnya, menatapnya, menelitinya, membaca penjelasan singkatnya dan mencocokkan harganya di buku panduan. Aku tidak tahu bagaimana sebuah lukisan dihargai demikian mahal. (Seratus juta hanya untuk kanvas dan cat?) Jaelani pasti akan menjawab bahwa ini adalah seni dan seni tidak tidak bisa dinilai hanya dari bentuk fisik.

Aku jadi teringat saat pertama kali mengunjungi pameran lukisan. Waktu itu aku masih SMP, seluruh murid kelas 8 diajak mengunjungi pameran lukisan di dalam gedung bulu tangkis yang muram. Ada ratusan lukisan yang dipamerkan, dijejer berdiri meliuk-liuk seperti sirkuit. Lukisan-lukisan itu dibuat lebih dari satu pelukis karena tanda tangan di kanvasnya yang berbeda-beda. Mungkin karena tempatnya yang muram, maka imbasnya lukisannya pun jadi terlihat membosankan. Sejak saat itu, aku tidak berminat lagi pergi ke pameran lukisan – setidaknya hingga Jaelani mengajakku ke tempat ini. Namun, itu bukan berarti aku tidak suka lukisan. Satu tahun lalu aku pergi untuk menemani temanku bertemu ayahnya di kantornya di Wisma GKBI Sudirman. Di ruang tunggu yang luas dan nyaman ada lukisan nelayan di atas perahu rakit dengan latar sebuah gunung menjulang. Lukisan itu sangat besar dan indah. Lebih indah dari resepsionis yang cantik itu. Aku seakan-akan sedang berada di dalamnya, merasakan kesejukan dan keheningannya. Betul seperti pepatah bilang bahwa, sebuah lukisan menceritakan banyak hal, yang kaulakukan hanya mendengarkannya.

Lalu, aku pergi ke ruang galeri lain. Ternyata Jaelani juga ada di sini, di dekat lukisan pesawat kuno bersama dua orang pria dan seorang wanita. Ia tampak asik mengobrol. Meskipun terlihat sibuk, ia tahu keberadaanku. Ia melambaikan tangan dan memberi acungan jempol padaku, setelah itu ia kembali tenggelam dalam obrolan lagi.

Diam-diam aku kembali ke aula untuk mengambil kudapan dan segelas minuman. Penyanyi di atas panggung melirikku saat kumasukkan kudapan ke dalam tas. Memang, aku terlihat tidak sopan mengambil kudapan begitu banyak, akan tetapi bertingkah sopan tidak akan membuat perutku kenyang. Masih satu jam lagi hingga acara makan malam dan aku sangat kelaparan.

Sambil makan kudapan, aku menjelajahi gedung yang luas ini. Aku berjalan melewati lorong dengan lukisan pemandangan di sisi kanan dan kiri. Semakin ke dalam semakin sepi, lukisannya pun semakin jarang, hanya ada sketsa-sketsa dengan tulisan-tulisan kenangan Ibu Suryati. Musik jazz terdengar samar-samar, dua orang yang baru keluar dari toilet melewatiku. Aku terus saja berjalan hingga akhirnya kembali ke ruang yang pernah kukunjungi tadi. Jaelani masih ada di situ, masih asik ngobrol. Begitu aku pergi, serombongan orang datang, ada beberapa petugas pemandu bersama mereka, tetapi tidak ada Ratih.

Lukisan-lukisan yang baru kulihat dua puluh menit lalu sudah ditandai terjual, semua harganya di atas seratus juta. Betapa senangnya Ibu Suryati banyak yang meminati lukisannya. Betapa senangnya juga anak-anak di panti asuhan dan anak-anak sekolah yang akan dibiayai lagi oleh Ibu Suryati.

Ketika aku tiba di ruang galeri lain yang tidak terlalu ramai, mataku terbentur pada sosok gadis bergaun hitam yang muncul tiba-tiba di hadapanku. Wajahnya bening, kulitnya putih, matanya teduh, bibirnya yang kemerahan tersenyum padaku. Ah, senyum itu; senyum yang menegaskan kecantikannya, sekaligus membuatku merasa bersalah karena memandanginya terlalu lama dan membuatnya tidak nyaman.

“Tadi kulihat kau bertepuk tangan keras sekali,” dia berkata, “kau mengaguminya?”

“Ya.”

“Karena bakatnya atau kecantikannya?”

“Dua duanya.”

“Mari kita bicara lukisan. Lukisan mana yang paling kausuka?”

“Aku suka lukisan bocah perempuan yang sedang membaca di pasar.”

“Kenapa?”

“Itu lukisan yang indah,” jawabku, mengingat-ingat saat aku memandangi lukisan tersebut. “Aku seakan sedang berkomunikasi dengan bocah itu. Aku bertanya padanya, buku apa yang kaubaca? Lalu dia menjawab, novel. Dia sudah membacanya berulang-ulang. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang novelis suatu saat nanti. Lalu, aku duduk di sampingnya dan kami membaca bersama.”

“Kautahu cerita di balik lukisan itu?”

“Sedikit. Ratih tadi memberitahuku.”

“Ratih?”

“Petugas pemandu itu. Dia panitia.”

“Jadi kautahu siapa bocah itu?”

“Dia adiknya Ibu Suryati, tapi aku tidak tahu adik yang mana.”

“Adik bungsunya. Namanya Suryani. Dia seharusnya jadi penulis hebat kalau tidak meninggal karena pneumonia.”

Aku terdiam sejenak sebelum berkata, “Lalu, bagaimana denganmu? Yang mana favoritmu?”

“Aku suka semuanya.”

“Menurutmu, apa aliran lukisannya? Naturalis atau Realis?”

“Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku hanya menikmatinya.”

“Apakah kita pernah bertemu? Wajahmu tidak asing.”

“Belum, kita belum pernah bertemu. Kita juga belum pernah berkenalan. Tapi, hampir semua orang bilang wajahku tidak asing, karena itu aku tidak terkejut kau menanyakannya.”

“Baiklah. Kalau begitu …”

Obrolan kami terputus, seseorang mendatangiku, dan berdiri di hadapanku. Dia adalah Ibu Suryati.

“Jadi, kau mahasiswanya Darsono?” tanya Ibu Suryati.

“Bukan, tapi temanku,” jawabku. “Namanya Jaelani. Aku hanya menemaninya.”

“Oh, begitu,” katanya, tersenyum. Ah, senyum itu; senyum yang menegaskan kecantikannya, sekaligus memberitahuku bahwa, gadis muda bergaum hitam itu adalah Ibu Suryati, versi mudanya dalam lukisan.

**

Komentar