Mengintip Amanda

Saya tahu nama perempuan yang baru pindah ke rumah di RT 05 itu dari hasil mendengar obrolan teman-teman saya. Sebelum itu, saya hanya melihat Amanda lewat beberapa kali di depan rumah saya tanpa berani menyapanya. Untuk sementara informasi itu yang saya punya, sebelum akhirnya saya dapat informasi lainnya dua minggu kemudian, yang mengatakan bahwa sebelumnya dia tinggal di Tanah Abang. Di sini, di Bekasi, dia tinggal bersama ayah dan kakak laki-lakinya.

Rumah bernomor 118 yang ditempatinya itu bekas rumah teman saya yang pindah ke Karawang delapan tahun lalu tanpa pamitan. Rumah itu kemudian dikontrakan sebelum akhirnya dijual. Pembelinya tentu saja ayahnya Amanda, mantan pegawai Kementerian Kesehatan itu. Informasi itu saya dapat dari ibu saya melalui obrolan ibu-ibu saat belanja sayur dengan ayahnya Amanda yang selanjutnya saya kenal sebagai Pak Maman.

Pak Maman berusia sekitar pertengahan 50 tahun, sebagian rambutnya putih, hidungnya bengkok dan mancung, tubuhnya gemuk, jalannya lambat, suara dehemnya gampang dikenali. Saya biasa menemukannya sedang duduk-duduk merokok di pinggir halaman masjid atau mengobrol dengan jemaah lain di teras masjid usai sholat subuh. Pak Maman suka bercerita. Ceritanya yang terkadang menimbulkan reaksi berantai membuatnya gampang akrab dengan orang lain. Seperti Sabtu sore itu, ketika ia bercerita tentang pengalaman masa lalunya, tiba-tiba saja ia dan Pak Yanto bertemu di suatu titik di tahun-tahun pertamanya di Jakarta; ternyata keduanya pernah tinggal di daerah yang sama di tahun 80’an. Atau besoknya, ketika ia bercerita tentang empang ikan nilanya di Ciamis, Pak Surya tiba-tiba menimpalinya, mengatakan bahwa ia punya sepupu di Ciamis yang juga punya empang nila, yang kemudian dikenal Pak Maman sebagai adik kelasnya di SMP.

Ia juga terkadang mengobrol dengan kami, para anak muda. Ia bercerita seperti cerita orang tua kebanyakan, tentang kerja keras, perkelahian satu lawan satu, merantau, membandingkan masa-masa muda mereka dengan masa-masa anak muda zaman sekarang. Bedanya, cerita Pak Maman jauh lebih seru, lebih seperti menonton film ketimbang mendengarnya bercerita.

Sementara informasi tentang istri Pak Maman yang sudah lama meninggal saya dapat dari obrolan dengan Idris, putra Pak Maman, di masjid setelah sholat isya. Ali, teman saya, bertanya padanya, “Sebelumnya tinggal di mana?” Idris menjawab ia tinggal di Tanah Abang, dekat stasiun. Lanjutnya, ia menceritakan asal ayahnya yang dari Ciamis, lalu tentang rumah neneknya, empang nilanya dan kebun rambutannya, dan menyebut asal ibunya yang dari Purwokerto yang sudah lama meninggal. Idris memakai kacamata berlensa tebal, wajahnya bulat, tubuhnya gemuk, dan dengan pembawaannya yang santai, ia melayani siapa saja yang bertanya. Dari tingkat kuliahnya yang semester 8, saya bisa menebak usianya antara 21 atau 22. Adapun usia Amanda, adiknya, saya perkirakan masih 17 atau 18 tahun.

Letak rumah saya yang strategis memungkinkan saya sering melihat Amanda. Strategis di sini artinya rumah saya dilewati orang-orang, seakan-akan gang di depan rumah saya satu-satunya jalan masuk dan keluar komplek, padahal tidak demikian. Komplek di rumah saya punya banyak jalan masuk dan keluar, hanya, gang di depan rumah saya jalan terdekat menuju masjid, mini market, sekolah, rumah sakit, pusat olahraga dan jalan utama yang menuju jalan raya. Dengan begitu, saya juga terbiasa menyapa atau disapa orang-orang yang lewat dan ini sedikit melelahkan.

Sebetulnya, apa yang membuat Amanda menarik adalah dia jadi perempuan paling cantik se-RW. Dulu pernah ada beberapa. Ada Putri, anak pertama Pak RW, yang usianya tiga atau empat tahun lebih tua dari saya. Dia pindah rumah ke Cianjur saat saya masih kelas 2 SMP. Ada juga Anne. Saya tidak tahu banyak tentang dia, kecuali pernah melihatnya beberapa kali saat sholat tarawih. Anne hanya tinggal sebentar di Bekasi sebelum pindah entah kemana. Menurut saya, Anne lebih cantik dari Putri maupun Amanda. Yuli, teman main saya yang tinggalnya hanya berjarak empat rumah, juga lumayan cantik. Meski begitu, dia tidak masuk hitungan. Secantik apapun teman main saya, saya tidak ingin punya mertua tetangga sendiri. Lalu, ada juga anak-anak kos yang cantik. Mereka karyawan Epson yang biasa lewat depan rumah saya saat subuh dan kembali setelah maghrib. Mereka hanya ngekos selama setahun, lalu pulang kampung setelah kontrak kerja mereka habis. Prinsip saya tidak berpacaran atau menikah dengan tetangga sendiri bisa jadi pengecualian buat Amanda. Pertama, saya tidak kenal dia dari kecil. Kedua, orang tua kami juga baru saling kenal. Kesimpulannya, tidak ada hal jelek yang perlu diketahui di antara keluarga kami di masa lalu. Sayangnya, Amanda muncul bertepatan dengan masa-masa menganggur saya.

Pada akhirnya, teman-teman saya yang lain yang berhasil mendekati Amanda. Teman lain yang saya maksud bukan teman dekat meskipun kami dulunya kami sangat akrab. Begini penjelasannya.

Sewaktu saya kecil, semua anak-anak di lingkungan kami sangat akrab. Kami belajar di SD yang sama, sama-sama main bola di lapangan komplek dan sama-sama mengaji di masjid. Seleksi lingkaran pertemanan terjadi selepas SMP. Ada dari kami yang condong ke masjid dan bergabung dengan Remaja Masjid, dan ada juga yang condong nongkrong di pos ronda dan bergabung dengan Karang Taruna. Sekalipun begitu, kami masih saling menyapa. Setahu saya, hanya Idris, yang meskipun condong ke masjid, juga sering terlihat nongkrong di pos ronda. Mungkin dari pendekatan kepada Idris-lah mereka akhirnya bisa mendekati Amanda.

Saya tidak cemburu saat tahu Amanda sudah punya pacar. Begitu pun saat Amanda dan Hendri, pacarnya, yang teman saya juga, sering lewat di depan rumah saya sambil bergandengan tangan atau berboncengan sepeda motor. Kami saling menyapa saat berpapasan. Saya akui kalau Hendri lebih baik dari saya dalam hal pekerjaan. Ia sudah bekerja di Pemkot sebagai pegawai honorer.

Sayangnya, atau untungnya, keduanya tidak lama berpacaran, kira-kira hanya enam atau tujuh bulan. Saya tidak perlu tahu alasan mereka putus. Meski begitu, saya pernah mengendus gejalanya ketika melihat Amanda pergi bersama teman saya yang lain. Suatu hari ia pergi bersama Lutfi. Besoknya ia pergi bersama Agung. Di hari lain dia pergi bersama Doni. Sampai suatu ketika saya lebih sering melihat Amanda pergi sendiri. Kali ini waktu pergi dan pulangnya lebih terjadwal. Dia melewati rumah saya pada pagi hari sekitar jam 07.40, lalu lewat rumah saya lagi sorenya sekitar jam setengah enam. Dari cara berpakaiannya yang rapih, bisa dipastikan dia sudah bekerja.

Karena sudah tahu jadwal berangkat dan pulang kerjanya, maka saya susun rencana supaya bisa memandang wajahnya tanpa terkesan disengaja. Pertama, di waktu pagi, saat saya membuang sampah ke tong sampah depan rumah. Rencana itu hampir berhasil. Saya memang berpapasan dengan Amanda saat dia berangkat kerja, tapi saya tidak bisa melihat wajahnya karena badan saya yang menghadap tong sampah. Kedua, di waktu sore, saat saya menyiram pohon-pohon di dalam pot di depan rumah. Sore itu saya sudah mulai menyiram pohon jam 05.15. Karena pohon yang disiram tidak banyak, saya pun melambat-lambat menyiramnya. Tapi lagi-lagi saya tidak bisa melihat wajah Amanda. Dia melewati saya ketika saya sedang mengisi penyemprot tanaman.

Besok paginya saya lebih memilih melihat Amanda dari pagar di balik kerai bambu. Rencana itu tentu saja berhasil, saya bisa melihat wajahnya selama beberapa detik. Lalu sorenya, seperti halnya kemarin, saya menyiram pohon jam 05.15. Tidak berapa lama kemudian saya bisa melihat Amanda datang. Semakin dekat, semakin saya jadi salah tingkah. Dia melihat saya, saya pun melihatnya. Dia tersenyum, saya pun balas tersenyum. Setelah dia berlalu, saya masih saja memandanginya hingga dia menghilang di pertigaan gang. Hal ini berlangsung dua hari berturut-turut. Hari berikutnya saya tidak lagi melakukannya. Saya tidak ingin dia sampai mencurigai saya. Di samping itu, saya juga tidak ingin status menganggur saya diketahui Amanda.

Nah, sekarang Anda sudah tahu alasan saya tidak mendekati Amanda. Namun, perlu saya jelaskan bahwa status menganggur saya terjadi bukan karena saya malas.

Dua tahun lalu saya kena sakit paru. Tidak jelas penyebabnya, padahal saya bukan perokok. Awalnya saya batuk-batuk, tapi batuk-batuknya tidak hilang setelah dua minggu. Dokter Puskesmas bilang ada cairan di paru saya dan harus disedot keluar. Besoknya saya pergi ke lab dan paru pun saya di-rontgen. Lusanya, setelah hasil rontgen keluar, saya pergi ke RSUD diantar ayah saya. Proses pendaftarannya tidak sulit. Saya pakai kartu Jamkesmas dan berharap semuanya gratis. Di poli paru saya duduk bersama puluhan pasien yang sudah mengantri dipanggil. Di antara pasien-pasien itu, sepertinya kondisi saya yang terlihat paling baik. Saya duduk di sebelah kakek yang nafasnya megap-megap. Tidak jauh dari saya, ada anak muda di kursi roda dengan alat bantu nafas dan tabung oksigen yang menempel di kursi rodanya. Wajah-wajah muram terlihat dari para pengantar. Saya berulang kali membaca poster-poster bergambar paru dan bahaya merokok.

Saya baru bisa masuk ruang dokter menjelang jam sebelas. Ada tiga dokter yang menyambut saya, dokter yang senior menyapa saya, sementara dua lainnya berdiri di sampingnya sambil memegang catatan. Dokter senior membaca foto rontgen saya, kemudian menempelkan stetoskop di punggung saya. Sebentar saja, dokter itu sudah tahu masalahnya. Saya disuruh datang besok untuk disedot cairannya. Hal itu seharusnya mudah, tapi yang jadi masalah, cairan itu tidak bisa dikeluarkan. Lusanya, paru saya di-USG, punggung saya dicoret-coret dan saya disuruhnya jangan mandi. Suster yang melihat hasil USG saya bilang, “Lagi nabung, Mas?” Awalnya saya bingung apa yang dimaksudnya dengan nabung, tetapi akhirnya saya paham bahwa air di dalam paru saya-lah yang ditabung.

Hari berikutnya saya datang lagi. Saya disuruhnya buka baju dan angkat tangan kanan saya, setelah itu jarum suntik menembus paru saya di tempat yang dicoret-coret itu. Kabar baiknya, suntikannya tidak sesakit seperti yang kubayangkan. Kabar buruknya, cairan yang keluar hanya 10 atau 15 cc. Pun hasilnya sama setelah dicoba lagi. Akhirnya, saya diberikan resep obat yang harus diminum pagi hari sebelum sarapan. Obatnya gratis. Tiga hari kemudian saya demam. Malamnya, saya pergi ke klinik. Saya baru saja duduk ketika dokter tiba-tiba berkata, “Mata kamu kuning.” Kemudian saya disuruhnya untuk periksa darah di lab. Hasilnya jelek. Liver saya keracunan obat paru. Saya diresepi obat dan mesti kontrol setiap minggu. Obat parunya di-stop sampai liver saya sembuh. Dibilangnya saya tidak boleh terlalu capek, tidak boleh makan ini-itu. Ketika saya menebus obat di apotek, petugasnya berbisik, “Coba minum air rebusan remis.” Saya pun mengikuti sarannya. Dan, sebagai ganti obat paru, saya berjemur setiap hari. Saya juga mengundurkan diri dari perusahaan supaya bisa fokus pada pengobatan saya. Singkatnya, setelah dua tahun badan saya kembali normal, dan seperti sulap, hasil rontgen-nya lumayan bagus, kabut di paru saya hilang.

Alasan baru sembuh dari sakit terdengar bisa dimaklumi sebagai jawaban kenapa saya masih menganggur. Meski begitu, saya sama sekali tidak bermaksud untuk dikasihani. Saya masih berbuat sesuatu selama masa menganggur; saya jualan online dan belajar menulis artikel. Jualan online saya berjalan tertatih-tatih, sementara perkembangan menulis saya semakin lama semakin bagus walaupun sudah belasan kali ditolak surat kabar.

Tetapi, tidak selamanya tentang penyakit berat tidak berdampak buruk, ada juga kabar baiknya. Begini ceritanya.

Pada suatu hari di pesta perkawinan tetangga saya, Amanda tiba-tiba mendatangi saya yang sedang makan sendirian. Dia, yang bertugas sebagai pagar ayu, terlihat cantik dengan kebaya coklatnya. Dia menarik kursi, kemudian duduk di sebelah saya, lalu bertanya tentang penyakit paru saya. Saya tidak kaget infomasi tersebut bisa sampai di telinga Amanda, sama seperti halnya saya mendapat informasi tentang Amanda. Bunyi musik dangdut yang kencang rupanya membuat kami duduk cukup dekat. Amanda yang memanggil saya dengan “Kak” menanyakan apakah saya sudah benar-benar sembuh? Saya jawab, alhamdulillah sudah sembuh. Sudah tidak batuk-batuk lagi. Nafas juga sudah lega. Lantas dia bertanya lagi, berobat di mana? Bagaimana caranya bisa sembuh? Kemudian saya ceritakan seperti yang saya barusan ceritakan kepada Anda, hanya saja saya menambahkan kesimpulan bahwa perbaikan paru saya terjadi begitu saja alias tanpa obat dan memberi penekanan pada berjemur. Mendengar jawaban saya, dia jadi terdiam, matanya memandang ke depan, ke arah biduan yang sedang bernyanyi dangdut. Pada saat itu saya berkesempatan memandang wajahnya. Saya baru tahu Amanda memakai soft lens dan punya dua tahi lalat kecil di lehernya. Seakan sadar dirinya sedang diperhatikan, dia menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan topik kami sebelumnya. Pertanyaan yang mengubah wajahnya yang muram jadi ceria.

“Kak, pernah makan jambu mete?”

“Belum,” jawab saya. Saya pikir jawaban itu biasa saja mengingat di Bekasi bisa dibilang jarang ditemui pohon jambu mete. Lain halnya dengan kacangnya yang pernah saya makan. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” jawabnya, tersenyum, menampakkan dua lesung pipinya. “Kakak harus coba.”

Saya baru akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba temannya memanggilnya lalu menariknya untuk berfoto bersama pasangan pengantin. Tukang foto memberi aba-aba dengan jari tangan, lalu Amanda berpose dengan dua jari tangan membentuk huruf V, dengan senyum yang lebar dan mata yang melirik saya.

“Nanti dicoba,” kata saya pelan.

*

Lusanya, tanpa direncanakan, saya berpapasan dengan Amanda di jalan utama ketika saya pergi membeli sesuatu di minimarket. Saat itu Amanda baru saja pulang kerja. Kemudian, selama tiga atau empat hari ke depan, atas takdir Tuhan, saya terus-terusan berpapasan dengannya, di pagi dan sore hari, dan selama itu saya hanya mendengar dia berkata: “Permisi, Kak.” Tidak lebih. Tapi tidak masalah. Sapaannya, selain menandakan nama saya sudah melekat di kepalanya, juga menandakan kepeduliannya.

Hari berikutnya, saya sengaja tidak ingin berpapasan dengannya. Sebagai gantinya, saya melihatnya dari balik kerai bambu sewaktu dia berangkat kerja. Saya senyum-senyum sendiri melihat dia menengok ke dalam rumah saya, seakan-akan sedang mencari-cari saya. Setelah dia berlalu, gantian saya yang menengoknya, tetapi pada saat itu dia sudah berbelok ke jalan utama. Saya kemudian keluar rumah, lalu mengejarnya dan mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Ini adalah rencana saya yang lain, yakni mencari tahu tempat kerjanya. Dengan begitu saya tidak perlu lagi berpapasan dengannya di depan rumah. Saya akan berpura-pura berpapasan dengannya saat dia berjalan pulang ke rumahnya sore nanti. Ternyata tempat kerjanya tidak jauh, tidak perlu naik angkot atau ojek, hanya sekali menyeberang jalan raya, lalu berjalan kira-kira tiga puluh meter. Tempat kerjanya berupa bangunan ruko tiga lantai dengan banyak sepeda motor dengan box terparkir di depannya.

Tepat jam 5 sore saya sudah menunggu di halte bis dekat jembatan penyeberangan orang (JPO) depan Rumah Sakit. Dari situ saya bisa melihat orang-orang yang turun dari tangga JPO. Perkiraan saya, kalau tidak lembur, Amanda akan turun sekitar jam 05.10. Kalau nanti saya melihatnya turun tangga, maka saya akan pergi melalui gang sehingga saya bisa berpapasan dengannya saat saya keluar gang. Pada saat itu terjadi, tentunya saya yang seharusnya lebih dulu menyapanya. Tapi sayangnya, hingga menjelang maghrib Amanda tidak juga muncul. Mungkin dia sedang lembur atau ada urusan lain di tempat kerjanya, dan saya pun memutuskan untuk pulang.

Besok paginya saya melewatkan melihat Amanda dikarenakan kondisi perut saya yang terus-terusan mulas. Pun dengan sorenya dengan alasan yang sama. Baru lusanya saya bisa melihat Amanda lagi. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia naik becak bersama ayahnya.

Hari-hari berikutnya saya ada urusan dengan teman saya yang menyita waktu sampai seharian sehingga saya kehilangan kesempatan melihat Amanda. Urusan ini berupa kabar gembira. Teman saya meminta saya menulis artikel untuk blog perusahaan tempatnya bekerja. Sebetulnya, jauh sebelum itu saya sudah pernah meminta beberapa teman saya yang lain seandainya butuh penulis artikel. Tapi, teman yang tidak pernah terpikirkan malahan yang memberikan pekerjaan. Pekerjaan ini sangat penting, bukan karena nilai kontraknya, melainkan karena bisa menambah portofolio saya, apalagi teman saya bekerja di perusahan farmasi yang bisa dibilang cukup ternama.

Teman saya ini teman SMA, Joko namanya, tinggalnya di Rawa Lumbu. Ia dapat informasi tentang keahlian menulis saya dari Wawan, teman SMA saya yang lain, sedangkan Wawan dapat informasinya dari teman saya yang lain yang pernah melihat iklan saya di facebook. Saya bahkan hampir lupa pernah menulis itu di dinding facebook saya. Namun, dikarenakan portofolio saya yang belum memadai, Joko meminta saya mengirim satu artikel saya tentang kesehatan. Saya langsung teringat masa-masa sakit berat saya yang sepertinya menarik untuk ditulis. Saya tidak kesulitan menulisnya dan selesai dalam waktu singkat. Sehari setelah dikirim lewat email, Joko menelpon saya, mengatakan tulisan saya bagus. Namun, artikel itu harus dinilai dulu oleh bagian terkait, demikian Joko menjelaskannya.

Saya menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas. Satu hari berlalu, dua hari berlalu, tiga hari berlalu sampai satu minggu berlalu belum juga ada jawaban. Beberapa kali saya ingin menelpon Joko untuk menanyakannya, tapi saya urungkan. Saya berusaha tidak gegabah, harus bersabar, jangan sampai mereka tahu saya lagi butuh pekerjaan. Sambil menunggu jawaban dari Joko, saya mengasah kemampuan saya menulis. Setiap harinya saya berhasil menulis satu artikel sebanyak 700 – 1,000 kata. Selama waktu menunggu itu, saya hanya dua kali melihat Amanda. Itu pun tidak sengaja, saat saya buang sampah dan saat beli bakso.

Penantian saya berakhir tatkala Joko menelpon saya setelah hampir dua minggu. Katanya, saya dapat proyeknya. Untuk awalan, saya dikontrak tiga bulan dengan uang muka. Tugas saya sebenarnya tidak terlalu sulit, yakni menulis tiga artikel per minggunya dengan minimum 700 kata. Pun dengan kewajiban memasukkan kata kunci yang sudah ditentukan. Masalah saya datang dari laptop saya yang sudah berumur dan lemot. Ketika saya kemukakan masalah saya kepada Joko, ia dengan senang hati meminjamkan laptopnya. Singkatnya, selama tiga bulan itu saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya dengan sangat baik dan kontrak saya diperpanjang sampai satu tahun.

Inilah saya, dengan pekerjaan baru saya di usia 27, menulis artikel blog perusahaan sambil menyambi menulis cerpen. Sebuah penyimpangan dari pekerjaan saya sebelumnya sebagai sales yang sudah saya jalani selama empat tahun. Saya juga tidak berencana melamar pekerjaan lagi. Tulis-menulis akan jadi usaha saat ini dan masa depan saya. Ayah saya malahan yang cemas dengan kesehatan saya kalau saya buru-buru kerja lagi. Tapi, kata-kata ayah itu saya anggap sebagai hiburan semata mengingat dua tahun lagi ayah sudah masuk masa pensiun.

Karena itu saya bekerja sangat keras. Kesibukan saya yang sangat menyita waktu membuat saya sering melewatkan momen melihat Amanda. Namun, begitu teringat Amanda, saya sengaja pergi menyiram pohon di jam 05.15 dan tersenyum saat dia melintas di depan saya. Amanda seperti biasa berkata, “Permisi, Kak.” Hanya itu. Dia masih seperti terakhir saya lihat, kecuali rambutnya dipotong lebih pendek. Selain itu, saya tidak tahu lagi berita tentangnya, apakah sudah punya pacar atau masih sendiri. Saya juga terkadang menunggunya pulang kerja dan mengikutinya dari belakang saat ia berjalan pulang tanpa pernah menyapanya. Saya memang masih menghindari keakraban dengannya. Saya orang yang tahu diri meskipun saya bisa saja menarik hatinya lewat penampilan fisik saya. Bukan bermaksud menyombongkan diri, tetapi teman-teman sekolah saya yang bilang saya tampan. Badan saya juga tinggi dan berisi, otak saya encer. Saya sering kali juara kelas sejak SD sampai SMA. Saya juga berhasil kuliah di universitas negeri meskipun jurusan yang saya ambil tidak begitu populer, yakni Antropologi. Karena itulah saya berani mendekati perempuan, apalagi kala itu ayah saya baru diangkat jadi kepala bagian dan saya diberinya uang jajan yang banyak. Tapi sekali lagi saya katakan bahwa saya itu orang yang tahu diri. Usaha tulis-menulis saya saja baru dimulai, saya punya dua adik yang masih sekolah dan ayah yang akan pensiun dua tahun lagi. Kalau suatu hari nanti usaha saya berhasil, Amanda adalah perempuan pertama yang saya dekati, walaupun saya tidak bisa memastikan kapan itu terjadi. Lagi pula, mengingat usia kami yang masih muda, usia saya 27 dan Amanda sekitar 21 atau 22, saya pikir saya tidak perlu terburu-buru mendekatinya.

Perasaan saya kepada Amanda saya pendam dalam-dalam sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Saya tidak pernah menyebut nama Amanda saat ngobrol dengan Idris atau teman-teman yang lain, meskipun ada saja teman saya yang memancing untuk membicarakannya. Ketika teman-teman saya mengobrol tentang Amanda, saya diam saja seakan obrolan itu tidak penting. Ketika Ali mendekati Idris untuk mendekati Amanda, saya juga diam saja. Pun ketika Ali berpacaran dengan Amanda, saya masih saja diam. Begitu juga ketika akhirnya mereka bertunangan dan menikah, saya lagi-lagi diam. Saya datang ke pesta perkawinannya tanpa membawa perasaan apa-apa. Saya menyalami Idris dan ayahnya, dan memberi selamat kepada Ali dan Amanda. Saya kemudian mengambil hidangan prasmanan, lalu duduk di bawah pohon mangga, dan menikmati nasi dengan sayur sop dan sate yang dimasak ibu saya bersama ibu-ibu tetangga. Amanda terlihat sangat cantik dan bahagia. Saya melihatnya saat dia menyalami satu per satu tamu-tamunya, saat dia berfoto dengan teman-teman SMP-nya, saat dia berfoto dengan teman-teman SMA-nya, saat dia berfoto dengan teman-teman kerjanya, dan saat dia berfoto dengan saya.

**

Komentar