Anak-Anak Yang Menulis

Seorang nenek India baru saja pindah ke Amerika. Tinggal di apartemen. Seperti kebiasaannya ketika di India, si nenek mengirim makanan sebagai perkenalan dengan tetangga baru. Dia masak pakoras—gorengan khas India.

Yang dikirimnya pertama kali adalah tetangga di seberangnya—seorang ibu muda dengan dua anak kembar yang super sibuk.

Si nenek mengetuk pintu. Si ibu muda yang sedang sibuk menelpon itu membukakan pintu untuknya. Si nenek memperkenalkan diri sebagai tetangga barunya, lalu memberikan pakoras-nya.

Si ibu muda menerimanya. Pakoras-nya dipindah ke dalam lemari makan. Bakinya dikembalikan kepada si nenek. Mengucap terima kasih. Pintunya kemudian ditutup.

Si nenek berjalan kembali ke apartemennya. Diam sebentar, lalu jalan lagi sambil geleng-geleng kepala. Si nenek berpikir, bahwa dia seumur-umur belum pernah mendapat kembalian baki yang kosong.

Itu ringkasan cerpen A Simple Gesture, yang ditulis Amrapali—anak keturunan India lima belas tahun yang tinggal di Amerika. Cerpen itu juara satu lomba menulis Fire Escape Short Story Contest yang diadakan Mitali Perkins, seorang penulis anak keturunan India di Amerika.

Ada juga kisah tentang bocah perempuan keturunan Cina. Dia tinggal bersama orang tua dan adik laki-lakinya di apartemen satu kamar. Kisahnya ditulis Leying. Tinggal di Amerika juga.

Suatu kali, si bocah perempuan diajak ibunya pergi ke supermarket untuk berbelanja. Karena hidup mereka yang pas-pasan, si ibu hanya membeli barang untuk kebutuhan pokok. Di sampingnya, putrinya memandangi berbagai jajanan di atas rak tanpa berani menyentuhnya.

Merasa kasihan, wanita itu akhirnya mengambil satu kotak permen buah. Diberikannya kepada putrinya.

“Karena kamu sudah jadi anak baik, ibu akan membelikanmu satu kotak,” kata wanita itu. “Tapi kamu berjanji akan membaginya dengan adikmu.”

Bocah perempuan itu bukan main senangnya. Dia memeluk kotak permen itu di sepanjang jalan menuju kasir.

Kasir menghitung belanjaannya, lalu diberikannya struk belanjanya pada wanita itu.

Tetapi uang wanita itu tidak cukup. Dia meminta putrinya supaya merelakan permennya tidak jadi dibeli.

Putrinya terdiam. Dia berusaha tidak menangis di hadapan kasir dan orang-orang bule yang sedang belanja.

Si kasir memandangi bocah perempuan yang sedih itu, berkata, “Kau bisa menyimpannya. Biar aku yang bayar.”

Cerpen ini juga juara satu di lomba yang sama.

Dua cerpen barusan pernah ada di blog pribadi Mitali Perkins. Tapi saya cari sudah tidak ada lagi. Jadinya saya tidak bisa menaruh terjemahannya di sini. Namun, Anda masih bisa membaca cerpen lainnya di mitaliperkins.com.

Amrapali, yang usianya lebih tua dari Leying, punya teknik menulis yang bagus. Saya suka dialog ketika si nenek India bernama Mrs. Sharma itu menyapa si ibu muda yang sibuk itu.

“Hell-O,” kata Mrs. Sharma, mengucapkannya seperti menyebut kata Jell-O. “Nama saya Shipra Sharma, tetangga baru Anda. Saya baru pindah ke apartemen no. 402 bersama suami saya,  Pollob.”

Juga cara menggambarkan reaksi si nenek saat melihat dua bocah kembar anak si ibu muda.

Dua bocah balita mengintip dari balik jendela. Awalnya mereka terkejut saat melihatnya, lalu beranjak kegirangan di sore yang lembap itu. Mrs. Sharma melambaikan tangannya dan tersenyum hingga terlihat bercak sirih di giginya, lalu setelah itu melambaikan tangannya lagi—dia suka melakukan hal-hal yang menurutnya penting dua kali, mungkin untuk berjaga-jaga, atau boleh jadi karena faktor usia.

Sedangkan, Leying menulis cerpennya dengan kepolosannya. Dia memakai sudut pandang orang pertama: bocah perempuan itu. Bisa jadi kisah itu diambil dari pengalamannya.

Untuk mengambil simpati pembaca, Leying menggambarkan keadaan si tokoh utama dengan baik. Mulai dari latar belakang ibunya yang berasal dari sebuah kampung di Cina, pekerjaannya sebagai penjahit, kondisi apertemennya, sampai perasaan si bocah perempuan yang jarang dibelikan jajanan.

Ibu jarang membelikan jajanan buat kami. Tapi rasanya senang sekali saat ibu membelikan kami permen. Aku ingat pernah menyimpan permen lolipop selama sebulan dan hanya menjilatnya beberapa kali sehari.

Saya tidak tahu bagaimana mereka diajarkan menulis di sekolahnya. Yang jelas, mereka menulis lebih baik dari saya.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!