Pak Warsim

Pak Warsim terbangun dari tidurnya yang singkat di teras masjid. Ia bangkit, mengambil tas dari bawah jok becak, pergi ke tempat wudu. Wajahnya segar karena air wudu. Ia memakai kemeja batik lengan panjang dan kopiah hitam lusuh, masuk ke masjid, menengok ke jam bulat putih di dinding, menyalakan kipas angin yang berjumlah delapan itu, dan berdiri di depan mimbar. Di luar, murid-murid SD berlarian di sepanjang halaman masjid, melompati anak-anak tangga, menumpuk tas-tas mereka di samping pintu masuk.

Jam azan berbunyi: “Biiip!”—pertanda masuk zuhur, hitungan mundur waktu kamat pun dimulai. 05.00 … 04:59 … 04:58 …

Pak Warsim menyalakan sakelar pengeras suara, mengambil mic di atas mimbar, mengumandangkan azan.

Suara azan itu bercampur logat Sunda—seperti degung—timbul dan tenggelam, dan pelan, serak, terbatuk-batuk, putus-putus, tidak bisa mencapai nada tinggi. Siapa saja yang mendengarnya akan merasa kasihan, cemas, atau tersenyum. Seandainya saja Pak Warsim empat puluh tahun lebih muda, boleh jadi suaranya jauh lebih segar—dan indah. Seandainya saja Anda yang membaca tulisan ini setua Pak Warsim, boleh jadi suara Anda …

Pak Warsim sebetulnya enggan melakukan azan. Ia beberapa kali ditegur pengurus masjid karena suaranya yang “menyedihkan” itu dikeluhkan warga. Tapi siapa lagi yang akan melakukannya? Sudah sebulan masjid belum mendapatkan muazin dan marbot baru, sementara beberapa jemaah yang sudah hadir enggan azan. Pak Warsim merasa, ia hanya melakukan kewajibannya.

Pak Warzim berdoa usai azan, meletakkan mic diatas mimbar, lalu salat sunat. Masjid mulai diramaikan jemaah, riuh rendah suara murid-murid SD berpindah ke dalam masjid. Tidak berapa lama hitungan mundur berhenti, jam azan berbunyi lagi: “Biiip!”—pertanda waktu kamat.

Pak Warsim bangkit, kemudian melakukan kamat tanpa mic. Ia mundur usai kamat, berdiri agak jauh di sebelah kiri di barisan pertama. Para jemaah mengatur barisan tanpa dikomandoi, mengisi barisan kosong, bergeser sampai rapat—atau agak rapat. Mihrab, jadi satu-satunya tempat yang masih kosong. Sudah dua hari imam masjid belum kembali dari pulang kampung, kabarnya ia baru akan kembali lusa. Sementara, Ketua DKM yang biasa jadi imam sedang ke luar kota.

Jemaah di barisan pertama saling tunjuk siapa yang bersedia menjadi imam. Pria berkopiah hitam yang dianggap paling alim menolak—lagi sakit tenggorokan, katanya. Pria tua berjenggot di sebelahnya menolak tanpa alasan. Sunyi sebentar, sebelum akhirnya seorang pemuda kurus yang datang dari ujung barisan kedua melangkah maju dan mengisi tempat imam. Ia memang terlihat alim dengan baju koko dan peci haji. Wajahnya bersih, suaranya yang lembut berkata: “Sawwu shufufakum,” lalu setelah itu ia bertakbir dengan suara yang hampir tidak terdengar dan memimpin salat dengan cepat.

Pak Warsim berzikir usai salat, salat sunat, beranjak keluar, dan duduk bersandar ke tiang teras. Ia mengipas-ipas wajahnya dengan kopiah sambil menyapa wajah-wajah yang dikenal yang lewat di depannya, tersenyum kepada yang tidak dikenal. Ada yang membalas, ada yang tidak. Menjelang pukul satu masjid berubah sepi, Pak Warsim kembali sendiri.

Pak Warsim sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak dan penjual jajanan di SD. Ia memakai jam tangan berwarna emas “Rolex” yang kacanya retak. Usianya sekitar tujuh puluh, tinggi, rambutnya putih, matanya sayu, hidungnya mancung, jenggotnya sedikit. Tidak ada yang tahu pasti di mana keluarganya, atau dari mana asalnya. Ada yang bilang dari Ciamis, yang lain bilang dari Cirebon. Yang kami sama-sama tahu, Pak Warsim pernah tinggal di rumah kayu yang menempel di pagar tembok belakang gedung SD. Sejak tempat itu digusur di bulan Juli, Pak Warsim lebih sering terlihat menginap di masjid.

Pak Warsim meninggal pada Rabu subuh setelah terjatuh dari sepeda. Katanya, kena serangan jantung. Berita kematiannya diumumkan di masjid pukul sepuluh pagi. Entah siapa saja yang akan bersedih untuknya. Pak Warsim dimakamkan atas kebaikan Tuhannya.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!