Hadiah Buat Ibu

Sang kernet semakin mendekat, dan Manta pun semakin gelisah.

Tidak biasanya, malam itu Manta pulang lebih cepat. Jam di dinding menunjukkan pukul 19.30. Setelah memastikan tidak ada komputer, printer maupun AC yang masih menyala, ia matikan semua lampu kecuali dua lampu di lorong. Ia baru akan menuruni tangga ketika mendengar bunyi benda terjatuh. Ia terdiam sebentar, dan menemukan sapu ijuk tergeletak di lantai. Hampir saja ia terbawa cerita horor lantai 3 belakangan ini.

Dari 4 lantai gedung itu, hanya lantai 3 yang sudah sepi. Tidak ada lagi staf yang berani pulang di atas jam tujuh malam. Itu gara-gara cerita dari salah seorang staf yang melihat kursi bergerak sendiri ketika dia lembur kamis malam lalu. Awalnya tidak ada yang percaya, bahkan menganggapnya mengada-ada. Barulah ketika sang Manajer Akunting mendengar suara-suara aneh saat lembur kemarin lusa, ketakutan itu pun dimulai.

Isu hantu di lantai 3 untuk sementara dirahasiakan, Manta pun sudah diwanti-wanti supaya tidak membocorkan. Manajer Akunting berencana akan memanggil orang pintar untuk mengusir hantu-hantu tersebut Jumat depan. Hingga saat itu, siapapun yang ingin lembur akan ditemani Manta. Manta dianggap yang paling berani. Tentunya akan ada tambahan uang buat Manta. Manta senang mendengarnya, apalagi ia butuh uang tambahan beli mesin jahit listrik buat ibunya. Namun, setelah hampir satu pekan masih belum ada tanda-tanda staf yang ingin lembur. Manta sudah tidak lagi berharap. Ia sudah melupakannya.

Manta mengambil sapu tersebut dan menaruhnya di dekat tempat sampah depan toilet. Ia menuruni tangga, berhenti sebentar di lantai 2 sekedar melongok ke satu ruangan yang masih terang. Tampak bayangan seseorang sedang menelpon. Suaranya terdengar nyaring karena pintu ruangannya terbuka. Pria itu bernama Pak Hartono, Direktur Keuangan perusahaan. Ia memang biasa pulang larut malam. Manta pernah melihatnya masih kerja di jam 11 malam, dan di jam 6.30 pagi keesokan harinya, ia sudah menemukan Pak Hartono sedang membuat kopi di ruang pantry. Ia bisa membayangkan wajah Pak Hartono jika mengetahui cerita horor lantai 3. Pak Hartono pasti akan tertawa geli.

Semua lampu di lantai satu masih menyala, suasananya terlihat seperti siang hari. Semua staf desainer bekerja seolah tidak memedulikan waktu. Di ruang janitor, Manta mengganti seragamnya dengan kaos dan memakai baju hangat warna hitam. Kipas angin di dinding berputar pelan, di bawahnya menempel cermin kecil. Ia duduk di bangku kayu panjang, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal jepit. Ia mengambil tas selempangnya di lemari lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Ia menyisir tanpa bercermin. Ia tidak terlalu suka melihat penampilannya yang kurus.

Angin bertiup kencang begitu ia mendorong pintu kaca gedung. Di pojokan, seorang satpam sedang ngobrol dengan Manajer Pembelian. Ia jalan lewat pelataran parkir yang sepi. Biasanya staf desainer dan copywriter nongkrong di sini sambil merokok atau ngopi di jam pulang. Manta sesekali pernah ikut nimbrung jika tidak ada pekerjaan. Staf desainer suka membelikan para janitor dan office boy  kopi, rokok atau camilan. Tapi Manta tidak merokok. Ia lumayan antusias mendengar mereka bicara tentang pekerjaan.

Cahaya lampu jalan yang redup terhalang rerimbunan daun angsana. Beruntung lampu pagar sekolah SD di belakangnya cukup terang. Orang-orang lebih suka menunggu bis di perempatan jalan ketimbang di halte bis meski jaraknya tidak terlalu jauh. Manta yang baru datang langsung bersender di pagar besi trotoar, tangannya dimasukkan ke dalam kantong baju hangat. Seorang calo terlihat sedang menghitung uang di sampingnya. Dengan penampilan lusuh dan rambut gondrong awut-awutan, ia terlihat seperti seorang preman. Tapi orang-orang mengenalnya cukup ramah. Setidaknya kehadirannya cukup dibutuhkan.

“Bisnya udah lewat,” kata si calo pada Manta dengan suara berat dan senyum lebar. “Tapi barusan ada yang masuk lagi.” Yang dimaksud bis bernomor P52, jurusan Tanah Abang – Bekasi.

Manta mengira-ngira kapan bis berikutnya datang. Mungkin lima belas menit. Mungkin sepuluh menit. Mungkin setengah jam. Tapi seharusnya tidak selama itu jika bisnya tidak ngetem di putaran balik. Jauh di seberang jalan, deretan lampu gedung pencakar langit masih menyala. Gedung-gedung itu terlihat indah di malam hari.

Ternyata Manta tidak perlu terlalu lama menunggu bisnya. Ia duduk di barisan kiri kursi di sebelah seorang pria gendut yang tertidur, membuatnya terpaksa duduk setengah pantat dan berpegangan pada kursi di seberang saat bis belok ke kanan. Hidup ini memang susah, pikirnya, tapi tidak lebih susah dari pengemis yang mendatanginya dengan wajah menyedihkan.

Manta tiba di Bulak Kapal jam 21.00. Ia seharusnya bisa sampai di rumah lebih cepat kalau naik angkot. Tapi ia tidak punya uang lagi buat ongkos. Ia memang sering kehabisan uang meskipun sudah berhemat dengan bawa bekal makan siang. Uang yang dihemat itu lebih banyak dikeluarkan untuk sedekah. Sebulan belakangan ini sedekahnya lebih gencar, sehingga ia sering kali tidak menyadari uang terakhirnya di kantong pun ikut disedekahkan. Seperti malam itu, ia pun terpaksa jalan kaki (lagi) ke rumah.

*

Bunyi gemuruh itu berasal dari mesin jahit yang diayun kaki yang kurus. Tangan yang memutar roda mesin jahit begitu cekatan. Dengan giginya, wanita itu memutus benang jahit. Penampilannya terlihat lebih tua dari usianya yang masih di awal empat puluhan. Beberapa bagian rambutnya sudah memutih, matanya sayu dengan bercak coklat di bawahnya. Sesekali ia menarik hidungnya karena pilek. Meski tanpa papan reklame, orang-orang tahu si pemilik rumah pintar menjahit. Wanita itu berhenti mengayuh begitu melihat pintu terbuka. Angin malam berhamburan, kain-kain perca berjatuhan. Manta, anak satu-satunya, baru pulang kerja. Manta mengucap salam, mencium tangan wanita itu dan setelah itu pergi ke dalam kamar. Wanita itu, seperti biasa, menanyakan bagaimana kerjaannya. Manta tidak pernah menjawab bahwa ia jalan kaki dari Bulak Kapal sampai ke rumah. Ia selalu menjawabnya: “Lancar, Bu,” dan setelah itu pergi ke kamarnya.

Manta melempar tas selempangnya ke atas kasur, menggantung baju hangatnya di balik pintu, dan seperti biasa ia membuka lemari pakaian, mengambil amplop coklat di bawah tumpukan pakaian dan mengeluarkan isinya. Satu juta dua ratus delapan puluh ribu rupiah, sejumlah itulah seluruh tabungannya. Ia tidak tahu harga sebuah mesin jahit listrik yang bagus. Mungkin antara 3 juta sampai 3 juta setengah, sementara yang ia tahu kekurangannya sangat banyak. Ia masukkan uangnya kembali ke dalam amplop dan menaruhnya di bawah tumpukan pakaian. Ia keluar kamar dengan langkah lesu. Ibunya menunjukkan padanya setelan seragam siswi SMP yang baru selesai dijahit.

“Pesanan siapa, Bu?”

“Anaknya Bu Ani.”

Wajah ibunya terlihat puas setelah berhari-hari mengerjakan seragam itu. Manta tahu ibunya hanya mengambil sedikit keuntungan, berharap dengan harga yang murah maka orang-orang akan menjahit di tempatnya. Memang, beberapa waktu lalu pesanannya banyak, bahkan wanita itu sampai kewalahan menerimanya. Di lingkungan tersebut, tidak ada penjahit yang memberikan jahitan bagus dengan harga murah. Namun justru itulah yang membuat prosesnya makan waktu cukup lama. Alhasil, meski tidak semuanya, pelanggan-pelanggannya mulai beralih ke penjahit lain. Kini mereka bisa bersyukur, meski tidak sebanyak dulu, satu per satu orderan jahit mulai berdatangan lagi. Tapi apa yang bisa diandalkan dengan sebuah mesin jahit tua manual?

Manta mengempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu. Di meja sudah tersaji sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis hangat. Ibunya yang membuatkan pisang goreng tadi sore sekaligus suguhan buat pelanggan yang datang. Manta mengambil sepotong pisang goreng, mengunyahnya lambat-lambat seolah sedang meresapinya. Pisang goreng yang enak. Itulah kalimat yang selalu diucapkannya dalam hati tiap kali menikmati pisang goreng buatan ibunya. Angin dingin berembus melewati ventilasi kusen menggoyang gorden, menyibak gorden kaca jendela yang buram. Manta ngantuk berat, namun ia masih enggan beranjak dari kursinya.

Ia merasa baru semenit tertidur, namun entah bagaimana pagi datang begitu cepat. Bahkan, lebih cepat dari itu, ia sudah berada di trotoar jalanan Jakarta. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Matahari bersinar cerah. Tidak ada macet di jalan, tidak ada polusi maupun bunyi klakson. Sebuah bis berhenti di depannya. Pintu bis terbuka disambut senyum sang supir bis. Orang-orang naik bis dengan teratur, meninggalkan Manta seorang diri. Manta melanjutkan perjalanan. Orang-orang yang berpapasan dengannya melemparkan senyum dan sapaan seolah saling mengenal. Di bangku-bangku trotoar, beberapa orang saling mengobrol dan tertawa. Semua orang terlihat bahagia. Kecuali satu orang.

Wanita itu duduk beralas tikar kecil di sudut jalan. Wajahnya tertutup topi caping, pakaiannya lusuh, di hadapannya tergeletak sebuah mangkuk besi berisi uang receh. Sesekali mangkuk itu berdenting, uang-uang receh di dalamnya berlompatan, beberapa sampai jatuh keluar dan wanita itu memungutnya. Manta mendekati wanita itu lalu mengenalinya sebagai ibunya.

“Mereka semuanya pergi.”

“Mereka siapa?”

“Tidak ada lagi yang mau menjahit pakaiannya ke ibu. Mereka bilang ibu terlalu lambat sedangkan mereka butuh pakaiannya cepat. Andai kamu membelikan ibu mesin jahit listrik.”

“Manta akan beli, bu. Manta akan beli.”

“Terlambat …” kata ibunya kecewa, mengambil mangkuk besi dan menaruh uangnya ke dalam kantong kain dan setelah itu pergi meninggalkan Manta.

Manta terbangun. Ia melihat jam di dinding. Pukul 02.00. Ia pergi ke kamar dan melempar tubuhnya ke atas ranjang. Ia tidak bisa melanjutkan tidurnya. Mimpinya barusan masih di pikiran. Pesan dalam mimpinya cukup jelas, untuk sementara ia tidak bersedekah dulu. Memang, hal itu jadi keputusan yang berat mengingat sedekah merupakan nasehat ayahnya yang selalu dipegangnya sejak SMP. Nasehat itu selalu terbukti. Misalnya saat Manta ingin masuk SMA favoritnya, alih-alih disuruh belajar lebih giat, Manta disuruh banyak bersedekah. Manta seorang anak yang penurut. Ia menyedekahkan uang jajannya tiap kali melihat pengemis. Hingga akhirnya ia bisa diterima di SMA favoritnya. Ia juga banyak bersedekah ketika ingin mendapatkan pekerjaan usai lulus SMA. Dan tidak butuh waktu lama, Manta mendapatkan pekerjaannya. Setelah ayahnya meninggal, bersedekah sudah jadi bagian dari kesehariannya. Tapi untuk kali ini ia bersikeras untuk tidak dulu bersedekah, setidaknya sampai ia bisa membelikan ibunya mesin jahit listrik.

Setelah hampir dua bulan Manta sudah terbiasa dengan tidak bersedekah. Awalnya memang berat. Sangat berat. Manta merasa kasihan pada para mereka, apalagi bayangan ayahnya memberi nasehat selalu datang di kepala. Namun ia bisa tersenyum setelah menghitung tabungannya, lebih-lebih ditambah uang gajiannya besok lusa. Sebagian uang gajiannya akan menggenapkan tabungannya menjadi 4 juta. Ia yakin bisa membelikan mesin jahit listrik sebagai kejutan untuk ibunya sebelum bulan puasa.

Hari Senin di akhir bulan itu Manta tidak terlalu banyak pekerjaan. Tidak ada staf yang lembur. Tidak juga ada rapat perusahaan. Hari itu hari gajiannya, yang diterima dalam amplop coklat setelah jam istirahat. Ia pulang sebelum jam 18.30 dan mendapatkan bisnya dua puluh menit kemudian. Ia tidak dapat tempat duduk, bis terlalu padat sampai-sampai hidungnya mencari-cari asal udara segar dari jendela. Pengemis dan pengamen masuk bis silih berganti. Setiap kali mereka mendatanganinya, ia mengangkat tangan, sebagai tanda ia tidak memberikan sedekah untuk pengemis maupun pengamen. Di luar jalanan macet, tapi Manta tidak terlalu mengeluh. Terdengar gemerincing recehan. Kali ini bukan pengemis yang mendatanginya, melain seorang kernet yang datang menagih ongkos. Ketika para penumpang memberikan ongkosnya, Manta tidak menemukan uang yang sudah disiapkannya di saku kanan celana. Ia pun mengambil dompet di saku belakang celana. Akan tetapi ia tidak menemukan dompetnya. Ia juga tidak menemukan uang gajian dalam amplop coklat di dalam tas selempangnya. Sang kernet semakin mendekat, Manta pun semakin gelisah.

*

Bulan tidak tampak malam itu karena tertutup awan hitam. Kilat terlihat sekali-sekali, lalu disusul bunyi gemuruh pelan-pelan. Angin berembus tidak karuan, menggoyang-goyang pepohonan pinggir jalan. Dua ekor musang berkejaran di atas kabel PLN, lalu menghilang di rerimbunan dedaunan.

Manta tiba di rumah sebelum jam 21.00. Ibunya membukakan pintu dengan wajah gembira, menyambut anaknya yang berjalan lesu. Manta duduk di ruang tamu dengan tubuh yang malas. Ibunya membuatkannya teh manis hangat dan membawakannya sepiring pisang goreng yang masih hangat.

“Tadi pagi ibu ketemu Bu Imah,” ibunya berkata. “Ibu Imah mau ngajak ibu jualan nasi uduk. Katanya nasi uduk buatan ibu enak. Ibu-ibu pengajian yang lainnya juga suka, mereka senang kalau ibu buka warung nasi uduk di depan pos ronda. Sekalian jualan pisang goreng. Untungnya pasti lumayan. Tau sendiri kan? Banyak anak kos di sini.”

“Trus … usaha jahit ibu gimana?” tanya Manta lemah seperti enggan bicara.

“Manta … Manta, usaha jahit sekarang mah susah, apalagi lebih praktis beli jadi. Lagipula ibu sudah tidak sanggup … mata ibu kurang awas.”

Mendengar jawaban tersebut membuat perasaan Manta campur aduk. Entah ia ingin menangis atau tertawa, tapi ia merasa sangat lelah dan lapar. Ia mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan. Ah, pisang goreng yang enak, katanya dalam hati.

Di luar hujan mulai turun, dingin mulai datang dan keringat pun mulai hilang. Tapi kehangatan di rumah itu tetap terjaga. Antara Manta dan ibunya selalu ada kasih sayang tanpa harus mengecewakan salah satunya.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi
Articles: 40

Leave a Reply