Hadiah Buat Ibu

Dayat baru akan menuruni tangga ketika mendengar bunyi benda terjatuh. Ia menengok ke belakang dan menemukan sapu ijuk tergeletak di lantai. Hampir saja ia terbawa cerita horor lantai tiga belakangan ini. Kamis malam lalu, saat sedang lembur, seorang staf akunting melihat kursi bergerak sendiri. Tidak ada yang percaya ketika dia menceritakannya pada rekan-rekannya keesokannya. Bahkan, ia dianggap mengada-ada. Barulah ketika Manajer Akunting mendengar suara-suara aneh saat lembur kemarin lusa, ketakutan itu pun dimulai.

Isu hantu di lantai tiga untuk sementara dirahasiakan, Dayat sudah diwanti-wanti supaya tidak membocorkan. Manajer Akunting berencana akan memanggil orang pintar untuk mengusir hantu-hantu itu Jumat depan. Hingga saat itu, siapapun yang ingin lembur akan ditemani Dayat. Dayat dianggap yang paling berani. Tentunya akan ada tambahan uang buat Dayat. Dayat senang mendengarnya, apalagi ia butuh uang tambahan beli mesin jahit listrik buat ibunya. Akan tetapi, setelah satu minggu lebih masih belum ada tanda-tanda staf yang ingin lembur, padahal sebelum kejadian itu, staf dan manajer di bagian akunting selalu pulang di atas jam 8 malam. Kini Dayat tidak lagi berharap. Ia sudah melupakannya.

Dayat mengambil sapu itu dan menaruhnya di ruang kebersihan. Ia menuruni tangga, dan berhenti sebentar di lantai 2 sekedar melongok ke satu ruangan yang masih terang. Di sana terlihat bayangan seseorang dan terdengar suaranya yang nyaring. Pria itu bernama Pak Margono, Direktur Keuangan perusahaan. Pak Margono memang biasa pulang larut malam. Dayat pernah melihatnya masih kerja di jam 11 malam, dan jam 6.30 keesokan paginya, ia sudah menemukan Pak Margono sedang membuat kopi di pantry. Ia bisa membayangkan wajah Pak Margono jika mengetahui cerita horor lantai tiga. Pak Margono pasti akan tertawa geli.

Semua lampu di lantai satu masih menyala, masih sibuk seperti siang hari, staf desainer bekerja seolah tidak memedulikan waktu. Di ruang janitor, Dayat mengganti seragamnya dengan kaos oblong putih dan melapisinya dengan baju hangat hitam. Kipas angin di dinding berputar pelan, di bawahnya menempel cermin kecil. Ia duduk di bangku kayu panjang, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal jepit. Ia mengambil tas selempangnya di lemari lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Ia menyisir tanpa bercermin. Ia tidak terlalu suka melihat wajah dan tubuhnya yang kurus di cermin.

Angin bertiup kencang begitu ia mendorong pintu kaca gedung. Di pojokan, seorang satpam sedang ngobrol dengan Manajer Purchasing. Di tempat parkir yang sepi, beberapa staf marketing masih terlihat mengobrol. Dayat sesekali ikut nimbrung jika tidak ada pekerjaan. Ia lumayan antusias mendengar mereka bicara tentang pekerjaan. Mereka biasanya mentraktir cleaning service kopi, rokok atau ketoprak. Tapi Dayat tidak merokok.

Cahaya lampu jalan yang redup terhalang rerimbunan daun angsana. Beruntung lampu pagar sekolah SD di belakangnya cukup terang. Orang-orang lebih suka menunggu bus di perempatan jalan ketimbang di halte bus walaupun jaraknya tidak terlalu jauh. Dayat bersandar di pagar besi trotoar, tangannya dimasukkan ke dalam kantong baju hangat. Di sebelahnya, seorang calo sedang menghitung recehan. Dengan penampilan kusam dan rambut gondrong awut-awutan, ia lebih terlihat seperti seorang preman. Namun, orang-orang mengenalnya sebagai pria yang ramah. Setidaknya kehadirannya cukup dibutuhkan.

“Bisnya udah lewat,” kata si calo pada Dayat dengan suara berat dan senyum lebar. “Tapi barusan ada yang masuk lagi.” Yang dimaksud bus bernomor P52, jurusan Tanah Abang – Bekasi.

Dayat mengira-ngira kapan bus berikutnya datang. Mungkin lima belas menit. Mungkin sepuluh menit. Mungkin setengah jam. Seharusnya tidak selama itu jika busnya tidak ngetem di putaran balik. Ia memandang jauh ke seberang jalan, ke ruangan-ruangan yang masih terang di gedung pencakar langit.

Ternyata Dayat tidak perlu terlalu lama menunggu busnya. Ia duduk di barisan kiri kursi di sebelah seorang pria gendut yang tertidur pulas, membuatnya terpaksa duduk setengah pantat dan berpegangan pada kursi di seberang saat bus belok ke kanan. Hidup ini memang susah, pikirnya. Tapi tidak lebih susah dari pengemis yang mendatanginya dengan wajah menyedihkan.

Dayat tiba di Bulak Kapal jam 21.00. Ia seharusnya bisa tiba di rumah lebih cepat kalau naik angkot. Tapi tidak punya uang lagi buat ongkos. Ia memang sering kehabisan uang meski sudah berhemat dengan membawa bekal makan siang. Uang yang dihemat itu lebih banyak dikeluarkan untuk sedekah. Sebulan belakangan ini sedekahnya lebih gencar. Bahkan, sering kali ia tidak menyadari uang terakhirnya di kantong pun ikut disedekahkan. Seperti malam itu, ia terpaksa jalan kaki (lagi) ke rumah.

*

Bunyi gemuruh itu berasal dari mesin jahit yang diayun kaki yang kurus. Tangan yang memutar roda mesin jahit begitu cekatan. Dengan giginya, wanita itu memutus benang jahit. Penampilannya terlihat lebih tua dari usianya yang masih di awal empat puluhan. Beberapa bagian rambutnya sudah memutih, matanya sayu dengan bercak coklat di bawahnya. Sesekali ia menarik hidungnya karena pilek. Tidak ada papan reklame, tapi orang-orang tahu si pemilik rumah pintar menjahit. Wanita itu berhenti mengayuh begitu melihat pintu terbuka. Angin malam menerbangkan sebagian kain perca di meja mesin jahit. Dayat, anak satu-satunya, baru saja pulang kerja. Dayat mengucap salam dan mencium tangan wanita itu. Wanita itu berkata, “Gimana kerjaan, Yat?” Dayat, seperti biasa, menjawab: “Lancar, Bu,” lalu ia pergi ke kamarnya.

Dayat melempar tas selempangnya ke atas ranjang, menggantung baju hangatnya di balik pintu kamar, membuka lemari pakaian, mengambil amplop coklat di bawah tumpukan pakaian dan mengeluarkan isinya. Satu juta dua ratus delapan puluh ribu rupiah, sejumlah itulah seluruh tabungannya. Kemarin dilihatnya harga mesin jahit baru di toko online sekitar tiga jutaan. Entah butuh waktu berapa lama lagi hingga terkumpul uang sebanyak itu. Ia masukkan uangnya kembali ke dalam amplop, menaruhnya di bawah tumpukan pakaian, lalu keluar kamar dengan langkah lesu. Dengan wajah berseri-seri wanita itu menunjukkan padanya seragam SMP yang baru selesai dijahitnya setelah berhari-hari mengerjakannya.

“Lihat, Yat.”

“Pesanan siapa, Bu?”

“Bu Ani.”

Dayat tahu ibunya hanya mengambil sedikit keuntungan, berharap dengan harga yang murah maka orang-orang akan menjahit di tempatnya. Memang, beberapa waktu lalu pesanannya sempat banyak, bahkan dia sampai kewalahan menerimanya. Hanya dia, satu-satunya penjahit yang memberikan jahitan bagus sekaligus harga murah di lingkungan itu. Namun, karena pengerjaannya lumayan lama, jadinya, meski tidak semuanya, para pelanggannya pelan-pelan beralih ke penjahit lain. Seandainya dia punya mesin jahit listrik, pastinya semua pakaian pesanan pelanggannya akan jauh lebih cepat selesai.

Dayat mengempaskan tubuhnya di kursi. Di atas meja sudah tersaji sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis hangat. Ibunya yang membuatkan pisang goreng tadi sore sekaligus suguhan buat pelanggan yang datang. Dayat mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya pelan-pelan. Ia selalu menyukai pisang goreng buatan ibunya. Angin menggoyang gorden, menampakkan kaca jendela yang buram. Dayat ngantuk berat, tapi ia masih enggan beranjak dari kursinya.

Ia merasa baru semenit tertidur, namun entah bagaimana pagi datang begitu cepat. Bahkan, lebih cepat dari itu, ia sudah berada di trotoar jalanan Jakarta. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Matahari bersinar cerah. Tidak ada macet di jalan, tidak ada polusi, tidak ada bunyi klakson. Ia pergi ke halte bus. Ada tujuh orang yang berbaris menunggu bus dengan tertib. Tidak berapa lama sebuah bus tiba. Orang-orang naik bus dengan teratur, meninggalkan Dayat seorang diri. Dayat melanjutkan perjalanannya ke tempat kerjanya. Orang-orang yang berpapasan dengannya melemparkan senyum dan menyapanya seolah sudah saling mengenal. Di bangku-bangku trotoar, orang-orang mengobrol dan tertawa. Semua orang terlihat bahagia, kecuali satu orang.

Wanita itu duduk beralas tikar kecil di sudut jalan, wajahnya tertutup topi caping, pakaiannya lusuh. Di hadapannya tergeletak sebuah mangkuk besi berisi uang receh. Dayat menghampiri wanita itu, dan mengenalinya sebagai ibunya.

“Mereka semuanya sudah pergi.”

“Mereka siapa?”

“Tidak ada lagi yang mau menjahit pakaiannya ke Ibu. Mereka bilang Ibu terlalu lambat sedangkan mereka butuh pakaiannya cepat. Sendainya saja kamu belikan Ibu mesin jahit listrik.”

“Dayat akan beli, Bu. Dayat akan beli.”

“Terlambat …” kata ibunya kecewa. Dia mengambil mangkuk besi, memasukkan uangnya ke dalam kantong kain, lalu pergi meninggalkan Dayat.

Dayat terbangun. Tubuhnya mandi keringat, matanya sepat. Ia melihat jam di dinding. Jam 02.00. Ia pergi ke kamar dan melempar tubuhnya ke atas ranjang. Tapi ia tidak bisa tidur lagi. Mimpinya barusan masih di pikiran. Pesannya sangat jelas: tidak ada sedekah untuk sementara waktu. Setidaknya sampai ia bisa membelikan ibunya mesin jahit listrik.

Tentunya hal itu akan jadi keputusan yang sulit, mengingat sedekah merupakan nasehat almarhum ayahnya yang selalu dipegangnya sejak SMP. Nasehat ayahnya itu selalu terbukti. Misalnya, saat Dayat ingin masuk SMA favoritnya, alih-alih disuruh belajar lebih giat, Dayat disuruh banyak bersedekah. Dayat seorang anak yang penurut, ia menyedekahkan uang jajannya tiap kali melihat pengemis. Berkat sedekahnya, begitu ia menganggapnya, ia bisa diterima di SMA favorit. Ia juga banyak bersedekah ketika ingin mendapatkan pekerjaan usai lulus SMA. Setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu, bersedekah sudah jadi bagian dari hidupnya.

Hari itu ia memberi sedekah kepada dua pengemis. Besoknya satu pengemis. Lusanya satu pengemis. Dan barulah hari setelahnya dan hari-hari berikutnya, ia sama sekali tidak bersedekah. Awalnya memang terasa berat, akan tetapi semakin lama ia semakin terbiasa. Tangannya terasa ringan untuk diangkat, untuk menolak setiap pengemis yang datang padanya. Ia bahkan tidak perlu lagi mengucap maaf.

*

Sekarang, setelah delapan bulan tidak bersedekah, uang tabungannya semakin banyak. Dengan tambahan uang gajiannya hari ini, ia bisa segera membeli mesin jahit listrik.

Ia menerima uang gajinya di dalam amplop coklat setelah jam istirahat, yang disimpannya di dalam tas selempang. Ia berencana akan membeli mesin jahit listrik besok atau lusanya. Mesin jahit listrik seperti yang dilihatnya di internet, yang akan jadi kejutan buat ibunya.

Tidak ada staf yang lembur atau rapat direksi hari ini, sehingga ia bisa keluar kantor lebih cepat. Ia pulang setelah magrib dan mendapatkan bus yang penuh penumpang dua puluh menit kemudian. Pengemis dan pengamen datang silih berganti, dan setiap kali mereka mendekatinya, ia mengangkat tangannya.

Bus memasuki pintu tol, terdengar gemerincing kernet menarik ongkos. Ia menyiapkan uangnya, merogoh ke dalam saku samping celana. Tapi ia tidak ada uang di situ. Aneh. Seingatnya ia sudah menyiapkan selembaran dua puluh ribu di situ. Ia kemudian mencarinya di saku lain. Kosong. Di saku baju hangatnya juga tidak ada. Dibukanya tas selempangnya dan ditelusuri isinya yang tak seberapa banyak itu. Tapi tidak ketemu. Dicarinya lagi. Tetap tidak ada. Yang ditemukannya malah lubang sobekan di bagian samping tasnya. Dompet dan amplop gajiannya lenyap sudah.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam, diembuskannya pelan-pelan. Diulangnya tiga kali, lalu diam sejenak. Merenung. Berpikir, mungkin dengan cara inilah Tuhan menegurnya.

*

Ia turun di Bulak Kapal jam 20.30 dan melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki. Dipandangnya langit yang mendung itu. Kilat berkali-kali muncul, disusul bunyi gemuruh. Angin berembus kencang, menggoyang-goyang pepohonan pinggir jalan. Seekor musang berlari di atas kabel listrik, melompat ke batang pohon, dan menghilang di rerimbunan dedaunan.

Ia tiba di rumah jam 21.10. Ibunya membukakan pintu dengan wajah gembira, menyambut sang anak yang berjalan lesu. Di atas meja sudah tersaji segelas teh manis dan sepiring pisang goreng.

“Tadi pagi Ibu ketemu Bu Imah,” wanita itu berkata. “Bu Imah mau ngajak Ibu jualan nasi uduk. Katanya nasi uduk buatan Ibu enak. Ibu-ibu pengajian yang lainnya juga suka. Mereka senang kalau Ibu buka warung nasi uduk di depan pos ronda. Sekalian jualan pisang goreng. Untungnya pasti lumayan. Tau sendiri kan? Banyak anak kos di sini.”

“Trus … usaha jahit Ibu gimana?” tanya Dayat muram.

“Usaha jahit sekarang mah susah, apalagi lebih praktis beli jadi. Lagipula Ibu sudah tidak sanggup … mata Ibu kurang awas.”

Perasaan Dayat campur aduk, pandangannya kosong. Kejadian di bus masih diingatnya, yang membuatnya ingin tertawa sekaligus ingin menangis. Ia tadi bersiasat supaya tidak membayar ongkos bus dengan berpura-pura jadi pengamen—ia menyanyikan lagu Alamat Palsu-nya Ayu Ting Ting sambil bertepuk tangan.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan diembuskannya pelan-pelan. Sekarang ia tidak ingin memikirkan apapun. Ia sangat lelah dan lapar. Ia mengambil sepotong pisang goreng di atas meja, dan menikmantinya pelan-pelan.

Ah, pisang goreng yang enak.

Di luar, hujan turun sangat deras, hawa dingin mulai datang. Namun, kehangatan di rumah itu tetap terjaga. Antara Dayat dan ibunya selalu ada kasih sayang, tanpa mengecewakan salah satunya.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!