Uang Buat Nenek

Tapi uang servis-nya baru saja diberikan untuk neneknya. Dengan terpaksa ia menunda pergi ke bengkel sampai bulan depan.

Gajinya enam ratus ribu per bulan. Dari hasil kerjanya sebagai kurir tagihan. Pos belanjanya sudah penuh. Sebagian untuk urusan sepeda motor, sebagian untuk uang makan dan sebagian lain untuk belanja bulanan ibunya. Tidak ada sisa uang untuk tabungan.

Malam itu, Dudi baru pulang ketika menemukan kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan neneknya. Neneknya datang sendiri dari Semarang. Dengan bis.

Wajah sang nenek berbinar melihat cucunya sudah besar dan tampan. Dan sedikit berkumis. Entah sudah berapa lama dia tidak mengusap kepalanya. Mungkin lima tahun. Mungkin sepuluh tahun. Mungkin lima belas tahun. Dudi mencium tangan neneknya dan menanyakan kabarnya.

Neneknya tidur di ruang tengah. Tubuhnya kecil dan kurus. Mulutnya sedikit terbuka, nafasnya berembus kencang. Dia bangun sebelum subuh, memasak air untuk air mandinya dan beberes rumah. Setelah sholat subuh dia membuat kopi untuk mantunya dan membuat sarapan bersama anaknya. Ibunya Dudi.

Dudi berangkat kerja jam 07.30. Setelah mencium tangan ibunya, ibunya berbisik, “Kamu ada uang buat nenek?” Di ruang tamu tampak nenek tengah melipat pakaian. Dia akan kembali ke Semarang nanti malam. Dengan bis.

“Kok cepat pulangnya, Bu?” tanya Dudi pada ibunya.

“Nenek cuma kangen cucu-cucunya,” jawab ibunya. Yang dimaksud cucu-cucunya termasuk dua adik Dudi.

Dudi masih punya tujuh puluh enam ribu, yang sebagian akan digunakan untuk servis motor Sabtu nanti. Ia membuka dompet, mengeluarkan lima puluh ribu dan memberikannya pada ibunya.

Pagi itu sudah mendung. Dudi memasukkan mantel hujannya ke dalam bagasi motor. Jarum penunjuk bensin motornya mati. Tapi itu tidak terlalu masalah. Ia masih bisa melihat ke dalam tangki untuk mengukur sampai seberapa jauh ia mesti isi bensin lagi. Yang jadi masalah ia belum mengganti oli mesin motornya. Menurut hitungannya sudah lebih dari tiga bulan. Tapi uang servis-nya baru saja diberikan untuk neneknya. Dengan terpaksa ia menunda pergi ke bengkel sampai bulan depan.

Dudi baru dua bulan bekerja di perusahaan itu. Tugasnya cukup mudah. Yaitu mengantar surat tagihan ke pelanggan. Yang susah itu mencari alamat. Banyak rumah pelanggan di perkampungan. Yang nomor rumahnya ngacak atau jalannya tidak bernama. Ia membawa dua puluh surat setiap hari. Tapi tidak semuanya bisa terkirim. Dua belas surat. Itu jumlah terbanyak yang pernah dikirim. Itu pun sampai larut malam. Dari situlah upahnya dihitung. Yang satu surat dihargai seribu lima ratus. Yang jika dijumlahkan per bulannya akan didapat enam ratus ribu rupiah itu.

Menjelang isya Dudi masih mencari-cari alamat. Baru delapan surat yang berhasil diantar hari itu. Ia bahkan belum pulang ketika ibu dan ayahnya mengantar nenek ke terminal, dan masih di perjalanan pulang ketika ibu dan ayahnya sudah kembali ke rumah. Ia baru tiba di rumah jam 21.30. Ibunya sudah menyiapkan makan malam untuknya.

Dudi makan di ruang tengah, di atas lantai itu, sambil nonton televisi. Ibunya datang untuk bercerita, tentang nenek yang barusan diantarnya. “Di dalam bis nenek masih pegang uang kamu,” ujar ibunya. “Dia senang dapat uang dari kamu.”

Entah kenapa ibu mengatakan itu, pikirnya. Tapi itu benar-benar membuatnya terharu.

* *

Default image
Happy Inc.
Bahagia itu Sederhana
Leave a Reply