Tentang Kakek Dawud Yang Tak Terkalahkan

  • Post Category:Buku / Fiksi
  • Post Author:
Tentang Kakek Dawud Yang Tak Terkalahkan

Bisa jadi ia akan berusia lebih dari 100 tahun kalau tidak mati bunuh diri. Ia bukan VampirWerewolf atau Highlander. Mungkin lebih mirip David Dunn, tokoh fiksi di film Unbreakable dan Glass, yang diperankan Bruce Willis. Namanya Kakek Dawud.

Kakek Dawud merupakan tokoh fiksi dalam salah satu cerpen karya Muhammad Diponegoro (Mas Dipo). Judulnya Kakek Dawud Yang Tak Terkalahkan.

Mas Dipo termasuk manusia langka di Indonesia. Jarang ada penulis yang komplit seperti beliau. Tulisan Mas Dipo sederhana, luwes dan mudah dipahami. Tokoh-tokohnya unik, dengan nama yang mudah dikenali. Karakternya juga kuat, gambarannya detail. Temanya biasanya tentang sifat-sifat manusia, tentang kebaikan, kerja keras, kepolosan, kepongahan, kesombongan. Latar belakanganya perkampungan atau pedesaan. Dan yang utama, selalu ada pesan dalam tiap ceritanya. Seperti dalam cerpen Kakek Dawud Yang Tidak Terkalahkan ini, Mas Dipo menyampaikan pesan tentang bahaya sifat sombong dan pongah.

Kakek Dawud digambarkan sebagai pria yang tidak pernah sakit. Tubuhnya bugar. Ingatannya tajam. Gigi-giginya utuh dan putih. Fisiknya lebih terlihat seperti lima puluh tahun ketimbang usia sebenarnya: Tujuh puluh lima.

Kakek Dawud tinggal sebatangkara. Semua anak dan saudaranya sudah meninggal. Kecuali Salimah, adiknya yang bungsu, yang tinggal di desa yang cukup jauh bersama suaminya. Kebiasaan Kakek Dawud mengunjungi Salimah adalah dengan berjalan kaki.

Kehidupannya berubah ketika ia mendapatkan teman baru, seorang remaja dari desa tetangga. Namanya Mamad. Ketertarikan Mamad pada sosok Kakek Dawud berasal dari cerita ayahnya saat naik andong. Rasa penasaran membawanya main ke rumah Kakek Dawud.

Kakek Dawud menyambutnya dengan senang hati. Dalam obrolan itu, Kakek Dawud menceritakan rahasia kenapa umurnya bisa panjang. Ia tidak pernah merokok. Tidak minum arak. Tidak pernah malas-malasan. Tidak pernah naik kendaraan. Tidak pernah marah. Tidak pernah benci orang.

Meski terkesan sombong, tapi Mamad menyukai ceritanya. Setiap pekan Mamad rutin mengunjungi Kakek Dawud. Kakek Dawud juga senang dikunjunginya.

Hingga suatu hari Mamad tidak lagi mengunjunginya. Ketika itu Mamad melanjutkan sekolahnya mondok di kota. Di tempat barunya itu Mamad selalu terkenang cerita-cerita Kakek Dawud. Tentu saja liburan adalah saat yang dinantikannya.

Tapi sebelum mengunjungi Kakek Dawud, Mamad menanyakan kabar Kakek Dawud pada ayahnya. Dan jawaban ayahnya sungguh mengejutkan. Kakek Dawud sudah meninggal.

Tentunya bukan sakit yang mengalahkan Kakek Dawud. Ia dikalahkan kesepiannya.

Kakek Dawud yang sudah dianugerahi fisik yang sehat itu selalu menyombongkan diri kepada siapa saja, di mana saja. Orang-orang menjadi bosan mendengar kepongahannya dan menjauhkan diri Kakek Dawud. Karena kesombongan itu juga Kakek Dawud memilih mengucilkan diri.

Hanya Mamad yang mau mendengarkan ceritanya. Tapi kemudian Mamad pindah ke kota. Kepergian Mamad membuat Kakek Dawud kembali mengulangi kebiasaannya berjalan kaki ke rumah Salimah. Hingga kebiasaan itu berakhir tiga bulan kemudian ketika adik bungsunya itu meninggal.

Sejak itu Kakek Dawud kelihatan menjadi seperti orang bingung. Ia betul-betul seorang diri di dunia ini. Ia mengutuk-ngutuk kelebihannya itu. Kenapa ia tidak sakit? Kenapa ia tidak mati? Akhirnya, kesehatan yang selalu disombongkannya itu sangat disesalinya. Kakek Dawud hampir gila.

Tapi tiba-tiba ia teringat Mamad, sahabat barunya itu. Kakek Dawud sering memanggil namanya. Tapi tidak ada yang tahu siapa Mamad yang dimaksud. Para tetangganya mengira ia kemasukan roh jahat dan mereka mengurungnya dalam rumah. Keesokan harinya mereka menemukan Kakek Dawud sudah mati. Kakek Dawud mati karena ditaklukan dirinya. Ia mati setelah minum endrin (obat serangga).

Kalau kita cermati, sesungguhnya nikmat sehat dan kuat Kakek Dawud itu mewakili banyak hal, seperti kekayaan, kepintaran, status sosial, ketenaran, dsb. Kita sering terlena dengan nikmat-nikmat tersebut, lalu lupa pada orang-orang di sekitar kita. Kita pun menjadi pongah dan sombong. Sering kali tidak kita menyadarinya. Dan ketika kita tersadar, orang-orang sudah menjauhi kita.

* *

Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply