Telur Balado

Malam ini, Ibu masak telur balado lagi sejak Azzam, kakakku, meninggal sebulan lalu. Telur balado memang kesukaan Azzam. Namun, aku tidak bisa membedakan apakah Ibu memasaknya karena sedang merindukan Azzam atau hanya menu makan malam biasa.

Bagaimanapun, aku dan adikku sudah mulai terbiasa makan malam di meja makan tanpa Azzam. Sebelum malam ini, hanya Ayah dan Ibu yang makan di meja makan, sementara kami lebih memilih makan di dalam kamar.

Aku menikmati makan malamku. Telur baladonya sangat enak. Ayah bahkan sudah hampir menghabiskan makannya. Hanya adikku yang belum menyentuh makanannya. Ia diam saja dari tadi, memandangi satu telur balado tersisa di atas piring.

Melihatnya, Ayah pun berhenti makan. Aku juga. Ibu, yang merasakan suasana berubah hening, memandang kami dengan heran. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke tengah meja, diam sebentar, lalu menangis.

*      *      *

Don`t copy text!