Tahun-Tahun Yang Hilang

Tadi malam, Nenek datang bersama Darmi dan Alif—putranya Darmi. Ibu Samsul yang membukakan pintu dan menyambut mereka, ayah Samsul yang datang belakangan membawakan barang bawaan mereka ke dalam. Samsul yang ikut terbangun memutuskan tetap berada di dalam kamar. Terdengar obrolan di lantai bawah.

“Gimana kabar Samsul, Bulik?” tanya Darmi pada ibu Samsul.

“Kamu pasti pangling lihat Samsul, Darmi,” jawab ibu Samsul tanpa meneruskan apa yang membuat Darmi bakalan pangling.

Setiap kali mendengar nama Darmi, justru yang paling diingat Samsul adalah kabar pernikahan sepupunya itu yang disampaikan ibunya di meja makan. Ibunya bilang, pernikahannya akan dilangsungkan sebulan lagi, di bulan Oktober. Tentunya kabar tersebut sangat mengejutkannya, mengingat baru tiga bulan lalu ia berkunjung ke Semarang dan tidak ada tanda-tanda Darmi akan menikah.

“Kamu bisa ikut kan, Sul?”

“Aku kan sekolah, Bu,” jawab Samsul. Kalaupun ia menjawab ‘iya’, setidaknya ia harus mengambil dua sampai tiga hari izin tidak masuk sekolah. Baru sekarang alasan itu terdengar masuk akal, sebelumnya Samsul cukup sering tidak masuk sekolah karena alasan keluarga.

“Namanya Jayadi, calon suami Darmi,” kata Ibu sambil menyendok nasi untuk Ayah. “Masih satu kampung, kakak kelas Darmi di SMP. Jayadi punya usaha sendiri, katanya jadi kontraktor listrik.”

“Pestanya nanti di gedung,” Ayah menimpali, mengambil sesendok sambal, lalu diberinya kecap.

“Seragam batiknya sudah jadi. Kalau mau, kamu bisa jadi pagar bagus nanti.”

Samsul merasa pembicaraan itu lebih ditujukan kepadanya ketimbang sekedar pemberitahuan pernikahan Darmi. Tadinya ia ingin memberitahu perihal seleksi Olimpiade Matematika yang akan diikutinya tahun depan dan minta tambahan uang untuk membeli buku soal-soal latihan Matematika. Akan tetapi, berita pernikahan itu merusak suasana. Ia menghabiskan makan malamnya, mencuci piringnya lalu pergi ke kamarnya.

Baru jam 20.00, niatnya untuk mengerjakan PR diurungkan karena Darmi masih di pikirannya. Ia tidak menyangka Darmi menikah begitu cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan lamarannya dilangsungkan. Bukankah selama ini Darmi selalu bersikap terbuka padanya?

Darmi memang pernah sekali mengungkapkan kalau dia sedang menyukai seseorang, tapi itu sudah lama sekali dan tidak serius. Malah belakangan ini Darmi lebih sering bercerita tentang kampus yang akan dipilihnya selepas SMA. Dia akan senang jika diterima di jurusan Arsitektur Undip karena jarak kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah dan banyak temannya yang memilih kuliah di sana. Namun, setelah dipikirnya lagi, dia akan memilih UI. Itu lebih karena dia bisa lebih dekat dengan Samsul.

“Semua orang tahu, Arsitektur UI yang terbaik,” kata Darmi.

Tamu keluarga itu sudah pergi ke kamar tidur yang sudah disiapkan sejak kemarin lusa. Kamarnya lumayan luas, jendelanya menghadap taman kecil yang dirawat Samsul. Dua kasur tebal tergelar di lantai, dilapisi seprai berwarna biru tua. Darmi menyalakan kipas angin di putaran rendah yang diarahkan ke tempat dia dan Alif. Nenek sering masuk angin kalau kipas angin mengarah padanya.

Samsul tidak bisa memejamkan matanya, rasa kantuknya sudah hilang. Tadi ia sempat tidur jam 21.30 lalu terbangun satu jam kemudian setelah mendengar suara orang tuanya menyambut Nenek. Kini ia malah merindukan Semarang, kampung halaman ibunya, tempat yang lebih banyak dikunjungi ketimbang kampung halaman ayahnya di Ciamis. Lucunya, ia pernah yakin kunjungan pertamanya ke Semarang waktu usianya empat tahun. Ia ingat betul karena saat itu Darmi membawakannya majalah Bobo, membacakan cerita untuknya dan mengajarinya mengeja kata B-O-B-O dan B-O-N-A. Besoknya ia sudah bisa mengeja kedua kata tersebut.

Perdebatan kapan pertama kali Samsul datang ke Semarang muncul ketika Darmi mengatakan bahwa Samsul pernah mengunjungi rumah neneknya saat usianya dua tahun. Darmi menghitungnya dari perbedaan usia mereka yang berjarak tiga tahun. Dia bilang dia melihat Samsul kecil eek di celana dan membantu Nenek mengganti popoknya.

Samsul yang merasa jijik mendengar kata eek dan popok menantang Darmi untuk menunjukkan foto sebagai bukti, bahwa ia pernah ke Semarang saat usianya dua tahun. Karena seingatnya, usianya empat tahun waktu pertama kali ia berkunjung ke Semarang. Dan ia tidak pernah eek di celana!

Darmi mengakui dia memang tidak punya fotonya, tapi Samsul terus mendesaknya hingga akhirnya Darmi memilih untuk mengalah. Sepulang dari Semarang, Samsul mencari-cari foto-fotonya di album dan menemukan satu foto bersama ayahnya di wahana bom bom car. Ada tulisan tangan ayahnya di belakang foto: Samsul 2 tahun. Samsul tadinya mengira foto tersebut diambil di Dufan, tapi ibunya bilang foto itu diambil di Sri Ratu Semarang, sehari sebelum mengunjungi Borobudur.

*

Hari Minggu itu Samsul tidak punya jadwal ke luar rumah. Ia yang biasa mengurus kebun kecilnya atau mencuci sepeda motornya di Minggu pagi masih terlihat enggan turun dari ranjang sejak balik dari masjid tadi subuh. To Kill a Mockingbird yang baru dibelinya kemarin masih belum dibacanya. Rencana membacanya di hari itu sepertinya tidak akan kesampaian karena kedatangan nenek dan sepupunya.

Aroma masakan menyusup masuk ke dalam kamar, ibunya pasti sedang memasak masakan spesial hari ini. Di hari-hari biasa, ia akan langsung turun ke dapur dan menyambar masakan spesial itu. Tapi jika ia melakukannya sekarang maka ia akan bertemu Darmi. Dan jika ia bertemu Darmi, maka ia akan merasa canggung. Tapi ia tidak mungkin berada di kamarnya seharian. Ia mengingatkan dirinya agar berhati-hati memilih topik atau pertanyaan saat bertemu Darmi nanti. Misalnya, jangan mengungkit masalah perceraian Darmi. Hal itu tentunya akan menyakiti perasaan Darmi, dan juga dirinya.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali ia berkunjung ke Semarang. Entah itu waktu yang lama atau sebentar. Kegiatan sekolah, yang dilanjutkan kesibukannya di kampus jadi alasan yang paling sering dilontarkannya tatkala menolak ajakan ibu atau ayahnya pergi ke Semarang. Bahkan di libur panjang tahunan sekalipun. Meski demikian, sesekali ia memikirkan Semarang, mengingat setiap sudut rumah neneknya yang banyak menyimpan kenangan.

Rumah neneknya terletak di bagian utara kota, bersebelahan dengan tembok pagar sebuah rumah besar, berdinding papan dan beratap rendah, semua ruangannya berlantai semen kecuali lantai dapurnya yang masih berupa tanah. Nenek memasak menggunakan kayu bakar, air minumnya diambil dari sumur yang disimpan dalam gentong. Halaman belakang lumayan luas, ditumbuhi pohon cabai, tomat, jahe, singkong dan satu pohon jambu mete yang tinggi. Samsul sering memanjat pohon itu untuk memetik buahnya atau sekedar duduk sambil mengobrol dengan Darmi yang duduk di bangku kayu di bawahnya. Ia rutin berkunjung ke Semarang pada saat liburan panjang sekolah. Ayah dan ibunya menginap satu atau dua hari, setelah itu mereka kembali ke Bekasi. Ayahnya akan menjemputnya dua hari sebelum ia masuk sekolah. Mulai usia lima belas Samsul tidak lagi diantar maupun dijemput. Ayahnya menganggap dirinya sudah dewasa. Uang tiket dan uang jajan yang diberikan ayahnya lebih dari cukup, Samsul tinggal beli tiket bis di terminal, turun di terminal tujuan lalu lanjut dengan bis kecil sampai Pasar Johar. Dari situ ia tinggal naik angkot atau becak menuju rumah neneknya. Pulangnya malah lebih mudah.

Ayahnya benar. Perjalanan sendirian pertamanya ke Semarang tidak serumit yang dibayangkannya. Ia membawa satu ransel penuh pakaian, camilan keripik dan air minum, menghabiskan waktu di bis dengan membaca novel dan mendengarkan band favoritnya di Walkman. Ia tiba jam sebelas malam, neneknya masih ngantuk berat saat membukakan pintu untuknya.

“Ayahmu nggak nganter, Sul?” tanya neneknya.

“Aku pergi sendiri, Mbah,” jawabnya, mencium tangan neneknya.

Neneknya pergi ke kamar depan dan membiarkan Samsul membereskan barang bawaannya di kamar belakang.

Samsul menyalakan lampu, meletakkan tasnya di samping lemari, melepas celana jins dan kausnya, dan menggantungnya di balik pintu. Ia sangat lelah dan mengantuk. Ia tidak mandi meskipun malam itu lumayan panas. Ia matikan lampu, naik ke ranjang, dan terkejut menemukan Darmi di situ. Ia mengira Darmi masih di rumah orang tuanya dan baru bisa datang besok lusa setelah mengurus surat kelulusan.

“Aku tidur di luar,” ia berkata.

Tapi Darmi menarik lengannya, dan berkata. “Tidur di sini saja.”

Samsul pun menuruti. Ia berbaring di samping Darmi, memejamkan matanya, dan sebentar saja ia sudah tertidur lelap.

Lewat tengah malam Samsul terbangun dan mendapatkan tangannya sudah menempel di atas payudara Darmi.

Ini bukan pertama kali ia menyentuh dada Darmi. Bertahun-tahun lalu ia pernah memegang buah dada sepupunya yang baru tumbuh. Darmi yang memintanya, untuk pamer. Tapi sekarang situasinya berbeda. Buah dada itu besar, bulat dan kenyal, dan ia sudah bukan lagi anak-anak. Tubuhnya semakin tinggi, wajahnya ditumbuhi kumis halus dan sedikit jenggot, penisnya juga dipenuhi rambut, dan ia baru mengalami mimpi basah pertamanya seminggu lalu.

Kemudian tidak berapa lama setelah itu, keintiman itu terjadi begitu saja. Masing-masing baru pertama kali melakukannya, tanpa rasa bersalah, diiringi bunyi derit ranjang yang konstan selama delapan atau sepuluh menit, dan berakhir dengan keheningan. Nenek bangun sebelum subuh dan menemukan Samsul sedang meringkuk tidur di bangku depan.

*

Meja makan sudah disesaki barisan soto, nasi, potongan ayam goreng, sambal, setoples kerupuk, kecap tumpukan piring, tempat sendok dan kotak tisu. Samsul melangkah ke luar kamar, dan dari atas tangga melongok ke arah dapur. Saat turun ke lantai bawah, ia menemukan Darmi sedang duduk di ruang tengah. Tidak jauh dari situ, seorang anak laki-laki duduk di atas karpet menonton film kartun, tangan kanannya memegang mobil pemadam kebakaran mainan kepunyaannya. Ayahnya sedang membaca koran di teras depan, memakai sarung dan kaus oblong Swan. Ia menghampiri neneknya di dapur, akan tetapi ibunya, yang melihatnya lebih dulu, berkata, “Ini Samsul, Mak. Calon dokter.”

Perlu waktu bagi Nenek untuk mengenali Samsul. Dulu Samsul hanya sedikit lebih tinggi darinya. Sekarang, dia harus mendongak untuk melihat wajah cucunya.

“Wah sudah besar. Ganteng juga,” kata Nenek, membiarkan tangan kanannya dicium Samsul.

Neneknya terlihat kecil dan kurus, giginya kecoklatan karena gambir dan sirih, kebayanya masih sama seperti yang dipakai lima tahun lalu. Ada perasaan bersalah saat memandang wajahnya. Neneknya tidak seharusnya jadi korban kekecewaannya pada Darmi, apalagi setiap kali mendengar ibunya membacakan surat dari Semarang—meskipun surat itu ditulis Darmi dengan menyertakan foto anaknya—neneknya selalu menanyakan kabarnya dan kapan ia akan berkunjung ke Semarang. Tentunya hal itu membuatnya bertambah sedih.

“Apa kabar, Mbah?” tanya Samsul.

Neneknya tidak menjawab, kecuali memandang wajah Samsul dengan mata yang berkaca-kaca.

“Sudah ketemu Darmi, Sul?” tanya Ibu, memecah kebekuan.

Setelah lima tahun ia akhirnya melihat lagi sepupunya. Untuk sesaat ia hanya berdiri memandangi Darmi yang sedang membaca majalah. Wajah Darmi tampak jelas meski terlihat dari samping. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya rambutnya yang dipotong pendek hingga menampakkan lehernya yang jenjang.

“Mbak Darmi?”

Darmi mengenali suara itu walaupun nyaris tidak mengenali laki-laki di hadapannya. Pasti ini yang disebut bulik-nya bisa membuatnya pangling.

“Apa kabar, Mas?”

Ini pertama kali Darmi memanggilnya Mas, padahal dulu ia dipanggilnya nama, terlebih mengingat usia Darmi yang tiga tahun lebih tua. Tapi sekarang Darmi memakai make-up. Dulu ia hampir-hampir tidak pernah melihat Darmi dengan make-up. Darmi biasa tampil seadanya dan itu sudah cukup membuatnya terlihat cantik. Dia juga masih suka mengenakan gaun motif bunga dengan tali dan bando ikat dengan warna yang sama.

“Baik Mbak,” jawabnya, melirik Alif yang tidak terganggu dengan kehadirannya. “Ini Alif?”

Pertemuan itu ternyata tidak sekaku yang dibayangkannya. Tanpa ditanya Darmi menceritakan perjalanan pertamanya ke Bekasi dengan kereta, tentang becak Bekasi yang lebih kecil dari becak di Semarang, dan tukang becak yang membawa mereka berputar-putar komplek mencari lapangan bola. Itu karena Nenek bersikeras mengatakan alamatnya tidak jauh dari situ. Samsul tertawa lumayan keras. Ia mengatakan sekarang lapangan itu sudah jadi gedung sekolah. Darmi baru akan bertanya tentang kuliah Samsul ketika ibu Samsul mendatangi mereka dan meminta Samsul mengajak Darmi jalan-jalan ke GOR. “Ramai di sana,” kata Ibu.

*

Pagi itu langit tampak cerah, rimbunan daun angsana di sepanjang jalan menghalau teriknya sinar matahari. Samsul mengenakan kaus hitam favoritnya dan celana pendek coklat tua selutut. Ia membawa tiga puluh ribu untuk jajan mereka nanti. Alif mengenakan celana pendek hitam, kaus merah bergambar robot dan sepatu putih, wajahnya tenggelam dalam topi merah. Samsul menggandeng tangannya yang kecil dan halus.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di jalan utama komplek yang sudah disesaki pejalan kaki dan pedagang. Darmi tertarik pada daster bermotif bunga yang dipajang di lapak besar, tas-tas jinjing di sebelahnya dan aneka jajajanan yang ingin dicicipi. Di dekat rumah orang tuanya juga ada pasar pagi mingguan, tapi tidak seramai di sini. Samsul berinisiatif menggendong Alif, membercandai dengan membalik topinya lalu menyentuh hidungnya. Alif tertawa, menampakkan giginya yang mungil. Tiba-tiba bocah itu mencoba meraih pundak Darmi, menepuknya, lalu menunjuk-nunjuk ke arah pesawat mainan yang berputar-putar di tali, berkata, “Ma, lihat pesawat bagus!”

“Iya, pesawat,” kata Samsul, yang ingin membelikannya buat Alif tetapi sayangnya ia tidak membawa banyak uang.

“Sudah pantas jadi ayah nih,” canda Darmi, melihat ada kemiripan antara Samsul dan anaknya.

“Mama?”

Darmi tertawa. Kata ‘Mama’ mengingatkan keduanya ketika Samsul mengatakan, bahwa ia akan menikahi Darmi suatu saat nanti. Ia akan membangun rumah di gunung dengan kolam renang dan taman yang luas. Lalu anak mereka akan memanggil mereka Papa dan Mama. Darmi merasa tersanjung mendengarnya. Namun, bukankah sepupu tidak bisa saling menikahi? begitu pikir Darmi.

Samsul mengajak mereka makan es krim. Mendengarnya, Alif bertepuk tangan kegirangan. Tapi Darmi khawatir anaknya akan kena pilek, mengingat baru sebulan lalu Alif pergi ke dokter karena demam. Waktu itu demamnya sempat membuatnya panik, panas tubuh Alif tidak turun. Dokter meresepkan beberapa jenis obat untuk diminum, dan setelah tiga hari Alif sembuh. Namun, setelah dipikir lagi, sepertinya rasa khawatirnya terlalu berlebihan. Bukankah sekarang ada Samsul, si calon dokter, di sisinya?

Samsul membelikan mereka es krim coklat, kemudian membawa mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Di belakang mereka ada sebuah rumah kosong yang terlantar. Pintu pagarnya digembok, cat hitamnya mengelupas, tanaman rambat dan rumput liar memenuhi halamannya sampai ke luar pagar. Di dalamnya juga ada satu pohon mangga yang rimbun.

Samsul memperhatikan Darmi yang sedang menikmati es krimnya. Darmi yang menyadari dirinya sedang diperhatikan, melempar senyum. Samsul membalas senyumnya. Darmi jadi merasa malu, mengira Samsul memandanginya karena ada bagian dari wajahnya yang belepotan karena es krim. Tapi bukan karena itu Samsul memperhatikannya. Ia hanya rindu memandangi wajah itu.

Samsul bercerita bahwa tiga tahun lalu pasar paginya tidak sebanyak sekarang dan tidak sampai ke jalanan, yang berjualan masih di lingkungan GOR. Lumayan mengganggu, tapi tidak terlalu masalah, toh hanya seminggu sekali. Ia kemudian menceritakan kegiatan jogingnya setiap Rabu dan Sabtu sore, yang biasanya mengelilingi stadion sepak bola sebanyak lima putaran. Ia pernah menghitung satu kelilingnya sekitar 800 meter, yang artinya ia bisa menempuh 4 kilometer dalam sekali joging.

Darmi menyukai cara bercerita Samsul yang bersemangat, terlebih saat Samsul bercerita tentang kegiatan kampusnya, tentang cita-citanya mengambil spesialis anak dan membuka klinik sendiri, yang membuatnya iri sekaligus bangga padanya. Dia juga suka memandangi wajah Samsul yang putih dan terlihat macho dengan sedikit berewok dan lengannya yang besar ditumbuhi bulu. Sekarang, laki-laki yang duduk di sebelahnya, yang dulu sering diajaknya bermain petak umpat dan dibacakannya cerita itu, jadi laki-laki paling tampan yang pernah dikenalnya. Dia bertanya dalam hati, apakah Samsul sudah punya pacar?

Es krim mereka sudah habis, dan Samsul menawarkan pada Darmi untuk makan es krim lagi. Darmi menjawab, “Tidak. Terima kasih.” Di sampingnya, Alif masih sibuk menjilati es krimnya yang mulai meleleh.

Samsul memperhatikan mata Alif yang besar dan bulu matanya yang lentik, yang dianggapnya versi dirinya waktu kecil. Sungguh tidak disangkanya, kini anak itu sudah tumbuh besar dan menggemaskan. Sayangnya, ia tidak bisa hadir di hari kelahirannya. Kalau saja waktu itu Darmi memberitahu sendiri perihal pernikahannya, tentunya ia masih bisa menerimanya, dan mungkin rasa kecewanya tidak menggunung, lebih-lebih lagi sampai membencinya. Bagaimanapun, ia sudah bisa menerima keadaan Darmi saat ini dan menganggap cintanya kepada Darmi di masa lalu hanyalah cinta monyet, seperti cintanya kepada guru TK-nya. Kini, ia sudah punya seorang keponakan yang butuh perhatian pamannya.

“Kapan ulang tahun Alif, Mbak?” tanya Samsul, yang lupa atau malah tidak tahu sama sekali hari ulang tahun bocah itu.

“Dua belas Maret nanti empat tahun.”

Samsul merasa harus memberikan Alif hadiah ulang tahun nantinya, akan tetapi, pada saat itu Darmi sudah tidak lagi di Bekasi. Ia bisa saja pergi ke Semarang naik kereta, mengambil waktu hari Jumat dan kembali lagi hari Minggu. Untungnya ia tidak ada kegiatan penting di tanggal itu. Namun, ia belum sempat merencanakan hadiah yang akan diberikannya untuk Alif ketika tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Alif lahir prematur?”

Darmi terkejut mendengarnya. Dia menyadari bahwa dia baru saja kelepasan menjawab. Atau, tidak. Dia tidak menyangka Samsul akan menanyakannya.

“Normal, Mas,” jawabnya pelan.

Tentunya jawaban Darmi membuatnya bertambah bingung. Ia berpikir tidak mungkin Darmi salah menjawab. Mungkin Darmi sedang menyembunyikan sesuatu, seperti, apakah Darmi sudah hamil sebelum menikah? Seandainya betul, rasanya masuk akal kenapa kedua orang tuanya seakan-akan mencegahnya pergi ke Semarang. Mereka tahu ia dan Darmi sangat dekat, berita kehamilan Darmi pastinya akan membuatnya sangat terpukul.

“Lalu pernikahan kamu?”

Darmi ingin sekali tidak menjawabnya dan membiarkan keheningan yang mengatakannya, akan tetapi dia tidak bisa.

“Tidak ada ada pernikahan, Mas. Aku tidak pernah menikah.”

Samsul mengalihkan pandangannya dari Darmi ke beberapa momen di masa lalunya, berusaha memahami apa yang terjadi selama lima tahun belakangan. Kabar pernikahan dan perceraian Darmi, obrolan kedua orang tuanya di meja makan, foto-foto Alif yang dikirim lewat surat, sampai kedatangan Darmi dan anaknya yang tanpa pemberitahuan, semuanya saling berhubungan dan seakan-akan sudah direncanakan. Sekarang ia paham alasan sebenarnya kenapa orang tuanya mencegahnya pergi ke Semarang. Mereka tidak ingin dirinya tahu kalau Darmi sedang mengandung anaknya—ia bisa memastikan bahwa Alif adalah anaknya dengan menghitung jarak antara kelahiran Alif dan peristiwa malam itu. Mereka menganggap ia masih terlalu muda untuk mengetahui bahwa ia akan memiliki anak, apalagi dari sepupunya sendiri. Sekalipun begitu, tidak seharusnya orang tuanya sampai tega membuat dirinya membenci Darmi sehingga ia tidak mau lagi pergi ke Semarang. Darmi adalah sepupunya, dan mereka sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Lima tahun, haruskah mereka dipisahkan selama itu?

Darmi menunggu Samsul mengatakan sesuatu, tetapi Samsul masih saja diam, raut wajahnya terlihat datar meski tidak menampakkan kecemasan. Pikirnya, seandainya saja dia tidak melakukan hal bodoh malam itu, tentunya peristiwa itu tidak akan terjadi. Hal bodoh yang dimaksudnya adalah menyimpan majalah porno milik Nina, teman sekelasnya, yang dititipkan kepadanya. Nina bilang, ayahnya sering memeriksa kamarnya.

Malamnya, Darmi membacanya beberapa halaman majalah tersebut dan menyembunyikannya di bawah kasur. Dia baru tidur sebentar ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia membuka mata, dan samar-samar melihat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Dia bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa Samsul datang hari ini?”“Bukankah seharusnya Senin depan?” …“Kenapa tidak terdengar suara bulik dan pakliknya?” …“Samsul pergi sendiri?”

Dia kemudian teringat pesan Samsul dalam suratnya yang mengatakan bahwa Samsul akan pergi ke Semarang sendirian. Dia menarik selimut, mengintip Samsul yang sedang melepas jaket, kaus dan celana jinsnya, dan membiarkan sepupunya naik ke atas ranjang.

Samsul yang terkejut menemukan Darmi di atas ranjang berkata, “Aku tidur di luar.” Ia baru akan pergi ketika Darmi menarik lengannya. “Tidur di sini saja,” kata Darmi. Ia, yang sudah sangat mengantuk, menurutinya. Ia berbaring di samping Darmi, memejamkan matanya, dan sebentar saja ia sudah tertidur.

Tapi Darmi tidak ikut tidur. Dia memperhatikan wajah Samsul yang amat dirindukannya. Dia menyukai wangi parfumnya yang menyatu dengan bau tubuhnya. Ketika Samsul membalik tubuhnya, cahaya dari teras samping memberi gambaran samar-samar lekuk tubuh dan wajahnya yang damai. Samsul tidak terbangun saat dia menyentuh pipinya, atau saat dia mengusap dadanya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu, atau saat dia mengecup tangannya lalu menempelkannya di pipinya dan membawanya ke atas payudaranya.

Darmi menyadari, bahwa sulit bagi Samsul menerima kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang ayah sejak usia enam belas tahun, terlebih Samsul baru mengetahuinya lima tahun kemudian. Sebetulnya, baik Darmi, orang tua Darmi, atau orang tua Samsul sudah berencana akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang Alif. Entah kapan.

Perhatiannya teralih saat melihat Alif sedang sibuk mengelap tangannya di kausnya. Dia mengambil sapu tangan dari dalam tas, membersihkan tangan dan mulut putranya yang belepotan karena es krim, lalu bertanya, apakah ia akan menghabiskan es krimnya? Alif menggeleng kepala. Darmi mengambil sisa es krimnya dan menghabiskannya. Sementara Alif yang sudah duduk di sampingnya mengeluarkan dua mainan tentaranya dari saku celana dan memainkannya di udara.

Diam-diam Samsul memperhatikan apa yang dilakukan Darmi. Darmi memang selalu begitu sejak dulu, tidak tega melihat makanan tersisa. Darmi juga pernah melakukan itu padanya; menghabiskan sisa makanannya dan menasehatinya agar jangan membuang-buang makanan. Mubazir, katanya.

Kemudian ia mengingat-ingat saat menerima surat pertamanya dari Darmi, yang dibuat Darmi untuk tugas Bahasa Indonesia. Keesokannya, ia menulis surat balasan sepanjang tiga halaman di atas kertas wangi. Tulisannya lumayan rapih, tapi ia belum memiliki tanda tangan sendiri. Setelah mencorat-coret dua halaman buku, ia memutuskan tanda tangannya berupa tulisan namanya dalam huruf sambung. Surat tersebut dimasukkannya ke dalam amplop bergambar bunga, ditempel perangko Rp300,- yang diambil dari lemari kerja ayahnya. Ia mengirim surat tersebut lewat kotak pos di samping gedung SD dengan perasaan was-was suratnya sampai atau tidak, dan lega ketika menerima surat balasan dari Darmi dua bulan kemudian.

Ia merindukan saat mereka mendengar sandiwara radio Saur Sepuh di pagi hari dan Misteri Dari Gunung Merapi malamnya. Ia masih ingat betapa bersemangatnya Darmi menceritakan mimpinya berkuliah di UI, tentang menggambar rumah-rumah mewah, jembatan-jembatan, dan gedung-gedung pencakar langit di meja gambar. Darmi memang suka menggambar. Ia masih menyimpan gambar-gambar buatan Darmi bersama surat-suratnya di dalam tas koper yang tidak pernah dibukanya sampai sekarang. Darmi bekerja keras supaya bisa diterima di kampus itu. Dia membeli buku soal-soal UMPTN dari uang tabungannya, mengerjakan soal-soalnya sepanjang hari dan mengikuti kelas tambahan di hari Jumat.

“Mbak masih ingat hari terakhir kita bertemu di Semarang?”

Darmi mengangguk.

“Apa yang Mbak ucapkan?”

Darmi masih ingat betul momen itu, ketika dia dan Samsul duduk di lantai kamar, berpegangan tangan sambil memejamkan mata dan mengucap doa di dalam hati. Dia bertanya pada Samsul apa yang didoakannya. Samsul menjawab ia berdoa supaya ia bisa kuliah satu kampus dengannya di UI. Kemudian Samsul bertanya, “Apa ada jurusan kedokteran di UI?” Darmi menjawab, “Tentu. Kedokteran UI yang terbaik.”

Namun ketika Samsul bertanya balik tentang apa doa yang diucapkannya, Darmi tidak menjawabnya. Bahkan ketika Samsul terus mendesaknya, Darmi masih tetap tidak mau menjawabnya. Darmi senang melihat wajah sepupunya yang terlihat kesal saat berangkat pulang. Samsul tidak mau bersalaman dengannya kalau saja dia tidak berjanji akan memberitahunya nanti—saat Samsul kembali lagi ke Semarang. Sayangnya, sejak saat itu Samsul tidak pernah lagi mengunjunginya, dan sekarang pertanyaan itu malah jadi lebih sulit untuk dijawab—bahkan untuk jawaban bohong sekalipun.

Alif menguap panjang, menyandarkan kepalanya di lengan ibunya. Mainannya jatuh ke tanah. Darmi merangkulnya, mengusap kepalanya. Dia mempertimbangkan apakah dia akan mengatakan jawaban yang sejujurnya. Atau, dia malah tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Lagi pula, peristiwa itu sudah lama berlalu dan mereka sekarang sudah ditakdirkan untuk hidup bersama. Bukankah melupakannya akan lebih baik? Dia bahkan berharap Samsul tidak serius dengan pertanyaan itu. Akan tetapi, dia tidak ingin membuat Samsul kesal padanya seperti yang pernah dilakukannya waktu itu. Dia juga tidak ingin berpisah lagi dengannya.

Di atas sana matahari semakin meninggi, cahayanya menembus rerimbunan dedaunan, jatuh ke wajah sang bocah, membuatnya gelisah. Darmi memangku putranya, menggeser duduknya ke tempat teduh, merapat ke Samsul. Itulah saat paling intim antara dia dan sepupunya sejak mereka bertemu, saat-saat yang paling dirindukannya—untuk menggantikan tahun-tahun mereka yang hilang.

Darmi memegang tangan Samsul, berkata, “A-Aku berdoa supaya kita bisa selalu bersama.” Perempuan itu menjatuhkan kepalanya di bahu laki-laki itu dan menangis. Laki-laki itu merangkulnya, merangkul mereka berdua.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!