Tahun-Tahun Yang Hilang

Tadi malam Nenek datang bersama Darmi dan Alif – putranya Darmi. Ibu yang membukakan pintu, disusul Ayah yang membawa masuk barang bawaan mereka. Samsul yang ikut terbangun memutuskan tetap berada di dalam kamar. Terdengar obrolan di lantai bawah.

“Gimana kabar Samsul, Bulik?” tanya Darmi pada ibunya Samsul.

“Kamu pasti pangling lihat Samsul, Darmi,” jawab Ibu tanpa meneruskan apa yang membuat Darmi bakalan pangling.

Setiap kali mendengar nama Darmi, justru yang paling diingat Samsul adalah kabar pernikahan sepupunya itu yang disampaikan ibunya di meja makan. Ibunya bilang, pernikahannya akan dilangsungkan sebulan lagi, di bulan Oktober. Tentunya kabar tersebut sangat mengejutkan Samsul, mengingat baru tiga bulan lalu ia berkunjung ke Semarang dan tidak ada tanda-tanda Darmi akan menikah.

“Kamu bisa ikut kan, Sul?”

“Aku kan sekolah, Bu,” jawab Samsul. Kalaupun ia menjawab “iya”, setidaknya ia harus mengambil dua sampai tiga hari izin tidak masuk sekolah. Baru sekarang alasan itu terdengar masuk akal, sebelumnya Samsul cukup sering tidak masuk sekolah karena alasan keluarga.

“Namanya Manto, calon suami Darmi,” kata Ibu sambil menyendok nasi untuk Ayah. “Masih satu kampung, kakak kelas Darmi di SMP. Manto punya usaha sendiri, katanya jadi kontraktor listrik.”

“Pestanya nanti di gedung,” Ayah menimpali, mengambil sesendok sambal, lalu diberinya kecap.

“Seragam batiknya sudah jadi. Kalau mau, kamu bisa jadi pagar bagus nanti.”

Samsul merasa pembicaraan itu lebih ditujukan kepadanya ketimbang sekedar pemberitahuan pernikahan Darmi. Tadinya ia ingin memberitahu perihal seleksi Olimpiade Matematika yang akan diikutinya bulan depan dan minta tambahan uang untuk membeli buku soal-soal latihan Matematika. Akan tetapi berita pernikahan itu merusak suasana. Ia menghabiskan makan malamnya, mencuci piringnya lalu pergi ke kamarnya.

Baru jam 20.00, niatnya untuk mengerjakan PR diurungkan karena Darmi masih di pikirannya. Ia tidak menyangka Darmi menikah begitu cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan lamarannya dilangsungkan. Sungguh aneh jika Darmi tidak memberitahunya. Bukankah selama ini Darmi selalu bersikap terbuka padanya?

Darmi memang pernah sekali mengungkapkan kalau dia sedang menyukai seseorang, tapi itu sudah lama sekali. Malah belakangan ini Darmi lebih sering bercerita tentang kampus yang akan dipilihnya selepas SMA. Dia akan senang jika diterima di jurusan Arsitektur Undip; kampusnya tidak terlalu jauh dan banyak temannya yang memilih kuliah di sana. Namun, setelah dipikirnya lagi, dia akan memilih UI. Itu lebih karena dia bisa lebih dekat dengan Samsul.

“Semua orang tahu, Arsitektur UI yang terbaik,” kata Darmi.

“Ada jurusan kedokteran di UI?”

“Tentu. UI yang terbaik.”

Tamu keluarga itu sudah pergi ke kamar tidur yang sudah disiapkan sejak kemarin lusa. Mereka tidur di kamar yang sama, di dekat tangga. Kamarnya lumayan luas, jendelanya menghadap taman kecil yang dirawat Samsul. Dua kasur tebal tergelar di lantai, dilapisi seprai berwarna putih. Darmi menyalakan kipas angin di putaran rendah yang diarahkan ke tempat dia dan Alif. Nenek sering masuk angin kalau kipas angin mengarah padanya.

Samsul tidak bisa memejamkan matanya, rasa kantuknya sudah hilang. Tadi ia sempat tidur jam 21.30 lalu terbangun satu jam kemudian setelah mendengar suara orang tuanya menyambut Nenek. Kini ia malah merindukan Semarang, kampung halaman ibunya, tempat yang lebih banyak dikunjungi ketimbang kampung halaman ayahnya di Majalengka. Lucunya, ia pernah yakin kunjungan pertamanya ke Semarang waktu usianya empat tahun. Ia ingat betul karena saat itu Darmi membawakannya majalah Bobo, membacakan cerita untuknya dan mengajarinya mengeja kata B-O-B-O dan B-O-N-A. Besoknya ia sudah bisa mengeja kedua kata tersebut.

Perdebatan kapan pertama kali Samsul datang ke Semarang muncul ketika Darmi mengatakan bahwa Samsul pernah mengunjungi rumah Nenek saat usianya dua tahun. Darmi menghitungnya dari perbedaan usia mereka yang berjarak tiga tahun. Dia bilang dia melihat Samsul kecil pup di celana dan membantu Nenek mengganti popoknya.

Samsul yang merasa jijik mendengar kata kotoran dan popok menantang Darmi untuk menunjukkan foto sebagai bukti, bahwa ia pernah ke Semarang saat usianya dua tahun. Karena seingatnya, usianya empat tahun waktu pertama kali ia berkunjung ke Semarang. Dan ia tidak pernah pup di celana!

Darmi mengakui dia memang tidak punya fotonya, tapi Samsul terus mendesaknya hingga akhirnya Darmi memilih untuk mengalah. Sepulang dari Semarang, Samsul mencari-cari foto-fotonya di album dan menemukan satu foto bersama ayahnya di wahana bom bom car. Ada tulisan tangan ayahnya di belakang foto: Samsul 2 tahun. Samsul tadinya mengira foto tersebut diambil di Dufan, tapi ibunya bilang foto itu diambil di Semarang, sehari sebelum mengunjungi Borobudur.

*

Hari Minggu itu Samsul tidak punya jadwal ke luar rumah. Kalau pun ada, ia tidak seharusnya pergi, terlebih ada nenek dan sepupunya di rumah. Di waktu luang, ia biasa mengurus kebun kecilnya atau mencuci sepeda motornya. Namun ia enggan turun dari tempat tidur sejak balik dari masjid tadi subuh. To Kill a Mockingbird masih belum dibacanya. Rencana membacanya di hari Minggu pun tidak kesampaian karena kedatangan neneknya.

Aroma masakan menyusup masuk ke dalam kamarnya. Ibunya pasti sedang memasak masakan spesial hari ini. Di hari-hari biasa, Samsul akan langsung turun ke dapur dan menyambar masakan spesial itu. Namun jika ia melakukannya sekarang maka ia akan bertemu Darmi. Dan jika ia bertemu Darmi, maka ia akan merasa canggung. Akan tetapi, ia tidak mungkin berada di kamarnya seharian. Ia mewanti-wanti dirinya agar berhati-hati memilih topik atau pertanyaan saat bertemu Darmi nanti. Misalnya, jangan mengungkit masalah perceraian Darmi. Hal itu tentunya akan menyakitkan Darmi, dan juga dirinya.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali ia berkunjung ke Semarang. Entah itu waktu yang lama atau sebentar. Kegiatan sekolah, yang dilanjutkan kesibukannya di kampus jadi alasan yang paling sering dilontarkannya tatkala menolak ajakan ibu atau ayahnya pergi ke Semarang. Bahkan di libur panjang tahunan sekalipun. Meski demikian, sesekali ia memikirkan Semarang, mengingat setiap sudut rumah neneknya yang banyak menyimpan kenangan.

Rumah neneknya terletak di bagian utara kota, bersebelahan dengan tembok pagar sebuah rumah besar, berdinding papan, atapnya rendah, lantainya berlapis semen, kecuali lantai dapurnya yang masih berupa tanah. Nenek memasak menggunakan kayu bakar, air minumnya diambil dari sumur yang kemudian disimpan dalam gentong. Halaman belakang lumayan luas, ditumbuhi pohon cabai, tomat, jahe, singkong dan satu pohon jambu mete yang tinggi. Samsul sering memanjat pohon itu untuk memetik buahnya atau sekedar duduk sambil mengobrol dengan Darmi yang duduk di bangku kayu di bawahnya. Ia rutin berkunjung ke Semarang pada saat liburan panjang sekolah. Ayah dan ibunya menginap satu atau dua hari, setelah itu mereka kembali ke Bekasi. Ayahnya akan menjemputnya dua hari sebelum ia masuk sekolah. Mulai usia lima belas Samsul tidak lagi diantar maupun dijemput. Ayahnya menganggap dirinya sudah dewasa. Uang tiket dan uang jajan yang diberikan ayahnya lebih dari cukup, Samsul tinggal beli tiket bis di terminal, turun di terminal tujuan lalu lanjut dengan bis kecil sampai Pasar Johar. Dari situ ia tinggal naik angkot atau becak menuju rumah neneknya. Pulangnya malah lebih mudah.

Ayahnya benar. Perjalanan sendirian pertamanya ke Semarang tidak serumit yang dibayangkannya. Ia membawa satu ransel penuh pakaian, snack dan air minum, menghabiskan waktu di bis dengan membaca novel dan mendengarkan band favoritnya di Walkman. Ia tiba di Semarang jam sebelas malam, neneknya yang masih mengantuk berat membukakan pintu. Ia mencium tangan neneknya, neneknya berkata, “Ayahmu gak nganter, Sul?”

“Aku pergi sendiri, Mbah,” jawabnya.

Kemudian neneknya berjalan ke kamar depan dan membiarkan Samsul membereskan barang bawaannya di kamar belakang.

Samsul menyalakan lampu, meletakkan tasnya di samping lemari, menggantung jaketnya di balik pintu lalu melepas celana jeansnya. Ia sangat lelah dan mengantuk sehingga tidak sempat mandi atau sekedar menggosok gigi. Ia matikan lampu, lalu naik ke tempat tidur dan cukup terkejut menemukan Darmi di atas ranjang. Ia mengira Darmi masih di rumah orang tuanya dan baru bisa datang besok lusa setelah mengurus surat kelulusan. “Aku tidur di luar,” kata Samsul. Ia baru akan turun dari ranjang ketika Darmi menarik lengannya. “Tidur di sini saja,” kata Darmi. Samsul pun menuruti. Ia berbaring di samping Darmi, memejamkan matanya, dan sebentar saja ia sudah tertidur lelap.

Lewat tengah malam Samsul terbangun dan mendapatkan tangannya sudah menempel di atas payudara Darmi. Ini bukan pertama kali ia menyentuh dada Darmi, bertahun-tahun lalu ia pernah memegangnya saat buah dadanya baru tumbuh. Tapi sekarang situasinya berbeda, buah dada itu sudah tumbuh besar dan bulat, dan Samsul sudah bukan lagi anak-anak; tubuhnya semakin tinggi, wajahnya ditumbuhi kumis halus dan sedikit jenggot, penisnya juga dipenuhi rambut, dan ia baru mengalami mimpi basah pertamanya seminggu lalu.

Lalu, keintiman itu pun terjadi begitu saja, masing-masing baru pertama kali melakukannya, tanpa rasa bersalah, diiringi bunyi derit ranjang yang konstan selama delapan atau sepuluh menit, lalu berakhir dengan keheningan. Nenek bangun sebelum subuh dan menemukan Samsul sedang meringkuk tidur di bangku depan.

*

Meja makan sudah disesaki barisan soto, nasi, potongan ayam goreng, sambal, setoples kerupuk, kecap tumpukan piring, tempat sendok dan kotak tisu. Sayur asam, tempe dan tahu bacem buat makan siang akan menyusul. Samsul melangkah ke luar kamar, mengintip ke arah di dapur. Kemudian ia melihat ke tempat lain dan menemukan Darmi sedang duduk di ruang tengah bersama putranya. Ayahnya sedang membaca koran di teras depan, memakai sarung dan kaos oblong Swan. Samsul menuruni tangga dan menghampiri Nenek di dapur. Tetapi, Ibu yang sedang memotong sayuran yang melihat Samsul lebih dulu. Ibu berkata pada Nenek, “Ini Samsul, Mak. Calon dokter.”

Perlu waktu bagi Nenek untuk mengenali Samsul. Dulu Samsul hanya sedikit lebih tinggi darinya. Sekarang, dia harus mendongak untuk melihat wajah cucunya.

“Wah sudah besar. Ganteng juga,” kata Nenek, membiarkan tangan kanannya dicium Samsul.

Neneknya terlihat kecil dan kurus, giginya kecoklatan karena gambir dan sirih, kebayanya masih sama seperti yang dipakai lima tahun lalu. Ada perasaan bersalah saat memandang wajahnya. Neneknya tidak seharusnya jadi korban kekecewaannya pada Darmi, apalagi setiap kali mendengar ibunya membacakan surat dari Semarang – meskipun surat itu ditulis Darmi dengan menyertakan foto anaknya – neneknya selalu menanyakan kabarnya dan kapan ia akan berkunjung ke Semarang? Tentunya hal itu membuatnya bertambah sedih.

“Apa kabar, Mbah?” tanya Samsul.

Nenek tidak menjawab, kecuali memandang wajah Samsul dengan mata yang berkaca-kaca.

“Sudah ketemu Darmi, Sul?” tanya Ibu, memecah kebekuan.

Samsul pergi ke ruang tengah, tapi langkahnya terhenti di samping meja makan. Untuk sesaat ia berdiri di situ, memandangi sepupunya yang sedang membaca majalah. Wajah Darmi tampak jelas meski hanya dilihat dari samping. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya rambutnya yang dipotong pendek hingga menampakkan lehernya yang jenjang. Ah, ternyata sekarang Darmi memakai make-up. Dulu Samsul hampir-hampir tidak pernah melihat Darmi dengan make-up. Darmi biasa tampil seadanya dan itu sudah cukup membuatnya terlihat cantik. Dia juga masih suka mengenakan gaun dengan tali dan bando ikat dengan warna yang sama. Tidak jauh dari Darmi, Alif duduk di atas karpet menonton film kartun, tangan kanannya memegang mobil pemadam kebakaran mainan kepunyaan Samsul. Bocah itu tidak terlalu fokus menonton, sesekali ia memainkan mobil-mobilannya.

“Mbak Darmi?”

Darmi mengenali suara itu walaupun nyaris tidak mengenali laki-laki di hadapannya. Pasti ini yang disebut bulik-nya bisa membuatnya pangling.

“Apa kabar, Mas?”

Ini pertama kali Darmi memanggilnya Mas, padahal dulu ia dipanggilnya nama, terlebih mengingat usia Darmi yang tiga tahun lebih tua.

Alhamdulillah baik Mbak,” jawabnya, melirik Alif yang tidak terganggu dengan kehadirannya. “Alif?”

Pertemuan itu ternyata tidak sekaku yang dibayangkannya. Tanpa ditanya Darmi menceritakan perjalanan pertamanya ke Bekasi dengan kereta, tentang becak Bekasi yang lebih kecil dari becak di Semarang, dan tukang becak yang membawa mereka berputar-putar komplek mencari lapangan bola. Itu karena Nenek bersikeras mengatakan alamatnya tidak jauh dari situ. Samsul tertawa, lalu mengatakan bahwa lapangan bolanya sudah jadi sekolah. Darmi baru akan bertanya tentang kuliah Samsul ketika Ibu mendatangi mereka dan meminta Samsul mengajak Darmi jalan-jalan ke GOR. “Ramai di sana,” kata Ibu.

*

Pagi itu langit tampak cerah, rimbunan daun angsana di sepanjang jalan menghalau teriknya sinar matahari. Samsul mengenakan kaos hitam favoritnya dan celana kargo coklat tua selutut. Ia membawa tiga puluh ribu untuk jajan mereka nanti. Alif mengenakan celana pendek hitam, kaos merah bergambar robot dan sepatu putih, wajahnya agak tenggelam dalam topi merah. Samsul menggandeng tangannya yang kecil dan halus.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di jalan utama komplek yang sudah disesaki pejalan kaki dan pedagang. Darmi tertarik dengan daster bermotif bunga yang dipajang di lapak besar, tas-tas KW bermerek di sebelahnya dan aneka jajajanan yang ingin dicicipi. Di dekat rumah orang tuanya juga ada pasar pagi mingguan, tapi tidak seramai di sini. Samsul berinisiatif menggendong Alif, membercandai dengan membalik topinya lalu menyentuh hidungnya. Alif tertawa, menampakkan giginya yang mungil. Lalu ia menunjuk-nunjuk pesawat mainan yang digantung dan berteriak pada ibunya. “Ma, lihat pesawat bagus!”

“Sudah pantas jadi ayah nih,” canda Darmi, yang melihat ada kemiripan antara Samsul dan anaknya.

“Mama?”

Darmi tertawa. Kata ‘Mama’ mengingatkan keduanya ketika Samsul mengatakan bahwa ia akan menikahi Darmi suatu saat nanti. Ia akan membangun rumah di gunung dengan kolam renang dan taman yang luas. Lalu anak mereka akan memanggil mereka Papa dan Mama. Darmi merasa tersanjung mendengarnya. Namun, bukankah sepupu tidak bisa saling menikahi? begitu pikir Darmi.

“Beli es krim, yuk!” kata Samsul.

Ajakan itu menarik perhatian Alif, yang bertepuk tangan kegirangan. Tapi Darmi khawatir anaknya akan kena pilek, mengingat baru sebulan lalu Alif pergi ke dokter karena demam. Waktu itu demamnya sempat membuatnya panik; panas tubuh Alif tidak turun. Dokter memberikan beberapa jenis obat untuk diminum, dan setelah tiga hari Alif sembuh. Meski begitu, ia tidak perlu khawatir terlalu berlebihan karena ada Samsul, si calon dokter, di sisinya.

Samsul membelikan mereka es krim Singapura. Yang harganya tidak terlalu mahal tapi tidak mudah meleleh. Cocok buat Alif. Ia sendiri sudah lama tidak makan es krim Singapura. Pastinya rasanya beda dari yang pernah dibelinya di mal, pun dengan porsi yang jauh lebih besar. Kemudian ia membawa mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Di belakang mereka ada sebuah rumah kosong yang terlantar; pintu pagarnya digembok, cat hitamnya mengelupas, tanaman rambat dan rumput liar memenuhi halamannya sampai ke luar pagar. Di dalamnya juga ada satu pohon mangga yang rimbun. Darmi dan Alif terlihat sangat menyukai es krimnya. Sebentar saja Darmi sudah hampir menghabiskannya. Samsul menawarkan kepada Darmi mau tambah satu lagi. Darmi menjawab tidak usah.

Samsul mengatakan bahwa tiga tahun lalu pasar paginya tidak sampai ke jalanan, yang berjualan masih di lingkungan GOR. Meski menggangu lalu lintas jalan komplek, tapi menurutnya tidak masalah, karena hanya terjadi satu minggu sekali. Kemudian ia menceritakan kegiatannya ber-jogging di GOR setiap Sabtu sore, yang biasanya mengelilingi stadion sepak bola sebanyak lima putaran. Ia pernah menghitung satu kelilingnya sekitar 800 meter, dan itu artinya sekali jogging ia bisa menempuh 4 kilometer.

Darmi menyukai cara bercerita Samsul yang bersemangat, terlebih saat Samsul bercerita tentang kegiatan kampusnya, tentang cita-citanya mengambil spesialis anak dan membuka klinik sendiri. Dia juga suka memandangi wajah Samsul. Sekarang, laki-laki yang duduk di sebelahnya, yang dulu sering diajaknya bermain petak umpat dan dibacakannya cerita itu, sudah menjadi seorang yang disebutnya lelaki paling tampan yang pernah dikenalnya. Dia bertanya dalam hati, apakah Samsul sudah punya pacar?

Alif masih sibuk menjilati es krimnya. Samsul menyukai matanya yang besar dan bulu matanya yang lentik, yang dianggapnya versi dirinya waktu kecil. Sungguh tidak disangkanya, kini anak itu sudah tumbuh besar dan menggemaskan. Sayangnya, ia tidak bisa hadir di hari kelahirannya. Tidak juga bisa melihat Darmi menggendong bayinya. Kalau saja waktu itu Darmi memberitahu sendiri perihal pernikahannya, tentunya ia masih bisa menerimanya, dan mungkin rasa kecewanya tidak menggunung, lebih-lebih lagi sampai membencinya. Bagaimanapun, ia sudah bisa menerima keadaan Darmi saat ini. Ia menganggap cintanya kepada Darmi di masa lalu hanyalah cinta monyet, seperti cintanya kepada guru TK-nya. Sekarang, ia sudah punya seorang keponakan yang butuh perhatian pamannya.

“Kapan ulang tahun Alif, Mbak?” tanya Samsul, yang lupa atau tidak tahu sama sekali hari ulang tahun Alif.

“Maret nanti empat tahun.”

Samsul terdiam sejenak, memikirkan jawaban Darmi yang terdengar ganjil. Ia menghitung di kepalanya dengan cepat, dan menyimpulkan setidaknya usia Alif baru empat tahun Juli nanti.

“Alif lahir prematur?”

Darmi tersentak, menyadari dia baru saja kelepasan menjawab. Atau, tidak. Dia tidak menyangka Samsul akan menanyakannya.

“Normal, Mas,” jawabnya pelan.

Tentunya jawaban Darmi membuatnya semakin bingung. Pikirnya, tidak mungkin Darmi salah menjawab. Apakah Darmi sedang menyembunyikan sesuatu? Apakah Darmi sudah hamil sebelum menikah? Seandainya betul, rasanya masuk akal kenapa kedua orang tuanya seakan-akan mencegahnya pergi ke Semarang. Mereka tahu ia dan Darmi sangat dekat, berita kehamilan Darmi pastinya akan membuatnya sangat terpukul.

“Lalu pernikahan kamu?”

Darmi ingin sekali tidak menjawab pertanyaan itu dan membiarkan keheningan yang mengatakannya, tapi dia tidak bisa.

“Tidak ada ada pernikahan, Mas. Aku tidak pernah menikah.”

Samsul mengalihkan pandangannya dari Darmi ke ke suatu tempat di masa lalu, berusaha memahami apa yang terjadi selama lima tahun belakangan; kabar pernikahan dan perceraian Darmi, obrolan kedua orang tuanya di meja makan, foto-foto Alif yang dikirim lewat surat, sampai kedatangan Darmi dan anaknya yang tanpa pemberitahuan, semuanya saling berhubungan dan sepertinya sudah direncanakan. Tentu saja semuanya palsu. Mereka tidak menginginkan dirinya pergi ke Semarang karena Darmi sedang mengandung anaknya. Iya, Alif adalah anaknya. Ia memastikannya dengan menghitung jarak antara kelahiran Alif dan peristiwa malam itu. Sekarang ia memahami kenapa orang tuanya mencegahnya pergi ke Semarang. Ia memang masih terlalu muda untuk mengetahui bahwa ia akan memiliki anak dari sepupunya sendiri. Sekalipun begitu, tidak seharusnya orang tuanya sampai tega membuat dirinya membenci Darmi. Darmi adalah sepupunya, dan mereka sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Lima tahun, haruskah mereka dipisahkan selama itu?

Darmi menunggu Samsul mengatakan sesuatu, tapi Samsul masih saja diam, raut wajahnya terlihat datar meski tidak menampakkan kecemasan. Dia tahu, sulit bagi Samsul menerima kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang ayah sejak usia enam belas tahun, terlebih Samsul baru mengetahuinya lima tahun kemudian. Sebetulnya, baik Darmi, orang tua Darmi, atau orang tua Samsul sudah berencana akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang Alif, entah kapan.

Dia memang menyesali peristiwa malam itu, yang seharusnya tidak terjadi kalau saja dia tidak melakukan hal bodoh itu. Yang dimaksud adalah menyimpan novel dewasa milik Nina, teman sekelasnya, yang dititipkan kepadanya. Nina bilang, ayahnya sering memeriksa tas dan kamarnya. Malamnya, Darmi membaca novel itu dan masih membacanya ketika Samsul datang. Ketika Samsul membuka pintu kamar, dia buru-buru menyembunyikan novel itu di bawah kasur lalu berpura-pura tidur. Dia senang saat tahu Samsul, seperti yang disampaikan dalam suratnya sebulan lalu, datang sendiri ke Semarang. Dia mengintip Samsul yang sedang melepas jaket dan celana jeansnya, dan menarik tangan Samsul saat ia akan berpindah tidur di ruang depan. “Tidur di sini saja,” kata Darmi. Samsul pun menuruti. Ia berbaring di samping Darmi, memejamkan matanya, dan sebentar saja ia sudah tertidur lelap. Darmi memandangi wajahnya yang sudah sangat berubah sejak terakhir kali mereka bertemu setahun lalu. Dia melepas bajunya, lalu membawa tangan Samsul ke atas payudaranya. Dia ingat Samsul pernah memegang dadanya yang baru tumbuh bertahun-tahun lalu. Tetapi malam itu Samsul bukan lagi anak-anak dengan segala kepolosannya. Dia diam saja ketika Samsul memasuki tubuhnya.

Dilihatnya Alif yang sedang mengotori dirinya dengan lelehan es krim. Dia mengambil sapu tangan, membersihkan tangan dan mulut anaknya, lalu bertanya, apakah ia akan menghabiskan es krimnya? Alif menggeleng kepalanya dan memberikan sisa es krimnya pada ibunya.

Diam-diam Samsul memperhatikan apa yang dilakukan Darmi. Darmi memang selalu begitu sejak dulu, tidak tega melihat makanan tersisa, membuat Samsul mengaguminya. Darmi pernah melakukan itu padanya; menghabiskan sisa makanannya, lalu menasehatinya agar jangan membuang-buang makanan. Mubazir, katanya.

Kemudian ia mengingat surat pertamanya dari Darmi. Darmi mengatakan bahwa surat itu tugas dari guru bahasa Indonesia dan harus ditanda tangani sendiri. Keesokannya Samsul menulis surat balasan sepanjang tiga halaman di atas kertas wangi. Tulisannya lumayan rapih, tapi ia belum memiliki tanda tangan sendiri. Setelah mencorat coret dua halaman buku, ia memutuskan tanda tangannya berupa tulisan namanya dalam huruf sambung. Surat tersebut dimasukkan dalam amplop bergambar awan, ditempel perangko Rp300,- yang diambil dari lemari kerja ayahnya. Ia mengirim surat tersebut lewat kotak pos dengan perasaan was-was suratnya sampai atau tidak, dan lega ketika menerima surat balasan dari Darmi dua bulan kemudian.

Ia pun merindukan masa-masa mereka saling menceritakan mimpi masing-masing, tentang dirinya yang bercita-cita menjadi dokter dan memiliki pesawat pribadi, dan tentang keinginan Darmi berkuliah di UI. Darmi bekerja keras untuk itu; dia membeli buku soal-soal UMPTN dari uang tabungannya, mengerjakan soal-soalnya sepanjang hari dan mengikuti kelas tambahan di hari Jumat. Namun, semua kerja kerasnya jadi sia-sia karena peristiwa malam itu. Ia juga ingat hari terakhirnya di Semarang, ketika Darmi memintanya memegang kedua tangannya, lalu mereka memejamkan mata dan berdoa agar mimpi mereka menjadi kenyataan.

“Mbak masih ingat waktu kita sama-sama berdoa?”

Darmi mengangguk.

“Apa yang Mbak pinta?”

Darmi masih ingat betul momen itu, ketika dia seharusnya berdoa supaya diterima kuliah di UI tetapi dia tidak melakukannya. Sebagai gantinya, dia berdoa untuk mereka berdua, supaya mereka selalu bersama. Matahari semakin tinggi, sinarnya yang keemasan menembus dedaunan, sebentar lagi tempat itu akan disinari penuh. Darmi merapatkan diri pada Samsul, menjatuhkan kepalanya di bahunya dan menangis.

* *

Komentar