Tahun-Tahun Yang Hilang

Darmi mendekatkan diri pada Samsul, menjatuhkan kepala di bahunya dan menangis.

Tadi malam Nenek datang bersama Darmi dan Alif. Ibu yang membukakan pintu, disusul Ayah yang membawa masuk barang bawaan mereka. Samsul yang ikut terbangun memutuskan tetap berada di dalam kamar. Kamar samsul terletak di lantai dua, di sebelah kamar orang tuanya. Tidak seperti sebelumnya, Samsul tidak diberitahu perihal kedatangan Nenek. Padahal Nenek tidak datang mendadak. Ayah dan ibu Samsul sudah diberitahukan sebulan sebelumnya lewat surat.

Samsul membuka sedikit pintu kamar untuk menguping obrolan di bawah. Hening malam membuat suara di bawah terdengar cukup jelas.

“Gimana kabar Samsul, Bulik?” tanya Darmi.

“Kamu pasti pangling lihat Samsul, Darmi,” jawab Ibu tanpa meneruskan apa yang membuat Darmi bakalan pangling.

Setiap kali mendengar nama Darmi justru yang paling diingat Samsul adalah kabar pernikahan Darmi yang disampaikan Ibu di meja makan. Kabar itu bak petir yang menyambar di siang bolong. Samsul terdiam, pandangannya kosong, sendok di tangannya menggantung. Ia tidak percaya kabar tersebut. Bagaimana mungkin Darmi menikah begitu cepat? Meski begitu ia orang yang lumayan pandai menyembunyikan perasaan. Ia memilih tidak mengomentari dan melanjutkan makan malamnya.

“Kamu bisa ikut kan, Sul?” tanya Ibu.

“Aku kan sekolah, Bu,” jawab Samsul. Kalaupun ia menjawab “iya”, setidaknya ia harus mengambil dua sampai tiga hari ijin tidak masuk sekolah. Baru sekarang alasan itu terdengar masuk akal mengingat sebelumnya Samsul cukup sering tidak masuk sekolah karena alasan keluarga.

“Kamu nggak nyesel nggak ketemu teman-teman kamu di Semarang?”

Samsul hampir-hampir tidak menjawab. Ia memang punya banyak teman main di Semarang; teman bermain petak umpet, teman bermain layang-layang, teman bermain sepak bola, teman yang menganggap Bekasi itu bagian dari Jakarta. Tapi, ia tahu yang dimaksud Ibu dengan ‘teman-teman’ itu sebenarnya hanya satu teman. Namanya Darmi. Sepupunya.

Ada keheningan sejenak, masing-masing menikmati makan malam mereka.

“Namanya Manto, calon suami Darmi,” kata Ibu. “Masih satu kampung, kakak kelas Darmi di SMP. Si Manto punya usaha sendiri, katanya kontraktor listrik.”

“Masmu bilang pestanya nanti di gedung,” Ayah menimpali. “Kateringnya mantap, ada gubukan Bakso Jawir juga.”

“Seragam batiknya juga sudah jadi.”

Samsul merasa pembicaraan itu lebih ditujukan kepadanya, menganggap orang tuanya sedang menyindirnya supaya tidak membenci Darmi. Tapi ia sudah terlanjur kecewa. Ia mempercepat makan malamnya, lalu mencuci piring dan setelah itu pergi ke kamar. Kata “Kenapa?”  terus menggelayut di kepala.

Sejak kunjungan terakhirnya ke Semarang tiga bulan lalu, tidak ada tanda-tanda Darmi akan menikah. Darmi memang pernah sekali mengungkapkan bahwa ia sedang menyukai seseorang. Tapi itu sudah lama sekali. Belakangan ini Darmi lebih sering bercerita tentang kampus yang akan dipilihnya selepas SMA. Dia senang jika diterima di Undip, kampusnya tidak terlalu jauh, apalagi banyak teman-temannya yang memilih kuliah di sana. Dia akan mengambil jurusan Arsitektur. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya dia akan memilih UI. Itu lebih karena dia bisa lebih dekat dengan Samsul.

“Ada jurusan kedokteran di UI?” tanya Samsul

“Tentu. UI yang terbaik,” jawab Darmi.

Tamu keluarga itu sudah pergi ke kamar yang sudah disiapkan sejak kemarin lusa. Mereka tidur di kamar yang sama, di dekat tangga. Jendela kamar menghadap taman kecil yang dirawat Samsul. Dua kasur tebal tergelar di lantai, dilapisi seprai berwarna putih. Bantal dan gulingnya empuk, Alif langsung tertidur begitu memeluk gulingnya. Lemari pakaian cukup besar, cukup untuk menaruh tas dan pakaian. Darmi menyalakan kipas angin di putaran rendah yang diarahkan ke tempat dia dan Alif. Nenek sering masuk angin kalau kipas angin mengarah padanya.

Ayah Samsul menemukan oleh-oleh kesukaannya sewaktu merapihkan barang bawaan Nenek: dua botol kecap Mirama di dalam kardus. Samsul menutup pintu dan naik ke tempat tidur. Rasa kantuknya sudah hilang. Tadi ia sempat tidur jam 21.30 lalu terbangun satu jam kemudian setelah mendengar suara orang tuanya menyambut Nenek. Kini ia malah merindukan Semarang, kampung halaman ibunya, tempat yang lebih banyak dikunjungi ketimbang Majalengka, kampung halaman ayahnya. Lucunya, ia pernah yakin kunjungan pertamanya ke Semarang waktu usianya empat tahun. Ia ingat betul karena saat itu Darmi membawakan majalah Bobo, membacakan cerita dan mengajarinya mengeja kata B-O-B-O dan B-O-N-A. Besoknya ia sudah bisa mengeja kedua kata tersebut.

Perdebatan kapan pertama kali Samsul datang ke Semarang muncul ketika Darmi mengatakan bahwa dia pernah menggendong Samsul kecil, menyuapinya pisang, membersihkan kotoran dan mengganti popoknya. Saat itu usia Samsul masih dua tahun. Samsul yang merasa jijik mendengar kata ‘kotoran dan mengganti popok’ menantang Darmi untuk menunjukkan foto sebagai bukti. Darmi memang tidak punya fotonya, namun dia yakin tidak salah. Samsul terus mendesak Darmi hingga Darmi akhirnya menyerah. Sepulang dari Semarang, Samsul mencari-cari foto-fotonya di album dan menemukan satu foto bersama ayahnya di wahana bom bom car. Ada tulisan tangan ayahnya di belakang foto: Samsul 2 tahun. Samsul tadinya mengira foto tersebut diambil di Dufan. Tapi ibunya bilang foto itu diambil di Semarang sehari sebelum mengunjungi Borobudur.

*

Hari Minggu itu Samsul tidak punya jadwal ke luar rumah. Kalau pun ada, ia tidak seharusnya pergi. Toh, ada nenek dan sepupunya di rumah. Di waktu luang, ia biasa mengurus kebun mininya atau mencuci sepeda motor. Tapi ia enggan turun dari tempat tidur sejak balik dari masjid tadi subuh. Novel Pembunuhan Roger Ackroyd masih belum dibaca. Buku itu dibelinya minggu lalu sepulang dari kampus. Ia hanya punya waktu baca di malam hari setelah mengerjakan tugas kuliah. Selama ini buku tersebut hanya jadi pengantar tidur, baru beberapa halaman dibaca matanya sudah mengantuk. Rencana membacanya di akhir hari Minggu pun tidak kesampaian karena kedatangan neneknya.

Ia mencium aroma soto yang sering dimasak neneknya di Semarang. Di hari biasa ia akan langsung turun, mengambil piring, menyendok soto, menambahkan kecap dan sambal hingga kuahnya jadi kemerahan. Tapi jika ia melakukannya maka ia akan bertemu Darmi. Dan jika ia bertemu Darmi, maka ia akan merasa canggung. Akan tetapi, ia tidak mungkin berada di kamarnya seharian. Ia mewanti-wanti dirinya agar berhati-hati memilih topik atau pertanyaan saat bertemu Darmi nanti. Misalnya, jangan mengungkit masalah perceraian Darmi. Hal itu akan menyakitkan Darmi, dan juga dirinya.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali ia berkunjung ke Semarang. Entah itu waktu yang lama atau sebentar. Kegiatan sekolah, yang dilanjutkan kesibukannya di kampus jadi alasan yang paling sering dilontarkan tatkala ibunya mengajaknya pergi ke Semarang. Bahkan di libur panjang tahunan sekalipun. Meski begitu, sesekali ia memikirkan Semarang, mengingat setiap sudut rumah neneknya yang banyak menyimpan kenangan.

Rumah neneknya terletak di pinggiran kota, berdempetan dengan sebuah rumah besar. Untuk menuju ke sana harus melewati jalan sempit. Semua lantainya berlapis semen, kecuali lantai dapur yang masih berupa tanah. Dapurnya kecil, kompornya menggunakan kayu bakar. Di sudut meja makan ada sebuah radio AM, yang disetelnya untuk mendengar kisah Tutur Tinular atau Misteri Dari Gunung Merapi. Halaman belakang lumayan luas, ditumbuhi tanaman rempah dan satu pohon jambu mete yang tinggi. Samsul sering menaiki pohon itu untuk memetik buahnya atau duduk sambil mengobrol dengan Darmi yang duduk di bangku kayu di bawahnya.

Ia rutin berkunjung ke Semarang pada saat liburan panjang sekolah. Ayah dan ibunya menginap satu atau dua hari, setelah itu mereka kembali ke Bekasi. Ayahnya akan menjemputnya dua hari sebelum sekolah dimulai. Tapi, mulai usia lima belas Samsul tidak lagi diantar maupun dijemput. Ayahnya menganggap dirinya sudah dewasa. Uang tiket dan uang jajan yang diberikan ayahnya lebih dari cukup. Samsul tinggal beli tiket bis di terminal, turun di terminal tujuan lalu lanjut dengan bis kecil sampai Pasar Johar. Dari situ ia tinggal jalan kaki atau naik becak menuju rumah nenek. Pulangnya malah lebih mudah.

Ayahnya benar. Perjalanan sendirian pertamanya ke Semarang tidak serumit yang dibayangkan. Ia membawa satu ransel penuh pakaian, snack dan air minum, menghabiskan waktu di bis dengan membaca dan mendengarkan band favoritnya di Walkman. Ia tiba di Semarang jam sebelas malam. Neneknya yang masih ngantuk berat membukakan pintu. “Ayahmu gak nganter, Sul?” kata Nenek, melangkah ke kamar depan dan membiarkan Samsul menyimpan tasnya di kamar belakang.

Samsul sangat lelah dan mengantuk. Ia baru naik ke tempat tidur ketika menemukan Darmi tidur di sana. Ia mengira Darmi masih di rumah orang tuanya dan baru bisa datang besok lusa setelah mengurus surat kelulusan. “Aku tidur di depan,” kata Samsul. Akan tetapi Darmi menarik lengannya dan berkata, “Tidur di sini saja.” Samsul pun menuruti. Ia berbaring di samping Darmi, jantungnya berdegup cepat sekali.

Lewat tengah malam Samsul terbangun, tangan Darmi berada di dalam celana. Dilihatnya Darmi sudah setengah telanjang, berbaring menghadapnya. Darmi menarik tangan Samsul, menempelkannya ke dadanya, dan meremasnya, kemudian membawanya turun ke bawah menjelajahi bagian sensitif di dalam celana. Keduanya melepas pakaian, berpelukan, berciuman, hingga akhirnya Samsul memasuki bagian penting daerah sepupunya. Mereka melakukannya untuk pertama kali, lumayan lama dan berkeringat. Nenek bangun sebelum subuh dan menemukan Samsul sedang meringkuk tidur di bangku ruang tamu.

*

Sarapan hampir siap. Meja makan disesaki barisan soto, nasi, potongan ayam goreng, sambal, setoples kerupuk, kecap tumpukan piring, tempat sendok dan kotak tisu. Sayur asam, tempe dan tahu bacem buat makan siang akan menyusul. Samsul melangkah keluar kamar, mengintip ke bawah, melihat Nenek dan Ibu sibuk di dapur. Kemudian ia melihat ke arah lain dan menemukan Darmi sedang duduk di ruang tengah bersama putranya. Ayahnya sedang membaca koran di teras depan, memakai sarung dan kaos oblong Swan. Samsul menuruni tangga dan menghampiri neneknya. Tapi Ibu yang melihatnya tiba lebih dulu.

“Ini Samsul, Mak,” kata ibunya. “Calon dokter.”

Perlu waktu bagi Nenek untuk mengenali Samsul. Dulu Samsul hanya sedikit lebih tinggi darinya. Sekarang, dia harus mendongak untuk melihat wajahnya.

“Wah sudah besar. Ganteng juga,” kata Nenek, membiarkan tangan kanannya dicium Samsul.

Samsul merasa bersalah, Nenek tercinta tidak seharusnya jadi korban kekecewaannya pada Darmi. Apalagi tiap kali mendengar ibunya membacakan surat dari Semarang, meskipun surat itu ditulis Darmi dan menyertakan foto anaknya, Nenek selalu menanyakan kabarnya dan kapan ia akan berkunjung ke Semarang? Tentu hal itu membuatnya bertambah sedih.

“Apa kabar, Mbah?” tanya Samsul.

Nenek memandangi Samsul dengan perasaan kangen. Ada air mata yang jatuh di sudut mata. Tapi itu bukan air mata kesedihan, karena ada senyum kecil di baliknya.

“Sudah ketemu Darmi, Sul?” tanya Ibu, memecah kebekuan.

*

Tidak banyak yang berubah dari Darmi, kecuali rambutnya yang dipotong pendek hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan berbulu tipis. Dia juga memakai make-up. Dulu, Samsul hampir-hampir tidak pernah melihat Darmi dengan make-up. Darmi biasa tampil seadanya dan itu sudah cukup membuatnya terlihat cantik. Dia juga masih suka mengenakan dress dengan tali dan bando ikat berwarna sama sehingga terkesan klasik. Tapi Samsul tidak pernah mempermasalahkan apa yang pakai Darmi. Sementara itu, tidak jauh dari Darmi, Alif duduk di lantai menonton film kartun, tangan kanannya memegang mobil pemadam mainan berwarna merah kepunyaan Samsul. Ia tidak terlalu fokus menonton, sesekali ia memainkan mobil-mobilannya.

“Mbak Darmi?”

Darmi mengenali suara itu walaupun nyaris tidak mengenali laki-laki di hadapannya. Pasti ini yang disebut bulik bisa membuatnya pangling. Sekarang Samsul memakai kacamata persegi, matanya menyipit ketika tersenyum, menampakkan dua lesung pipitnya.

“Apa kabar, Mas?”

Ini pertama kali Darmi memanggilnya Mas, padahal dulu ia dipanggil nama. Apalagi mengingat perbedaan tiga tahun usia mereka. Ia menyentuh bahu Darmi ketika Darmi akan berdiri.

“Alhamdulillah baik Mbak,” jawabnya, duduk di samping Darmi. Ia melirik Alif yang tidak terganggu dengan kehadirannya. “Alif?”

Darmi mengangguk.

Tanpa ditanya Darmi menceritakan perjalanan pertamanya ke Bekasi dengan kereta, juga tentang tukang becak yang membawanya berputar-putar komplek mencari lapangan bola. Nenek bilang, patokan rumahnya dekat lapangan bola. Samsul tertawa, lalu mengatakan bahwa lapangan bolanya sudah jadi sekolah. Ibu yang baru selesai masak mendatangi mereka dan meminta Samsul mengajak Darmi jalan-jalan. “Ramai di sana,” kata Ibu.

*

Pagi itu panas dan cerah, tapi rimbunan daun akasia di sepanjang jalan menghalau terik matahari. Samsul mengenakan kaos hitam favoritnya dan celana kargo coklat tua sebetis. Ia membawa lima belas ribu, dengan lima ribu berupa recehan untuk jajan Alif nanti. Alif mengenakan celana pendek hitam, kaos merah bergambar robot dan sepatu putih, wajahnya agak tenggelam dalam topi merah. Samsul menggandeng tangannya yang kecil dan halus.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di jalan utama yang disesaki pejalan kaki dan pedagang. Darmi tertarik dengan daster bermotif bunga yang dipajang di lapak besar, tas-tas KW bermerek di sebelahnya dan aneka jajajanan yang ingin dicicipi. Di dekat rumah orang tuanya juga ada pasar pagi mingguan, tapi tidak seramai di sini. Samsul berinisiatif menggendong Alif, membercandai dengan membalik topinya dan menyentuh hidungnya. Alif tertawa, menampakkan giginya yang mungil. Samsul menyukai matanya yang coklat seperti matanya serta bulu matanya yang lentik. Alif menunjuk kapal mainan dan memanggil-manggil ibunya. “Ma, lihat pesawat bagus,” teriaknya.

“Sudah pantas jadi ayah nih,” canda Darmi.

“Mama?”

Darmi tertawa. Kata ‘Mama’ mengingatkan mereka saat mereka bermimpi mempunyai keluarga. Tapi impian itu selalu terbentur dengan status mereka sebagai sepupu.

“Beli es krim, yuk!” kata Samsul.

Ajakan itu menarik perhatian Alif, ia bertepuk tangan kegirangan. “Es krim!” … “Es Krim!” … “Es Krim!”

Tapi tidak dengan Darmi. Dia khawatir anaknya akan kena pilek. Baru sebulan lalu Alif pergi ke dokter karena demam dan beruntung tidak dirawat. Namun, Darmi rasa khawatirnya berubah saat memandang Samsul. Bukankah Samsul calon dokter?

Untuk pertama kalinya Darmi dan Alif menikmati es potong Singapura. Porsinya lumayan besar buat Alif namun tidak mudah meleleh. Samsul membawa mereka duduk di bangku di bawah pohon rindang, di belakang mereka ada sebuah rumah yang tidak berpenghuni.

“Berapa usia Alif, Mbak?”

Darmi yang sedang mengelap mulut Arif menjawab, “Maret nanti empat tahun.”

Aneh, kata Samsul dalam hati. Seingatnya Darmi menikah bulan Oktober, dan menurut hitungan normal seharusnya Alif lahir bulan Juli.

“Prematur?”

“Tidak. Normal kok.”

Jawaban Darmi malah membuatnya semakin penasaran. Jika kelahirannya normal, bagaimana mungkin ia bisa hamil sebelum menikah?

“Lalu, pernikahan itu?”

“Tidak ada pernikahan.”

Samsul terdiam, mencoba memahami apa yang terjadi selama lima tahun belakangan. Kabar pernikahan dan perceraian Darmi, obrolan kedua orang tuanya di meja makan, foto-foto Alif yang dikirim lewat surat sampai kedatangan Darmi dan anaknya yang tanpa diketahuinya, kesemuanya saling berhubungan dan seperti direncanakan. Ia memandang Alif. Anak itu begitu tampan dan cerdas. Usia Alif akan empat tahun bulan depan, itu artinya Samsul sudah menjadi seorang ayah sejak usia enam belas tahun. Samsul memang kecewa karena tidak ada yang memberitahu, tapi mengetahui kebenaran dengan sendirinya sepertinya jauh lebih baik.

Darmi memang berencana akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang Alif pagi itu. Tapi pertanyaan Samsul tadi membuatnya terpaksa mengatakannya lebih cepat. Dilihatnya Samsul masih merenung, raut wajahnya terlihat datar meski tidak menampakkan kecemasan. Es krim Alif meleleh, membasahi tangannya. Darmi mengelapnya dengan sapu tangan dan setelah itu menanyakan pada Alif apakah akan menghabiskan sisa es krimnya. Alif menggeleng kepala. Kemudian Darmi membuang sisa es krim itu ke tempat sampah.

Diam-diam Samsul memerhatikan yang dilakukan Darmi. Darmi memang selalu begitu sejak dulu, penuh perhatian, membuat Samsul mengaguminya. Ia mengingat surat pertama dari Darmi. Darmi mengatakan bahwa surat itu tugas dari guru bahasa Indonesia dan harus ditanda tangan. Samsul belum pernah menulis surat dengan tanda tangan. Setelah mencorat coret dua halaman buku, ia memutuskan tanda tangannya berupa tulisan namanya dalam huruf sambung. Kemudian surat tersebut dimasukkan dalam amplop berwarna yang wangi, ditempel perangko Rp 300 yang diambil dari lemari kerja ayahnya. Ia mengirim suratnya lewat kotak pos depan sekolahnya dengan perasaan was-was suratnya sampai atau tidak. Ia lega saat surat balasan dari Darmi dua bulan kemudian. Darmi bilang tulisan Samsul susah ditangkap radar. Samsul tidak paham yang dimaksud Darmi. Ia bahkan baru tahu radar setelah bertanya pada ayahnya.

Ia juga merindukan masa-masa mereka saling menceritakan mimpi masing-masing, tentang dirinya yang bercita-cita menjadi dokter dan bermimpi memiliki pesawat pribadi, tentang keinginan Darmi kuliah di UI dan cita-citanya menjadi seorang arsitek. Darmi bekerja keras untuk itu; membeli buku soal UMPTN dari uang tabungannya, mengerjakan soal-soalnya sepanjang hari dan mengikuti kelas tambahan di hari Jumat. Darmi pernah memintanya memegang tangannya, lalu mereka memejamkan mata dan berdoa agar mimpi mereka menjadi kenyataan. Mereka terlihat sangat tenang dan khusu. Tapi Samsul tidak berdoa untuk dirinya. Ia berdoa untuk Darmi.

“Mbak masih ingat waktu kita sama-sama berdoa?”

Darmi mengangguk.

“Apa yang Mbak pinta?”

Darmi seharusnya berdoa supaya diterima kuliah di UI dan menjadi seorang arsitek. Tapi dia tidak melakukannya. Dia berdoa untuk Samsul, agar Samsul menjadi seorang dokter, dan kemudian setelah itu dia berdoa untuk mereka, agar mereka selalu bersama. Matahari semakin meninggi, sinarnya menembus dedaunan, sebentar lagi tempat itu akan disinari penuh. Darmi mendekatkan diri pada Samsul, menjatuhkan kepala di bahunya dan menangis.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi
Articles: 40

Leave a Reply