Tahun-Tahun Yang Hilang

Darmi merapatkan diri pada Samsul, menjatuhkan kepala di bahunya dan menangis.

Tadi malam Nenek datang bersama Darmi dan Alif. Ibu yang membukakan pintu, disusul Ayah yang membawa masuk barang bawaan mereka. Samsul yang ikut terbangun memutuskan tetap berada di dalam kamar. Terdengar obrolan di lantai bawah.

“Gimana kabar Samsul, Bulik?” tanya Darmi pada ibunya Samsul.

“Kamu pasti pangling lihat Samsul, Darmi,” jawab Ibu tanpa meneruskan apa yang membuat Darmi bakalan pangling.

Setiap kali mendengar nama Darmi, justru yang paling diingat Samsul adalah kabar pernikahan sepupunya itu yang disampaikan ibunya di meja makan. Ibunya bilang, pernikahannya akan dilangsungkan sebulan lagi, di bulan Oktober. Tentunya kabar tersebut sangat mengejutkan Samsul, mengingat baru tiga bulan lalu ia berkunjung ke Semarang dan tidak ada tanda-tanda Darmi akan menikah.

“Kamu bisa ikut kan, Sul?”

“Aku kan sekolah, Bu,” jawab Samsul. Kalaupun ia menjawab “iya”, setidaknya ia harus mengambil dua sampai tiga hari ijin tidak masuk sekolah. Baru sekarang alasan itu terdengar masuk akal, padahal sebelumnya Samsul cukup sering tidak masuk sekolah karena alasan keluarga.

“Namanya Manto, calon suami Darmi,” kata Ibu sambil menyendok nasi untuk Ayah. “Masih satu kampung, kakak kelas Darmi di SMP. Manto punya usaha sendiri, katanya jadi kontraktor listrik.”

“Pestanya nanti di gedung,” Ayah menimpali, mengambil sesendok sambal, lalu diberinya kecap.

“Seragam batiknya sudah jadi. Kalau mau, kamu bisa jadi pagar bagus nanti.”

Samsul merasa pembicaraan itu lebih ditujukan kepadanya ketimbang sekedar pemberitahuan pernikahan Darmi. Tadinya ia ingin memberitahu perihal seleksi Olimpiade Matematika yang akan diikutinya bulan depan dan minta tambahan uang untuk membeli buku soal-soal latihan Matematika. Akan tetapi berita pernikahan itu merusak suasana. Ia menghabiskan makan malamnya, mencuci piringnya dan langsung pergi ke kamar.

Baru jam 20.00, niatnya untuk mengerjakan PR diurungkan karena Darmi masih di pikirannya. Ia tidak menyangka Darmi menikah begitu cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan lamarannya dilangsungkan. Sungguh aneh Darmi tidak memberitahunya, padahal selama ini Darmi selalu bersikap terbuka.

Darmi memang pernah sekali mengungkapkan kalau ia sedang menyukai seseorang, tapi itu sudah lama sekali. Malah belakangan ini Darmi lebih sering bercerita tentang kampus yang akan dipilihnya selepas SMA. Dia akan senang jika diterima di jurusan Arsitektur Undip, kampusnya tidak terlalu jauh dan banyak temannya yang memilih kuliah di sana. Namun, setelah dipikirnya lagi, dia akan memilih UI. Itu lebih karena dia bisa lebih dekat dengan Samsul.

“Semua orang tahu, Arsitektur UI yang terbaik,” kata Darmi.

“Ada jurusan kedokteran di UI?”

“Tentu. UI yang terbaik.”

Tamu keluarga itu sudah pergi ke kamar tidur yang sudah disiapkan sejak kemarin lusa. Mereka tidur di kamar yang sama, di dekat tangga. Kamarnya lumayan luas, jendelanya menghadap taman kecil yang dirawat Samsul. Dua kasur tebal tergelar di lantai, dilapisi seprai berwarna putih. Darmi menyalakan kipas angin di putaran rendah yang diarahkan ke tempat dia dan Alif. Nenek sering masuk angin kalau kipas angin mengarah padanya.

Samsul tidak bisa memejamkan mata, rasa kantuknya sudah hilang. Tadi ia sempat tidur jam 21.30 lalu terbangun satu jam kemudian setelah mendengar suara orang tuanya menyambut Nenek. Kini ia malah merindukan Semarang, kampung halaman ibunya, tempat yang lebih banyak dikunjungi ketimbang kampung halaman ayahnya di Majalengka. Lucunya, ia pernah yakin kunjungan pertamanya ke Semarang waktu usianya empat tahun. Ia ingat betul karena saat itu Darmi membawakan majalah Bobo, membacakan cerita dan mengajarinya mengeja kata B-O-B-O dan B-O-N-A. Besoknya ia sudah bisa mengeja kedua kata tersebut.

Perdebatan kapan pertama kali Samsul datang ke Semarang muncul ketika Darmi mengatakan bahwa Samsul pernah mengunjungi rumah Nenek saat usianya dua tahun. Darmi bisa menghitungnya dari perbedaan usia mereka yang berjarak tiga tahun. Dia bilang dia melihat Samsul kecil pup di celana dan membantu Nenek mengganti popoknya.

Samsul yang merasa jijik mendengar kata ‘kotoran’ dan popok menantang Darmi untuk menunjukkan foto sebagai bukti, bahwa ia pernah ke Semarang saat usianya dua tahun. Karena seingatnya, ia berusia empat tahun waktu pertama kali ke Semarang. Dan ia tidak pernah pup di celana!

Darmi mengakui dia memang tidak punya fotonya, tetapi dia yakin tidak salah. Namun Samsul terus mendesak Darmi hingga Darmi akhirnya memilih untuk mengalah. Sepulang dari Semarang, Samsul mencari-cari foto-fotonya di album dan menemukan satu foto bersama ayahnya di wahana bom bom car. Ada tulisan tangan ayahnya di belakang foto: Samsul 2 tahun. Samsul tadinya mengira foto tersebut diambil di Dufan, tapi ibunya bilang foto itu diambil di Semarang sehari sebelum mengunjungi Borobudur.

*

Hari Minggu itu Samsul tidak punya jadwal ke luar rumah. Kalau pun ada, ia tidak seharusnya pergi. Toh, ada nenek dan sepupunya di rumah. Di waktu luang, ia biasa mengurus kebun mininya atau mencuci sepeda motor. Namun ia enggan turun dari tempat tidur sejak balik dari masjid tadi subuh. Novel Frankenstein masih belum dibacanya. Rencana membacanya di hari Minggu pun tidak kesampaian karena kedatangan neneknya.

Aroma masakan menyusup ke kamarnya, lalu menyusul sesuatu yang gurih dan pedas. Ibunya pasti sedang memasak masakan spesial hari ini. Di hari-hari biasa, Samsul akan langsung turun dan menyambar masakan spesial itu. Namun jika ia melakukannya sekarang maka ia akan bertemu Darmi. Dan jika ia bertemu Darmi, maka ia akan merasa canggung. Akan tetapi, ia tidak mungkin berada di kamarnya seharian. Ia mewanti-wanti dirinya agar berhati-hati memilih topik atau pertanyaan saat bertemu Darmi nanti. Misalnya, jangan mengungkit masalah perceraian Darmi. Hal itu tentunya akan menyakitkan Darmi, dan juga dirinya.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali ia berkunjung ke Semarang. Entah itu waktu yang lama atau sebentar. Kegiatan sekolah, yang dilanjutkan kesibukannya di kampus jadi alasan yang paling sering dilontarkannya tatkala menolak ajakan ibu atau ayahnya pergi ke Semarang. Bahkan di libur panjang tahunan sekalipun. Meski begitu, sesekali ia memikirkan Semarang, mengingat setiap sudut rumah neneknya yang banyak menyimpan kenangan.

Rumah neneknya terletak di pinggiran kota, berdempetan dengan tembok pagar sebuah rumah besar. Untuk menuju ke sana harus melewati jalan sempit. Rumah itu berdinding papan, atapnya rendah, lantainya berlapis semen, kecuali lantai dapurnya yang masih berupa tanah. Nenek memasak menggunakan kayu bakar, air minumnya diambil dari sumur yang kemudian disimpan dalam gentong. Halaman belakang lumayan luas, ditumbuhi pohon cabai, tomat, jahe, singkong dan satu pohon jambu mete yang tinggi. Samsul sering menaiki pohon itu untuk memetik buahnya atau sekedar duduk sambil mengobrol dengan Darmi yang duduk di bangku kayu di bawahnya. Ia rutin berkunjung ke Semarang pada saat liburan panjang sekolah. Ayah dan ibunya menginap satu atau dua hari, setelah itu mereka kembali ke Bekasi. Ayahnya akan menjemputnya dua hari sebelum masuk sekolah. Namun, mulai usia lima belas Samsul tidak lagi diantar maupun dijemput. Ayahnya menganggap dirinya sudah dewasa. Uang tiket dan uang jajan yang diberikan ayahnya lebih dari cukup, Samsul tinggal beli tiket bis di terminal, turun di terminal tujuan lalu lanjut dengan bis kecil sampai Pasar Johar. Dari situ ia tinggal jalan kaki atau naik becak menuju rumah neneknya. Pulangnya malah lebih mudah.

Ayahnya benar. Perjalanan sendirian pertamanya ke Semarang tidak serumit yang dibayangkan. Ia membawa satu ransel penuh pakaian, snack dan air minum, menghabiskan waktu di bis dengan membaca novel dan mendengarkan band favoritnya di Walkman. Ia tiba di Semarang jam sebelas malam, neneknya yang masih ngantuk berat membukakan pintu. “Ayahmu gak nganter, Sul?” tanya Nenek, melangkah ke kamar depan dan membiarkan Samsul menyimpan tasnya di kamar belakang.

Samsul menyalakan lampu kamar, meletakkan tasnya di samping lemari, menggantung jaketnya di balik pintu lalu melepas celana jeansnya. Ia sangat lelah dan mengantuk sehingga tidak sempat memindahkan pakaian di dalam tas ke dalam lemari. Ia matikan lampu, lalu naik ke tempat tidur dan cukup terkejut menemukan Darmi sedang tidur di atas ranjang. Ia mengira Darmi masih di rumah orang tuanya dan baru bisa datang besok lusa setelah mengurus surat kelulusan. Darmi membuka mata dan melihat sepupunya tercinta. “Aku tidur di luar,” kata Samsul. Ia baru akan turun dari ranjang ketika Darmi menarik lengannya. “Tidur di sini saja,” kata Darmi. Samsul pun menuruti. Ia berbaring di samping Darmi, memejamkan mata, dan sebentar saja ia sudah tertidur.

Lewat tengah malam Samsul terbangun, dilihatnya Darmi yang setengah telanjang sedang mengusap pipinya dengan punggung jemarinya. Ia memandangi Darmi lekat-lekat seakan Darmi seorang yang berbeda. Tentu saja, Darmi memang sangat berbeda malam itu, dan ia yakin Darmi tidak memakai pakaian sama sekali. Hal itu dibuktikan dengan menarik selimutnya. Untuk pertama kalinya ia melihat pemandangan yang polos itu. Setelah menyentuh, mengusap dan menekan bagian yang dianggapnya penting, ia melakukan apa yang tidak pernah dilakukan sebelumnya; ia memasuki tubuh Darmi. Ia melakukannya pelan-pelan, hati-hati dan tanpa rasa bersalah, disertai bunyi derit ranjang yang konstan selama delapan belas atau dua puluh menit, lalu berakhir dengan keheningan. Nenek bangun sebelum subuh dan menemukan Samsul sedang meringkuk tidur di bangku ruang tamu.

*

Meja makan sudah disesaki barisan soto, nasi, potongan ayam goreng, sambal, setoples kerupuk, kecap tumpukan piring, tempat sendok dan kotak tisu. Sayur asam, tempe dan tahu bacem buat makan siang akan menyusul. Samsul melangkah keluar kamar, mengintip ke arah di dapur. Kemudian ia melihat ke tempat lain dan menemukan Darmi sedang duduk di ruang tengah bersama putranya. Ayahnya sedang membaca koran di teras depan, memakai sarung dan kaos oblong Swan. Samsul menuruni tangga dan menghampiri neneknya di dapur. Namun, Ibu yang melihatnya tiba lebih dulu.

“Ini Samsul, Mak,” kata Ibu. “Calon dokter.”

Perlu waktu bagi Nenek untuk mengenali Samsul. Dulu Samsul hanya sedikit lebih tinggi darinya. Sekarang, dia harus mendongak untuk melihat wajah cucunya.

“Wah sudah besar. Ganteng juga,” kata Nenek, membiarkan tangan kanannya dicium Samsul.

Neneknya terlihat kecil dan kurus, giginya kecoklatan karena gambir dan sirih, kebayanya masih sama seperti yang dipakai lima tahun lalu. Ada perasaan bersalah saat memandang wajahnya. Nenek tercinta tidak seharusnya jadi korban kekecewaannya pada Darmi. Apalagi setiap kali mendengar ibunya membacakan surat dari Semarang – meskipun surat itu ditulis Darmi dengan menyertakan foto anaknya – Nenek selalu menanyakan kabarnya dan kapan ia akan berkunjung ke Semarang? Tentunya hal itu membuatnya bertambah sedih.

“Apa kabar, Mbah?” tanya Samsul.

Nenek memandangi Samsul dengan perasaan kangen, ada air mata yang jatuh di sudut mata.

“Sudah ketemu Darmi, Sul?” tanya Ibu, memecah kebekuan.

Samsul berjalan menuju ruang tengah, tapi langkahnya terhenti di samping meja makan. Ia terpaku memandangi sepupunya. Darmi sedang membaca majalah, wajahnya tampak jelas meski Samsul melihatnya dari samping. Tidak banyak yang berubah dari Darmi, kecuali rambutnya yang dipotong pendek hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan berbulu tipis. Ah, ternyata sekarang dia memakai make-up. Dulu ia hampir-hampir tidak pernah melihat Darmi dengan make-up. Darmi biasa tampil seadanya dan itu sudah cukup membuatnya terlihat cantik. Dia juga masih suka mengenakan gaun dengan tali dan bando ikat berwarna sama. Tidak jauh dari Darmi, Alif duduk di atas karpet menonton film kartun, tangan kanannya memegang mobil pemadam mainan berwarna merah kepunyaan Samsul. Bocah itu tidak terlalu fokus menonton, sesekali ia memainkan mobil-mobilannya.

“Mbak Darmi?”

Darmi mengenali suara itu walaupun nyaris tidak mengenali laki-laki di hadapannya. Pasti ini yang disebut bulik-nya bisa membuatnya pangling. Sekarang Samsul memakai kacamata bulat dan sangat tampan.

“Apa kabar, Mas?”

Ini pertama kali Darmi memanggilnya Mas, padahal dulu ia dipanggilnya nama. Apalagi mengingat usia Darmi yang tiga tahun lebih tua.

“Alhamdulillah baik Mbak,” jawabnya, duduk di samping Darmi. Ia melirik Alif yang tidak terganggu dengan kehadirannya. “Alif?”

Pertemuan itu ternyata tidak sekaku yang dibayangkannya. Tanpa ditanya Darmi menceritakan perjalanan pertamanya ke Bekasi dengan kereta, tentang becak Bekasi yang lebih kecil dari becak di Semarang, dan tukang becak yang membawa mereka berputar-putar komplek mencari lapangan bola. Itu karena Nenek bersikeras mengatakan alamatnya tidak jauh dari situ. Samsul tertawa, lalu mengatakan bahwa lapangan bolanya sudah jadi sekolah. Darmi baru akan bertanya tentang kuliah Samsul ketika Ibu mendatangi mereka dan meminta Samsul mengajak Darmi jalan-jalan ke GOR. “Ramai di sana,” kata Ibu.

*

Pagi itu panas dan cerah, tapi rimbunan daun angsana di sepanjang jalan menghalau terik matahari. Samsul mengenakan kaos hitam favoritnya dan celana kargo coklat tua selutut. Ia membawa lima belas ribu, dengan lima ribu berupa recehan untuk jajan Alif nanti. Alif mengenakan celana pendek hitam, kaos merah bergambar robot dan sepatu putih, wajahnya agak tenggelam dalam topi merah. Samsul menggandeng tangannya yang kecil dan halus.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di jalan utama yang disesaki pejalan kaki dan pedagang. Darmi tertarik dengan daster bermotif bunga yang dipajang di lapak besar, tas-tas KW bermerek di sebelahnya dan aneka jajajanan yang ingin dicicipi. Di dekat rumah orang tuanya juga ada pasar pagi mingguan, tapi tidak seramai di sini. Samsul berinisiatif menggendong Alif, membercandai dengan membalik topinya lalu menyentuh hidungnya. Alif tertawa, menampakkan giginya yang mungil. Samsul menyukai matanya yang coklat dan bulu matanya yang lentik. Alif menunjuk kapal mainan dan memanggil-manggil ibunya. “Ma, lihat pesawat bagus,” teriaknya.

“Sudah pantas jadi ayah nih,” canda Darmi, yang melihat ada kemiripan antara Samsul dan anaknya.

“Mama?”

Darmi tertawa. Kata ‘Mama’ mengingatkan keduanya ketika Samsul mengatakan bahwa ia akan menikahi Darmi suatu saat nanti. Ia akan membangun rumah di gunung dengan kolam renang dan taman yang luas. Lalu anak mereka akan memanggil mereka dengan Papa dan Mama. Darmi merasa tersanjung mendengarnya. Namun, bukankah sepupu tidak bisa saling menikahi? begitu pikir Darmi.

“Beli es krim, yuk!” kata Samsul.

Ajakan itu menarik perhatian Alif, ia bertepuk tangan kegirangan. “Es krim!” … “Es Krim!” … “Es Krim!”

Tapi tidak dengan Darmi. Dia khawatir anaknya akan kena pilek, mengingat baru sebulan lalu Alif pergi ke dokter karena demam dan beruntung tidak dirawat. Namun, rasa khawatirnya berubah saat melihat Samsul. Bukankah Samsul calon dokter?

Untuk pertama kalinya Darmi dan Alif menikmati es potong Singapura. Porsinya lumayan besar buat Alif dan tidak mudah meleleh. Samsul membawa mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Di belakang mereka ada sebuah rumah kosong dan terlihat terlantar. Pintu pagarnya digembok, cat hitamnya mengelupas. Tanaman rambat dan rumput liar memenuhi halamannya sampai ke luar pagar. Di dalamnya juga ada pohon mangga yang berdaun lebat.

“Berapa usia Alif, Mbak?”

Darmi yang sedang membersihkan mulut Alif menjawab, “Maret nanti empat tahun.”

Aneh, kata Samsul dalam hati. Seingatnya Darmi menikah bulan Oktober, dan menurut hitungan normal seharusnya Alif lahir bulan Juli. “Prematur?”

Darmi menggeleng kepala.

“Lalu, pernikahan kamu?”

“Tidak ada pernikahan, Mas.”

Samsul terdiam, matanya memandang ke suatu tempat di masa lalu, mencoba memahami apa yang terjadi selama lima tahun belakangan. Kabar pernikahan dan perceraian Darmi, obrolan kedua orang tuanya di meja makan, foto-foto Alif yang dikirim lewat surat sampai kedatangan Darmi dan anaknya yang tanpa pemberitahuan seolah saling berhubungan dan direncanakan. Tentu saja semuanya palsu. Sedangkan satu-satunya yang nyata adalah Alif, anaknya. Ada begitu banyak pertanyaan di kepala, tapi ia tidak akan membicarakannya di sini.

Darmi menunggu Samsul mengatakan sesuatu, tapi Samsul masih saja terdiam, raut wajahnya terlihat datar meski tidak menampakkan kecemasan. Tadinya Darmi berencana akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang Alif sepulang jalan-jalan. Dia tahu, sulit bagi Samsul menerima kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang ayah sejak usia enam belas tahun, terlebih Samsul baru mengetahuinya lima tahun kemudian. Darmi membersihkan tangan dan mulut Alif dengan sapu tangan, kemudian bertanya apakah Alif akan menghabiskan es krimnya? Alif menggeleng kepala dan memberikan sisa es krimnya pada ibunya.

Diam-diam Samsul memerhatikan yang dilakukan Darmi. Darmi memang selalu begitu sejak dulu, tidak tega melihat makanan tersisa, membuat Samsul mengaguminya. Darmi pernah melakukan itu padanya, menghabiskan sisa makanannya, lalu menasehatinya agar jangan membuang-buang makanan. Mubazir, katanya.

Ia mengingat surat pertama dari Darmi. Darmi mengatakan bahwa surat itu tugas dari guru bahasa Indonesia dan harus ditanda tangani sendiri. Samsul menulis surat balasan sepanjang tiga halaman di atas kertas wangi. Tulisannya lumayan rapih buat anak laki-laki, tapi ia belum memiliki tanda tangan sendiri. Setelah mencorat coret di dua halaman buku, ia memutuskan tanda tangannya berupa tulisan namanya dalam huruf sambung. Surat tersebut dimasukkan dalam amplop bergambar awan, ditempel perangko Rp300 yang diambil dari lemari kerja ayahnya. Keesokannya ia mengirim surat tersebut lewat kotak pos dengan perasaan was-was suratnya sampai atau tidak. Ia merasa lega ketika menerima surat balasan dari Darmi dua bulan kemudian.

Ia pun merindukan masa-masa mereka saling menceritakan mimpi masing-masing, tentang dirinya yang bercita-cita menjadi dokter dan bermimpi memiliki pesawat pribadi, dan tentang keinginan Darmi berkuliah di UI. Darmi bekerja keras untuk itu – membeli buku soal UMPTN dari uang tabungannya, mengerjakan soal-soalnya sepanjang hari dan mengikuti kelas tambahan di hari Jumat. Di hari terakhirnya di Semarang, Darmi meminta Samsul memegang kedua tangannya, kemudian keduanya memejamkan mata dan berdoa agar mimpi mereka menjadi kenyataan.

“Mbak masih ingat waktu kita sama-sama berdoa?”

Darmi mengangguk.

“Apa yang Mbak pinta?”

Kini gantian Darmi yang terdiam. Dia masih ingat betul momen itu, ketika dia seharusnya berdoa supaya diterima kuliah di UI. Tapi dia tidak melakukannya. Sebagai gantinya, dia berdoa untuk mereka berdua, supaya mereka selalu bersama. Matahari semakin meninggi, sinarnya menembus dedaunan, sebentar lagi tempat itu akan disinari penuh. Darmi merapatkan diri pada Samsul, menjatuhkan kepala di bahunya dan menangis.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi
Articles: 42

Leave a Reply