Folded napkins on a dinner table

Suatu Waktu di Masa Depan

Ah, kalian, para wartawan, sekarang menanyakan masa kecilku. Baiklah, aku akan ceritakan sedikit saja.

Aku sangat merindukan masa-masa itu, masa yang tidak akan terbayar dengan seluruh uang yang kupunya saat ini. Khususnya saat makan malam bersama orang tua dan ketiga adikku, makan makanan yang dimasak ibu dan adik perempuanku sambil duduk di lantai, dengan kecap, kerupuk dan sambal, dengan TV yang menyiarkan berita, yang sering dikomentari Ayah.

Aku juga rindu dapur kami, dengan kompor minyak tanahnya, panci-panci pantat hitam, spatula dengan gagang yang sering copot, dindingnya yang menghitam karena asap kompor, cobek besar dan ulekannya, bunyi desis penggorengan saat Ibu memasak ikan asin, wangi sayur asem, hingga keriuhan membuat ketupat jelang lebaran. Ibu sering menyuruhku atau adikku pergi membeli sumbu kompor atau minyak tanah di warung, membawa jerigen yang ditendang-tendang di lutut, memasang sumbu kompor, lalu mengisinya dengan minyak tanah, dan menyalakan sumbunya dengan lidi yang dibakar.

Sekarang, kami pakai kompor listrik. Dapur kami selalu bersih dan perlatan dapur yang mengilap dan panci yang tidak perlu lagi ditambal di tukang patri. Kami juga menggaji dua tukang masak. Mereka seperti pesulap. Kami tidak perlu tahu proses yang terjadi di dapur tahu-tahu makanan sudah tersaji di meja makan kami yang luas dengan menu bervariasi dan tiga sesi makan yang sudah diatur sedemikian rupa (makanan pembuka, utama, dan penutup) seperti halnya di restoran.

Tapi, tidak seperti dulu yang bisa makan dengan seenaknya—duduk di lantai atau di kursi, pakai tangan atau sendok—sekarang, dengan istri yang keturunan orang terpandang serta memperhatikan masa depan anak kami, etiket di meja makan benar-benar harus kuperhatikan.

Kalian, para wartawan, pasti tidak percaya kalau kubilang aku pernah tidur di atas kasur lipat tipis berwaran biru di ruang tengah—kasur yang terkadang membuat kulitku gatal karena tidak dijemur. Tapi, entah kenapa, aku merasa tidurku saat itu jauh lebih nyenyak ketimbang saat ini walaupun ranjangku jauh lebih nyaman.

Aku juga punya kenangan akan kamar mandiku yang sempit, yang setiap harinya kusikat karena airnya yang kotor. Aku memang sering dibuat kesal oleh PDAM. Bukan hanya masalah air kotornya, tapi juga seringnya air mati tiba-tiba. Kalau sudah begitu, aku mesti mengambil air dari keran tempat wudu di masjid, dan berjalan menenteng dua ember sejauh dua puluh meter bolak-balik. Kabar baiknya, aku jadi tahu kalau bahwa dengan sedikit HCL lantai porselen kamar mandi bisa menghilangkan kerak air.

Sekarang, kami punya kamar mandi yang lebih luas dari kamar tidur orang tuaku, dengan bathtub dan shower, tanpa kecoa atau kelabang. Airnya selalu tersedia, jernih dengan pilihan air panas. Kami pakai sabun cair dalam pompa kaca kristal. Aku mengganti sikat gigi setiap pekan dan berkumur dengan Listerine, handuknya lembut dan tidak bolong di pantat.

Secara keseluruhan, rumahku yang dulu bukan rumah impian yang ditinggali satu keluarga dengan enam orang. Namun, bukan juga gambaran rumah orang miskin. Hanya lumayan berantakan. Di sana-sini banyak tumpukan koran di bawah meja tamu atau di atas kursi, pakaian-pakaian tergantung di paku kalender dinding, kasur lipat menyender di dinding dekat jendela, sapu di sudut ruangan, gorden yang jarang dicuci, kawat nyamuk berdebu. Ada kalanya kami dibuat bingung dengan teka-teki di mana baunya. Kalau bukan karena bau taik kucing, pastinya bangkai tikus.

Begini. Meski tidak secara resmi kami memelihara kucing, ada seekor kucing hitam kecoklatan yang suka mampir ke rumah kami dan biasa kami beri makan. Adik perempuanku memberinya nama Momo.

Momo, sama seperti tidurnya yang di mana saja di dalam rumah, bisa kencing atau berak di mana saja. Kami, sekalipun berenam mencari, sangat kesulitan menemukannya sementara yang tercium hanya bau asem-nya. Pernah satu atau dua kali kami tidak menemukan taiknya sama sekali, sampai akhirnya kami biarkan saja. Dua atau tiga minggu kemudian baunya sudah hilang sama sekali.

Mencari taik kucing atau bangkai tikus bisa dibilang seperti pekerjaan detektif. Kalian, para wartawan, tidak akan menyangka kalau bau yang menyengat bukan berarti sumbernya ada di situ. Itu tipuan. Bisa jadi itu terjadi karena tertiup angin. Bukan bermaksud membanggakan diri, tapi aku yang paling sering menemukan taik kucing atau bangkai tikus di rumah.

Kami benar-benar cemas kalau hujan turun, bahkan hujan yang tidak terlalu deras sekalipun. Teras rumah kami bocor, jadi kalau hujan turun deras bisa dipastikan teras akan kebanjiran. Apalagi kalau hujan deras turun tengah malam, rumah kami jadi satu-satunya yang terlihat sibuk ketika para tetangga sedang tertidur lelap.

Masa lalu memang sangat dirindukan, tapi aku juga punya impian.

Sejak kecil aku bermimpi jadi pebisnis besar seperti Bill Gates atau Steve Jobs, punya rumah besar nan indah, dapur cantik, bathtub dan shower di kamar mandi, dapur bagus, kolam renang, tinggal bersama istri yang cantik dan anak-anak yang rupawan. Tentu saja aku tidak bisa mengandalkan warisan atau pendidikanku yang rendah untuk mewujudkannya. Aku harus bekerja sangat keras. Ketika impianku terwujud nantinya, kukira, akan ada wartawan atau jurnalis yang bertanya tentang masa laluku. Dan, sambil menunggu waktu itu datang, aku sudah menyiapkan ceritanya.

* *

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.