Start-Up Kebetulan

Dalam dunia nyata, sebuah kebetulan merupakan sebuah fakta. Tidak ada yang membantah, tidak ada yang akan mempermasalahkannya. Namun beda halnya dalam cerita fiksi. Walaupun bukan sesuatu yang dilarang, pembaca atau penonton tidak akan menerima begitu saja peristiwa kebetulan. Dianggapnya terlalu dibuat-buat.

Misalnya saya kenalan dengan seorang perempuan di bis yang bernama Mira. Nama Mira mengingatkan saya pada meeting dua hari sebelumnya dengan seorang direktur yang bernama Mira. Mira yang bekerja sebagai perawat itu ngekos di rumah yang pemiliknya juga bernama Mira. Sepekan kemudian saya diperkenalkan Mira kepada Abangnya, yang ternyata namanya sama dengan nama saya. Ali Reza. Saya senang kenal Abangnya Mira, yang kebetulan sama-sama fans beratnya Manchester City.

Peristiwa di atas penuh dengan kebetulan. Hal itu tampak biasa saja jika terjadi di dunia nyata, namun tampak konyol dalam sebuah cerita fiksi. Kecuali … ada peristiwa pendahulunya, atau hal itu terjadi karena suatu alasan.

Misal, suatu hari perusahaan saya bangkrut. Uang saya habis. Rumah saya akan disita bank kalau saya tidak membayar hutang saya sebesar 2 miliar hari itu juga. Dalam kondisi yang menyedihkan itu, saya jalan kaki tanpa tujuan. Saya juga kelaparan. Saya duduk di bawah pohon tepi jalan sambil memandang mobil yang lalu lalang. Lalu, entah dari mana tiba-tiba saja ada yang melempar tas di hadapan saya. Saya buka tas itu dan menemukan uang sejumlah 2 miliar.

Yang melempar tas itu seorang yang tidak saya kenal. Entah dari mana ia tahu saya butuh uang sejumlah itu. Yang jelas, pria itu mengatakan kalau uang itu tidak gratis. Ada syaratnya. Yaitu, saya harus bergabung dengan organisasinya sebagai mata-mata. Ternyata pria itu sudah mengamati dan mempelajari saya sejak lama. Ia pikir saya adalah orang yang tepat untuk tugas ini.

Sampai di sini sudah jelas kan alasan saya dapat 2 miliar.

Dalam Start-Up episode 13 terdapat beberapa kebetulan yang tidak perlu. Yang paling fatal tentunya peristiwa kebetulan setelah tiga tahun itu. Aneh bagi seorang Ji Pyeong yang tidak berbuat apa-apa ketika saingannya, Do San, sudah pergi selama tiga tahun ke Amerika. Terlebih tidak ada alasan bagi Ji Pyeong untuk tidak mendekati Dal Mi. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Tiga tahun, waktu yang lebih dari cukup untuk melelehkan hati gadis yang beku. Namun entah kenapa Ji Pyeong malah melakukannya di waktu yang bersamaan dengan kembalinya Do San ke Korea?

* *

Komentar