Seni Menyapu

Inisiatif. Jangan tunggu disuruh.

Waktu pertama kali diperintah ayah untuk menyapu, saya memegang sapu dengan satu tangan di ujung gagang. Maksudnya, supaya bisa menjangkau lebih jauh. Saya kira hal itu lumrah dilakukan para penyapu pemula. Tapi ayah melihatnya berbeda. Saya menyapu seperti orang malas. Caleuy. Lesu, nggak bergairah.

Tidak ada kalimat: Maklum ia masih anak kecil di kepala ayah. Saya sudah dianggap cukup umur untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Ayah bilang menyapu itu ada tekniknya. Semua dibilang ayah ada tekniknya. Itu karena ayah lulusan STM. Begini teknik menyapu yang diajarkannya pada saya. Semoga berguna.

  1. Pegang dengan dua tangan.
  2. Posisikan kaki dalam kuda-kuda yang baik. Disesuaikan dengan tinggi sapu.
  3. Posisi tubuh menyamping.
  4. Matikan kipas angin.
  5. Ayunan tangan luwes. Tapi mantap.
  6. Sapu tempat-tempat yang sulit dijangkau. Seperti kolong bangku.
  7. Lakukan dua, tiga, empat atau lima kali sapuan. Biasanya debu-debu tidak tersapu di sapuan pertama dan kedua.
  8. Sapu semua lantai, termasuk lantai yang tidak terlihat kotor. Karena debu ada di mana-mana. Yang kalau dikumpulkan akan menjadi sampah.
  9. Jangan merenggut. Lakukan dengan ikhlas.
  10. Jangan simpan sampahnya di pojokan. Harus dipengki dan dibuang ke tempat sampah.
  11. Inisiatif. Jangan tunggu disuruh.
  12. Tambahan: Baca bismillah. Zikir selama menyapu. Semoga berkah.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar