sekotak-bakpia

Sekotak Bakpia

Rani sudah sampai di halaman 176 dari buku yang dibacanya ketika seorang laki-laki duduk di sebelahnya. Di antara dia dan laki-laki itu ada sekotak bakpia miliknya. Sekilas dia melihat wajah laki-laki itu. Laki-laki itu lumayan tampan, dengan dahinya yang lebar, alis tebal, hidung mancung, kumis dan comek—sedikit rambut yang tumbuh di bawah bibir dan dagunya. Ia memakai kemeja lengan panjang putih bermotif dengan lengan yang digulung sampai sikut. Ia tidak membawa tas, dan sepertinya sedang menunggu seseorang.

Dia sadar saat laki-laki itu melirik ke arah buku yang dibacanya. Tapi bukan karena itu dia memutuskan menutup bukunya, dengan jari telunjuknya diselipkan di halaman terakhir dibacanya sebelum diganti dengan pembatas buku, melainkan dia sedikit bingung dengan buku yang dibacanya lantaran nama-nama tokohnya yang sering tertukar. Dia kemudian menoleh ke sebelah kirinya, melewati laki-laki itu, ke arah datangnya kereta komuter, yang kemudian berhenti di hadapan mereka. Dia seharusnya naik kereta itu, tapi kereta itu penuh penumpang. Begitu pun satu kereta komuter jurusan Bekasi berikutnya. Sekarang jamnya orang-orang pulang kerja, dia tidak ingin berdiri sampai stasiun Bekasi, apalagi dia membawa tas ransel yang lumayan besar.

Hari belum terlalu malam dan dia masih ingin berlama-lama duduk di situ—di Stasiun Pasar Senen. Bakpia di dalam kotak di sebelahnya tinggal setengahnya. Kue-kue itu tidak akan mengenyangkannya, bahkan jika dia menghabiskan dua kotak. Berat tubuhnya sekarang sudah melewati 80 kg, dia harus bekerja lebih keras untuk dietnya, mengurangi makan nasi dan camilan.

Laki-laki itu kini sibuk dengan ponselnya. Ia tampak lebih tampan dengan kaca mata walaupun jadi terlihat sedikit lebih tua. Usianya pastinya tidak lebih dari 35 tahun, pikir Rani. Mungkin sekitar 32 atau 33.

Rani tergoda untuk mengeluarkan ponselnya meskipun dia tidak menginginkannya. Dia melihat-lihat video TikTok dan Instagram-nya sebentar sebelum menutupnya. Matanya sudah sangat lelah, terlalu lama menatap layar ponsel membuatnya pusing dan sulit tidur. Dia menaruh ponselnya ke dalam saku jaketnya, mengganti kegiatan menunggunya dengan menikmati suasana stasiun dan membayangkan seandainya dia dan laki-laki itu mengobrol.

Stasiun kereta, di mana pun, selalu tampak jauh lebih indah di malam hari. Lampu yang terang benderang, keriuhan orang-orang menunggu kereta, pengumuman dari pengeras suara, dan deru suara kereta. Kalau bukan karena terpaksa, dia tidak akan berada di sini. Dia seharusnya sudah pergi dari tadi sore dengan mobil atau sepeda motornya. Tapi, akhir-akhir ini banyak razia di jalan, sementara dia belum punya SIM.

Dia kembali memikirkan buku itu, ingin mengulang membaca satu atau dua halaman untuk memastikan yang mana nama sang ayah, sang anak, atau sang cucu. Akan tetapi, laki-laki di sampingnya—dia merasa laki-laki itu masih melirik bukunya atau mungkin melirik yang lain—agak mengganggunya, meskipun tidak dalam arti mengganggu yang sebenarnya. Dia memutuskan menoleh ke arah laki-laki itu, memastikan bahwa yang diliriknya adalah bukunya. Tapi kemudian akhirnya pandangan mereka bertemu. Laki-laki itu tersenyum padanya, menampakkan garis-garis kecil di ujung mata dan garis panjang di pipinya. Dia membalas senyumnya, lalu, entah kenapa dia malah menawarkannya bakpia.

“Mau?”

Laki-laki itu bernama Frans dan ia juga sempat melirik kotak bakpia itu. Ia sudah lama tidak makan bakpia. Seingatnya, ia terakhir kali makan kue itu dua tahun lalu saat bertugas di Jogja. Tawaran dari perempuan itu seperti keinginan yang terkabul. Ia mengambilnya satu dan menggigitnya setengahnya. Remahan kulit bakpia jatuh ke lantai. Ia seharusnya meletakkan tangan kirinya di bawahnya sebagai wadah remahan yang jatuh.

“Ini enak,” kata Frans, minum dari botol air mineral yang dibelinya di kios setelah menghabiskan bakpianya.

“Kalau mau, kau boleh ambil lagi. Coba yang rasa keju.”

“Terima kasih.”

Tapi, Frans tidak mengambilnya. Ia bertanya kepadanya, “Ke Bekasi?” Ia menebaknya lantaran perempuan itu selalu menoleh setiap kali kereta komuter jurusan Bekasi berhenti.

“Iya,” sahut Rani, diam sejenak. Dia berpikir waktu menunggunya akan lebih berguna jika ada teman mengobrol, sehingga dia pun melanjutkan, “Harusnya aku turun di Bekasi, tapi teman-temanku tidak ada yang membangunkanku. Dengan yang sekarang, jadinya sudah dua kali aku kelewatan. Sebelumnya pernah ketiduran sampai Stasiun Gambir. Ya sudah, nikmati saja. Kalau, Mas?”

Frans tersanjung dipanggil ‘Mas’, yang membuatnya merasa sepuluh tahun lebih muda.

“Jemput klien dari Surabaya,” sahutnya. “Tadinya aku menunggu di mobil, tapi sepertinya lebih enak menunggu di sini. Ada banyak yang bisa dilihat. Baru balik dari Jogja?”

“Iya,” jawabnya. Laki-laki itu pastinya menebak dari tulisan di kotak bakpia.

Ada jeda sejenak. Frans menoleh ke arah buku itu, menunjuk One Hundred Years of Solitude itu, dan berkata, “Itu buku bagus, tapi aku perlu membacanya berulang-ulang sampai bisa membedakan tokoh-tokohnya. Tahu sendirikan, nama-nama mereka mirip.”

“Sama! Aku juga masih bingung dengan nama-nama tokohnya. Kalau saja tidak dipaksakan, aku sudah menyerah dan berhenti membacanya. Jadi, kau penggemar sastra nih?”

“Aku baca apa saja. Harry Potter, Percy Jackson, Lord of The Rings. Crazy Rich Asians …”

“Aku suka Crazy Rich Asians, sampai baca tiga kali.”

“Punya penulis favorit?”

“Suzanne Collins, Kevin Kwan, Haruki Murakami, Agatha Christie. Kalau Mas?”

“Harper Lee, Capote, Jane Austen, Louisa May Alcott, Mary Shelley, Ishiguro, Suzanne Collins, J.K. Rowling, …”

Selama setengah jam berikutnya mereka masih membicarakan buku dan penulis favorit masing-masing, buku yang dijadikan film, dan lagu yang cocok untuk cerita buku. Rani menantikan Bullet Train-nya Brad Pitt, sementara Frans menantikan The Curious Incident of the Dog in the Night-Time meskipun pesimis film itu akan tayang tahun depan. “Kautahu, Brad Pitt juga yang jadi produsernya,” ujar Frans.

Frans dulu suka mengobrol tentang buku bersama mantan pacarnya, tapi sejak putus setahun lalu ia belum menemukan lagi teman mengobrol buku. Memang, ada beberapa rekan kerjanya yang suka baca, tapi mereka terlalu sibuk untuk mengobrol tentang buku. Ia seharusnya juga bawa buku, terlebih di saat-saat menunggu seperti sekarang. Ia ingat masih berhutang dua buku yang belum dibacanya, yang sudah sebulan tidak disentuhnya. Sebulan belakangan ini ia sulit meluangkan waktu untuk membaca. Pekerjaannya benar-benar menyita waktunya.

Sudah tiga kereta jurusan Bekasi datang dan pergi, tapi Rani masih enggan beranjak dari tempat itu. Dia masih ingin menikmati suasana stasiun yang semakin ramai, juga obrolan dengan laki-laki di sebelahnya yang semakin menyenangkan. Dia sebetulnya tidak tahu banyak tentang karya klasik, hanya, kebetulan saja laki-laki itu menyebut penulis dari buku yang sudah pernah dibacanya. Dia sudah membaca To Kill a Mockingbird, The Remains of The Day, Little Women, dan Frankenstein, namun dia belum pernah baca satu pun karya Jane Austen atau Capote. Untungnya dia tahu beberapa judulnya dan pernah membaca cerpen-cerpen O. Henry dan Poe sehingga terkesan tahu banyak karya-karya klasik.

Laki-laki itu bekerja di perusahaan farmasi, demikian laki-laki itu mengatakan, sementara yang dimaksud klien yang ditunggunya adalah seorang dokter jantung ternama. Kemudian laki-laki itu menjelaskan pekerjaannya yang disebutnya tidak kenal waktu. Yang sering disalah artikan sebagai sales obat.

“Dr. Amin akan jadi pembicara seminar besok,” ujar Frans. “Aku harus mengantarnya ke hotel malam ini.”

Frans berbohong. Ia tidak menjemput siapa pun dan tidak kenal dr. Amin. Ia dapat cerita itu dari teman SMA-nya yang bekerja sebagai Area Manager untuk perusahaan farmasi PMA di Surabaya. Kebenarannya adalah ia baru datang dari Surabaya, dan ia seorang polisi. Rekan polisinya baru akan menjemputnya begitu selesai bertugas. Yang entah akan dijemput jam berapa nantinya. Tapi ia tidak terburu-buru. Yang dilakukan di hari pertamanya di Jakarta adalah menempati rumah barunya. Ia lebih senang jika tidak tinggal di apartemen seperti sebelumnya. Ia suka berbaur dengan warga, memahami kebiasaan setempat, dan bermain badminton. Ia tadi tiba di Stasiun Pasar Senen jam setengah tujuh, tasnya dititipkan di kantor kepala stasiun, kenalan rekan polisinya. Kalau malam ini tidak bisa jemput, kata rekan polisinya lewat whatsapp, ia bisa menginap di ruang tunggu penumpang.

Rani tahu pekerjaan yang dimaksud laki-laki itu. Dia sering melihat orang-orang berpakaian rapih dengan tas kerja sedang menunggu dokter selesai praktek di rumah sakit. Cerita laki-laki itu membuat profesi tersebut jadi menarik. Tapi, dia tidak punya cerita tentang pekerjaannya, kecuali tugasnya mengantar kotak-kotak bakpia itu ke pelanggannya.

“Dokternya sudah sampai mana?” tanya Rani.

“Cirebon,” jawab Frans. “Tapi katanya ada masalah.”

“Masih mau ditunggu atau pulang dulu?”

“Sudah terlanjur di sini. Ya, ditunggu saja. Kalau kau? Naik kereta yang jam berapa?”

“Tunggu yang agak kosong. Sekarang masih jam orang pulang kerja. Masih ramai. Mungkin jam setengah sembilan.”

“Lapar?”

“Tidak. Tapi aku masih punya bakpia di dalam tas.”

Rani mengeluarkan satu kotak bakpia lagi untuk menemani mereka mengobrol. Mereka tidak lagi bicara tentang buku, tapi masih berlanjut bicara tentang film. Rani memberitahu Frans aplikasi di ponsel yang menampilkan film-film pendek keren. Mereka kemudian nonton satu film lima menit tentang zombie buatan orang Jepang di ponsel Rani. Rani merekomendasikannya beberapa film komedi Thailand yang sangat kreatif. Mereka, yang ternyata juga sama-sama suka traveling, berbagi cerita tentang tempat-tempat indah yang pernah mereka kunjungi. Obrolan mereka sesekali terputus karena panggilan telepon dan pesan Whatsapp. Di panggilan telepon terakhir, Frans dikabari rekan polisinya bahwa ia sudah tiba di stasiun. “Ternyata keretanya anjlok. Relnya rusak. Belum tahu kapan selesai diperbaikinya,” ujar Frans. “Sepertinya bakalan lama. Kurasa, aku harus pulang dulu.” Sementara itu, Rani, yang baru menerima pesan whatsapp, berkata, “Ibuku minta supaya aku cepat pulang. Aku naik kereta yang berikutnya.”

Itulah akhir pertemuan mereka. Mereka bersalaman, masing-masing mengucapkan selamat tinggal. Frans mengucapkan terima kasih, kemudian ia melangkah menuju ruang tunggu penumpang, mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan stasiun.

Rekan polisinya sudah menunggu di luar stasiun, bersandar di badan mobil sambil memainkan ponselnya. Mereka baru bertemu hari itu. Rekan polisinya berusia dua puluh tiga dan suka bermain voli, dan akan jadi anak buah Frans selama Frans menjabat sebagai Kasat Narkoba. Ia bilang mereka baru saja menangkap pengedar narkoba di Kemayoran. Frans menepuk bahunya, mengatakan bahwa timnya nanti akan lebih banyak menangkap pengedar atau bandar narkoba.

Mobil mereka berbelok ke arah Salemba. Frans senang saat diberitahu bahwa ia akan tinggal di sebuah rumah, bukan di apartemen seperti sebelumnya. Ia bertanya kepada rekan polisinya apakah ia suka baca buku? Rekan polisinya menjawab ia suka sekali baca novel. Kemudian ia menunjukkan beberapa buku di bangku belakang. Frans meraih salah satu buku itu dan menemukan Klara and The Sun. Buku itu ditulis oleh Kazuo Ishiguro, penulis favoritnya, dan baru tahu buku itu sudah diterjemahkan.

Ia tersenyum, teringat perempuan di stasiun tadi. Teringat, bahwa ia belum sempat berkenalan dengannya. Sayang sekali. Perempuan itu tidak seperti perempuan kebanyakan yang dikenalnya, yang dianggapnya sebagai orang asing paling menarik yang pernah ditemuinya. Dia memiliki mata bulat, rambutnya keriting, dan suara yang lembut. Dengan keluwesannya bergaul serta pengetahuannya tentang buku, film indie, dan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, dia jadi teman diskusi yang menyenangkan. Frans bertanya dalam hati, mungkinkah di suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengannya di waktu dan tempat yang sama?

Rani memutuskan naik kereta terakhir ke Bekasi. Dia duduk di sebelah sambungan gerbong, tas ranselnya diletakkan di sebelahnya. Di seberangnya, seorang perempuan muda tidur sangat lelap; kedua tangannya memeluk tas hitamnya. Perempuan itu mengingatkannya pada dirinya setahun lalu, saat dia masih terjebak dalam rutinitas kerja, berangkat pagi-pagi betul demi bisa mengejar kereta jam enam pagi, dan pulang mengambil kereta terakhir untuk ketenangan. Dia menjalaninya selama empat tahun, dengan dua tahun terakhirnya memikirkan kapan dia bisa keluar dari rutinitas tersebut. Dia lega semua itu sudah berakhir sebelum dia berulang tahun yang kedua puluh lima.

Dia membuka tas ranselnya, mengeluarkan sekotak bakpia, kemudian mengambil satu bakpia dari kotak bakpia terakhir miliknya. Dia tidak membeli bakpia tersebut di Jogja atau di mana pun, melainkan dibuatnya sendiri. Dia memang suka memasak sejak kecil, bakpia adalah kue kesukaannya. Dia juga yang membuat kotak kemasannya, mencetak nama toko yang tidak akan ditemui di mana pun. Dia tidak menyangka bisa sampai berbuat sejauh itu, padahal ide awalnya hanya mengirim ekstasi dalam kotak bakpia, seperti yang dilakukannya malam ini, membawa empat kotak ekstasi yang disimpannya di dalam tas ransel, di bawah One Hundred Years of Solitude, Atomic Habits, dan beberapa stel pakaiannya.

Bagaimanapun, kalau tidak karena bakpia, dia tidak akan mengobrol dengan laki-laki itu. Dia masih ingat obrolan mereka dan cara laki-laki itu tersenyum hingga menampakkan garis-garis di wajahnya. Dia bahkan masih mencium wangi parfumnya. Dia berharap bisa berkenalan dan bertukar nomor whatsapp, tapi tentu saja pekerjaannya tidak memungkinkannya berkenalan dengan orang asing, walaupun laki-laki itu terlihat sangat baik.

***

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.