Sahabat Lama

Keputusanku memilih berteduh di rumah mewah bercat putih itu lebih karena teras parkirnya yang luas—tempat yang kupikir aman untuk berlindung dari terjangan hujan deras. Hari sudah menjelang malam, tidak ada lampu rumah dinyalakan, yang artinya tidak ada penghuni di dalamnya. Namun, itu baru kesimpulan awal, mungkin pemilik rumah sedang berpergian dan bisa balik kapan saja, lagi pula, bukankah di saat-saat badai begini listrik memang sengaja dimatikan?

Selama sekitar sepuluh menit aku masih berdiri di teras parkir, tapi karena angin kencang yang tidak beraturan, aku pun berpindah ke sisi kanan rumah dan berlindung di celah ruang belakang. Di bagian ini relatif lebih aman, dindingnya menghalangi tiupan angin dan hujan, hanya percikan air lumpur yang berhasil mengenai bagian bawah tubuhku. Hujan badai seperti ini bisa berlangsung seharian atau sampai keesokannya, tapi aku belum berencana keluar dari rumah ini. Untuk mengisi waktu, aku memutar Wuthering Heights di kepalaku dan bersenandung.

Lalu, kulihat pintu di sampingku terbuka. Aku mendorongnya lebih lebar, dan terpikir untuk masuk ke dalam. Aku tahu tindakanku bisa saja berakibat fatal karena aku akan dianggap pencuri, akan tetapi, di sisi lain, aku berharap hati sang pemilik rumah akan terenyuh saat melihatku menggigil kedinginan, meskipun kemungkinan itu sangat kecil terjadi.

Aku melangkah masuk; air merembes keluar dari sepatu ke lantai, juga menetes dari pakaianku yang basah. Aku akan mengelapnya nanti, pikirku, tapi untuk saat ini aku lebih memikirkan diriku dulu. Kulepas sepatuku dan menyandarkannya ke dinding; jari-jari kakiku pucat dan mengerut. Lalu kulepas bajuku, memerasnya di tempat cuci piring, mengibas-ngibasnya dan menggantungnya di sandaran kursi. Aku baru akan melepas celana jinsku ketika tiba-tiba kompor di belakangku menyala—aku bersumpah, tidak ada orang yang menyalakannya. Hantukah?

Apa yang terlintas di pikiranku tidak lebih menakutkan dari keadaan di luar; suara angin menderu-deru, cahaya kilat menyambar-nyambar dan gelegar halilintar yang sesekali mengejutkanku. Aku menghangatkan tubuh di dekat kompor selama sepuluh menit, lalu melepas celana jinsku dan menggantungnya di pintu. Waktu kembali ke kompor, kutemukan laci paling atas sudah terbuka dan kulihat di dalamnya ada beberapa batang lilin. Aku menyalakan sebatang lilin dengan api kompor dan meletakkannya di atas meja marmer; terlihat peralatan dapur tersusun rapih di atas meja dan berbaris di gantungan. Lalu kunyalakan satu lilin lagi. Aku baru akan melangkah pergi ketika tiba-tiba api kompor mati sendiri.

Aku selanjutnya berpindah ke ruang tengah. Dari sini kusimpulkan bahwa tidak ada orang sama sekali di rumah ini, karena semua perabotan ditutupi kain putih. Kutarik satu kain penutup meja untuk menutupi tubuhku, kemudian pergi ke sisi kanan yang bersebelahan dengan sebuah kamar yang terkunci dan ruang makan utama, lalu menuju ruang tamu yang luas. Melalui jendela aku melihat ke arah jalanan yang diselimuti kabut air dan pohon-pohon di tepi jalan yang diterjang angin puyuh.

Setelah itu aku kembali lagi ke ruang tengah, meletakkan lilin di atas meja, lalu duduk di atas sofa yang nyaman sambil memeluk dua kaki dan memandangi api lilin yang menari-nari tertiup angin. Sebentar saja aku sudah tertidur. Aku terbangun lewat tengah malam saat listrik sudah menyala; sinar lampu menyilaukan mataku dan samar-samar terdengar Wuthering Heights. Lagu itu tidak berputar di kepalaku, melainkan ada seseorang yang menyetelnya, tapi aku masih terlalu mengantuk untuk mencari tahu.

Keesokan paginya aku bangun dalam keadaan segar bugar; hujan masih belum berhenti, tapi cahaya matahari sudah terlihat. Hawa dingin membuatku terus-terusan berbalut kain putih yang terseret-seret sewaktu berjalan ke dapur. Aku membuka lemari es, tapi tidak ada makanan sama sekali di dalamnya, pun dengan rak dapur yang sudah aku geledahi sampai ke sudut-sudutnya.

Aku kemudian naik ke lantai atas, menaiki tangga dengan hati-hati, melihat dari balkon jalanan yang porak-poranda akibat pohon-pohon yang bertumbangan, lalu pergi ke bagian lain; memutar gerendel pintu tiap pintu kamar yang terkunci, mengintip ke kamar mandi, membaca judul-judul buku di atas rak di ruang santai, menaiki tangga menuju lantai tiga; melongok sebentar loteng yang gelap dan sunyi, dan kembali ke lantai ke bawah.

Sewaktu melintasi ruang makan utama, kulihat di meja sudah tersaji roti panggang madu kesukaanku dan secangkir kopi hitam. Bagaimana mungkin? pikirku, padahal barusan aku ke dapur tapi tidak ada makanan di sana. Mungkin sarapan itu dibuat untuk orang lain, tapi untuk siapa? Tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain aku. Kemudian, tiba-tiba saja kursi meja makan bergeser ke belakang. Dengan ragu aku melangkah menuju kursi itu, mendudukinya, lalu menyantap roti panggang itu sedikit-sedikit; tidak ada efek apapun setelah menghabiskannya, selain rasa lezat dan kenyang—kopinya juga lumayan.

“Siapapun Anda … atau apapun Anda!” seruku, “aku ucapkan terima kasih,” aku membungkuk demi menghormati tuan rumah yang baik hati.

Ternyata, orang yang kubicarakan sudah menampakkan dirinya, sedang menuruni tangga; ia berusia kira-kira 27 atau 28, badannya tegap, wajahnya tampan dan ramah. Begitu tiba di anak tangga terakhir, ia berkata,

“Suka masakanku, Alex?”

Aku belum sempat menjawab, tapi ia sudah melanjutkan.

“Kau boleh menaruh kain itu lagi di tempatnya, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu,” ia menunjuk pakaian di atas meja di sebelahku.

Sambil mengenakan pakaian baru, aku mengingat-ingat siapa laki-laki itu—ia pastinya orang yang pernah kukenal karena ia tahu namaku. Memang, belakangan ini aku kesulitan mengingat sesuatu, sedangkan ingatanku hanya sampai kemarin sore. Aku bahkan tidak tahu dari mana aku sebelum tiba di rumah ini. Meski begitu, ada satu hal yang kuingat betul selain namaku, yakni lagu Wuthering Heights itu.

Ia tersenyum melihatku sudah mengenakan pakaian yang mirip dengan yang dipakainya; sweter berkerah tinggi dan celana panjang, bedanya hanya di warna; aku memakai pakaian berwarna coklat, sedangkan ia memakai pakaian serba hitam. Aku, yang merasa canggung, bertanya,

“Apakah kita pernah saling kenal?”

“Namaku Pinto Ricardo, teman SMA-mu. Ingat?”

Dan di sinilah keajaiban itu terjadi, yang kumaksud adalah cara otak bekerja; ketika sudah mendapatkan satu atau dua kata sebagai petunjuk pengingat, maka serangkaian ingatan datang kemudian. Rangkaian itu berupa garis lurus, seperti berada di suatu lorong gelap dengan senter di tangan dan yang terlihat hanya jalan di depan. Nama Pinto Ricardo adalah senternya, sehingga, apa pun yang terkait aku dan Pinto, maka aku bisa mengingatnya. Namun, setiap senter punya batas jangkauan cahaya, dan aku tidak bisa mengingat di luar hal itu; seperti halnya aku tidak bisa mengingat masa laluku meski aku ingat namaku—senterku mati.

Aku tahu Pinto sejak awal masuk SMA, tapi baru kenal betul enam bulan kemudian, ketika ia menemukanku sedang membaca Wuthering Heights dan berkata,

“Kautahu, ada lagu yang judulnya sama dengan buku yang kaubaca.” Lalu ia memperdengarkan Wuthering Heights padaku.

Darinya aku jadi suka lagu-lagu tahun 70’an, dan begitu pula dengannya, yang menyukai novel klasik dari buku-buku yang kurekomendasikan. Kami saling menebak masa depan kami seperti apa nantinya. Dibilangnya aku akan jadi seorang penulis, sementara kubilang ia akan jadi seorang penyanyi atau penulis lagu. Ternyata, apa yang kutebak salah; setelah lulus SMA, ia memilih berkuliah di jurusan kedokteran. Dari ceritanya, ia sudah bekerja di rumah sakit dan jadi seorang psikiater ternama. Namun, sebelum ceritanya sampai ke situ, ia memberitahu peristiwa menyedihkan yang pernah menimpanya—pada saat itu kami sudah duduk di kursi dapur; di atas meja marmer tersedia dua gelas jus jeruk; aku tidak melihat pakaianku di sana, dan waktu kutanyakan itu, ia ternyata sudah menjemurnya di teras belakang.

“Sobat, aku tahu kau pernah mendengar kabar ini,” ia berkata, “tapi karena kau tidak ingat, maka aku akan mengatakannya lagi padamu kabar yang mengejutkan ini: aku sudah mati empat bulan lalu,” ia menjedanya sejenak, memberiku kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Namun, melihatku diam saja, ia pun meneruskan. “Waktu itu jam 12.25 malam ketika aku terbangun setelah mendengar suara di bawah. Aku turun dengan membawa tongkat bisbol, bersiap berkelahi melawan pencuri. Betul saja, kulihat tiga pencuri sedang mengacak-acak ruang tengah. Saat salah satu pencuri naik ke tangga, aku langsung menghantam kepalanya dengan tongkat bisbol. Telak. Tidak berapa lama, dua pencuri lain langsung mendatangiku dan terjadilah pertempuran itu. Aku mungkin akan menghabisi mereka kalau saja pengecut itu tidak mengeluarkan pistol dan menembakku.” Ia mengangkat bajunya dan menunjuk bagian-bagian tubuhnya yang berlubang dan berdarah-darah. Setelah menurunkan bajunya ia meneruskan, “Kautahu, aneh rasanya menghadiri pemakaman sendiri.”

“Tapi kau terlihat … hidup,” kataku, mengira darah itu hanya triknya untuk mengejutkan dan menakut-nakuti teman lamanya ini.

“Mau bukti apa lagi?” sahutnya, tersenyum. “Kau tidak melihat ada orang yang membukakan pintu untukmu, bukan? Atau, siapa yang menyalakan kompor dan membuat kopi untukmu, atau yang menarik kursi makan, padahal semua itu aku yang melakukannya dan kau tidak melihat aku melakukannya. Dan itu bukan trik. Ah, kau mungkin berpikir tentang jus jeruk itu? Untuk kauketahui, hantu juga menyukai hal-hal duniawi. Aku masih suka jus jeruk dan mendengarkan musik. Dan ya! aku bisa menembus dinding. Lihatlah!” kemudian ia berjalan menembus dinding dan setelah itu balik lagi.

“Jadi kau benar-benar hantu?”

“Inilah aku. Semuanya sudah terjadi dan aku sudah terbiasa menjadi hantu. Sekarang, aku terikat dengan rumah ini; rumah warisan ayahku. Ibu dan saudariku seharusnya masih tinggal di sini kalau aku tidak ceroboh menampakkan diri di depan mereka. Dia pernah memanggil dukun, dan disuruhnya ibuku melakukan ritual ini-itu. Kasihan ibuku, untuk sesuatu yang sia-sia dia menghabiskan banyak uang. Jadi, kulempar saja gelas ke muka dukun itu dan ia pun lari terbirit-birit. Aku menggagalkan rencana ibuku untuk menjual rumah ini. Aku juga menggagalkan pencuri masuk ke dalam rumah beberapa kali. Tapi, aku tidak pernah berpikir kau pencuri, aku tahu kau hanya numpang berteduh. Begitu tahu orang itu sahabat lamaku, aku membuka pintu untuknya. Semoga kau merasa nyaman di sini.”

“Aku sangat menghargai bantuanmu, tapi aku akan senang jika kau bercerita tentang diriku dan mungkin cerita teman-teman kita.”

“Tentu, tapi aku tidak bisa bercerita lebih jauh mengingat kemalangan yang menimpa dirimu. Setelah lulus sekolah, kau lebih memilih pergi kota, meninggalkan impianmu menjadi penulis—yang kau bilang sulit dapat uang dari menulis. Aku tidak mendengar kabarmu lagi selama beberapa bulan setelah itu, hingga aku bertemu Sarah, yang memberitahuku kalau kau mendapat peran kecil untuk drama televisi.”

“Sarah?”

“Pacarmu. Kau tidak ingat?”

“Tidak. Tidak sama sekali,” jawabku. “Tapi aku pasti ingat seandainya kau memberitahu nama lengkapnya, seperti halnya aku bisa mengingatmu setelah kau mengatakan nama lengkapmu—Pinto Ricardo. Sekarang katakan, siapa nama lengkap Sarah?”

“Sarah Lipsey,” jawabnya. “Itu namanya.”

Aku seakan mendapatkan senter yang lain, yang menyinari lorong kenangan antara aku dan Sarah Lipsey. Aku ingat wajah cantiknya, rambutnya yang sebahu, kulitnya yang kecoklatan dan matanya yang hitam. Dia perempuan pintar dengan prospek cerah. Sayangnya, hubunganku dengan Sarah berakhir karena kebodohanku, yang disebutnya aku seorang perokok berat, pemabuk dan pecandu narkoba.

“Kau sudah mengingatnya?”

Aku mengangguk, dan berkata, “Katakan padaku, di mana Sarah sekarang? Aku menyesal sudah menyia-nyiakannya. Lalu, bagaimana keadaanku setelah itu? Aku harus tahu apa yang terjadi padaku. Di mana aku sebelum di sini? Di mana aku seminggu yang lalu? Di mana aku sebulan yang lalu? Apa yang sudah kuperbuat selama ini? Kalau kau tidak mau memberitahuku, setidaknya kauberitahu nama lengkapku, karena itu akan menjawab semua pertanyaanku. Kumohon.”

“Dulu aku punya cukup banyak pasien sepertimu, yang tiba-tiba kehilangan ingatan. Ada yang sementara. Ada yang permanen. Ada juga yang berpura-pura. Kasusmu bukan yang terparah, tapi jika kau mampu mengingat kembali masa lalumu, maka kau akan bertambah sedih. Aku paham apa yang terjadi padamu, dan ini saat yang tepat untuk melupakan masa lalu. Tidak ada gunanya mengingat-ingat, lagi pula, kau tidak punya nama belakang. Setahuku, dan memang faktanya, namamu hanya Alex. Sobat, kau sudah kehilangan aku dan juga Sarah, pastinya kau tidak ingin kehilangan dirimu.”

Aku terdiam sejenak dan berkata, “Jadi, bagaimana keadaan dia sekarang?”

“Dia sehat walafiat. Dia bahkan baru datang ke makamku minggu kemarin. Oh, dia sangat cantik. Dia meletakkan mawar merah di nisanku dan menangis saat mengenang masa-masa kita di sekolah dulu. Dia juga bercerita tentang dirimu. Ya, tentu saja dia menangisimu. Dia berkata, ‘Kenapa? Kenapa kau melakukannya?’ Yang dimaksudnya adalah, kenapa kau bunuh diri—menembak kepalamu dengan pistol. Sobat, aku tahu kenapa kau melakukannya, dan aku yakin kau sangat menyesalinya. Kau beruntung tidak ingat peristiwa itu sehingga kau tidak dibayang-bayangi rasa bersalah. Tidak seperti aku, yang perlu waktu berminggu-minggu untuk melupakan kejadian malam aku dibunuh dan berminggu-minggu lagi untuk memaafkanmu.”

* *

Leave a Reply