tukang jamu

Penjual Jamu

Salah satu masalah yang menggangguku saat menulis cerita adalah penggunaan kata dia. Seperti diketahui, dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan penggunaan ‘dia’ untuk laki-laki atau ‘dia’ untuk perempuan. Memang, kita bisa tahu dia laki-laki atau dia perempuan dari konteks-nya, tapi tetap saja dalam kalimat-kalimat tertentu akan ada kebingungan. Coba Anda bedakan ‘dia’ untuk perempuan atau ‘dia’ untuk laki-laki dalam kalimat di bawah ini:

Dia perempuan yang cantik dan kaya, tapi sayangnya dia tidak tertarik padanya.

Aku sudah memberitahu editorku cara membedakannya: pakai ‘ia’ untuk laki-laki, dan ‘dia’ untuk perempuan.

“Dahlan Iskan biasa melakukannya,” kataku.

Editorku bilang itu tidak membantu. Malahan dia berseloroh bahwa mempertahankan kata ‘dia’ untuk dua gender membuat pembaca lebih cerdas.

Masalah kecil seperti tadi kadang-kadang membuatku pusing. Kalau sudah begitu, kutinggalkan tulisanku untuk beristirahat. Aku biasanya tidur sebentar, dan minum jamu supaya lebih segar.

Aku sudah terbiasa minum jamu sejak SMP. Awalnya untuk mengobati asmaku, kemudian ibuku menyediakan jamu kunyit dan jahe di mejaku setiap sore. Katanya, supaya aku tidak gampang sakit. Penjual jamu langganan kami seorang wanita berkonde berumur tiga puluh tahunan yang berjualan dengan sepeda, yang biasa memanggil ibuku dengan ‘bude’.

“Bude, jamu!”

Dari situ, sudah jelas aku minum jamu karena khasiatnya, bukan penjualnya. Meskipun begitu, aku tidak menyalahkan seseorang yang minum jamu karena suka dengan penjualnya, seperti halnya tetanggaku.

Aku tidak pernah melihatnya beli jamu sebelumnya, namun sejak penjual jamu langganan kami berganti dengan yang lebih muda, tetanggaku mulai ikutan minum jamu. Yang membuatku kesal adalah tetanggaku suka berlama-lama saat beli jamu sehingga aku terpaksa menunggu lama. Pernah, satu atau dua kali aku mengurungkan membeli jamu karena alasan itu.

Penjual jamu baru itu menggantikan kakaknya—penjual jamu langganan kami sebelumnya yang meninggal karena sakit paru.

Pada suatu sore, ketika tetanggaku pergi keluar kota dan tidak beli jamu, untuk pertama kalinya aku mengobrol dengan penjual jamu baru. Obrolan itu terjadi begitu saja. Kami duduk di bangku kayu di seberang rumah. Ia sudah membuat dua cangkir jamu untukku dan ibuku, dan aku sudah membayarnya. Kuhitung lima botol sudah kosong dari dari tujuh botol jamu di dalam keranjangnya. Meski masih ada dua botol yang belum terjual, aku dan ibuku jadi pelanggan terakhirnya hari itu.

“Ibuku pergi keluar,” kataku.

“Aku tahu,” sahutnya, menatapku seakan-akan ada yang mau ditanyakan. “Sudah lama minum jamu?”

Anda sudah tahu jawabannya.

Ia lalu menceritakan dirinya sendiri. Ia menyukai pekerjaannya sebagai penjual jamu meskipun pada awalnya ia melakukannya karena terpaksa. Sebelumnya ia menganggur selama dua bulan setelah kontrak kerjanya di pabrik tidak diperpanjang. Kakaknya menawarinya berjualan jamu, tapi ia menolaknya. Meskipun begitu, ia belajar meracik jamu, dan baru berjualan setelah kakaknya meninggal.

Penghasilannya sebagai penjual jamu memang tidak sebesar bekerja di pabrik, ia hanya senang bertemu orang-orang, mengobrol, dan bergosip. Gosip pertama yang diceritakannya padaku adalah seorang perempuan yang tinggal di blok A, yang kukenal sebagai istri Pak RW. Istri Pak RW baru saja dibelikan mobil oleh suaminya di ulang tahunnya yang keempat puluh. Wajar saja, sahutku, suaminya-kan pengusaha. Ia kemudian menambahkan bahwa, istri Pak RW senangnya bukan main karena dia merasa sudah mengalahkan istri keduanya Pak RW.

“Istri kedua? Itu berita baru,” seruku. Tidak ada orang di lingkungan kami yang tahu Pak RW punya istri dua.

“Tiga,” katanya pelan.

“Tiga?”

Ia mengangguk.

Sampai di sini aku berpikir, bahwa obrolan ini akan jadi cerita yang menarik. Bukan tentang yang digosipkannya, melainkan penjual jamunya. Jadi, sementara ia bercerita gosip-gosip berikutnya, pikiranku mencari-cari ide cerita yang menarik tentang penjual jamu.

Pertama-tama, seperti biasa, aku menentukan genrenya.

Belakangan aku suka menulis cerita horor, tapi kupikir cerita hantu penjual jamu bukan ide bagus. Lalu bagaimana dengan triler? Kenapa tidak menulis tema tentang penjual jamu pembunuh? Sepertinya keren. Kuputuskan menyimpan ide tersebut sebagai pilihan terakhir. Aku baru akan memikirkan hal-hal lain ketika penjual jamu mulai bercerita tentang tetanggaku—yang sering mengajaknya ngobrol lama.

Aku sebetulnya tidak begitu kenal tetanggaku kecuali dia seorang pengangguran yang tinggal bersama ibunya. Ibuku bilang orang tuanya sudah lama bercerai. Entah kenapa penjual jamu mau saja mengobrol dengannya, padahal dia sama sekali tidak menarik. Tentunya pertanyaanku juga jadi pertanyaan tetangga yang lain.

“Dia baik,” kata penjual jamu.

“Baik?”

Ia mengangguk.

Kemudian ia bercerita tentang tetanggaku tersebut, yang dibilangnya selalu membayar lebih jamunya, suka baca buku, mengoleksi miniatur MotoGP, alat berat dan komik superhero DC klasik. Hobi yang mahal. Aku bertanya bagaimana dia mendapatkan uang. Penjual jamu mengatakan tetanggaku itu bekerja sebagai desainer grafis dan bekerja dari rumah. Tetanggaku juga menawarkannya kerja sama. Mereka akan membuat kafe jamu. Dia punya ruko yang bisa dipakai buat kafe.

Mobil ibuku datang tidak lama kemudian. Dia memarkir mobilnya di depan rumah, lalu turun dan berjalan menghampiri kami.

“Tumben kamu keluar, Rud,” kata ibuku. Aku diam saja. Dia kemudian menoleh ke penjual jamu, dan berkata, “Aduh, maaf sudah bikin kamu nunggu lama.”

“Nggak apa-apa kok, Bude,” sahut penjual jamu.

“Rud, Mas Yanto mau nikah sama Nunik Sabtu depan. Ibu senang akhirnya Nunik dapat orang baik kayak Mas Yanto. Katanya mereka berdua mau buka kafe jamu.”

“Mudah-mudahan selesai bulan depan, Bude,” kata penjual jamu yang baru saja kuketahui bernama Mas Yanto.

“Jadi, kamu nanti nggak keliling lagi, To?”

“Nggak, Bude. Keponakan saya yang gantiin saya keliling.”

Aku tidak memperhatikan lagi obrolan mereka selanjutnya, karena ketika penjual jamu menyebutkan kata keponakan, aku jadi bertanya-tanya, apakah keponakannya laki-laki atau perempuan.

**

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.