Pagi di GOR Bekasi

Mungkin sebagian dari mereka memilih pensiun ... lagi.

Dulu. Ya … dulu. Kata dulu sering kali jadi kata pamungkas menunjuk kejayaan di masa lalu. Dulu Ayah … begitulah kebanyakan orang tua memulai cerita nasehat pada anaknya. Dan dengan terpaksa … saya juga memulai tulisan ini dengan kata itu.

Dulu … saya kuat lari sepuluh putaran stadion sepak bola. Bukan lari di pinggir lapangan, melainkan di luar stadion. Sehingga jaraknya lebih jauh, yang satu putarannya sekitar 800m. Itu di stadion Patriot di GOR Bekasi, sebelum dibangun ulang di tahun 2012.

Saya masih ingat bentuk aslinya. Dindingnya rendah, penuh coretan dan juntaian tali tambang untuk memanjat. Ada dua pintu masuk utama dan gerbang besar terbuat dari besi yang letaknya tepat di belakang gawang. Gerbang itu biasa dimasuki mobil ambulan dan mobil pemadam. Kapasitas tempat duduknya tidak terlalu banyak seperti sekarang. Mungkin tidak lebih dari sepuluh ribu. Bangku tribunnya tanpa nomor, terbuat dari tembok dan kayu dengan tiang-tiang penyangga atap tribun yang menghalangi pandangan. Sementara bangku kelas tiga dibuat full dari tembok kusam yang diselingi pohon-pohon angsana rimbun supaya adem. Papan skornya juga masih manual, dengan orang yang di dalamnya yang mengganti skor. Ketika pertama kali tiba di Bekasi, Stadion Patriot sudah ada. Bahkan sudah terlihat tua. Sepertinya dibangun sekitar tahun 1970-an.

Tapi saya lebih sering lari di putaran Tugu Pahlawan Karawang-Bekasi. Yang jarak satu putarannya 500m. Di sana saya biasa lari sampai sepuluh putaran juga. Pernah sampai lima belas. Di usia itu, secara fisik, saya memang sedang dalam masa jaya-jayanya; badan ramping, nafas panjang, perut six pack.

Jauh sebelum itu, tepatnya masa-masa awal SD, saya tidak bisa menyelesaikan lari dua putaran di stadion bola itu. Rasa-rasanya seperti menempuh jarak puluhan kilometer. Belum juga satu putaran dada sudah terasa sesak. Tapi ada satu orang yang membuat saya mengeluarkan potensi diri. Namanya Om Rustam. Dulunya tetangga sebelah. Ia sudah almarhum. Meninggal di Solo. Beliau pernah mengajak saya lari di putaran Tugu itu. Saya berhasil melewati satu putaran. Di putaran kedua Om Rustam menyemangati,

“Ayo! Satu Putaran lagi.”

Saya diam saja sambil terus berlari di sampingnya.

“Ayo! Satu putaran lagi!” ujarnya lagi setelah putaran kedua. Kepala saya sudah mulai panas. Om Rustam menyemangati lagi di putaran berikutnya hingga akhirnya kami berhenti. “Wah, hebat. Kamu bisa lari lima putaran.”

Apa? Lima putaran? Tentu saja saya tidak menyangka. Rasanya ingin membanggakan diri saja.

Sebenarnya untuk laki-laki bertinggi 168 cm, berat saya masih cukup ideal. Berat saya 75kg. Hanya perut yang terlihat seperti ibu-ibu hamil muda. Meski begitu saya tidak terlalu ingin memundurkan perut. Katanya, cewek-cewek suka laki-laki yang buncit. Dan sedikit beruban. Beruntung, saya punya keduanya.

Memulai lari lagi jadi langkah yang berani. Sangat berani. Apalagi saya terbiasa tidur sehabis sholat subuh. Tapi ini demi kesehatan. Sekali lagi. Ini demi kesehatan.

Lari juga siasat saya supaya tetap bisa makan enak. Ditambah push-upscout jump dan gerakan lain sampai benar-benar berkeringat. Latihan itu bisa jadi semacam alternatif buat saya yang sulit ikut anjuran makan sehat ala Dr. Zaidul Akbar.

Saya masih bisa lari 500m non-stop. Masih di putaran Tugu Karawang-Bekasi, ditambah jalan kaki beberapa putaran.

Plaza - Tugu Karawang-Bekasi
Plaza – Tugu Karawang-Bekasi

Saya menikmati lari di sana, tempatnya sejuk dan sepi. Kontras dengan jalan utama di luar, yang sangat sibuk. Untungnya pohon-pohon rimbun nan tinggi bisa meredam suara bisingnya.

Di seputaran jalan tugu memang banyak pohon-pohon rimbun yang tidak terlalu tinggi. Di musim hujan ini, bunga-bunga putih berjatuhan. Ada lagi pohon-pohon yang lumayan besar dengan sulur-sulur panjang menjuntai tumbuh di pinggiran plaza. Sangat teduh. Lalu ada pohon-pohon palem yang usianya sudah puluhan tahun. Plaza itu berada di tengah putaran jalan, tepat di belakang Tugu Karawang-Bekasi. Tidak jauh dari situ, ratusan pohon jati tumbuh membentuk hutan mini. Daun-daun yang jatuh ke tanah menjadi humus. Total ada ribuan pohon dari ratusan jenis di GOR Bekasi. Tempat itu disebut Hutan Kota Bekasi yang juga berfungsi sebagai Bumi Perkemahan Pramuka.

Beberapa tahun lalu masih banyak orang tua dan pensiunan jalan kaki di situ. Mereka jalan kaki berkelompok dua sampai lima orang. Yang biasanya datang setelah sholat subuh. Ada yang datang dengan sepeda, ada juga yang bertemu di jalan. Saya lebih kenal wajah mereka ketimbang nama. Tapi kini mereka hanya terlihat beberapa saja. Mungkin karena sekarang lagi musim hujan. Mungkin karena korona. Mungkin sebagian lebih memilih pensiun … lagi.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi
Articles: 41

Leave a Reply