Online

Aku mengenalnya lewat Tinder. Dari belasan perempuan yang match denganku, hanya dia yang langsung bertanya tentang buku. Itu karena aku memasang kesukaan membacaku di profil, termasuk kegemaranku membaca buku-bukunya Karl May.

“Kamu baca Winnetou?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Juga Kara Ben Nemsi.”

Bukannya bermaksud sombong, tapi entah kenapa kalimat ini keluar begitu saja,

“Aku juga nulis.”

“Sudah punya buku?”

“Baru satu novel.”

Setelah tiga hari kami bertukar pesan lewat Tinder, dia meminta nomor ponselku.

“Boleh lanjut di telepon?”

Aku memberikan nomorku padanya, dan tidak berapa lama dia menelponku.

“Jadi, kamu suka Jazz juga?”

“Baru balik dari festival di Jogja Sabtu kemarin.”

Kemudian dia menanyakan band favoritnya. Kujawab, Earth, Wind and Fire memukau seperti biasa, memainkan lagu-lagu lama dan beberapa lagu terbaru. Aku baru akan bercerita tentang penampilan Sergio Mendes ketika tiba-tiba sambungan telepon kami terputus.

Keesokannya dia menelponku lagi dan meminta maaf. Aku memakluminya. Selanjutnya, kami bertukar cerita tentang film.

Kami sama-sama menyukai The Usual Suspects. Tentu saja bagian terkeren ada di akhir film, saat Verbal Kint melenggang keluar dari kantor polisi lalu dengan santai menyalakan rokok. Kemudian dia bercerita tentang Baran, tentang cinta yang tidak harus memiliki dan tentang pengorbanan. Tapi dia terpaksa mengakhiri ceritanya karena …

“Suamiku pulang. Maafkan aku.”

Aku menghargai kejujurannya. Setidaknya kami masih bisa berteman.

Namun, ketika kupikir dia tidak akan menghubungiku lagi, lusanya dia menelponku. Suaranya terdengar sedih. Hatinya hancur. Selama berjam-jam dia bercerita tentang cinta yang dikhianati serta perasaannya yang rapuh. Kata selingkuh dan cerai diucapkan bergantian, hingga yang tersisa hanya isak dan tangis.

Untuk kauketahui, suaminya seorang pengusaha pabrik kimia dengan reputasi internasional. Dia sering menemani suaminya pergi ke pesta dan beberapa pertemuan penting. Di saat itulah dia seolah menjadi seorang wanita terhormat. Akan tetapi, sikap suaminya belakangan ini membuatnya cemas. Suaminya sedang dekat dengan salah seorang perempuan, rekan bisnisnya. Sangat dekat.

“Bisakah kita bertemu?” pintanya.

Aku terdiam sebentar memikirkan apa yang akan kukatakan saat bertemu dia nanti. Memberikannya nasehat? Atau, memintanya untuk bersabar? Atau, mungkin dia hanya butuh pendengar yang baik?

“Tentu,” jawabku.

*

Pagi itu taman belum terlalu ramai, hawanya sangat dingin. Aku langsung mengenali dirinya yang mengenakan jaket dan celana panjang coklat. Dia menyapaku dengan suaranya yang lembut, lalu kami berjalan sebentar dan duduk di bangku kayu di tepi danau. Dia tidak seperti kebanyakan perempuan lain di usianya, yang seakan mengecohku dengan potongan rambut dan rona merah di bibirnya yang tipis. Kau pastinya akan menyangka usia kami hanya terpaut satu atau dua tahun.

Kami sama-sama gugup ketika memulai pembicaraan; kami bertanya tentang kabar masing-masing, sedikit mengulang percakapan kami di Tinder tentang buku, Jazz dan film. Dia kemudian bertanya tentang studiku. Aku menjawab bahwa aku lulus setahun lagi. Setelah itu kami sama-sama tersenyum karena tidak tahu topik apa yang mau dibicarakan selanjutnya.

Lalu, akhirnya dia memutuskan mulai bercerita tentang suaminya. Dia bilang, suaminya adalah cinta pertamanya, dan dia juga cinta pertama suaminya. Awal rumah tangga mereka tidak semulus yang diharapkan. Masalah finansial yang jadi penyebabnya. Namun, masa-masa itu bisa dilalui bersama dengan sabar dan kerja keras. Singkatnya, bisnis suaminya semakin berkembang, dari usaha rumahan hingga bisa membangun dua pabrik di Cikarang. Ketika masalah finansial sudah teratasi, masalah lainnya datang: Perselingkuhan. Akan tetapi, apa yang pernah diceritakannya padaku ternyata tidak benar-benar terjadi. Suaminya tidak pernah selingkuh. Dia menyesal telah berprasangka buruk kepada suaminya.

“Ia memberikan ponselnya padaku,” katanya. “Aku memeriksanya dan semuanya bersih. Mungkin aku yang terlalu cemburu.”

Aku lega tidak ada lagi masalah antara dia dan suaminya. Kami memandangi danau yang berkilauan diterpa sinar matahari. Dia merapatkan tubuhnya padaku, menyandarkan kepalanya di bahuku, lalu menggenggam tanganku. Dia berterima kasih karena aku mau mendengarkan semua keluh kesahnya. Dia juga mengatakan bahwa, pertemuan ini sangat berarti baginya. Kemudian dia mengecup bibirku, dan kami saling berpelukan hingga masing-masing merasakan kenyamanan dan keintiman yang dalam. Dan dalam tatapan yang dipenuhi perasaan bahagia dia berkata, “Sayang, aku akan menelponmu nanti malam.”

* *

Komentar