O n l i n e

Dia seolah mengecohku dengan potongan rambut dan rona merah di bibirnya yang tipis.

Aku mengenalnya seminggu lalu, lewat Tinder. Dari belasan perempuan yang match denganku, hanya dia yang langsung bertanya tentang buku.

“Kamu baca Winnetou?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Juga Kara Ben Nemsi.”

Bukannya bermaksud sombong, tapi entah kenapa kalimat ini keluar begitu saja: “Aku juga nulis.”

“Sudah punya buku?”

“Baru satu novel.”

Ada delapan foto yang di-upolad-nya. Aku menyukai rambutnya dan penampilannya yang santai. Setelah tiga hari kami bertukar pesan lewat Tinder, dia meminta nomor ponselku.

“Boleh lanjut di telepon?”

Aku memberikan nomorku padanya, dan tidak berapa lama dia menelponku.

“Jadi, kamu suka Jazz juga?”

“Baru balik dari festival di Jogja Sabtu kemarin.”

Kemudian dia menanyakan band favoritnya. Kujawab, Earth, Wind and Fire memukau seperti biasanya, memainkan lagu-lagu lama dan beberapa lagu terbaru. Aku baru akan bercerita tentang penampilan Sergio Mendes ketika tiba-tiba sambungan telepon kami terputus.

Keesokannya dia menelponku lagi dan meminta maaf. Aku memakluminya. Selanjutnya, kami bertukar cerita tentang film.

Kami sama-sama menyukai The Usual Suspects. Tentu saja bagian terkeren di akhir film, saat Verbal Kint melenggang keluar dari kantor polisi lalu dengan santai menyalakan rokok. Dia juga bercerita tentang Baran, tentang cinta yang tidak harus memiliki dan juga tentang pengorbanan. Tapi dia terpaksa mengakhiri ceritanya karena …

“Suamiku pulang,” katanya. “Maafkan aku.”

Aku menghargai kejujurannya. Setidaknya kami masih bisa berteman.

Namun ketika kupikir dia tidak akan menghubungiku lagi, lusanya dia menelponku. Suaranya terdengar sedih. Hatinya hancur. Selama berjam-jam dia bercerita tentang cinta yang dikhianati serta perasaannya yang rapuh. Kata selingkuh dan cerai diucapkan bergantian, hingga yang tersisa hanya isak dan tangis.

Untuk kauketahui, suaminya seorang pengusaha pabrik kimia dengan reputasi internasional. Dia sering menemani suaminya pergi ke pesta dan beberapa pertemuan penting. Di saat itulah dia seolah menjadi seorang wanita terhormat. Namun pergaulan suaminya membuatnya cemas. Belakangan ini suaminya sedang dekat dengan salah seorang perempuan, rekan bisnisnya. Sangat dekat.

“Bisakah kita bertemu?” pintanya.

Aku terdiam sebentar memikirkan apa yang akan kukatakan saat bertemu dia nanti. Memberikannya nasehat? Atau, memintanya untuk bersabar? Kupikir, mungkin dia hanya butuh pendengar yang baik.

“Tentu,” jawabku.

*

Pagi itu taman belum terlalu ramai, sejuknya lebih dekat ke dingin meskipun matahari sudah cukup tinggi. Aku langsung mengenali dirinya yang mengenakan blouse putih dan celana panjang coklat.

Kami duduk di bangku kayu, di pinggir jalan kecil yang dilalui orang-orang untuk lari pagi atau sekedar jalan kaki. Dia tidak seperti kebanyakan perempuan lain di usianya. Dia seolah mengecohku dengan potongan rambut dan rona merah di bibirnya yang tipis. Kau pastinya akan menyangka usia kami hanya terpaut satu atau dua tahun.

“Kamu lebih menarik dari yang di foto,” ujarnya. “Seandainya kita bertemu lebih awal.” Lalu dia merapatkan tubuhnya dan memegang kedua tanganku. “Kamu adalah laki-laki yang selalu kuimpikan. Sekarang aku jadi lebih tenang setelah bertemu denganmu.” Kemudian kami saling berpelukan hingga kami merasakan kenyamanan dan keintiman yang dalam, dan setelah itu dia mengecup kening dan bibirku. Dalam pandangan yang dipenuhi perasaan bahagia, dia melanjutkan, “Sayang, aku akan menelponmu nanti malam.”

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar