Yuk, Kenalan Sama Mas Dipo Yuk!

Pak Taufik memuji Mas Dipo sebagai guru yang suka membagi ilmu

Pertama kali tau nama Mohammad Diponegoro itu awal 2000-an. Itu pun tidak sengaja. Ceritanya waktu itu saya memanfaatkan waktu bolos kerja dengan mampir ke Toko Buku Wali Songo di Kwitang. Ketemulah buku berwarna hijau tua itu. Judulnya Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Yang kebetulan saya lagi butuh buat belajar nulis cerpen. Tanpa pikir lama saya beli buku itu. Tulisannya unik, lucu, luwes, bikin penasaran. Gimana tidak, di awal bab saja pembaca sudah ditanya alasan Anda mau jadi penulis cerpen.

Jawaban dari pertanyaan itu penting, apa untuk mencari uang? pengen jadi penulis terkenal? atau, sekedar hobi? Karena itulah yang memotivasi Anda menulis, yang menentukan apakah Anda akan jadi seorang penulis pro atau amatir.

Buku itu juga membahas alasan kenapa penulis macet, bahkan untuk sekelas penulis pro sekalipun. Dan tentunya beserta solusinya. Lalu ada bahasan cara mendapatkan ide cerita, menghidupkan tokoh, menulis cerita humor, menulis cerita anak, membuat konflik, menulis cerita yang meyakinkan pembaca dan lain sebagainya. Yang di tiap babnya diberi judul unik. Misalnya, dalam bab membuat cerita fiksi menjadi seperti cerita sungguhan, beliau memberi judul: “Simsalabim, Ajaib juga, Bukan?” atau saat beliau menerangkan teknik menulis cerita humor. Di bab 10 itu diberi judul: “Ha, ha, ha … he, Apa yang Lucu?” yang kemudian mengambil contoh cerita humor dari tokoh ternama dari Bob Hope sampai orang Betawi tulen bernama H. Mahbub Junaidi.

Mohammad Diponegoro – Wikipedia

Mas Dipo, begitu panggilannya, sudah lama meninggal. Tepatnya tahun 1982. Uniknya, angka tahun kematiannya berbalik dengan angka tahun kelahirannya, 1928. Sayangnya, profil beliau tidak terlalu banyak diulas. Kita hanya bisa menemukannya di wikipedia atau terselip di halaman bukunya. Itu pun sangat singkat. Profil yang agak lengkap pernah ditulis sahabat beliau, Taufik Ismail, di dalam kata pengantar bukunya. Pak Taufik memuji Mas Dipo sebagai guru yang suka membagi ilmu. Urutan jalan pikirannya sistematik, catatan bacaannya, ringkasannya, ditulis tangan rapi. Ketikannya bersih, rapat-renggang alinea terjaga. Ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia dalam prosanya seperti lempung yang dengan leluasa ia bentuk jadi keramik.

Sebenarnya, mengenal karakter Mas Dipo bisa dengan membaca karya-karyanya. Di buku Yuk, Nulis Cerpen Yuk, dengan mudah disimpulkan bahwa Mas Dipo itu orang yang humoris. Dalam cerpen-cerpennya, Mas Dipo diketahui orang yang religius, pas dengan latar belakang beliau sebagai kader Muhammadiyah dan PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun untuk membaca karya-karyanya saat ini lumayan sulit, kecuali Anda mau mencarinya di marketplace. Bahkan di tahun 2000 saja saya tidak menemukannya di toko buku maupun di tumpukan buku-buku yang dijual di sepanjang Jalan Kwitang. Barulah sekitar pertengahan 2000-an beberapa karya beliau diterbitkan lagi ke dalam sebuah buku. Judulnya Abah Bilang Tuhan Tidak Ada, terbitan Neo Santri. Untuk diketahui, Cerpen Abah Bilang Tuhan Tidak Ada dulunya berjudul Odah.

Saya sangat menikmati karya-karya Mas Dipo yang kebetulan sejalan dengan harapan saya akan suatu cerita. Yaitu kejutan di akhir cerita. Sejak nonton film The Sixth Sense, saya memang antusias nonton film atau baca cerpen dengan kejutan di akhir (twist). Saya bersyukur bisa menikmati The Gift of The Magi atau Tell Tall Heart. Kali ini, ada orang Indonesia yang bisa dibilang setara dengan O. Henry. Apalagi temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, cerpen Kakek Dawud Yang Tak Terkalahkan  itu. Penamaan tokoh yang terkesan ‘udik’ membawa pembaca menjelajahi Indonesia di masa lampau, dengan latar belakang pedesaan atau hutan belantara. Terakhir dan yang terpenting, selalu ada pesan di tiap cerpen beliau. Pesan yang tidak mengajari atau menggurui. Pesan yang membuat pembaca termenung, terharu, atau tersenyum.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi
Articles: 40

Leave a Reply