Mat Soni

“Kau membunuhnya! Kau membunuh Mat Soni!”

Nama Mat Soni pernah menjadi semacam legenda di desa kami. Mungkin menyebutnya sebagai legenda sangat berlebihan mengingat Mat Soni seorang kriminal. Untuk seorang yang disegani, postur Mat Soni kurang mendukung: tubuhnya kerempeng dan jangkung. Musuh yang berhadapan dengannya akan mengira bisa menang mudah. Tapi Mat Soni punya tangan panjang, yang dengan mudah menjangkau sasaran lawan. Gerakannya juga gesit, sangat mematikan kalau sudah memegang pisau.

Kakek bilang, sebenarnya Mat Soni datang dari keluarga baik-baik. Ayahnya memberi nama belakang Soni supaya kelak sang anak bisa bekerja di pabrik Sony. Tapi Mat Soni kurang beruntung. Sebelum beranjak dewasa, Sony sudah menutup pabriknya. Jadi, kalau kau bertanya siapa yang membuat Mat Soni berubah, maka jawabannya adalah teman-temannya di Pasar Kecoak.

Pasar Kecoak berjarak 3 kilometer dari gerbang desa. Tempat itu bukan pasar resmi, hanya tempat bertransaksi spare-parts bekas. Biasanya barang curian. Tapi buat sebagian pedagang, jualan spare-parts itu cuma kedok. Aslinya mereka jualan narkoba.

Mat Soni biasa terlihat tergeletak teler di pos ronda. Tidak ada yang berani menyentuhnya, bahkan ayahnya sekalipun. Karena kelakuan buruknya nama Mat Soni sering disebut orang tua untuk menasehati anaknya.

“Belajar yang rajin. Jangan suka bolos sekolah, kalau nggak mau jadi kayak Mat Soni.”

Karir kriminal Mat Soni dimulai saat ia berusia lima belas. Ia sukses maling kambing sehari sebelum lebaran haji, uang hasil jualannya dibelikan minuman. Teman-temannya pernah menantang Mat Soni mencuri sepeda motor Pak Kepala Desa. Mat Soni melakukannya dengan mudah, sepeda motor Pak Kepala Desa dipreteli lalu dijual ke Pasar Kecoak. Reputasinya semakin menanjak setelah membunuh ketua preman Pasar Kecoak beserta empat anak buahnya. Kala itu usia Mat Soni tujuh belas tahun. Gara-gara peristiwa tersebut Pasar Kecoak digrebek polisi dan puluhan orang ditangkap. Hanya Mat Soni yang berhasil melarikan diri. Rumor menyebutkan Mat Soni tidak mempan ditembak. Tapi pelariannya tidak berlangsung lama. Pada bulan Juni 2006, polisi menangkap Mat Soni tanpa perlawanan. Mat Soni dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Waktu yang lebih dari cukup bagi warga desa untuk melupakan Mat Soni.

Tapi, belum setahun, nama Mat Soni kembali membuat geger seisi desa. Beritanya datang sangat cepat. Seperti hantu, Mat Soni menghilang dari penjara. Pencarian besar-besaran dilakukan, poster-poster buronan Mat Soni ditempel di tiap sudut desa. Warga desa mengunci rumah sebelum maghrib, keamanan desa diperketat, siskamling dilakukan dengan minimum 100 peronda tiap malam.

Setelah satu bulan kabar tentang keberadaan Mat Soni simpang siur. Dari hari ke hari obrolan tentang Mat Soni tidak pernah surut. Ada yang mengatakan, bahwa Mat Soni menjadi pengedar narkoba kelas kakap. Cerita tersebut terus berkembang menjadi tidak masuk akal saat Mat Soni dihubungkan dengan jaringan narkoba internasional.

“Tidak mungkin”, ujar Pak Kepala Desa. “Semua orang tahu Mat Soni tidak bisa bahasa Inggris.”

Kang Cecep, yang bekerja di Bandung, pernah bilang Mat Soni mati ditembak polisi setelah ketahuan sedang merampok rumah seorang pejabat. Ia menceritakannya seperti dalam film. Ada kejar-kejaran mobil, perkelahian yang seru dan adegan tembak-tembakan yang sengit. Ceritanya pun berakhir dengan kematian Mat Soni setelah kehilangan jimatnya.

“Mat Soni mati ditembak.”

“Kang, memang apa jimatnya?” tanya salah seorang warga.

“Kalung,” jawab Kang Cecep.

Dari sekian banyak orang yang membawa kabar Mat Soni, cerita kakekku lebih dipercaya.

Kakekku seorang pemasok sayur dan buah ke pasar induk di berbagai kota. Setiap Sabtu kakek pergi bersama anak buahnya untuk mengecek harga pasar, lalu menengok beberapa tokonya dan pulang dengan membawa oleh-oleh untukku. Suatu hari kakek memberitahu, bahwa Mat Soni masih berkeliaran di terminal Bekasi. Datanya didukung berita dari koran yang dibawanya. Berita tersebut biasanya berkaitan dengan kabar pembunuhan di pasar atau pertarungan antar geng yang berakhir dengan kematian. Tentunya hal itu malah membuat orang-orang bertambah takut.

Seisi desa mengenal kakek sebagai juragan kaya raya. Ia juga seorang yang jujur. Setahuku, ia hanya sekali berbohong. Yaitu saat menjelaskan alasan kedua orang tuaku menitipkanku padanya. Kakek bilang mereka sibuk dengan bisnis dan membesarkan kedua kakakku. Tapi aku tidak marah pada kakek. Faktanya, aku dititipkan karena keadaan fisikku yang tidak sempurna, jauh berbeda dengan dua kakakku yang tampan.

Untuk kauketahui, aku terlahir dengan mata kanan picek dan bibir sumbing. Operasi yang pernah kujalani masih meninggalkan bekas di bibir. Selain itu, aku juga punya cacat lain. Kaki kiriku lebih kecil dibandingkan yang kanan. Kau pastinya bisa membayangkan caraku berjalan. Hampir setahun aku hidup dalam ejekan teman-teman sekolah. Awalnya menyakitkan, namun lama-kelamaan terbiasa. Mat Soni tahu itu, terkadang ia melihatku dipermainkan anak-anak lain. Aku pernah berharap ia akan membantu. Tapi tidak pernah.

Ejekan-ejekan itu berakhir tatkala mereka tahu aku adalah cucu dari Abah Dahlan yang terkenal, dan sejak saat itu mereka menghormatiku. Meski begitu, aku berharap solusi lain. Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang berlindung di bawah nama besar kakek. Aku hanya ingin bertarung dengan mereka; satu lawan satu, atau kalau perlu satu lawan lima.

Cerita kakek tentang Mat Soni berakhir menjelang bulan puasa. Seiring dengan itu tidak ada lagi obrolan-obrolan tentang Mat Soni di desa. Nama Mat Soni berangsur-angsur menghilang.

Hingga di suatu siang di akhir Juni 2008 yang panas, keheningan desa kami terpecah oleh keramaian di jalanan. Orang-orang membawa pentungan, celurit, golok dan senjata lain. Nama Mat Soni disebut-sebut. Tampak dua orang polisi sedang berbicara dengan kepala desa. Aku mencuri dengar obrolan warga dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Orang-orang membicarakan topik yang sama: Mat Soni kembali!

Aku bergegas pulang untuk menemui kakek. Namun, begitu tiba di depan pintu gerbang aku baru ingat kakek sedang pergi ke kota. Sampai di sini aku jadi bimbang, apakah akan bergabung bersama orang-orang mencari Mat Soni atau berdiam diri di rumah. Teriakan Mang Jaja yang menyuruhku masuk ke rumah sepertinay tidak memberikanku pilihan. Tapi  Momen seperti ini mungkin hanya sekali datang seumur hidup. Aku penasaran apa yang akan terjadi pada Mat Soni jika ia tertangkap. Aku membuka pintu pagar, bermaksud hanya untuk menaruh tas dan setelah itu pergi untuk bergabung dengan orang-orang. Tapi sesuatu di lantai teras menarik perhatianku, membuat langkahku tertahan. Aku melihat jejak darah. Aku begitu yakin itu jejak darah sehingga tidak perlu menyentuh dan membauinya. Jejak itu juga menempel di dinding, memanjang hingga ke pintu yang terbuka. Tampaknya seseorang sudah memasuki rumah. Mungkin ia sedang terluka, atau mungkin ia telah membunuh seseorang. Mungkin orang itu Mat Soni.

Dugaanku benar.

Aku bisa mengenali Mat Soni meski ada banyak perubahan dalam dirinya. Wajahnya lebih berisi dengan codet di pipi kanan, tubuhnya gempal, tangannya berotot. Satu-satunya yang tidak berubah adalah tatapan matanya. Tatapan yang membuat siapa saja gemetar. Dan hari itu, untuk pertama kalinya Mat Soni berkata padaku.

“Cepi … nama kamu Cepi, kan?”

Aku mengangguk.

“Kemari …”

Aku tidak berpikir Mat Soni akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, jadi aku menghampirinya tanpa rasa takut sedikit pun.

“Bawa aku ke kamar mandi.”

Dengan susah payah aku membantunya berdiri dan memapahnya. Tubuhnya sangat berat, berkeringat dan bau. Sesampainya di kamar mandi ia langsung duduk menggelosor, darah keluar dari sela-sela jari tangan yang memegang perutnya. Itu pemandangan yang lumayan mengerikan, yang seharusnya bisa membuatku pusing dan mual. Tapi aku menyaksikannya dengan perasaan biasa saja.

Mat Soni mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya lalu melemparkannya ke arahku. Benda itu jatuh tepat di bawah kakiku.

“Untukmu,” ujarnya sambil menegakkan tubuhnya. Aku memandang pisau itu tanpa berniat untuk mengambil. “Sial! Si gendut itu menusuk perutku. Aku menusuk balik. Kutusuk jantungnya satu kali. Kutusuk perutnya tujuh … Tidak, tidak … sembilan kali. Aku menusuknya sembilan kali. Aku masih bisa merasakannya.” Mat Soni melakukan gerakan menusuk dengan tangan kanannya. “Aku membunuh ketiganya.” Ia tertawa terkekeh hingga bisa kulihat giginya dipenuhi darah. Kemudian ia batuk dua kali lalu mengambil air di ember dengan gayung dan menyiramnya ke atas perut. Air bercampur darah menggenang di pojokan sebelum menghilang ke dalam lubang pembuangan. “Jadi, si tua sialan itu kakekmu?”

Pertanyaan yang tidak perlu kujawab. Semua orang tahu aku cucunya Abah Dahlan. Pertanyaan itu hanya membawa ke pertanyaan lain yang tidak ingin kutanyakan padanya. “Kenapa?”

Mat Soni menjatuhkan gayung, tangannya terkulai. Ia melanjutkan dengan suara yang lemah, “Apa yang kautahu tentang kakekmu? Bahwa dia seorang yang pemurah?” Mat Soni meludah. Tapi yang keluar darah kental. Ia menyenderkan kepalanya, sebentar kemudian tubuhnya merosot lalu berhenti sebelum benar-benar terjatuh. Matanya mendelik menatapku. Aku mengambil pisau milik Mat Soni dan memandangnya dengan penuh kekaguman.

Menit berikutnya, keadaan seperti dalam gerakan lambat. Orang-orang berhamburan masuk ke dalam rumah. Entah bagaimana mereka tahu keberadaan Mat Soni.

“Kau membunuhnya! Kau membunuh Mat Soni!”

Sesosok bertangan besar menarik lenganku dan menyeretku ke luar rumah. Bersamaan dengan itu, aku melihat bayangan masa depanku melintas begitu saja di kepala. Bayangan yang sama dengan yang kualami sekarang, sesaat setelah aku membunuh seorang lelaki lima puluh tahun dengan pisau Mat Soni. Korban kelimaku tahun ini.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar