Mat Soni

Nama Mat Soni pernah menjadi semacam legenda di desa kami. Mungkin menyebutnya sebagai legenda sangat berlebihan mengingat Mat Soni seorang kriminal. Untuk seorang yang disegani, postur Mat Soni kurang mendukung; tubuhnya kerempeng, sehingga musuh yang berhadapan dengannya akan mengira bisa menang mudah. Tapi Mat Soni punya tangan panjang, yang dengan mudah menjangkau sasaran lawan. Gerakannya juga gesit, dan sangat mematikan kalau sudah memegang pisau.

Abah, demikian aku memanggil kakekku, bilang, sebenarnya Mat Soni datang dari keluarga baik-baik. Ayahnya memberi nama belakang Soni supaya kelak sang anak bisa bekerja di pabrik Sony. Tapi Mat Soni kurang beruntung. Sebelum beranjak dewasa, Sony sudah menutup pabriknya. Jadi, kalau kau bertanya siapa yang membuat Mat Soni berubah, maka jawabannya adalah teman-temannya di Pasar Kecoak.

Pasar Kecoak berjarak 2 kilometer dari gerbang desa. Tempat itu bukan pasar resmi, hanya tempat bertransaksi spare-parts bekas yang kebanyakan barang curian. Buat sebagian pedagang, jualan spare-parts itu cuma kedok. Aslinya mereka jualan narkoba dan minuman keras.

Mat Soni biasa terlihat tergeletak teler di pos ronda. Tidak ada yang berani menyentuhnya, bahkan ayahnya sekalipun. Karena kelakuan buruknya, nama Mat Soni sering disebut orang tua untuk menasehati anaknya.

“Belajar yang rajin. Jangan suka bolos sekolah kalau tidak mau jadi seperti Mat Soni.”

Karir kriminal Mat Soni dimulai saat ia berusia lima belas. Ia sukses maling kambing sehari sebelum lebaran haji, uang hasil jualannya dibelikan minuman. Teman-temannya pernah menantang Mat Soni mencuri sepeda motor Pak Kepala Desa. Mat Soni melakukannya dengan mudah. Sepeda motor Pak Kepala Desa dipreteli lalu dijual ke Pasar Kecoak. Reputasinya semakin menanjak setelah membunuh ketua preman Pasar Kecoak serta empat anak buahnya. Kala itu usia Mat Soni tujuh belas tahun. Gara-gara peristiwa itu Pasar Kecoak digrebek polisi. Puluhan orang ditangkap, tapi hanya Mat Soni yang berhasil melarikan diri. Rumor menyebutkan Mat Soni bisa punya ilmu menghilang. Yang lain bilang, Mat Soni tidak mempan ditembak.

Tapi pelariannya tidak berlangsung lama. Tiga bulan setelah itu, pada bulan Juni, polisi menangkap Mat Soni tanpa perlawanan. Mat Soni dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara, waktu yang lebih dari cukup bagi warga desa untuk melupakan Mat Soni.

Kehidupan kami yang tenang tanpa Mat Soni baru berjalan beberapa bulan ketika namanya kembali membuat geger seisi desa. Seperti hantu, Mat Soni menghilang dari penjara. Pencarian besar-besaran dilakukan, poster-poster buronan Mat Soni ditempel di tiap sudut desa. Warga desa mengunci rumah menjelang magrib, keamanan desa diperketat, ronda diberlakukan setiap malam, dengan minimum dua puluh lima peronda.

Setelah dua pekan tidak ada tanda-tanda dari Mat Soni, ketakutan warga mulai berangsur-angsur menghilang. Meskipun demikian, cerita-cerita tentang Mat Soni tidak pernah surut, malahan sering dibumbui sehingga informasi tentang keberadaannya menjadi simpang siur. Ada yang mengatakan, bahwa Mat Soni menjadi pengedar narkoba kelas kakap di Jakarta. Cerita tersebut terus berkembang menjadi tidak masuk akal saat Mat Soni dihubungkan dengan jaringan narkoba internasional.

“Ah, tidak mungkin”, ujar Pak Kepala Desa. “Semua orang tahu Mat Soni tidak bisa bahasa Inggris.”

Kang Cecep, yang bekerja di Bandung, pernah bilang Mat Soni mati ditembak polisi setelah ketahuan sedang merampok rumah seorang pejabat. Ia menceritakannya seperti adegan dalam film. Ada kejar-kejaran mobil, perkelahian seru, dan tembak-tembakan sengit. Ceritanya pun berakhir dengan kematian Mat Soni setelah kehilangan jimatnya.

“Kang, memang apa jimatnya?” tanya salah seorang warga.

“Kalung,” jawab Kang Cecep.

Dari sekian banyak orang yang membawa kabar Mat Soni, cerita Abah lebih dipercaya.

Abah seorang pemasok sayur dan buah ke pasar induk di berbagai kota. Setiap Sabtu ia pergi ke kota bersama anak buahnya untuk mengecek harga pasar, menengok beberapa tokonya dan pulang dengan membawa oleh-oleh untukku. Suatu hari ia memberitahu, bahwa Mat Soni masih berkeliaran di terminal Bekasi. Datanya didukung berita dari koran yang dibawanya. Biasanya berita tersebut berkaitan dengan kabar pembunuhan di pasar atau pertarungan antar geng yang berakhir dengan kematian. Tentunya hal itu malah membuat orang-orang bertambah takut.

Seisi desa mengenal Abah sebagai juragan kaya raya dan jujur. Setahuku, ia hanya sekali berbohong, yaitu saat menjelaskan alasan kedua orang tuaku menitipkanku padanya. Abah bilang mereka sibuk dengan bisnis dan membesarkan kedua kakakku. Tapi aku tidak marah padanya. Faktanya, aku dititipkan karena keadaan fisikku, jauh berbeda dengan dua kakakku yang sempurna.

Aku terlahir dengan mata kanan picek dan bibir sumbing. Operasi yang pernah kujalani masih meninggalkan bekas di bibir. Selain itu, aku juga punya cacat lain. Kaki kiriku lebih kecil dibandingkan yang kanan. Kau pastinya bisa membayangkan caraku berjalan. Walaupun karena keadaan itu aku jadi jago bermain sepak bola, aku selalu jadi bahan ejekan teman-teman di sekolah. Awalnya menyakitkan, tapi lama-kelamaan terbiasa. Mat Soni tahu itu, ia pernah melihatku dipermainkan anak-anak lain. Pada saat itu aku berharap ia akan membantu. Tapi ia tidak pernah melakukannya.

Ejekan-ejekan itu berakhir tatkala mereka tahu aku adalah cucu dari Abah Dahlan yang terkenal, dan sejak saat itu mereka menghormatiku. Meskipun begitu, aku berharap solusi lain. Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang berlindung di bawah nama besar kakekku. Aku berharap bisa bertarung dengan orang-orang yang mengejekku; satu lawan satu, atau kalau perlu satu lawan lima.

Kakek memutuskan berhenti bercerita tentang Mat Soni menjelang bulan puasa. Ia bilang sudah cukup cerita tentang Mat Soni. Ada kebun yang harus diurus, ada kambing yang harus diberi makan. Kampung kami pun berangsur-angsur menjadi tenang, orang-orang melakukan kegiatan tanpa kecemasan. Nama Mat Soni tidak pernah disebut lagi.

Hingga pada suatu siang di akhir Agustus yang panas, keheningan desa kami terpecah keramaian di jalan. Orang-orang membawa pentungan, celurit, golok, dan senjata lain. Tampak dua orang polisi sedang berbicara dengan kepala desa. Aku mencuri dengar obrolan warga dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Orang-orang membicarakan topik yang sama: Mat Soni kembali!

Aku bergegas pulang untuk menemui Abah. Namun, begitu tiba di depan pintu pagar aku baru ingat ia sedang pergi ke kota. Sampai di sini aku jadi bimbang, apakah akan bergabung bersama orang-orang mencari Mat Soni atau berdiam diri di rumah. Teriakan Mang Jaja yang menyuruhku masuk ke rumah sepertinya tidak memberikanku pilihan. Akan tetapi, Momen seperti ini mungkin hanya sekali datang seumur hidup. Aku penasaran apa yang akan terjadi pada Mat Soni jika ia tertangkap.

Aku membuka pintu pagar, menaruh tas di kursi teras, dan mengganti sepatuku dengan sandal. Aku baru akan pergi ke luar ketika kulihat sesuatu di lantai teras menarik perhatianku. Aku melihat jejak darah. Aku sangat yakin itu jejak darah sehingga aku tidak perlu menyentuh dan membauinya. Jejak itu juga menempel di dinding, memanjang hingga ke pintu yang terbuka. Ada juga jejak telapak tangan utuh. Sepertinya seseorang sudah memasuki rumah. Mungkin ia sedang terluka atau baru saja membunuh seseorang. Mungkin orang itu Mat Soni.

Aku mengendap-endap masuk ke rumah mengikuti jejak darah di lantai dan dinding, sampai akhirnya jejak itu berakhir di ruang tengah. Dugaanku benar. Jejak darah itu berasal dari Mat Soni.

Aku bisa mengenali Mat Soni meski ada banyak perubahan dalam dirinya. Wajahnya lebih berisi dengan codet di pipi kanan, tubuhnya kekar, tangannya berotot. Satu-satunya yang tidak berubah adalah tatapan matanya. Tatapan yang membuat siapa saja gemetar. Untuk pertama kalinya Mat Soni berkata padaku.

“Cepi … nama kamu Cepi, kan?”

Aku mengangguk.

“Kemari …”

Aku tidak berpikir Mat Soni akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, jadi aku menghampirinya tanpa rasa takut sedikit pun.

“Bawa aku ke kamar mandi.”

Dengan susah payah aku membantunya berdiri, kemudian memapah tubuhnya yang berat, berkeringat dan bau. Sesampainya di kamar mandi ia langsung duduk menggelosor, darah mengucur dari perutnya. Itu pemandangan yang lumayan mengerikan, yang seharusnya bisa membuatku pusing dan mual. Tapi aku menyaksikannya dengan perasaan biasa saja. Entah apa yang sudah dilakukan Mat Soni hingga terluka parah. Sayangnya, aku bukan orang yang suka memulai obrolan, kecuali hanya menebak-nebak dalam pikiran.

Mat Soni berusaha menegakkan badannya, tangannya mengambil sesuatu dari balik bajunya lalu melemparkannya ke arahku. Benda itu jatuh tepat di bawah kakiku; sebuah pisau besar.

“Sial! Si gendut itu menusuk perutku,” serunya. “Kutusuk balik. Kutusuk jantungnya satu kali. Kutusuk perutnya tujuh … Tidak, tidak … sembilan kali. Aku menusuknya sembilan kali.” Ia melakukan gerakan menusuk dengan tangan kanannya. “Aku masih bisa merasakannya. Aku membunuh ketiganya.” Ia tertawa terkekeh sampai terlihat giginya dipenuhi darah. Ia batuk dua kali, lalu mengambil air di ember dengan gayung dan menyiramnya ke atas perutnya. Air bercampur darah menggenang di pojokan sebelum menghilang ke dalam lubang pembuangan. “Jadi, si tua sialan itu kakekmu?”

Pertanyaan yang tidak perlu kujawab. Semua orang tahu aku cucunya Abah Dahlan. Pertanyaan itu hanya membawa ke pertanyaan lain yang tidak ingin kutanyakan padanya.

Mat Soni menjatuhkan gayung. “Apa yang kautahu tentang kakekmu? Bahwa ia seorang yang pemurah?” Ia meludah. Tapi yang keluar darah kental. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, terdengar suara dengkuran, lalu sunyi. Mat Soni mati. Bisa kupastikan itu.

Aku mengambil pisau milik Mat Soni dan memandangnya dengan penuh kekaguman. Benda ini begitu berat, tajam, dan mengilap. Aku menyukai gagangnya yang terbuat dari kayu berukir. Tapi, apa yang bisa kulakukan dengan benda ini?

Aku baru akan menyimpannya di kamarku ketika kudengar seseorang berteriak memanggil namaku. Kulihat ada lima atau enam orang yang berlari mendatangiku. Mereka berteriak,

“Mat Soni ada di sini!”

“Kau membunuhnya, Nak!”

“Kau membunuh Mat Soni!”

Lalu, salah seorang dari mereka menarik tubuhku dan menyeretku ke luar. Bersamaan dengan itu, aku melihat bayangan masa depanku melintas begitu saja. Bayangan yang sama seperti yang kualami sekarang, sesaat setelah aku membunuh seorang preman terminal dengan pisau milik Mat Soni. Korban kelimaku tahun ini.

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!