formal man with tablet giving presentation in office

Masalah CEO

Barangkali betul apa yang dikatakan Nina, sekretaris saya, bahwa saya harus menemui ahli jiwa. Katanya, menemui ahli jiwa bukan hal buruk, malahan sangat baik. Dia berani berkata demikian setelah membuktikannya; sepupunya yang dulu seorang yang menutup diri, sensitif dan tidak percaya diri, sekarang menjadi seorang public speaker ternama. Dia kemudian memberikan kartu nama ‘dr. Widagdo’, ahli jiwa kenalannya, kepada saya.

Saya tidak menganggap saran Nina sebagai penghinaan. Justru sebaliknya, setiap orang setidaknya harus bertemu ahli jiwa satu kali dalam setahun dan pemerintah harus memfasilitasinya, misalnya, dengan menyediakan ahli jiwa gratis di Puskesmas. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari dampak yang lebih besar, seperti stress, depresi atau bahkan bunuh diri. Kasus-kasus kriminal pasti akan jauh berkurang apabila orang-orang dengan sukarela berkonsultasi dengan ahli jiwa.

Dalam kasus saya, dengan menemui ahli jiwa, saya berharap saya akan lebih tenang mengurus perusahaan. Tentunya saya melakukannya tidak semata-mata untuk keuntungan sendiri, tapi juga ribuan karyawan di bawah kepemimpinan saya.

Saya baru bisa menemui dr. Widjojo tiga hari kemudian setelah membuat janji temu. Ruangannya tertata dengan rapih, berisi buku-buku, lukisan, perabotan nyaman. Terdengar alunan musik instrumental yang pernah saya dengar waktu kecil. Saya menanyakan judulnya setelah kami bersalaman. Jawabnya, Summer Has Flown. Paul Mauriat komposernya.

Beberapa menit kemudian musik berganti, tapi kali ini saya tahu judulnya: What a Feeling, versi instrumental.

Setiap kali mendengar musik itu, saya jadi ingat saat Ayah mengajak saya nonton ke bioskop RAMA; bioskop paling bagus di Bekasi. Mungkin satu-satunya yang ber-AC, dengan empat atau lima teater di sana, terletak di bagian belakang, melewati supermarket, lorong dengan hiasan bambu-bambu kecil yang bisa disentuh dengan melompat. Whatta Feeling diputar sebelum layar dibuka.

Musik demi musik berganti; ada yang saya tahu judulnya, ada yang tidak. Dari dr. Widjojo saya tahu Cavatina dan Sleepy Shore. Dan, malam itu, untuk pertama kalinya sejak enam bulan terakhir, saya benar-benar merasa santai.

Saya ternyata ketiduran, dan baru terbangun menjelang tengah malam. Dr. Widjojo masih duduk di kursi itu, sedang membaca buku.

“Anda boleh menginap,” kata dr. Widjojo.

“Terima kasih,” kata saya, menguap. “Masih ada yang harus saya kerjakan.”

“Datanglah lagi Rabu depan.”

Dr. Widjojo mengantar saya sampai ke pintu keluar. Saya berkata, “Mungkin Jumatnya.”

“Baik. Sampai ketemu hari Jumat.”

Jumat depannya saya datang lagi setelah menghadiri rapat seharian. Itu rapat pertama saya dengan para staf sejak menggantikan ayah saya sebagai CEO. Dr. Widjojo terlihat segar meski sudah hampir pukul 22.00. Samar-samar terdengar alunan saksofon Kenny G.

Dr. Widjojo memahami keadaan saya yang terlihat capek, dan seperti sebelumnya, ia membiarkan saya bersantai di sofa, menunggu saya mengatakan sesuatu, atau tidak mengatakan sesuatu, atau menunggu saya tertidur. Sementara itu pikiran saya masih melayang-layang ke rapat hari itu—yang saya pikir sedikit kaku. Untungnya Ayah tidak ada di sana dan saya tidak terlalu pusing memikirkan komentar Ayah nantinya.

“Saya belum siap jadi CEO,” kata saya. “Itu saja.”

“Apa yang Anda cemaskan?”

“Saya tidak akan bisa seperti dirinya. Saya akan membuat perusahannya bankrut.”

“Kecemasan Anda terlalu berlebihan. Anda takut keputusan yang Anda buat akan merugikan perusahaan, padahal belum tentu. Bisa jadi keputusan bisnis Anda malah lebih baik dari ayah Anda. Bahkan, jauh lebih baik. Anda terlalu bergantung pada ayah Anda.”

Saya bangkit, dan berkata,

“Semua bermula sewaktu saya kecil. Ayah mengomentari cara saya menulis angka 8, yang seharusnya tidak boleh terputus. Waktu saya bilang guru yang mengajari begitu, Ayah malah menyalahkan guru saya. Ayah juga mengomentari cara menulis saya yang tidak konsisten, yang bercampur dengan huruf sambung. Begitu pun dengan cara menggambar saya, yang disebutnya kaku dan tidak berseni. Ayah yang memaksa saya mengambil jurusan manajemen di universitas, padahal saya kepingin ambil jurusan Kimia. Komentar-komentarnya terus berlanjut sampai saya dewasa, termasuk mengkritik cara saya mengurus perusahaan yang menurutnya tidak berani mengambil risiko, ragu, dan sebagainya. Begitulah ayah saya, ia selalu mengomentari apa saja yang saya lakukan. Anehnya, Ayah jarang mengomentari kedua adik saya. Mereka bahkan bebas memilih karir mereka masing-masing.”

“Tapi Anda selalu belajar tiap kali ayah Anda berkomentar, bukan?”

“Tentu saja.”

“Hasilnya?”

“Saya mengerjakan seperti yang diinginkannya. Tapi mulai Senin kemarin saya tidak boleh lagi membicarakan urusan perusahaan dengannya. Ia tidak ingin diganggu, kecuali urusan kapan dan dengan siapa saya akan menikah. ”

Dr. Widjojo meletakkan buku catatannya, yang dari tadi tidak dicatatnya, di atas meja.

“Saya punya lumayan banyak pasien seperti Anda. CEO, pemusik, bintang film, pemain sepak bola, dokter, ilmuwan, yang terlalu bergantung kepada orang lain. Mereka berhasil mengatasi masalah mereka dengan cara masing-masing. Jadi, saya pikir terlalu dini mengatakan Anda tidak mampu jadi CEO.”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan?”

“Berapa usia Anda?”

“37.”

“Anda sudah kenal ayah Anda selama 37 tahun, yang sepertiganya dipakai Anda untuk mengurus bisnis dengan ayah Anda. Suatu hari, ayah Anda tidak ingin membicarakan masalah perusahaan. Ia ingin menikmati masa tuanya, melihat Anda menikah dan menimang cucunya. Sudah seharusnya Anda menghormati keputusannya. Ini hanya masalah kebiasaan Anda tidak lagi melihat ayah Anda sebagai pebisnis. Anda memang tidak akan bisa menjadi seperti ayah Anda, tapi Anda bisa menghadirkannya setiap kali Anda membutuhkannya. Saya rasa Anda paham maksud saya.”

Saya paham meski dr. Widjojo tidak memberitahu detailnya apa yang harus saya lakukan. Oleh karenanya, saya harus mencari metode saya sendiri. Saya mengucapkan terima kasih dan beranjak pulang.

Saya menemukan metode saya sendiri keesokan harinya dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi pabrik, ketika saya mempertimbangkan apakah akan memecat atau mempertahankan dua staf sales yang sudah lima bulan tidak mencapai target.

Sebulan lagi tahun berjalan akan berakhir, tahun kemarin, untuk pertama kalinya mereka tidak mencapai target tahunan. Ayah pastinya akan memecat mereka jika tahun ini tidak lagi masuk target, tapi saya tidak bisa seperti Ayah, apalagi mengingat keduanya merupakan senior yang pernah mendampingi saya di tahun-tahun pertama saya bekerja.

Saya cukup sering melihat Ayah memecat karyawannya, baik dengan alasan masuk akal atau yang tidak dipahami. Memang, masih sebulan lagi sampai saya tahu pencapaian mereka, akan tetapi dengan 62% dan 57% pencapaian saat ini, saya ragu mereka bisa mencapainya.

Untuk memudahkan saya mengambil keputusan, saya membuat dua kolom pertimbangan (kolom pecat dan kolom pertahankan), kemudian saya mengisi kedua kolom tersebut. Hasilnya? Ternyata, kolom pecat lebih banyak terisi. Yang artinya mereka harus keluar dari perusahaan tahun depan. Tapi, sekali lagi saya tegaskan, saya tidak tega.

Saya lalu melakukan saran dr. Widjojo, yakni dengan menghadirkan Ayah. Saya berpura-pura menelpon Ayah untuk mendiskusikan masalah ini.

Ayah kenal betul dua staf sales itu. Katanya, performanya sudah tidak bagus belakangan ini dan, seperti yang sudah saya duga, Ayah menyarankan saya untuk memecatnya jika tidak mencapai target tahunan. Kemudian, gantian saya yang mengusulkan kenapa masih harus mempertahankan mereka meski tidak mencapai target. Dan setelah berdiskusi selama sekitar lima belas menit, saya memutuskan akan memecat mereka, dengan pertimbangan usia mereka yang reatif muda, 40-an, dan masih bisa berkarir di perusahaan lain.

Saya akhirnya puas dengan keputusan tersebut, yang tidak akan membuat saya merasa bersalah.

Hari-hari berikutnya saya menerapkan metode ini untuk membuat keputusan finansial, infrastruktur IT, procurement, dan menu makan siang dengan klien.

Memang, tidak semua keputusan yang saya buat bisa menyenangkan semua pihak, termasuk saya sebagai pimpinan, akan tetapi, setidaknya seperti itulah yang Ayah akan lakukan. Kalaupun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya punya dasar kuat untuk beradu argumentasi. Untungnya semuanya berjalan lancar.

Satu-satunya masalah adalah Nina, yang pernah beberapa kali menemukan saya bicara sendiri. Tapi saya mencoba berpikir positif jika Nina melihat saya sedang berimprovisasi untuk sebuah presentasi. Meskipun demikian, saya perlu memberitahu yang sebenarnya, dan untuk itu saya akan mengajaknya makan siang. Saya akan menjelaskan, bahwa saya tidak sedang berhalusinasi atau mengidap schizofernia, melainkan sedang menerapkan metode yang disarankan dr. Widjojo. Dan sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah merekomendasikan dr. Widjojo kepada saya, saya akan menghadiahinya jam tangan.

Tentunya keputusan saya mengajak Nina makan siang dan memberikan jam tangan setelah melewati diskusi ‘pura-pura’ dengan Ayah. Ayah setuju, asalkan harganya di bawah 100 juta.

Saya baru mengakhiri diskusi ‘pura-pura’ saya ketika terdengar suara ketukan di pintu. Tidak berapa lama pintu terbuka. Nina masuk ke ruangan saya, mengucapkan selamat pagi, kemudian menyerahkan sejumlah berkas penjualan tahunan yang saya minta, draft laporan tahunan dan beberapa surat yang harus saya tanda tangani.

Nina salah satu staf terbaik saya. Dia pekerja keras, selalu datang pagi, dan, seingat saya, dia belum pernah mengajukan cuti selama tiga tahun masa kerjanya. Karena itu, tidak berlebihan rasanya saya memberikannya hadiah. Perihal makan siang itu dan pemberian jam tangan akan jadi kejutan di hari ulang tahunnya bulan depan.

Saya mengembalikan berkas-berkas yang sudah saya tanda tangani dan mengucapkan terima kasih. Dia tersenyum, lalu mengingatkan jadwal pertemuan saya dengan pemasok nanti siang.

Sebelum pergi dia bertanya pada saya, apakah saya sudah bertemu ahli jiwa kenalannya? Kalau belum, lanjutnya, dia bisa menelpon untuk membuat janji temu. Kemudian dia menambahkan, bahwa beliau akan sangat sibuk sebulan ke depan, sehingga harus jauh-jauh hari untuk membuat janji temu dengannya. Saya menyahut, “Tunggu sebentar,” lalu saya keluarkan dompet saya dari kantong celana, dan mengambil satu kartu nama yang pernah diberikannya; kartu nama ‘dr. Widagdo’.

* *

Ali
Ali

Tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don`t copy text!