Mas Dipo Yang Unik

Saya beruntung bisa kenal Mohammad Diponegoro, atau Mas Dipo. Bukan orangnya, melainkan karya-karyanya, karena beliau sudah lama meninggal.

Nama Mas Dipo mungkin terdengar asing. Beliau tidak seterkenal Buya Hamka, yang sama-sama Muhammadiyah itu, atau Chairil Anwar, apalagi Pramudya Ananta Toer. Saya saja baru tahu Mas Dipo hari itu. Gara-gara bolos kerja.

Waktu itu saya, yang sudah rapih dan siap berangkat kerja, bukannya naik KRL yang ke Tanah Abang, saya malah naik yang ke Pasar Senen. Alasan jujurnya: sudah sebulan saya masuk kerja terus. Jadinya, saya pikir, wajar kalau bolos sehari.

Di masa-masa itu Senen memang jadi tempat main saya. Tepatnya di Kwitang. Tempat saya biasa cari buku.

Hari itu saya mampir ke toko buku Wali Songo. Di sana banyak buku-buku agama, tapi yang saya beli buku Mas Dipo itu, yang judulnya: Yuk, Nulis Cerpen Yuk (YNCY). Buku itu ibarat berjodoh, karena saat itu saya memang baru mulai belajar menulis cerpen.

Mas-Dipo-Mohammad-Diponegoro
Mohammad Diponegoro (wikipedia)

YNCY ditulis dengan gembira, menarik, dan unik. Tengok saja judul bukunya, atau bab dan sub bab-nya. Misal:

Bab 1: Jadi Anda Juga Ingin Menulis Cerpen?

Bab 2: Amatir atau Pro, Terserah, Tapi …

Bab 10: Ha ha ha ha … He, Apa yang Lucu?

Perlu ditambahi lagi, YNCY juga ditulis dengan sistimatis, dan teknikal. Lumayan lengkap untuk buku setipis itu.

Sebagai gambaran, buku itu dibagi empat bagian: Motivasi di bagian pertama. Prolog di bagian kedua. Teknik Menulis di bagian ketiga. Dan, editing di bagian keempat.

Sayangnya, atau mungkin saking uniknya, keberadaan bukunya juga unik. Alias langka. Untuk saat ini, setahu saya, saya belum ketemu buku itu lagi di toko buku. Yang saya beli waktu itu yang warna hijau tua, mungkin yang cetakan awal. Buku itu sudah lama hilang. Kalau Anda menemukan buku berjudul Nulis Cerpen Yuk! dengan sampul warna putih-biru di toko online, berarti itu terbitan yang lebih baru. Saya juga beli yang itu.

Cerpen-cerpennya lebih unik lagi. Misalnya, Laki-Laki yang Dipanggil Buhlul. Buhlul itu artinya bodoh. Buhlul dijadikan panggilan untuk tokohnya yang bernama Saleh. Saleh memang bodoh dan polos, tapi ia orang yang jujur dan tekun. Ia ikuti apa saja nasehat dari orang lain, entah itu nasehatnya masuk akal atau tidak. Saleh, atau Buhlul, sempat dagang ronde. Dagangannya laris manis sebelum diusir karena mengganggu ketertiban. Saleh juga pernah jadi pengemis. Terakhir, ia malah jadi kepala desa. Waduh, gimana ceritanya?

Ada juga cerita Kakek Dawud Yang Tak Terkalahkan. Kisah tentang seorang kakek yang tidak pernah sakit dan berumur panjang. Anak-anaknya bahkan sudah meninggal lebih dulu. Keluarganya yang masih hidup hanya adik perempuannya. Yang rumahnya lumayan jauh, yang biasa dikunjunginya dengan berjalan kaki. Suatu hari sang adik meninggal. Kakek Dawud kesepian. Ia jadi putus asa, dan untuk pertama kalinya ia kepingin mati. Sampai akhirnya ia memutuskan bunuh diri dengan minum endrin (racun serangga).

Proses menulis cerpen Kakek Dawud diceritakan di bab 6 buku YNCY itu. Bab tentang ‘Mencari ilham’. Di Sub-bab: ‘Tokoh Yang Unik’. Menurut Mas Dipo, keunikan orang itu yang melahirkan cerpen. Sebab cerpen hanya bercerita tentang tokoh yang unik. Tokoh-tokoh lazim atau yang sering kita temui tidak perlu diceritakan. Misalnya, seorang profesor yang pelupa.

Ide cerita Kakek Dawud itu sendiri datang tatkala Mas Dipo bertakziah (melayat) jenazah orang yang sudah sangat tua. Teman-teman almarhum yang datang saling mengobrol tentang kenangan lama dan bernostalgia. Saking semangatnya mengobrol, orang-orang itu seakan-akan lupa kalau mereka sedang dalam suasana berduka. Ketika mendengar ada yang bercerita tentang dirinya sendiri yang tidak pernah sakit sampai umurnya yang tua, ketemulah ide itu.

Dua cerpen tadi ada dalam buku kumpulan cerpen Odah & Cerita Lainnya. Kalau Anda mencari buku cerita yang menasehati tanpa menggurui, buku Odah itu jadi bacaan yang pas. Seperti cerita Kakek Dawud tadi, yang hikmahnya kira-kira ‘sifat sombong akan membuat seseorang dijauhi orang lain’.

Selain keunikan karyanya, penulisnya juga unik. Unik karena langka. Cerpen yang sudah ditulisnya saja tidak kurang dari lima ratus; sebagiannya pernah dibacakan di radio ABC, yang siaran berbahasa Indonesia, di Australia. Tidak salah kalau Taufik Ismail, penyair terkenal itu, mengatakan bahwa Mas Dipo menulis untuk mata atau telinga.

Mas Dipo juga guru yang suka membagi ilmu. Tidak banyak sastrawan yang bersedia ‘buka kartu’ mengenai proses kreatifnya. Masih kata Taufik Ismail, beliau menjuluki Mas Dipo sebagai Insinyur Cerpen. Selain karena ketrampilannya menulisnya yang seperti insinyur, ternyata beliau memang pernah bercita-cita jadi insinyur. Hal unik lain tentang Mas Dipo adalah tahun wafatnya: 1982. Beliau lahir tahun 1928. 

*      *      *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don`t copy text!