Lotus

“Bagaimana perasaanmu saat mereka bertepuk tangan untukmu. Untuk keberanianmu menceritakan ketakutanmu? Katakan padaku.”

Sean dibesarkan dalam ketidakharmonisan kedua orang tuanya. Ayahnya, seorang pengacara perfeksionis, sering menerapkan cara-cara pengadilan terhadap istrinya dan anaknya, menjadikan mereka takut padanya. Darinya, Sean sering mendapat pukulan dari ikat pinggang untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Sementara, ibunya bukanlah seorang wanita andal dalam mengurus anak, karirnya tidak gemilang dan pemabuk berat. Dia tewas setelah mobilnya menabrak truk di pinggir jalan.

Tapi Sean memiliki Ny. Stanley, tetangganya, yang menjadi tempat pelariannya. Ny. Stanley wanita yang sangat baik. Dia sering mengajak Sean ngobrol, berkebun dan terkadang bermain monopoli. Sean senang ketika Ny. Stanley melahirkan seorang anak. Ny. Stanley mengijinkan Sean menggendong Susan atau bermain dengannya.

Sialnya, Joe Stanley memanfaatkan kehadiran Sean di rumahnya dengan menggaulinya – menyebut Sean sebagai kuda tunggangannya.

Untuk alasan supaya tetap bisa dekat dengan Susan, Sean tidak pernah melawan Joe atau tidak memberitahu siapapun. Tidak mengejutkan jika pada akhirnya Sean mengidap HIV. Sekarang, Sean tinggal di sebuah rumah sakit dengan perawatan khusus, tempat ia menemukan orang-orang yang mencintainya, berkumpul dalam sebuah kelompok pengobatan non medis bernama Lotus.

Lotus didirikan oleh tiga orang penderita AIDS, yang sebelumnya pernah menganggap hidup mereka tanpa harapan. Mereka adalah orang-orang setiap malam terjaga hanya untuk memastikan bahwa, mereka masih hidup keesokannya. Mereka memulainya dengan menerima keadaan mereka seperti menerima segala kebaikan yang diberikan Tuhan, bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, impian-impian mereka dan hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan untuk orang lain.

Kini ketiga pendiri kelompok ini telah tiada. Mereka mewariskan dua puluh empat anggota yang bersemangat untuk saling berbagi.

*

Sean melangkah menuju sebuah panggung kecil, satu per satu anak tangga dinaikinya, kakinya sedikit gemetar, jantungnya berdegup kencang begitu tiba di atas panggung. Ia berdiri dengan kaku, kemudian menoleh ke sebelah kanannya, ke arah wanita yang sedang memandanginya dengan kasih sayang.

“Kau bisa melakukannya, Sean,” bisik dr. Julia Cunning, menyemangatinya.

Sean ingat, Margareth pernah memberitahunya agar membiarkan semua perasaan mengalir hingga yang terucap berasal dari hati yang terdalam. Margareth berkata padanya, “Biar hatimu yang bicara.”

Kemudian ia melihat dr. Cunning sekali lagi, tetapi dr. Cunning sudah menghilang, tergantikan sosok gadis kecil berambut hitam panjang yang sedang menatapnya. Gadis kecil itu tersenyum padanya, dan ia pun membalas senyumnya.

“Aku belum pernah melihat seseorang bunuh diri,” Sean memulainya dengan sebuah kejutan kecil. “Ny. Stanley menembak kepalanya di kamar mandi, itulah kenapa polisi menanyaiku.” Ia tahu betapa berat mengungkapkan perasaannya, tetapi dia harus mengatakannya, begitulah dokter Cunning pernah menasehatinya.

“Aku selalu mengagumi polisi. Itu berarti aku harus memberikan kesan baik pada mereka. Jadi, aku harus berkata jujur, terlebih Ny. Stanley sangat baik padaku dan aku juga tidak ingin memberi kesan buruk tentangnya. Tapi polisi tahu aku yang memakaikan pakaian pada mayat Ny. Stanley. Menurutku, dengan membuat pernyataan Ny. Stanley menembak dirinya saat telanjang itu tidak baik. Sangat tidak baik.

“Kau mungkin bertanya mengapa Ny. Stanley melakukannya, padahal orang-orang mengenalnya sebagai seorang wanita baik? Kautahu, meskipun orang baik terlihat baik, namun terkadang orang baik pun menyembunyikan kesalahan.

“Hari itu tepat satu tahun aku tidak bertemu Susan saat aku mencuri dengar Tn. dan Ny. Stanley bertengkar. Tn. Stanley menyumpahi istrinya sebagai wanita brengsek, tidak bertanggung jawab dan penyebab Susan sakit. Aku kasihan pada Ny. Stanley yang lebih memilih diam dan menangis. Tetapi ketika kudengar Tn. Stanley mengatakan Susan sudah meninggal, aku bergegas pulang ke rumah, mengunci pintu kamar dan menangis.”

Sean memejamkan mata seakan merasakan kejadian itu sedang menimpanya saat itu, lalu menyeka hidungnya, mengangkat kepalanya hingga bisa terlihat dua matanya yang memerah dan berair.

“Sehari setelah pertengkaran itu Tn. Stanley pergi ke luar kota. Aku diam-diam menemui Ny. Stanley yang sedang menangis. Tapi waktu aku datang, dia mencoba menyembunyikan tangisannya. Dia berkata: ‘Susan akan kembali bulan depan. Dia senang tinggal bersama neneknya. Kuberitahu kau jika Susan sudah kembali nanti.’

“Aku tahu Ny. Stanley berbohong. Aku menatap wajahnya dengan kemarahan, mencoba membongkar kebohongannya lewat mataku.

“Dia berkata: ‘Sean, mengapa kau menatapku seperti itu?’

“Mendadak pikiranku kacau, kenanganku pada Susan berdatangan. Aku berteriak di wajahnya, ‘Kaubohong! Susan mati! Kau membunuhnya!  Kau membunuhnya!’

“Kemudian Ny. Stanley berusaha meredam kemarahanku dengan memelukku. Aku merasakan dadanya turun naik, air matanya jatuh di bahuku. Dia tahu aku merasakan kehilangan yang sama. Tapi Ny. Stanley tidak pernah mengatakan penyebab kematiannya, dan memintaku untuk tidak mengatakan ini pada suaminya. Kemudian aku berjanji kepadanya, menganggap Susan masih hidup tinggal bersama neneknya.

“Tapi aku berbohong. Aku menemui Tn. Stanley dan memaksanya untuk mengatakan penyebab kematian Susan.

“Tapi Tn. Stanley menuduhku membunuh Susan … kemudian ia tertawa.”

Sean terdiam sebentar, seakan kalimat selanjutnya terasa berat untuk diucapkan.

“Virus itu masuk tubuh Susan melalui apa saja atau siapa saja. Waktu itu aku belum tahu aku mengidap HIV, dan kurasa kalian lebih tahu bagaimana virus itu masuk. Belakangan baru kusadari, satu-satunya kemungkinan virus itu masuk ke dalam tubuhnya adalah lewat diriku.”

Seisi ruangan mengatakan ‘Oh’ bersamaan, tapi Sean berusaha tegar. Ia tahu orang-orang di hadapannya tidak akan menyalahkannya, melainkan lebih jauh dari itu, mereka akan bersama-sama membantunya.

“Jadi, kalian menyangkaku membunuh Susan? Tidak, bukan aku. Ini semua gara-gara laki-laki sialan itu. Aku tidak akan kena virus itu jika ia tidak melakukannya padaku. Uh, harusnya aku tahu itu. Ia juga yang melakukan itu pada Arnold, Steve dan Josh. Laki-laki keparat itu pula yang membunuh teman-temanku. Aku harus membalas! Ia harus mati! Stanley harus mati … Joe Stanley harus mati!

“Maafkan aku. Aku terlalu marah. Kalian pasti merasakan hal yang sama karena kita sama-sama dapat sesuatu yang tidak kita inginkan, bukan?

“Kurasa waktuku sudah habis. Kita di sini tidak untuk bersedih, bukan? Lagipula aku tidak sabar untuk mendengar cerita Margareth.”

Seisi ruangan masih merasakan emosinya, kebencian pada Joe Stanley, kasih sayang pada Susan dan kehampaan Ny. Stanley. Semua mata memandangnya, sebagian tersenyum, sebagian lain menangis. Sean sendiri menutup mulutnya dengan kedua tangannya seakan menyesali telah menceritakannya.

Ada kesunyian sejenak sebelum terpecah oleh suara tepuk tangan, yang berasal dari seseorang bertopi hitam yang berdiri belakang, yang kemudian disusul suara tepuk tangan lainnya. Sean mencoba untuk tidak meneteskan air mata, tetapi tidak bisa. Ia belum pernah mendapatkan tepuk tangan semeriah ini sebelumnya.

Suara tepuk tangan berangsur-angsur memelan, ruangan pun kembali sunyi. Hanya tepuk tangan dr. Cunning yang masih terdengar meski iramanya semakin melambat. Dr. Cunning melangkah menghampirinya, mengulurkan kedua tangannya dan mendapatkan Sean dalam pelukannya.

“Aku bangga padamu, Sean,” kata dr. Cunning. “Kau ingin menyampaikan sesuatu sebelum kembali?”

Sean menggeleng kepalanya, lalu melangkah turun menemui rekan-rekannya yang menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi. Margareth jadi orang terakhir yang dipeluknya, sangat lama.

Margareth, wanita berusia enam puluh lima tahun ini yang paling tua diantara mereka, juga yang paling lama bergabung di grup ini. Mereka menganggapnya sebagai ibu. Entah sudah berapa kali Margareth bercerita sejak pertama kali kedatangannya, tetapi mereka selalu menunggu kisahnya. Dari Margareth mereka belajar banyak hal termasuk menghadapi ketakutan dengan pikiran yang tenang. Kehadirannya bercerita di depan membuat suasana sesi jadi santai dan nyaman.

“Kurasa ini yang keseratus kali aku duduk di sini,” Margareth berkata. “Aku cocok dengan kursi ini. Ini kursi panas,” dia menepuk dua sisi kursi. “Rasanya selama aku duduk di sini, aku tidak akan mati karena HIV. Boleh-kan aku memilikinya, Dok?” Kemudian dia menundukkan kepalanya, cukup lama, seakan malam itu menjadi malam terakhirnya duduk di situ. Tidak ada yang menyangka, seorang wanita yang selalu membuat gurauan ini mendadak menjadi rentetan kesedihan cerita-cerita sebelumnya. “Menjadi penderita AIDS tentu bukan keinginan kita,” lanjutnya, “tapi medis telah menentukan usia kita. Kadang aku bertanya dimana Tuhan? Kapan Dia akan menurunkan seorang penyelamat?”

Sesi berakhir jam 10 malam, satu jam lebih cepat dari malam sebelumnya. Dari empat orang yang tampil di panggung, tidak ada satu pun yang membuat lelucon. Bahkan, tidak biasanya Margareth begitu terlihat sedih. Mungkin karena dipengaruhi cerita Sean sebelumnya. Tetapi itu tidak jadi masalah, masih ada hari besok dan besoknya lagi untuk membuat suasana sesi berbagi-cerita lebih ceria.

Sean kembali ke kamarnya dan mendapat suntikan terakhir untuk hari itu dari Suster Maria.

“Obat-obatan ini hanya memperlambat kematian,” kata Sean, “tidak ada obat yang benar-benar menyembuhkan. Menyedihkan.”

“Kau akan sembuh, Sean. Berharap adalah bagian dari usaha. Tuhan yang akan menyembuhkanmu,” kata Suster Maria yang menyayangi Sean karena mengingatkannya pada anak pertamanya. Dia meninggalkan Sean dengan sebuah ciuman di kening dan menyuruhnya berdoa agar seseorang menemukan obat yang manjur. Seandainya suatu saat Sean sembuh, maka dia akan memintanya untuk tinggal bersamanya.

Sekitar jam 1 hujan turun deras, tetapi Sean masih belum bisa memejamkan mata. Ia memikirkan menulis novel tentang dirinya dengan kata-kata dari Margareth tertulis di halaman pertama. Semua orang akan membeli novelnya dan ia akan membelikan teman-temannya laptop atau iPad dari uang hasil penjualan novelnya supaya mereka bisa menulis sendiri kisah hidup mereka.

Sean baru bisa tidur sekitar jam 2. Dalam mimpinya ia melihat Susan datang padanya, mengajaknya pergi ke padang rumput. Susan tumbuh dewasa dan cantik. Sean menggenggam kedua tangannya, memutar tubuhnya hingga melayang, lalu keduanya saling memandang, tertawa dan menari, dan ketika mereka kelelahan, mereka menjatuhkan diri di atas rumput kuning yang lembut. Tapi keindahan mimpinya tidak sepenuhnya usai, sesuatu di luar mimpi membangunkannya.

Sean memerhatikannya dengan seksama pada detak jam, degup jantungnya, nafasnya dan keheningan. Ia mencoba tidur lagi sambil berharap mimpi tadi berlanjut. Ia menarik nafas panjang sampai merasakan paru-parunya terisi penuh oksigen lalu mengembuskannya perlahan. Ia berpikir seperti inilah HIV membunuhnya: perlahan-lahan. Mungkin tidak akan terasa sakit, mungkin akan lebih menyenangkan, setidaknya itu yang membuat hatinya lebih tenang karena kematiannya tidak terlalu menyakitkan.

Dilihatnya pintu ruangan terbuka, sinar lampu lorong masuk ke kamar, sesosok bayangan berdiri di situ. Sean menduga mungkin pria itu dokter jaga. Pria itu kemudian melangkah masuk, menutup pintu, menguncinya lalu berjalan mendekati Sean.

Tapi kenapa dia tidak menyalakan lampu? Dan mengapa mengunci pintu?

Pria itu mengeluarkan jarum suntik dari kantong jasnya, wajahnya tidak terlihat jelas karena dokter itu memakai masker. Aneh.

Bukankah aku sudah dapat suntikan? Siapa dia? Aku tidak bisa mengenalinya.

Sean beranjak duduk dan menyalakan lampu meja hingga sama-samar melihat kelopak matanya yang cekung, kulit pucatnya dan rambutnya yang putih dan jarang.

“Siapa kau?”

Pria itu tidak menjawab. Ia terus mendekati Sean hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Sean. Ia menatapnya dengan matanya yang merah, menunjukkannya suntikan dan cairan yang keluar dari ujung jarum.

Sean bergerak mundur, mencoba menahan tangan pria itu, tapi ia hanya menangkap tempat kosong. Pria itu meraih pergelangan tangan kiri Sean dengan cepat. Sean meraba sesuatu di atas meja di sampingnya, menjatuhkan gelas dan menumpahkan airnya di ranjang. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya hanya sebatas erangan. Pria itu membekap mulutnya, mendekatkan wajahnya dan membuka maskernya. Sean melihat jelas wajahnya yang buruk, yang membangkitkan amarahnya, membuatnya ingin mengorek biji matanya dan melemparnya ke tembok.

Joe Stanley tertawa kecil hingga kelihatan beberapa gigi depannya yang gompal dan mulut berbau alkohol.

“Aku tidak akan membunuhmu sebelum kita melakukannya lagi,” Stanley berkata seperti tikus bernyanyi. “Kita akan melakukannya lagi.”

Sean membuang wajahnya ke samping kanan untuk menghindari tiupan nafasnya. Kenangan pahit masa kecilnya muncul kembali saat Stanley memaksa dan mengancam akan membunuhnya. Sean seperti bayi yang tidak berdaya. Ia memejamkan mata, mencoba menghapus trauma itu dan meyakinkan dirinya jika di hadapannya bukanlah Joe Stanley muda, melainkan hanya pria sekarat yang sebentar lagi menemui ajalnya.

“Aku tahu kau tidak akan mengatakannya, Nak. Tidak pada polisi, tidak pada siapa pun.”

Sean menyesal tidak menceritakan yang sebenarnya kepada polisi bagaimana Ny. Stanley mati. Tentang Joe Stanley yang menembak istrinya sendiri.

“Kau memang pembicara hebat,” Stanley mengeluarkan topi hitam dari balik jas-nya lalu memakainya. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya dan menari seperti badut bodoh yang sedang memaksa ingatan Sean pada pria yang duduk di kursi paling belakang, bertepuk tangan menyorakinya agar lekas mati. “Aku melihatmu setiap hari. Aku mengawasimu.” Ia melepas topinya dan melemparnya ke ranjang. “Siap jadi kuda tungganganku lagi?”

Sean mundur hingga membentur tembok. Stanley mencengkram dan mengguncang lengannya, nafasnya berat dan mengeluarkan bunyi seperti tikus, lalu terbatuk beberapa kali. Sean bisa melihat penderitaannya, pria keparat itu memang terlihat sekarat.

Stanley mendekatkan wajahnya, tangan kirinya mencengkram tangan kanan Sean, sementara jarum suntik di tangan kanannya sangat dekat dengan lehernya. Sean berusaha menahannya sekuat tenaga. Bukankah semua manusia akan mati? kata Sean dalam hati. Dan kalaupun dia mati sekarang, maka ia akan segera bertemu Susan. Kemudian ia membayangkan wajah dr. Cunning. Seandainya dirinya hidup dalam keadaan yang lebih baik bolehkah ia mencintainya? Apakah dunia selamanya buruk baginya, setelah ia mendapatkan kenyamanan di tempat ini lalu tiba-tiba Joe Stanley muncul dan menghancurkan mimpinya? Makhluk ini seharusnya ditempatkan di neraka yang paling dalam. Jika Tuhan mengijinkan, biarlah tangannya yang akan melemparkannya.

Tangan Sean terus bergerak memutar berusaha lepas dari cengkraman Stanley. Hingga pada suatu kesempatan, ia merasakan Stanley mengendurkan pegangan dan berhasil membebaskan tangannya. Ia kemudian menarik kabel lampu, melingkarkannya di leher Stanley, melilitnya beberapa kali dan menariknya dengan kedua tangannya sampai kedua mata Stanley seperti akan melompat keluar. Stanley mencoba menusuk-nusuk suntikan ke lengan Sean, tapi Sean berhasil menghindarinya. Sean memukul lengan Stanley dan suntikan itu pun terlepas dari tangan Stanley. Stanley memang masih cukup kuat meremas pergelangan tangan Sean, tapi tindakannya itu malah membuat kabel semakin kuat mengikatnya, membuatnya semakin sulit bernafas.

Tidak butuh waktu lama bagi Sean untuk membuat Stanley terdiam. Kekuatan Stanley berangsur-angsur mengendur, beberapa saat kemudian Stanley jatuh di atas dadanya. Namun, Sean masih terus menarik kabelnya seperti ingin memisahkan lehernya dari badannya, memastikan keparat ini benar-benar mati. Sampai akhirnya ia merasa lemas dan melepas pegangannya. Kemudian ia mendorong tubuh Stanley jatuh dari ranjang, sebagian rambutnya menempel di jari-jarinya.

*

Margareth meninggal dalam tidurnya seminggu setelah peristiwa itu. Sean masih bisa mendengar suara Margareth dalam kepalanya, mengatakan bahwa dia senang Joe Stanley mati. Dia juga akan selalu menunggu Sean menerbitkan bukunya dan membacakan untuknya. Tapi kesempatan itu tidak akan pernah datang.

Semua orang di rumah sakit berduka cita untuk Margareth. Semua tahu Margareth sangat menyayangi Sean dan karena itu mereka memberi kesempatan padanya untuk menjadi yang tampil pertama. Antara Sean dan Margareth, antara yang paling muda dan yang paling tua. Kali ini tidak ada lagi keraguan bagi Sean untuk mengungkapkan perasaannya, apalagi untuk seseorang yang sudah dianggap sebagai Ibu.

Di akhir sesi berbagi-ceritanya, Sean merasakan tangan Dr. Cunning yang lembut menyentuh bahunya, sedangkan matanya mengatakan agar dirinya tetap kuat. Ia kemudian memejamkan matanya, kembali membayangkan dokter Cunning adalah sosok Susan, tetapi tidak bisa. Sekarang ia sudah bisa menerima kematian Susan.

“Sean, kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya dr. Cunning

Sean mengangguk, menatap teman-temannya satu per satu dan setelah itu berkata, “Margareth pernah bilang, bahwa dia tidak akan mati selama duduk di kursi ini. Kurasa, aku sependapat dengannya.”

* *

Komentar