Kutinggal Hatiku di Jatinegara

Aku menyukai tempat ini, memandang jalur-jalur kereta seolah itu merupakan mainan masa kecilku, mengagumi lengkungan-lengkungan baja atap stasiun, dinding putih dengan jendela-jendela kuno, pintu-pintunya yang besar dan tiang-tiang lampu klasik.

Perempuan itu berdiri tepat di sampingku; tanpa make-up. Tanpa wangi parfum. Tanpa wig berwarna. Dia memandangku seakan tahu aku yang pria sama yang memperhatikannya kemarin, membuatku terjebak dalam situasi yang aneh.

“Ke Bekasi juga?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Pulang ke Bekasi?”

“Mau jenguk teman,” jawabnya, membuka jalan untuk percakapan lebih lanjut. Kau bisa menebak apa pertanyaanku selanjutnya.

“Sakit apa?”

“DBD. Sudah seminggu di rumah sakit.”

Kereta datang jam 8.45, lima belas menit terlambat seperti biasa. Gerbong cukup lengang, sedikit orang yang pergi ke Bekasi pada pagi hari di jam kerja. Kami duduk di bangku dekat sambungan gerbong.

“Aku Rita. Asli Jogja,” dia memperkenalkan diri, lalu bercerita sedikit tentang Jogja, makanan kesukaannya dan betapa dia merindukan ibunya. Tidak ingin membiarkanku hanya menjadi pendengar, dia menanyakan pekerjaanku.

“Aku satpam,” jawabku, berhasil menahan diri untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sama.

“Oh.”

Kami tiba di Stasiun Bekasi jam 9.20. Aku membantunya melompat turun dari kereta, tapi dia terus memegang tanganku hingga ke luar stasiun.

*

Ketika bertemu lagi keesokannya, dia langsung membawaku ke warung soto langganannya untuk makan pagi.

“Dua mangkuk, Pak De,” katanya pada tukang soto.

“Siap!” sahut Pak De.

Rita melihatku dengan nakal dan berkata, “Kamu pasti sering olahraga ya?”

“Ya begitulah,” jawabku. “Paling joggingsit-uppush-up.”

Dia bergeser merapat sehingga aku bisa merasakan nafasnya di telingaku, jemarinya menelusuri lenganku, berputar ke atas dan berhenti di atas otot bisep, lalu mencubitnya pelan, meninggalkan bekas merah muda.

“Maafkan aku,” katanya, merasa bersalah. “Kamu mungkin menganggapku nakal. Kumohon jangan berpikir seperti itu. Aku tidak akan melakukan pekerjaan ini jika tidak terpaksa.”

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya lalu menggenggamnya erat. Tidak ada obrolan lagi setelah itu.

Terkadang hidup ini terasa aneh dan tidak terduga, apalagi bicara tentang cinta yang penuh kejutan. Meski tidak pernah menyatakan, kedekatan ini membawa kami pada tingkatan yang lebih jauh. Hari-hari berikutnya kami menghabiskan pagi dengan hal-hal baru seperti makan di tempat berbeda atau berjalan menyusuri rel sampai stasiun Manggarai. Dia memanjakanku dengan berbagai macam traktiran makan, membelikanku pakaian, sepatu, jam tangan, dan mengejutkanku dengan hadiah smartphone di hari ulang tahunku yang kedua puluh empat. Dan untuk segala kebaikannya, aku hanya bisa membalasnya dengan memberikan bahuku untuk bersandar.

*

Kami menghabiskan malam tahun baru 2015 dengan menikmati musik dan kembang api. Ketika orang-orang menghitung mundur untuk menyambut tahun baru, aku menghitung mundur untuk melamarnya.

“Sayang,” aku memanggilnya, suaraku hampir tenggelam dalam hentakan musik.

“Apa?” tanyanya setengah berteriak.

“Aku mencintaimu!” teriakku.

“Aku juga,” sahutnya dengan suara pelan.

“Aku ingin menikah denganmu.”

“Apa?”

“Aku ingin melamarmu!”

“Apa?”

“Aku ingin kau menikah denganku.”

“Aku tidak bisa,” jawabnya, mengejutkanku. “Aku bukan orang yang tepat buatmu.”

“Apakah ini karena pekerjaanmu? Tidakkah kita bisa menyikapi permasalahan ini dengan bijaksana?”

“Aku akan pulang ke Jogja untuk merawat ibuku.”

“Aku bisa ambil cuti. Atau, kalau perlu mencari pekerjaan di sana.”

Rita menghela nafas, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berkata,

“Sayang, ini demi kebaikan kita. Simpan cincin ini baik-baik dan berikan kepada perempuan yang benar-benar kaucintai, seorang perempuan sejati.”

Aku terdiam cukup lama, tapi tidak cukup tahu saat dia pergi meninggalkanku.

Keesokan harinya aku tidak melihatnya lagi di stasiun Jatinegara. Pun tidak ada kabar darinya. Nomor ponselnya tidak lagi aktif. Aku menunggunya terus, tapi tidak pernah ada kabar lagi. Hingga pada suatu hari di pertengahan Maret 2016 …

Pagi itu Stasiun Jatinegara sangat padat, aku membaur bersama ratusan orang membawa tas-tas besar, yang menunggu kereta ke luar kota, yang duduk-duduk mengobrol dalam bahasa Jawa. Satu kereta terparkir di jalur tiga, gerbongnya berwarna putih, mesinnya meraung-raung mengeluarkan asap putih. Terdengar bunyi pengumuman dari pengeras suara, pemberitahuan kedatangan kereta ke Surabaya di jalur satu. Aku selalu menyukai tempat ini, memandangi jalur-jalur kereta seolah itu merupakan mainan masa kecilku, mengagumi lengkungan-lengkungan baja atap stasiun, dinding putih dengan jendela-jendela kuno, pintu-pintunya yang besar dan tiang-tiang lampu klasik. Sering kali aku bermimpi bisa bergabung bersama orang-orang itu, yang duduk menantikan kedatangan kereta. Ketika memikirkan itu, tiba-tiba pandanganku menangkap sinar mata seseorang di peron seberang. Matanya yang sendu mengingatkanku pada seseorang di suatu waktu di tempat ini.

**

Komentar