Kisah Samantha Loner

Samantha lahir menjelang tengah malam, dibantu seorang wanita berumur lima puluh tujuh tahun. Wanita ini yang memandikan bayi Samantha, membungkusnya dengan kain bersih dan memberinya nama, sementara Linda menyumpah-nyumpah kesetanan karena masih merasakan sakit luar biasa. Samantha, begitulah dia memberikan nama anak itu seperti nama neneknya, sedangkan Loner diambil dari nama jalan; Loner Street. Tetapi Linda tidak peduli dengan nama Samantha atau apa pun, dengan cara inilah dia memanggilnya:

“Bayi sialan! Berhentilah menangis!”

Wanita tua baik hati itu bernama Ny. Lourie. Dia yang mengajari Samantha berdoa, membaca, menghitung, menulis dan memberinya Darcy Darcy di ulang tahun Samantha yang kelima – Samantha Loner bisa membaca sejak usia empat tahun. Ny. Lourie sadar, bahwa buku yang diberikannya bukan untuk anak kecil, tetapi hanya itu satu-satunya buku yang dia punya. Tentunya dia punya alasan memberikannya kepada Samantha. Buku itu kaya akan kata-kata, Samantha bisa belajar banyak darinya. Tidak ada yang perlu dicemaskan, Samantha kecil pastinya belum paham kata menyayat, menggorok atau menusuk.

Ny. Lourie meninggal di kamarnya ketika Samantha berusia tujuh tahun. Jack menyuruh anak buahnya membungkus mayat wanita tua itu dengan plastik, melemparnya melalui jendela lantai tiga lalu membuangnya entah ke mana. Samantha pernah bertanya pada ibunya kemana Ny. Lourie pergi? Linda mengatakan Jack telah mengusir Ny. Lourie.

Samantha berusia sembilan tahun saat mengintip ibunya berguling telanjang bulat dengan Jack, dan baru memahami apa yang mereka lakukan setelah Jack melempar beberapa lembar uang kepada ibunya. Ia mengira bahwa, dengan cara itulah ibunya mendapatkan uang. Mungkin Jack adalah bos ibunya sehingga dia harus hormat padanya. Akan tetapi, rasa hormat itu berubah jadi benci ketika di suatu sore Jack melemparnya ke sofa lalu menciumi lehernya. Samantha tahu Jack akan melakukan seperti yang dilakukannya pada ibunya. Mungkin dia akan mendapatkan uang, tapi dia terlalu kecil untuk dihujani dorongan-dorongan keras Jack.

Jack tidak menyangka Samantha melawannya, menggigit lengannya seperti anjing yang sulit dilepaskan. Ia menarik tangannya, meninggalkan sedikit sobekan, darah dan lubang kecil bekas gigitan. Ditamparnya anak itu dengan keras, sangat keras hingga bibirnya berdarah. Namun Samantha sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, malah menatapnya dengan tajam, menampakkan gigi-giginya yang diselimuti darah – yang dianggap Jack sebagai hinaan.

Jack mendorongnya ke dinding, mencengkram lehernya, sedikit mengangkatnya. Samantha meronta-ronta, mencakari tangannya, menancapkan kuku-kukunya. Jack berteriak, “Anak sialan!” Ia kemudian melepaskannya setelah merasakan ngilu di burungnya – yang barusan ditendang Samantha. Ia melangkah mundur, terkekeh-kekeh, menunjuk-nunjuk Samantha, memegangi burungnya.

Samantha terus menatap Jack, menggeram, dan tiba-tiba melompat menerjangnya. Sial baginya, kaki Jack yang lebih dulu mendarat di perutnya. Samantha terlempar ke belakang, kepala menghantam dinding, terdengar bunyi “duk” keras, dia jatuh terduduk, ambruk, dan sunyi.

Linda yang baru datang dari membeli minuman mengomel, “Dasar anak bodoh.”

Samantha terbangun menjelang tengah malam, kepalanya pusing, darah di rambut bagian belakang kepalanya sudah mengering, begitu juga darah Jack yang menempel di sudut bibir dan sedikit di dagunya. Keesokannya, Jack datang lagi ke apartemennya seperti biasa, bertemu ibunya dan bercinta di depan matanya.

*

Samantha tidak menangis. Dia tidak pernah menangis untuk orang lain, bahkan setelah Jack menghajarnya. Dia hanya menangis untuk ibunya yang tiba-tiba jatuh sakit. Sudah tiga hari wanita itu terbaring di ranjang, menggigil, batuk-batuk, muntah, mengomel-ngomel. Samantha tahu, antara kata dokter, obat, kesembuhan dan uang saling berkaitan. Mereka pun sudah kehabisan makanan, sementara satu-satunya cara mendapatkan semuanya adalah keluar dari gedung apartemennya. O, kalau saja dia bisa memilih antara kesehatan ibunya atau keinginannya melihat dunia luar maka dia akan memilih ibunya menjadi sehat. Tapi dia tidak punya pilihan.

Dua lantai yang akan dilaluinya seharusnya tidak terlalu jauh, tapi untuk anak yang tubuhnya sedikit lebih tinggi dari pagar tangga dan pernah jatuh di tangga setelah didorong ibunya beberapa waktu lalu, dia melihat dasar lantai itu seperti jurang yang dalam.

Dia menapaki turun satu per satu anak tangga dengan sangat hati-hati, dan setelah sepuluh menit yang penuh perjuangan, dia akhirnya mencapai lantai dua. Kini rasa takutnya sedikit berkurang, setiap anak tangga yang berhasil ditapaki selanjutnya, semakin timbul keberaniannya. Sialnya, kaki kanannya terkilir saat menapaki ujung anak tangga, dia hilang keseimbangan lalu jatuh terguling dan membentur pintu. Rasa nyeri menusuk pergelangan kakinya, untuk beberapa saat dia hanya terdiam. Dia kemudian bangkit dengan berpegangan pada gagang pintu, lalu menarik pintu yang berat itu, dan melangkah ke luar.

*

Hari itu, untuk pertama kalinya dia berada di dunia luar. Hawanya dingin, sinar matahari terhalang awan-awan kelabu. Dia menengok ke atas, ke jendela kamarnya di lantai 3 gedung apartemen berdinding batu bata itu. Apakah ibunya akan mencarinya nanti? tanyanya dalam hati. Tiba-tiba sebuah troli menabrak lengannya dari belakang. “Hei, jangan berdiri di tengah jalan, bodoh!” teriak seorang wanita gelandangan.

Samantha pernah melihat wanita itu dari jendela apartemennya, bunyi derit rodanya sering terdengar di malam yang sunyi. Wanita itu sosok seram yang pernah diceritakan Ny. Lourie, yang disebutnya membawa mayat anak-anak di dalam trolinya. Ny. Lourie memang bermaksud menakut-nakuti Samantha yang masih belum tidur, tetapi Samantha tidak takut. Dilihatnya wanita gelandangan itu berbelok ke kiri entah kemana.

Dia berjalan mengikuti arah menghilangnya wanita troli itu, nyeri di pergelangan kakinya berangsur-angsur menghilang.

Tercium bau busuk dari tempat sampah, seekor anjing hitam mengais-ngais sampah yang berceceran di bawahnya. Air genangan merembes masuk ke dalam sepatunya, terasa dingin dan gatal. Gedung-gedung yang dilaluinya tidak begitu ramah, dua perempuan berpakaian seksi baru saja keluar dari pintu merah sebuah gedung bertuliskan “DragonFly” yang berjalan mendahuluinya. Samantha menguntitnya agak jauh di belakang hingga tiba di ujung Loner Street, tempat dua wanita tadi menghilang di persimpangan yang membuatnya bingung.

Ada tiga pilihan jalur yang harus diambil salah satunya. Dia bisa saja berjalan lurus, belok ke kanan atau ke kiri. Ketiga jalur itu tampak sepi. Dia bisa saja mencoba semua jalur, tapi itu akan makan waktu sangat lama. Atau, bisa jadi salah satunya jalan buntu – Samantha tidak tahu istilah jalan buntu. Dan, setelah mengamati keadaan sekeliling, dia memutuskan berbelok ke kanan dengan pertimbangan ada gedung yang lebih tinggi di sebelah sana. Selama perjalanannya menuju ke sana dia melalui tiga persimpangan lagi, melewati tenda-tenda kumuh berisi gelandangan dan botol-botol bir berserakan, troli-troli berisi barang-barang aneh, dan deretan sampah dengan bau yang menusuk.

Kira-kira dua puluh menit kemudian dia sudah tiba di persimpangan lain. Berbeda dengan persimpangan sebelumnya, di sini sangat ramai, jalanannya sangat besar, beraspal dan bersih, orang-orangnya berjalan dengan terburu-buru, mobil-mobilnya warna-warni, gedung-gedungnya sangat tinggi sampai menembus awan. Satu hal yang luar biasa adalah ketika dia dapat membaca banyak tulisan; tulisan-tulisan elektronik berjalan, tulisan-tulisan di balon besar, tulisan-tulisan di bis, tulisan-tulisan besar di papan dan semuanya, yang seakan ingin dibaca semuanya. Terkadang satu tulisan membuatnya tertawa, sedangkan tulisan lainnya membuatnya bingung dan membuatnya bertanya-tanya apakah si penulis tidak bisa menempatkan kalimat. Dia tidak tahu tulisan-tulisan tersebut hanya slogan iklan.

Dia kemudian berjalan menyusuri trotoar, mencari gedung bertuliskan toko obat. Dia punya dua dolar dan beberapa sen untuk membeli obat batuk dan sesak nafas. Ada begitu banyak toko di sini; ada toko dengan patung-patung, toko berisi TV, toko dengan balon, toko dengan pemain trompet di depannya. Tetapi dia tidak menemukan toko obat. Dia seharusnya bertanya pada seseorang seperti yang pernah diajarkan Ny. Lourie. Tapi dia tidak tahu caranya bertanya pada orang-orang yang sedang terburu-buru. Ketika memikirkan itu, gang menuju Loner Street sudah tidak terlihat lagi; dia sudah berada jauh dari apartemennya.

Kini, dia sudah berada di bawah lampu merah, tenggelam dalam barisan orang-orang yang ingin menyeberang jalan utama, pandangannya terhalang kaki dalam celana panjang, rok pendek dan bau wewangian yang menyenangkan. Dilihatnya seorang wanita di depannya sedang membungkuk, mencari-cari sesuatu yang bau aneh di dekatnya. Lampu penyeberangan menyala hijau, orang-orang bergerak menyeberangi jalan dan wanita itu tidak akan menuduhnya sebagai sumber bau aneh itu.

Tiba di seberang jalan, orang-orang mulai berpencaran, meninggalkan Samantha yang sedang memikirkan ke mana selanjutnya kakinya melangkah. Meskipun demikian, dia percaya kakinya akan membawanya ke tempat yang tepat. Kalaupun tidak menemukan toko obat, setidaknya dia akan membawakan makanan untuk ibunya. Instingnya mengatakan dia harus mencoba mencarinya ke arah kanan.

Dan setelah berjalan selama lima belas menit, dia menemukan tempat yang paling indah yang pernah dilihatnya. Ada lapangan luas yang diteduhi pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Di sini orang-orang bergerak lambat, atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Mereka duduk-duduk di rumput, di bangku atau di tepian air mancur sambil membaca buku atau koran. Dia tidak peduli orang-orang yang melihatnya dengan pandangan aneh. Dia tertarik pada seorang wanita muda berambut pendek yang sedang membaca buku di bangku. Buku itu punya sampul yang lucu, bergambar seorang anak laki-laki dengan sapu terbang. Lalu, seperti kucing yang sedang mengintai tikus, Samantha mendekatinya, sekedar ingin melihat lebih jelas judul buku yang dibacanya. Wanita muda itu hampir melempar bukunya saat menemukan seorang gelandangan yang baunya minta ampun sedang berjongkok di hadapannya. Dia bisa saja muntah kalau tidak segera pergi dari tempat itu.

Sementara, di atas sana, cahaya langit semakin meredup, angin dingin bertiup kencang, hujan turun tidak lama kemudian, mengusir orang-orang di taman, dan hanya menyisakan Samantha.

Samantha sangat ingin merasakan hujan pertamanya di luar, dengan memejamkan matanya, menikmati tetesan air yang jatuh ke wajah, menghirup bau hujan, membayangkan dirinya di sebuah tempat yang dia sendiri tidak tahu. Sangat menyenangkan.

Kemudian dia membuka matanya, melihat burung-burung merpati berteduh di ranting-ranting pohon yang menutup tubuh mereka dengan sayap-sayapnya yang lembut.

Lalu, hujan pun berhenti.

Samantha menggosok-gosok tangannya, meniupnya, berjalan menyusuri taman yang berkabut, mengambil sepotong roti di bangku taman, menyimpannya di balik jaketnya.

Lanjut>>

Komentar