Kisah Samantha Loner (Selesai)

Tiga hari kemudian polisi menangkap Samantha Loner saat dia sedang membaca buku di taman. Ada saksi yang melihat pembunuhan dua berandalan itu dan temuan sebilah pisau yang diduga dipakai Samantha untuk membunuh. Satu jam setelah penangkapan itu, polisi menggeledah apartemennya dan menemukan Linda yang sekarat. Linda kemudian dibawa ke rumah sakit, mendapatkan perawatan yang layak, dan setelah dua bulan kondisinya berangsur-angsur pulih. Wajahnya terlihat segar, rambutnya tumbuh lebat, tubuhnya jauh lebih berisi. Dia berencana akan mengunjungi apartemennya begitu keluar dari rumah sakit, berharap jam tangan emas yang tidak jadi digadaikan itu masih tersimpan di laci meja riasnya.

*

Pagi itu Loner Street sangat sepi, tapi sepinya kali ini keterlaluan. Tidak ada anjing atau kucing jembel yang biasanya berkeliaran, gelandangan yang biasanya mondar-mandir, troli-troli yang terparkir, atau sampah-sampah berceceran. Sepertinya, Wali Kota Halley sedang memenuhi janji kampanyenya untuk membersihkan tempat-tempat kumuh di kotanya, termasuk meruntuhkan gedung-gedung meresahkan dan menggantinya dengan gedung-gedung perkantoran modern. Meski begitu, penghancuran tersebut harus tertunda selama beberapa hari karena masih ada penyewa yang masih menetap di dua gedung apartemen. Jumlah mereka tidak banyak. Pengusiran paksa akan dilakukan setelah melewati waktu jatuh tanggal 30 Nopember nanti.

Gedung apartemen itu sangat berdebu, Linda menutup hidungnya dengan sapu tangan begitu menaiki tangga. Coret-coretan di dinding, pintu-pintu apartemen usang yang pernah diketuknya masih diingatnya. Dia melewati satu lantai, menengok sebentar ke lorong nan sunyi di lantai 2, setelah itu menaiki lagi anak tangga hingga tiba di depan pintu apartemennya. Pintunya tidak terkunci, terdengar bunyi derit pintu ketika dibukanya pelan-pelan. Tempat itu begitu pengap, sedikit gelap dan dan berantakan. Lemari es hanya menyisakan kotak karton susu, apel kering dan pintu yang patah. Dia pergi ke kamarnya, dibukanya laci meja riasnya, tetapi sialnya dia tidak menemukan jam emasnya. Di dalamnya hanya ada lipstick, tempat bedak, pinsil alis dan kotoran. Laci-laci lemari sudah terbuka, menyisakan beberapa celana dalam butut. Hanya itu yang ada di kamarnya, selain kenangan-kenangan yang memuakkan.

Dia berpindah ke kamar Samantha. Dia pernah lupa di apartemennya ada satu kamar tidur lain dan seorang bocah yang menempatinya. Ada lima atau enam buku bertumpuk di lantai, kertas-kertas bergambar dan kertas-kertas dengan tulisan yang berserakan, tas berwarna coklat. Dia mengambil satu buku di lantai, membersihkannya dari debu dan membaca judulnya: In Cold Blood. Diambilnya buku lainnya dan dibaca judulnya: In Cold Blood. Di buku ini terselip selembar foto; itu foto dirinya dengan Jim saat di pantai.

“Jim” James Willey adalah teman satu sekolah Linda, mereka jatuh cinta sejak SMP, sama-sama senang berpetualang dan menganggap kota kecil mereka membosankan. Dengan berbekal beberapa ratus dolar mereka kabur dari rumah dan hidup nomaden. Ketika Linda hamil satu bulan, mereka memutuskan menetap dan menemukan apartemen murah di Loner Street. Apartemennya lumayan luas, ada dua kamar yang menghadap tembok gedung yang lebih tinggi. Jendelanya sedikit macet, tapi bisa diperbaiki. Dindingnya juga perlu dicat, Linda menyukai warna hijau atau krem. Kamar anaknya akan dilapisi kertas dinding bergambar hewan-hewan lucu. Mereka berkenalan dengan Ny. Louire yang ramah dan beberapa tetangga lainnya yang terlihat menyenangkan. Tidak ada yang membicarakan masalah kriminalitas di lingkungan tersebut, malam pertama mereka dilewati dengan suara berisik lolongan anjing dan keributan kucing. Malam berikutnya terdengar suara letusan senjata api dan teriakan-teriakan tidak jelas. Seminggu kemudian mereka tahu tentang bandar narkoba di apartemen lantai 2 dan berkenalan dengan Jack. Jack yang sedari awal menyukai Linda, menghabisi Jim sebulan kemudian di luar apartemennya. Pada saat itu Linda pergi untuk wawancara kerja di supermarket. Jack bilang kepada Linda bahwa Jim sedang keluar bersama seorang perempuan. Belakangan, Ny. Lourie memberitahu kalau Jack yang membunuh Jim dan membuang mayatnya entah kemana. Dia bersyukur Jack mati, namun menyayangkan kenapa mesti Samantha yang membunuhnya.

Satu minggu lalu, Linda pernah membaca berita pengadilan Samantha di koran. Fotonya ada di situ, cukup jelas, terlihat semakin dewasa dengan wajah yang cukup familiar karena mirip dirinya. Dia seharusnya hadir di pengadilan itu untuk memberikan kesaksian yang bisa saja meringankan hukumannya. Akan tetapi, apa yang harus dikatakan di pengadilan nanti, bahwa Samantha seorang anak yang baik? Bahwa anak itu punya masalah kejiwaan? Saat ini dia tidak ingin memikirkan itu masalah itu. Masalahnya sendiri saja sudah rumit. Untungnya pengadilannya berlangsung cepat dan tidak berbelit-belit, Samantha menerima hukumannya. Mungkin dia lebih baik berada di penjara. Toh itu hanya penjara anak.

Di dinding di bawah jendela itu, ada coretan Samantha kecil. Kalau diperhatikan lagi, coretan itu lumayan bagus untuk anak seusianya – dia bahkan tidak tahu di usia berapa anaknya mulai menggambar di dinding. Dia menyesal pernah mendorong Samantha hingga jatuh dari tangga hanya karena masalah itu. Jari kelingking Samantha bengkak dan patah, tapi anak itu tidak menangis.

Di dinding itu, Samantha menggambar seorang perempuan yang menggandeng anak perempuan; tentunya itu gambar dirinya dan Samantha. Di bagian lain ada gambar pohon-pohon, ikan, burung, anjing dan kucing. Gambar di sebelahnya terlihat lebih rumit dan berwarna. Ada gambar gedung-gedung, mobil-mobil, pesawat, pohon-pohon, sebuah gedung tiga lantai dengan seorang wanita tua dan seorang anak perempuan di depannya, lalu ada gambar menara Halley, seorang pria dengan helm proyek dan seorang anak perempuan. Di sebelahnya ada gambar anak-anak perempuan lainnya yang sedang berjalan menuju ke suatu tempat di bawah ranjang. Linda menyalakan korek api gas dan terlihat beberapa gambar anak perempuan yang sama. Gambar itu berakhir di sudut kamar dekat sebuah celah di dinding yang ditutupi papan miring.

Linda menyingkirkan papan kayu itu dan menemukan kotak kaleng di dalamnya. Dia menarik keluar kotak kaleng itu, membuka tutupnya, mengarahkan korek apinya ke dalam kotak dan menemukan sejumlah uang dalam bungkus plastik, dua buah pena dan sebuah buku jurnal (sampulnya berwarna hijau tua dengan gambar pohon dan tulisan Jurnal Saya). Dia kemudian merangkak mundur, melongok ke jendela, ke jalan yang sepi, lalu duduk di tepi ranjang dan menghitung uang tersebut. Jumlahnya: 500 dolar. Dari mana anak itu mendapatkan uang sebanyak itu? Mencurikah? Siapa peduli. Dia masukkan uang itu ke dalam tasnya dan membuka buku jurnal tersebut. Ada nama Samantha di halaman depan, tanpa Loner. Samantha tidak tahu nama Loner melekat di belakang namanya, sama halnya dengan nama Loner Street, tidak ada yang tahu lorong itu bernama Loner Street, kecuali, tentu saja penulis kisah ini.

Linda tidak pernah mengajari putrinya menulis, dan seingatnya, dia hampir tidak pernah mengajari anaknya apapun. Bahkan, kata pertama yang diucapkan Samantha saja dia tidak tahu. Kini, dia jadi merasa bodoh karena pernah mengabaikannya, alasan masih terlalu muda untuk mengurus anak malah kian tidak masuk akal. Dia akui tulisan tangan Samantha lumayan bagus. Tidak, bukan lumayan, tetapi sangat bagus.

Sekitar jam 9 dia meninggalkan apartemennya, berjalan menuju taman seperti yang tertulis di buku jurnal. Taman ini begitu damai dan menenangkan. Pantas saja Samantha betah berada di sini. Dia duduk di bangku kayu, burung-burung merpati bertebaran di jalan setapak. Tepat di hadapannya, di antara pepohonan dan jalan utama, berdiri Menara Halley yang megah. Linda tidak pernah tahu bahwa pernah ada toko buku di sana. Selama ini dia hanya menjalani hidup yang sempit di kota sebesar ini, daya jelajahnya hanya seputaran Loner Street, meski sesekali pergi ke pusat kota untuk minum dan bertemu orang baru.

Dia membaca buku jurnal Samantha dan sebentar saja sudah tenggelam dalam kisahnya yang memilukan. Kira-kira satu setengah jam kemudian dia sudah selesai membacanya, sekaligus menghabiskan enam batang rokok, satu botol air mineral ukuran sedang, satu porsi burger dan dua kantong camilan. Dia memandangi lagi sampul buku jurnal tersebut dan berpikir, bahwa untuk seorang anak yang belum berusia lima belas tahun, tulisan itu sangat dewasa dan sadis. Meski begitu, dia sangat menyukainya.

Lalu, apa yang akan dilakukan selanjutnya? Dia punya 525 dolar dan beberapa sen, tetapi uang itu akan cepat habis jika ia tetap tinggal di kota ini, apalagi jika nanti dia bertemu teman-temannya, bisa dipastikan dia akan kembali ke kehidupan lamanya. Dia sudah melalui hari-harinya tanpa obat dan bertekad tidak akan memakainya lagi. Dia juga sudah memikirkan masak-masak tentang masa depannya, dan sepertinya dia tidak ada tempat yang lebih baik selain kembali ke rumah orang tuanya.

Dia pergi ke stasiun bis, membeli tiket bis ke utara, duduk selama hampir delapan jam di bis sambil membaca In Cold Blood dan merenungi sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Menjelang jam 6.30 sore, dia tiba di Rosewell, kota kecil yang sudah ditinggalkannya belasan tahun lalu; tempat yang tenang, damai dan berhawa dingin. Dia berjalan melewati tempat-tempat yang hampir tidak berubah; kedai kopi tempat nongkrongnya semasa sekolah, taman bermain dan rumah-rumah bercat putih. Dia mengenali seorang pria berjaket coklat di bawah lampu termaram di seberang jalan, dan perempuan yang sedang berbicara dengannya. Topi biru yang dipakainya cukup membuatnya tidak gampang dikenali. Dia berhasil mencapai rumahnya tanpa seorang pun memanggil namanya. Sekarang rumahnya punya bel listrik, seorang perempuan menggendong bayi yang membukakan pintu untuknya. Perempuan itu tidak mengenali dirinya, juga wanita tua bertubuh gemuk yang datang setelahnya. Namun ketika dia menyebut “Ibu” wanita tua itu pun mengenalinya.

Linda diperkenalkan dengan Claire, adik iparnya, sementara bayi dalam gendongan Claire adalah putranya. Tommy, adik laki-laki Linda, masih nyangkut di sekolah, ada rapat guru dan orang tua siswa yang cukup menyita waktunya.

Linda melihat-lihat foto-foto adiknya di atas rak. Sewaktu Linda kabur dari rumahnya, Tommy berusia tiga belas tahun, tubuhnya kurus, rambutnya belah tengah. Sekarang, ia memakai kacamata, lumayan tampan dan sudah memililki seorang istri yang cantik. Ada juga foto Tommy kecil di situ, bersama dirinya berserta kedua orang tua mereka. Claire yang duduk di sampingnya berkata, “Kau mau menggendongnya?”

Bayi itu terbangun begitu pindah ke tangan Linda. Linda memandanginya dengan tatapan yang tidak pernah diberikan kepada putrinya.

Tommy tiba di rumah sebelum makan malam, kakinya seakan terpaku begitu melihat kakaknya yang membukakan pintu. Mereka berpelukan cukup lama sebelum akhirnya Claire mengajak mereka ke meja makan. Tidak ada pembicaraan tentang masa lalu, kecuali tentang kematian ayah Linda tiga tahun lalu karena serangan jantung. Mereka lebih banyak membicarakan pekerjaan Tommy yang terdengar cukup melelahkan. Tommy seorang guru matematika yang untuk sementara merangkap guru Bahasa Inggris. “Kami kekurangan guru,” kata Tommy. “Untungnya minggu depan akan datang guru baru. Tiga orang sekaligus.” Lucunya, lanjut Tomi, ia juga mengajar anak-anak teman sekolahnya. Setelah itu, ada jeda sejenak buat Tommy untuk mengunyah makanannya, yang dimanfaatkan Claire dengan berkata,

“Tommy dapat beasiswa s2-nya.”

“Selamat Tommy,” kata Linda. “Jadi kalian akan pindah?”

“Paling lama dua tahun,” sahut Tommy. “Kupikir ini suatu kebetulan, aku tidak tahu kau datang … Maafkan aku …”

“Tidak apa-apa, Tom. Harus ada yang menemani Ibu di sini, bukan?”

Kemudian Tommy sedikit bercerita tentang teman-teman Linda yang sebagian sudah pergi ke kota dan memiliki kehidupan baru. Meski begitu, tidak semuanya beruntung, salah satunya Lucas, yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka, meninggal karena kecelakaan mobil. Sebagian lain masih menetap di Rosewell, seperti Steve dan April yang pernah dilihat Linda saat menuju ke rumahnya. Keduanya sama-sama sudah bercerai, masing-masing sudah punya anak dan rencananya mereka akan menikah Mei nanti. Linda memang bersyukur tidak ada yang menanyakan tentang peristiwa setelah dia kabur dari rumah. Namun, dia merasa harus memberitahu tentang putrinya. Ibunya, yang sedari tadi tidak bicara, terlihat senang mendengar bahwa ternyata dia punya satu cucu lagi.

“Tapi Samantha tidak bisa bertemu kalian dalam waktu dekat. Dia sedang berada di asrama sekolah.”

Kamar tidur Linda terletak di bagian depan, menghadap pemandangan pepohonan dan rumah Emily di seberang jalan. Tommy bilang sekarang Emily tinggal di Boston, sudah menikah dan punya dua anak perempuan. Tidak ada yang menempati kamar itu sejak ditinggalkannya, kecuali ibunya yang beberapa kali tidur di sana karena merindukannya. Linda duduk di tepi ranjang yang rapih, memandang poster Duran Duran yang masih terpasang di dinding. Meja belajarnya masih di tempat yang sama, buku-buku lamanya tersusun rapih, mesin tik-nya masih tersimpan di sudut meja. Dia bangkit dan berpindah duduk ke kursi meja belajar, di mana dia bisa melihat kamar Emily yang berhadapan dengan kamarnya. Mereka terbiasa saling melihat saat belajar dan juga mematikan lampu kamar bersamaan. Emily sering menginap di rumahnya, bercerita tentang laki-laki yang disukainya, dan belajar berciuman; Linda bilang bibir Emily selembut kapas. Dia memasukkan selembar kertas kosong ke roll penggulung kertas, ditekannya tuts S, dan huruf S tercetak jelas di atas kertas. Dia memang sudah lama tidak mengetik, tapi jari-jarinya masih hapal letak tuts huruf-huruf dan angka-angkanya. Lalu dia mengetik “Selamat tidur, Emily” dengan lumayan cepat.

Keesokan paginya, dia melakukan apa yang sudah direncanakannya di sepanjang perjalanannya di bis. Dia mengetik semua yang ditulis Samantha dalam buku jurnalnya, mengganti nama-nama tokohnya dan mengubah latar tempatnya jadi fiktif. Anda tidak berpikir cerita ini menggunakan nama asli, bukan? Dia beristirahat untuk merokok, mengobrol dengan Claire di teras belakang, dan mengagumi bibir Claire yang menurutnya mirip bibir Emily. Ketika pada suatu sore Claire mengetuk pintunya untuk memberitahu makan malam, dia menariknya ke dalam kamar dan mencium bibirnya. Claire tidak menolaknya, tangannya menyelinap masuk ke dalam kaos Linda, meremas payudaranya. Setelah dua menit berciuman Claire berkata, “Lagi nulis buku?”

Butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikannya, Claire jadi orang pertama yang membacanya. Claire membacanya di ranjang, berbagi rokok dan Coca Cola dengan Linda yang sesekali menciumi rambutnya atau mengelus lengannya yang berbulu. Claire lumayan cepat membacanya, memuji tulisannya meskipun dinilainya terlalu sadis. Linda bilang cerita seperti itu sudah biasa di zaman sekarang, Claire harusnya lebih sering membaca. Setelah dibaca ulang tiga kali dan beberapa perbaikan, Linda mengirimkan naskahnya ke sebuah agen penerbit yang didapat dari buku telepon. Enam bulan kemudian dia mendapat jawabannya lewat telepon rumah. Agennya mengatakan bahwa pihak penerbit menyukainya, Linda akan mendapat sejumlah uang muka setelah menandatangani surat kontrak.

Kisah Samantha Loner, yang sedang Anda baca versi cerita pendeknya ini, terbit tanggal 31 Oktober, dianggap sebagai In Cold Blood seri dua dan menjadi best seller selama tujuh minggu. Pers dan kritikus memuji novel tersebut yang seolah-olah mengecoh para pembacanya, mengira buku tersebut merupakan karya non-fiksi. Claire bertanya pada Linda, bagaimana dia menulisnya? Linda menjawab bahwa, dia pernah hidup dengan seorang pembunuh.

* *

Komentar