Kisah Samantha Loner (3)

Delapan belas bulan kemudian Toko Buku Tua sudah tergantikan dengan pembangunan menara Halley, tidak lama lagi menara Halley sudah selesai dan diresmikan. Samantha memandangi tempat itu sambil mengenang masa-masa bersama Nenek di toko buku. Dia berdiri cukup dekat dengan proyek. Dia tidak pernah tahu bahwa Nenek meninggal, karena serangan jantung, satu minggu setelah pertemuannya dengan Wali Kota Halley. Yang dia tahu Nenek memberikannya sejumlah novel, sebuah buku jurnal untuknya menulis cerita, sebuah buku sketsa untuknya menggambar, satu kotak pinsil, krayon dan pena.

Bunyi sirene proyek membangunkannya dari lamunan, tidak berapa lama aktivitas di dalam proyek pun berhenti. Waktunya jam makan siang. Seorang pekerja datang dan berteriak padanya, “Hei, pergilah! Ini bukan tempat untuk anak kecil.”

“Ben, mungkin dia ingin makanan,” sahut pekerja lain bernama Tom, yang kasihan melihat tubuhnya yang kurus dan kusut. Tom mengeluarkan sebungkus roti dari kotak makan siangnya dan memberikannya pada Samantha. Samantha mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Alih-alih memakan rotinya, dia memasukkannya ke dalam kantong jaket. “Kau tidak memakannya?”

“Untuk ibuku,” jawab Samantha.

Tom memanggil rekan kerjanya. “Lou, berikan rotimu.” Lou belum sempat menjawab karena Tom sudah merampas rotinya dan memberikanya pada Samantha. “Ini untukmu, gadis kecil,” kata Tom pada Samantha. “Dan ini untukmu, anak besar,” Tom memberikan lima dolar untuk Lou.

Itulah awal persahabatan mereka. Lusanya, Tom menemukan Samantha di bangku taman sedang duduk membaca sebuah buku. Bukan sebuah kebetulan. Keduanya memang sama-sama menyukai taman. Maksudku, Tom biasa melewati taman saat berangkat kerja, dan Samantha sudah berada di tempat itu sejak pagi. Tom masih mengenalinya dari rambut pirangnya yang kusut. Ia melihat jam tangannya. Ia masih punya waktu sepuluh menit sebelum memulai pekerjaannya untuk pergi ke toko membelikan Samantha sebotol sampo, sebatang sabun mandi, sebuah sisir, dua kaleng Coca Cola dan sebungkus camilan.

“Kautau cara pakai sampo kan?” tanya Tom.

Samantha mengangguk.

“Kalau begitu, kita ketemu lagi besok.”

Keesokannya, di hari libur kerja, Tom menemukan Samantha lagi. Kali ini Samantha sudah merapihkan rambutnya dan terlihat cantik.

“Ke sini tiap hari?”

“Tidak juga.”

“Kau membaca buku?”

Samantha menunjukkan In Cold Blood, tetapi Tom tidak begitu suka membaca. Dia juga menyimpan tiga buku lain di dalam tasnya, juga pena, pinsil, buku sketsa, buku jurnal dan sebilah pisau. Itu pisau berburu milik Jack yang dicurinya beberapa waktu lalu; sangat tajam, mengilap dan gagang yang berukir. Dia suka menyimpan pisau itu di dalam tasnya, yang dianggapnya benda terbaik setelah buku, pena, dan buku jurnalnya.

“Buku ini bercerita tentang dua orang pembunuh keluarga Clutter yang dihukum gantung: Smith dan Hickock.”

“Kupikir kau terlalu kecil untuk baca buku itu.”

“Juni nanti aku lima belas tahun, Man. Aku boleh baca apa saja.”

Sebentar saja mereka sudah tenggelam dalam obrolan tentang berbagai hal. Gadis kecil itu mengingatkan Tom pada anak pertamanya yang tinggal bersama mantan istrinya. Tom menunjukkan foto anak gadisnya yang bernama Charlotte. Charlotte berambut coklat dan keriting, pipinya berbintik, matanya bulat besar, giginya dipagari kawat. Tom akan memperkenalnya kepada Samantha kapan-kapan, paling cepat natal nanti, karena natal tahun ini Charlotte akan tinggal bersamanya sampai tahun baru. Samantha berbaik hati meminjamkan Harry Potter padanya, yang membuat Tom merasa lucu. Ia tidak pernah membaca novel sepanjang hidupnya maupun buku-buku tebal lainnya. Lalu, tiba-tiba saja seorang anak kecil menyodorkan novel anak-anak yang lumayan tebal, yang dirasanya terlalu sulit menemukan waktu luang untuk membacanya. Namun, ia (dengan terpaksa) menerimanya, setidaknya untuk membuat anak itu senang.

“Aku akan baca ini.”

Sejak ditinggal Nenek, Samantha kehilangan teman ngobrolnya. Nenek tidak pernah kelihatan di taman atau di mana pun seolah menghilang begitu saja. Sekarang, dia punya sahabat baru bernama Tom. Tom memang tidak seperti Nenek yang tahu banyak tentang buku dan punya banyak cerita yang bisa membuatnya tertawa. Namun Tom pernah mengomentari lukisan pinsilnya. Saat itu Samantha menggambar toko buku tua dengan sangat detail, termasuk buku biografi Wali Kota Halley yang dipajang di kaca depan. Dia tidak pernah meminta Tom mengomentari gambarnya, tetapi Tom melihatnya menggambar. Tom bilang bahwa dirinya sangat berbakat menggambar dan akan menjadi seorang arsitek yang sukses. Arsitek? Samantha pernah mendengar istilah itu, entah di mana atau kapan. Apa itu arsitek? tanya Samantha, yang kemudian dijawab Tom dengan sederhana. Samantha menganggap profesi tersebut begitu keren. Sekalipun begitu, dia tidak menganggapnya komentar Tom sebagai pujian. Dia lebih suka menulis. Dia bermimpi suatu saat nanti akan dia menerbitkan bukunya sendiri.

Ketika mereka bertemu untuk kesekian kalinya, Tom sudah menyelesaikan Harry Potter. Tom menyesal kenapa tidak menyukai membaca dari dulu. “Aku beruntung bisa bertemu gadis kecil yang suka baca,” kata Tom, yang kali ini komentarnya dianggapnya sebagai pujian.

*

Wanita itu masih terbaring lemah di ranjangnya, tubuhnya sekurus ranting pohon, matanya cekung dan layu. Dia mungkin sudah mati sejak satu atau dua tahun lalu kalau saja Samantha tidak mengurusnya, memberinya makan dari sisa roti atau apel, membawakannya sebotol air minum yang juga sering ditemukan Samantha di taman. Belakangan ini nasibnya lebih baik, Samantha sering membawakannya makanan utuh pemberian Tom.

“Aku akan menulis, Ma,” bisiknya. “Aku akan membuat cerita, seperti penulis-penulis terkenal lakukan. Kita akan dapat uang.”

Samantha melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke ruang depan untuk menulis kisahnya sendiri, yang ditulis dengan detail yang indah setiap malamnya.

Air mata dan kesedihan … mana yang membuatnya lebih sedih dari kehilangan ibunya. Air mata dan kebahagiaan … mana yang membuatnya lebih bahagia selain melihat ibunya bahagia.

Dia menulis sepanjang malam, terkadang dia menulisnya sambil tersenyum, ketika itu dia sedang mengingat masa-masa indahnya bersama Ny. Lourie atau Nenek. Terkadang dia menulisnya sambil bersedih, ketika itu dia sedang menulis tentang ibunya atau perpisahannya dengan Nenek. Ada kalanya dia menulis dengan amarah, yakni ketika dia menulis tentang Jack. Tetapi tidak semua cerita tentang Jack ditulisnya dengan amarah. Ada satu bagian tentang Jack yang ditulisnya dengan kepuasan. Bagian itu menceritakan peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Jack kembali ke Loner Street setelah delapan bulan pergi. Jack bicara pada Linda tentang sesuatu yang berhubungan dengan uang. Linda tidak mengeluarkan suara, selain melenguh. Jack juga bicara tentang mengambil Samantha sebagai jaminan, simpanan atau peliharan, terserah kata mana yang kauanggap lebih tepat, yang jelas kata-kata itu terdengar menjijikkan di telinga Samantha. Namun, bukan karena hal itu Samantha menghabisi Jack. Satu bulan sebelum hari itu, Linda mengigau menyumpah-nyumpahi Jack sebagai pria brengsek, mengatakan sesuatu tentang membunuh Jim (ayah dari Samantha Loner) dengan pisaunya, dan membunuh wanita tua itu (yang dimaksud Ny. Lourie), yang dibekapnya dengan bantal. Kemudian dia terbangun dari mimpi buruknya; tubuhnya berkeringat dan gemetar. Dia menoleh pada Samantha dan berkata, “Ya, Samantha. Jack yang membunuh Ny. Lourie-mu. Jack juga yang membunuh ayahmu.”

Samantha punya cara sendiri menghabisi Jack seperti yang ditulis dalam kisahnya, detailnya cukup jelas. Diam-diam diambilnya pisau milik Jack dari atas meja, lalu ditusukkannya ke perut dan dada Jack saat Jack sedang tidur. Sangat mudah. Yang sulit itu melempar mayat Jack dari jendela. Jatuhnya tidak harus tepat di dalam tempat sampah, toh orang-orang akan mengira Jack dibunuh pemabuk atau musuhnya. Dan untuk sebuah keberhasilannya, dia membisikkan di telinga ibunya, “Aku sudah membunuhnya, Ma. Aku membunuh Jack.”

Tetapi, kematian Jack bukanlah akhir dari kisahnya. Ada bagian lain yang perlu diceritakan, yang membuat perasaannya campur aduk, antara senang, sedih dan marah. Bagian yang kelak menjadi akhir tulisannya. Dia menceritakan tentang Tom di bab terakhir; tentang pertemuan, perpisahan dan dua pembunuhan lain.

Pada malam peresmian menara Halley yang penuh keglamoran, Samantha duduk menyaksikan atraksi kembang api, akrobat laser, konser musik dan pidato Wali Kota Halley yang memukaunya. Dia masih penasaran, kenapa Walikota Halley melupakan buku yang akan dibelinya; In Cold Blood masih disimpannya, buku yang sama ketika dia akan menyerahkannya pada Wali Kota Halley beberapa waktu lalu.

Taman itu ikut terang benderang karena cahaya kembang api di udara. Samantha bisa melihat orang-orang di taman dengan jelas yang sama-sama menikmati fantasi peresmian menara Halley. Dia bisa mengenali Tom, yang sedang duduk sendiri memandangi hasil pekerjaannya dengan penuh kebanggaan. Tom berencana akan kembali ke pekerjaan lamanya sebagai petugas kebersihan di sebuah universitas. Proyek itu memberinya uang banyak sehingga dia mampu menyewa tempat yang lebih baik.

Samantha mendatanginya dengan diam-diam, mengira dapat mengejutkannya. Tapi tidak jadi, dia memilih duduk di sampingnya.

“Halo Sam,” sapa Tom, mengusap kepala Samantha.

“Hai Big Tom,” balas Samantha.

“Kaulihat itu?” Tom menunjuk dengan tangan kanan yang memegang minuman ke arah menara Halley.

“Big Tom yang membuatnya.”

“Gadis pintar.” Ia mengambil satu kaleng minuman dan menawarkannya pada Samantha. “Haus?”

Samantha mengangguk.

“Bagaimana ibumu?” tanya Tom, tapi dia buru-buru mengganti pertanyaan lain karena pertanyaan itu akan membuat Samantha sedih. “Bagaimana tulisanmu?”

“Tinggal sedikit lagi. Tapi aku belum tahu akhirnya.”

“Kau akan tahu nanti. Semua cerita ada akhir bukan?”

“Ya,” Samantha meneguk minumannya dan bersendawa.

Nyala kembang api masih terus berlanjut, musik terus menghentak dengan akrobat laser meliuk-liuk di langit. Dua laki-laki muda, entah darimana datangnya berdiri di hadapan mereka seakan sengaja menghalangi pandangan. Cahaya kembang api yang menerangi tempat itu memberikan kejelasan wajah mereka. Satu orang bertubuh tinggi, kurus dan agak gondrong membawa satu batang besi panjang, sementara, satu lainnya bertubuh lebih pendek dan gempal membawa pisau militer. Keduanya mengenakan jaket hitam yang sama.

“Serahkan dompetmu, Man,” kata laki-laki bertubuh pendek. “Beberapa dolar untuk minum.”

“Yeah, minum. Seperti orang-orang kaya di sana,” kata laki-laki yang lain.

Tom bangkit berdiri, Samantha mengikutinya bergerak mundur, matanya terus mengawasi gerakan mereka, sementara tangan kanannya memegang tubuh Samantha supaya mengikuti gerak tubuhnya.

“Hei, aku tidak ingin macam-macam dengan kalian,” Tom memperingatkan. “Okay. Aku akan memberikan kalian lima dolar dan kalian akan pergi dari sini.”

“Tidak, Man. Kami mau semuanya. Termasuk kau, gadis kecil.”

“Pergilah,” kata Tom, kedua tangannya dikepalkan.

Kedua laki-laki berandalan itu bergerak mengelilingi Tom dan Samantha. Tom lebih memerhatikan lelaki yang bertubuh pendek dengan pisau militernya. Tapi laki-laki bertubuh tinggi yang memukulnya duluan dengan tongkatnya, tepat di kening sebelah kanannya. Tom hampir terjatuh, keningnya robek dan berdarah. Sedetik kemudian datang satu pukulan lagi yang mendarat ke perutnya. Tom benar-benar ambruk tatkala satu pukulan lain menghantam samping kiri kepalanya.

Namun, dua berandalan itu seharusnya butuh dari sekedar tongkat besi untuk menghabisi Tom. Tom bangkit, wajahnya merah padam, sangat marah. Ia kemudian menyeruduk seperti banteng, melayangkan satu pukulan hook telak ke wajah berandalan bertubuh tinggi, dan K.O. Berandalan yang lain menusuk-nusukkan pisaunya ke tubuh Tom, tetapi tidak ada yang kena. Selanjutnya gantian Tom yang membalas, satu pukulan jab tipuan dengan tangan kirinya, disusul satu pukulan uppercut kanan tepat di dagu, sangat telak, dan K.O.

Tom menjatuhkan diri, bertumpu pada dua lututnya dan terbatuk beberapa kali. Samantha ragu untuk mendekatinya, tetapi akhirnya dia memaksakan diri mendekati Tom.

“Big Tom …” panggilnya.

“Pergilah Samantha,” kata Tom, melihat dua berandalan itu bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Ia berpikir kedua berandalan itu akan balik lagi membawa teman-teman lainnya. “Mereka akan kembali ke sini, Samantha. Pergilah.”

“Tapi …”

“Pergi!”

Gemerlap peresmian menara Halley terus berlanjut dan semakin meriah, genre musik yang berganti, dari pop ke rock lalu ke klasik dan kembali lagi ke pop, dan beberapa penampilan stand up comedy; pemandangan yang kontras dengan kehidupan Samantha Loner.

Samantha meninggalkan Tom yang kepayahan, berjalan mengikuti jejak dua berandalan tadi. Sebentar kemudian, dua berandalan itu sudah terlihat. Keduanya sudah sangat kepayahan, yang bertubuh pendek terjatuh, lalu dipapah laki-laki bertubuh tinggi. Samantha mengeluarkan sebilah pisau dari dalam tasnya, lalu dilemparkan tasnya dan berlari, kemudian dari jarak yang terukur, dia melompat menerjang berandal bertubuh pendek, menusuknya di punggung dan lehernya, dan setelah itu dia menyabet leher berandal yang lain. Dia melakukannya dengan cepat, tanpa suara, lalu sunyi.

Dia mendapatkan dirinya dalam keadaan yang mengerikan, tangan dan wajahnya berlumuran darah. Dia membuang pisaunya ke semak-semak, lalu berjalan menyusuri taman, membersihkan dirinya di air mancur dan setelah itu melangkah pergi meninggalkan taman, menyusuri lorong Loner Street, membawa akhir kisahnya.

“Tulisanku sudah selesai, Ma,” bisik Samantha. “Aku tinggal mengirimkannya, dan kita akan dapat uang banyak.”

Lanjut>>

Komentar