Kisah Samantha Loner (2)

Wanita kurus itu tidur sepanjang hari, hanya terbangun sesekali untuk mencari makanan. Dia menemukan roti basah dan segelas air putih di atas meja, dengan lidahnya yang pahit, dia menghabiskannya. Sementara itu, di sudut ruangan yang gelap itu, putrinya sedang memandanginya. Samantha hanya berani mendekati ibunya yang sedang tertidur, dan pada saat itu dia membelai rambutnya sambil menyenandungkan lagu Love is Blue yang pernah dinyanyikan Ny. Lourie. Tetapi wanita itu tidak pernah mendengar suara putrinya yang merdu, atau merasakan lembutnya belaian tangannya.

*

Hari berikutnya Samantha bangun pagi-pagi benar. Dia memakai gaun merah muda pemberian Ny. Lourie. Warnanya memang agak pudar, tapi baunya tidak seburuk jaketnya. Dia masih mencium bau pertama kali baju itu diberikan padanya; dia masih bisa mencium bau Ny. Lourie. Celana panjangnya berwarna krem, jahitannya di ujungnya sudah lepas dan hampir menutup sepatunya. Dia menggulung ujung celananya tiga kali hingga terlihat sepatu hitamnya yang kusam, lalu menyisir rambutnya dan memakai bando hitamnya. Dia pergi ke taman membawa Darcy Darcy yang disimpan di dalam tas selempangnya.

Pagi itu sedikit mendung, angin berembus pelan membawa udara dingin. Samantha duduk di bangku yang pernah didudukinya, burung-burung merpati bertebaran di jalan setapak, menunggu manusia yang berbaik hati melemparkan sedikit makanan. Samantha menghitung jumlah burung-burung itu saat tidak membaca buku; jumlahnya dua puluh empat. Ny. Lourie pernah mengajarinya menghitung angka, sedangkan ibunya yang mengajarinya menghitung uang. Ibunya mengatakan, bahwa uang itu sesuatu yang paling penting di dunia.

Seorang wanita tua datang dan duduk di ujung bangku, tas coklatnya diletakkan di pangkuannya. Dia kemudian membuka tasnya, mengeluarkan satu kantong plastik, mengambil biji-bijian dari dalamnya, lalu melemparkannya ke jalan. Dalam sekejap burung-burung datang bergerombol mematukinya. Dia terus melakukannya hingga biji-bijian di dalam kantongnya habis. Dia masih punya biji-bijian di kantong lainnya dan melakukan hal yang sama. Dia berhenti sejenak saat menyadari seseorang sedang memerhatikannya. Dia menoleh ke arah Samantha dan menyapanya: “Hell-o”. Samantha ingin membalasnya, tetapi wanita tua itu memberi isyarat supaya dia duduk di dekatnya.

Meski tidak berpikiran buruk terhadap wanita tua itu, butuh beberapa waktu bagi Samantha untuk bergeser mendekatinya. Wanita tua itu tersenyum seakan memahami apa yang dipikirkan Samantha, dia berkata, “Berikan tangamu, Sayang.” Dengan ragu-ragu Samantha mengulurkan tangan kanannya. Wanita tua itu memegang tangan Samantha, kemudian membuka telapak tangannya dengan lembut, menaruh biji-bijian ke atasnya, lalu membawa tangan Samantha turun dan membiarkan burung-burung datang untuk mematukinya. Samantha merasa geli dan senang.

“Panggil aku Nenek,” kata wanita tua itu. Dia tidak memiliki cucu, tiga anaknya mati muda akibat TBC. Dia menjelaskan sedikit tentang penyakit itu kepada Samantha, tentang batuk-batuk yang tidak berhenti, tentang batuk berdarah, tentang obat-obatan yang mahal. Tentunya hal itu membuat Samantha cemas, jangan-jangan ibunya mengidap penyakit TBC. Lalu dia melihat jam rantai tuanya dan berkata bahwa dia tidak bisa menemani Samantha berlama-lama. Dia harus kembali ke toko bukunya yang berdiri tepat di seberang taman.

*

Wanita kurus itu terbangun dari tidurnya, melangkah gontai menuju dapur. Matanya hampir tidak bisa dibuka, perutnya lapar dan dia tidak menemukan sepotong makanan. Dia ingat masih menyimpan dua botol bir di dalam lemari es. Jika semuanya habis, maka habis pulalah hidupnya, begitu yang dia pikirkan. Jack tidak pernah lagi mengunjunginya. Tidak ada yang mau mendekati orang sakit. Tidak juga anak sialan itu, yang malah pergi meninggalkannya. Dia minum bir hingga setengah botol, setelah itu menghabiskan setengahnya lagi. Tidak berapa lama dia pun ambruk.

Samantha membaca ulang Darcy Darcy. Dia bisa menghitung rata-rata berapa kali dia membaca buku itu dari pertama kali hingga hari ini. Pastinya sudah lebih dari seratus kali. Dia bisa menceritakannya sama dengan isi buku tanpa melihatnya. Cuaca pagi itu tidak seperti biasanya, matahari bersinar terik, hawanya panas, tenggorokan Samantha terasa kering. Dia ingat dia pernah melihat sebuah kolam dengan air mancur, tempatnya tidak jauh, hanya sekitar lima menit. Ada empat orang yang sedang duduk-duduk di pinggirannya, airnya jernih dan terlihat menyegarkan. Samantha menangkup air dan meminumnya, dan setelah itu membasuh wajahnya. Ketika kembali ke bangku taman, dia sudah menemukan Nenek yang sedang melempar makanan kepada burung-burung. Samantha ingin sekali menyapanya seperti yang pernah dilakukannya pada Ny. Lourie. Sungguh. Tetapi lagi-lagi Nenek yang menyapanya duluan.

“Oh, ternyata kau di situ,” kata Nenek, mengeluarkan roti dari kotak makan siangnya. “Aku bawakan kau makan siang. Ambillah.”

Samantha tidak lagi malu-malu terhadap Nenek. Dia mengambilnya lalu memakannya sebagian, dan sebagian lagi disimpannya di dalam kantongnya.

“A-Aku meyimpannya untuk ibuku,” kata Samantha.

“Kau boleh mengambil semuanya,” kata nenek, memberikan kotak makan siangnya dan sekilas melihat buku Darcy Darcy di pangkuan Samantha. “Kau tidak seharusnya baca buku itu, Nak. Besok aku akan bawakan buku yang pantas untukmu.”

Keesokannya, Nenek memberikan The Adventures of Huckleberry Finn untuk Samantha.

*

Toko buku tua miliknya berada di dalam sebuah gedung tua. Antara toko buku dan gedungnya sama-sama tua, sedangkan usia pemiliknya hanya tinggal menambah angka tiga puluh tiga. Seminggu lalu, Nenek masih punya seorang pegawai, seorang anak laki-laki enam belas tahun, yang membantunya mengurus toko. Tetapi anak laki-laki itu kabur dengan membawa sejumlah buku, tujuh belas dolar dari kotak kasir dan meninggalkan sepucuk surat yang berisi permohonan maaf karena mengambil barang-barangnya sebagai ganti upahnya yang tidak dibayar selama selama dua bulan. Bekerja sendirian membuatnya letih dan kehabisan nafas. Dia beruntung mengenal Samantha yang suka membaca.

“Kau akan bekerja padaku. Kau akan dapat makan siang dan cukup makanan buat ibumu. Kau juga akan membaca banyak buku di tempatku.”

Malamnya, seperti malam-malam sebelumnya, Samantha duduk di samping ibunya yang sedang tidur, membelai rambutnya, menciumi keningnya dan berbisik di telinganya, “Kita akan selalu punya makanan, Ma. Kita tidak akan kelaparan.”

Besoknya, Samantha bangun lebih pagi dari hari sebelumnya, dia sudah berada di bangku taman dengan sebuah buku baru. Dia dapat menghitung waktu kedatangan Nenek tanpa melihat jam di gedung bank. Dia terlihat cantik dengan gaun biru muda dan kaus kaki putih selutut. Nenek membawanya masuk ke ruangan yang muram, meninggalkannya di depan meja kasir sebentar untuk membuka tirai jendela. Sinar matahari menerangi sebagian ruangan, Samantha bisa melihat deretan buku-buku di atas rak. Kemudian Nenek menyalakan lampu-lampu, sinarnya menerangi rak-rak tua yang tidak terawat, mesin kasir kuno, langit-langit yang rapuh dan dipenuhi bekas bercak air.

Nenek menyuruh Samantha duduk di kursi kayu tinggi di belakang meja kasir, mengajarkan Samantha cara membaca katalog harga, mencatat buku masuk dan buku terjual, menggunakan mesin kasir dan menyusun buku. Namun, untuk sementara tugas Samantha hanya membersihkan rak, buku-buku, meja, dan mengepel lantai. Samantha mengerjakannya dengan gembira meski sesekali dia berhenti untuk membaca judul buku atau mengintip beberapa halamannya sehingga membuat pekerjaannya melambat.

*

Wanita kurus itu berjalan keluar dari apartemennya, tiap langkahnya menuruni anak tangga dapat mencelakakannya. Tangan kanannya gemetaran berpegang pada pagar tangga kuat-kuat, mulutnya terus mengutuk anak perempuannya. Dia kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh, kepalanya membentur dinding dan mengeluarkan darah.

“Dasar anak sialan! … Anak brengsek!”

Dia terbangun tengah malam dan menemukan dirinya sudah di atas ranjang. Di luar, jalanan terus mengeluarkan bunyi: orang-orang berteriak, anjing-anjing menyalak, bunyi-bunyi pemukul di tempat sampah dan beberapa kali letusan tembakan. Dia terbatuk berkali-kali sampai-sampai membangunkan Samantha. Samantha memberanikan diri memasuki kamar ibunya dan menghampirinya.

“Kemana saja kau?” bentaknya, bibirnya gemetar, tangannya merenggut baju Samantha. Samantha terlihat sedih. Sesaat kemudian wanita itu mengendurkan cengkraman dan membiarkan Samantha berdiri menjauh. Dia batuk lagi hingga merasakan perih di dadanya. Samantha melangkah mundur dan bergegas pergi ke dapur.

“Hei, mau kemana kau?” teriaknya. Tapi tidak ada jawaban, lalu hening.

Samantha kembali dengan membawa segelas air, didekatkan bibir gelas ke bibir ibunya sementara tangan lain membimbing kepalanya agar dapat meraih gelas. Tetapi wanita itu tidak membuka mulutnya. Dia menampar gelas itu ke lantai. Samantha berjalan mundur lalu duduk di lantai bersandar ke tembok, memandangi ibunya yang tidak berdaya, yang tidak punya kekuatan untuk menghukumnya. Dia sedih … terlalu sedih.

*

Toko Buku Tua buka lebih pagi sejak kehadiran Samantha. Para pembeli kagum dengan kecepatan Samantha mendapatkan buku mereka. Nenek pun mulai bisa menggaji Samantha, dan Samantha juga tidak perlu mencorat-coret lagi di tembok karena Nenek memberikannya buku tulis dan sekotak pena. Samantha senang dengan pena itu, ada gambar beruang lucu di tengah-tengahnya. Samantha, gadis kecil dengan senyum cantik itu, menulis tentang taman dan juga Nenek yang baik hati, dan tentang hujan dan juga burung yang kehujanan.

“Kau menulis dengan sangat indah, Samantha,” kata Nenek setelah membaca satu puisinya. “Kau bisa jadi penulis suatu saat nanti.”

“Bagaimana caranya?”

“Tulisanmu harus ada di meja penerbit. Mereka akan mencetaknya dan aku akan memajang bukumu di rak paling depan.”

*

Tanggal 24 Maret di hari Senin itu jadi hari terakhir pemilihan Wali Kota, Nenek punya cerita sendiri tentang salah satu calonnya, Michael Halley. Mike berasal dari tempat yang terpinggirkan di bagian utara kota seperti halnya Loner street, pernah menjadi pencuri mobil saat usianya lima belas tahun dan keluar masuk penjara dengan kejahatan berbeda-beda, kebanyakan pencurian. Sebuah harapan muncul ketika Pendeta Moose membebaskannya dengan jaminan dirinya. Di usianya yang keempat puluh dua Mike memiliki kekayaan melimpah dan punya peluang besar memenangkan pemilihan Wali Kota.

“Mike sering main ke sini waktu kecil,” kata Nenek pada Samantha. “Aku pernah membuatkannya kue. Anak-anak memang suka kue, seperti kau Samantha. Mike akan menjadi Wali Kota yang baik.”

Nenek membicarakan tentang Michael Halley sepanjang hari, lalu menceritakannya lagi di hari berikutnya dan hari-hari setelah itu hingga Michael Halley terpilih menjadi Wali Kota. Hari terpilihnya bertepatan dengan terbitnya buku biografinya. Nenek dengan bangga memajang bukunya di etalase kaca depan toko.

Walikota Halley tidak pernah melupakan toko buku tua dan tentu saja wanita tua pemilik toko buku. Tetapi bukan karena kenangan masa kecil dia mengunjungi toko buku tua itu, bagaimanapun toko buku tua dan tiga gedung di sebelahnya adalah lokasi yang tepat untuk membangun menara Halley.

“Nak, tolong ambilkan aku In Cold Blood,” Wali Kota Halley berkata pada si penjaga toko, Samantha, di suatu malam.

Samantha tahu buku itu, entah sudah berapa kali dia membacanya. Dia menyukai buku itu yang menurutnya jauh lebih keren dari Darcy Darcy. Kalau ada kesempatan, dia ingin menunjukkan kepada Wali Kota halaman dimulainya pembunuhan keluarga Clutter. Tapi Wali Kota adalah orang besar sehingga Samantha tidak mungkin macam-macam dengan orang besar. Sementara itu, di sebuah ruangan khusus, Nenek dan Wali Kota Halley masih saling bercerita tentang masa lalu dan pembicaraan seputar jumlah nominal uang.

“Kau tidak perlu memikirkan uang lagi. Menara Halley akan menjadi simbol kemenangan orang-orang miskin. Aku menawarkanmu harga terbaik,” kata Wali Kota Halley pada Nenek.

Nenek tidak berkata banyak. Tidak pula membayangkan harga yang fantastis untuk sebuah toko buku tua. Terlalu banyak kenangan pada toko ini. Dia teringat pada suaminya ketika pertama kali mendirikannya, membuat brosur promosi dan menawarkan makan siang gratis untuk dua puluh pembeli pertama. Usaha mereka berhasil. Toko Buku Tua, yang sebelumnya bernama K & Q (King & Queen), menjadi toko buku ternama. Tapi sayangnya suaminya tidak melihat K & Q tumbuh besar dan memiliki gedung tingkat tiga. Suaminya meninggal karena TBC. Dia benci TBC sejak kematian anak-anaknya. Dia menyumbang sejumlah besar uang untuk tiap rumah sakit yang memiliki perawatan khusus untuk TBC dan membuat toko bukunya hampir bangkrut. Dia seorang wanita yang bertahan meski toko bukunya berjalan tertatih-tatih. Beberapa tahun lalu nama K & Q diturunkan setelah papan namanya dirusak anak-anak berandalan. Sejak saat itu toko buku itu berubah nama menjadi toko buku tua tanpa plang nama, sebuah nama yang sesuai dengan pemiliknya yang renta.

Namun, bukan dengan kenangan nenek menjawab tawaran Wali Kota Halley. Tentu saja dia menerima tawaran yang menggiurkan tersebut. Bahkan wanita tua pun butuh bersenang-senang bukan? Dia akan membicarakan hal itu dengan Samantha nanti. Anak kecil itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang anak kecil yang dipungutnya di taman, diberinya makan dan pekerjaan, lagi pula anak itu sudah terlalu lama di sini, dia bahkan sudah lupa berapa lama tepatnya. Satu tahun? Satu tahun setengah? Dua tahun? Setidaknya dia akan membuat anak itu senang, karena dia akan memberinya sedikit hadiah perpisahan.

“Kurasa kita harus merayakan ini,” kata Wali Kota Halley, menyuruh pengawalnya mengambilkan tiga botol sampanye dari Limosin; satu botol untuk diminum bersama, dua botol lainnya untuk disimpan Nenek.

Selain sampanye, ternyata Wali Kota Halley sudah mempersiapkan surat-suratnya, dan tentu saja sejumlah uang muka. Nenek tinggal menandatangani surat-suratnya dan setelah itu menerima uang mukanya.

Ketika mereka berjalan ke luar ruangan, Samantha sudah berdiri di samping pintu untuk menyambut mereka. Tetapi tampaknya Walikota Halley hampir lupa bukunya, karena itu Samantha menghampirinya dan berkata, “Pak, Anda lupa bukunya.”

Wali Kota Halley berhenti melangkah, lalu menoleh pada seorang bocah lugu di hadapannya dan berkata, “Tentu. Aku akan menandatanganinya, Nak.” Ternyata Walikota Halley benar-benar lupa. Nenek, yang sudah berdiri di samping Samantha, menukar In Cold Blood-nya dengan biografi Wali Kota Halley.

“Dia sangat mengagumimu, Mike. Maksudku … Pak Wali Kota,” kata nenek tersenyum. Wali Kota Halley menyambut buku biografinya dan menandatanganinya.

“Ini dia, Nak,” Mike menyerahkan buku itu pada Samantha.

“Ucapkan terima kasih, Samantha,” bisik nenek pada Samantha.

“Terima kasih, Pak Wali Kota Halley,” kata Samantha, memandangi Walikota Halley yang tengah melangkah ke luar dari toko.

Lanjut>>

Komentar