Kisah Horor yang Bikin Kesal

Dulu, sewaktu kami masih kecil, Ayah selalu bercerita sebelum kami tidur. Ceritanya tentang apa saja. Bisa dongeng, horor, cerita masa kecilnya, atau pekerjaannya. Terkhusus malam Jumat, Ayah bercerita kisah horor. Dengan suara yang dibuat berat, serak dan berbisik, ia seakan sedang menakut-nakuti kami. Suatu kali ia menceritakan kisah horor yang tidak biasa, katanya, cerita ini pernah diceritakan Kakek padanya.

Awal-awal kisahnya sangat meyakinkan, saya sudah membayangkan suasananya di tengah hutan dan bersiap dengan akhir kisah yang biasanya mengejutkan, apalagi malam itu hujan turun deras sehingga suasana bertambah seram. Akan tetapi, belum sampai lima menit tiba-tiba kami sadar bahwa kisah tersebut bikin kami kesal. Itu bukan kisah horor. Tidak seram. Juga tidak lucu. Waktu kami protes, Ayah malahan bilang ia saja tidak protes saat Kakek menceritakannya. Jadi, kami diam saja dan memilih tidur.

Sekarang, jika teringat malam itu, rasa-rasanya saya ingin ketawa keras-keras. Pada akhirnya, saya sadar bahwa, bukan kisahnya yang membuat tiap malam kami terasa spesial, melainkan rasa kebersamaan itu. Saya sangat merindukannya. Dan setiap kali merindukannya, tiap kali itu pula saya ingin pulang. Lebaran tahun ini saya sudah berjanji kepada Ayah akan pulang ke Bekasi, apalagi anak-anak saya juga kangen dengan kakek dan nenek mereka. Rasa-rasanya teramat lama sejak terakhir kali bertemu dua tahun lalu.

Anda mungkin penasaran kisah apa yang diceritakan ayah saya waktu itu. Atau, mungkin juga tidak. Bagaimanapun, saya akan menceritakannya.

Beginilah kisahnya.

*

Tepat di tengah-tengah hutan yang lebat, yang dihuni berbagai hewan dan roh-roh bergentayangan, berdiri sebuah pondok sederhana. Pondok itu satu-satunya di hutan tersebut, jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari desa terdekat. Bukan tanpa alasan pemilik pondok mendirikan pondok di tengah hutan. Saat itu sedang terjadi perang dahsyat, sehingga satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, empat anak laki-laki dan seorang kakek melarikan diri ke dalam hutan. Namun, itu bukan berarti mereka pengecut. Sang ayah merupakan seorang prajurit sejati, sementara sang ibu seorang perawat yang cekatan. Keduanya hanya bermaksud mengamankan keempat anak mereka dan kakek yang renta, setelah itu mereka akan kembali ke desa untuk ikut berperang.

Sebulan kemudian, ketika waktunya tiba, sang ayah dan sang ibu meninggalkan keempat anak mereka. Mereka pergi menjelang tengah malam di saat anak-anak mereka sedang tidur. Sang ayah berkata kepada sang kakek, “Ayah, hiburlah cucu-cucumu dengan bercerita seperti engkau pernah menghiburku dengan cerita-ceritamu.”

Pagi pun datang dan keempat anak malang itu tidak menemukan kedua orang tuanya. Mereka sangat sedih. Dua anak yang paling tua sudah memahami alasan kedua orang tuanya pergi. Mereka mengisi hari-hari dengan membantu sang kakek, mencari kayu bakar atau memasak. Mereka juga mengajak adik-adik mereka bermain di sungai, jalan-jalan, memetik buah beri dan kembali pulang sebelum hari gelap.

Malamnya, sebelum tidur, giliran sang kakek yang menghibur mereka. Sang kakek seharusnya menceritakan kisah dongeng atau petualangan ksatria, bukan cerita yang menyeramkan. Tetapi, keempat anak itu terlihat antusias. Mereka suka cerita hantu atau roh bergentayangan. Cerita-cerita seram membuat mereka jadi pemberani. Sang kakek pun tersenyum. Kemudian dipadamkannya lilin-lilin dan hanya menyisakan satu yang dipegangnya. Lalu didekatkannya lilin itu ke wajahnya sehingga wajah sang kakek terlihat menakutkan. Dengan suara yang dibuat serak dan berat, dimulailah cerita seram itu.

Begini ceritanya.

*

Tepat di tengah-tengah hutan yang lebat, yang dihuni berbagai hewan dan roh-roh bergentayangan, berdiri sebuah pondok sederhana. Pondok itu satu-satunya di hutan tersebut, jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari desa terdekat. Bukan tanpa alasan pemilik pondok mendirikan pondok di tengah hutan. Saat itu sedang terjadi perang dahsyat, sehingga satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, empat anak laki-laki dan seorang kakek melarikan diri ke dalam hutan. Namun, itu bukan berarti mereka pengecut. Sang ayah merupakan seorang prajurit sejati, sementara sang ibu seorang perawat yang cekatan. Keduanya hanya bermaksud mengamankan keempat anak mereka dan kakek yang renta, setelah itu mereka akan kembali ke desa untuk ikut berperang.

Sebulan kemudian, ketika waktunya tiba, sang ayah dan sang ibu meninggalkan keempat anak mereka. Mereka pergi menjelang tengah malam di saat anak-anak mereka sedang tidur. Sang ayah berkata kepada sang kakek, “Ayah, hiburlah cucu-cucumu dengan bercerita seperti engkau pernah menghiburku dengan cerita-ceritamu.”

Pagi pun datang dan keempat anak malang itu tidak menemukan kedua orang tuanya. Mereka sangat sedih. Dua anak yang paling tua sudah memahami alasan kedua orang tuanya pergi. Mereka mengisi hari-hari dengan membantu sang kakek, mencari kayu bakar atau memasak. Mereka juga mengajak adik-adik mereka bermain di sungai, jalan-jalan, memetik buah beri dan kembali pulang sebelum hari gelap.

Malamnya, sebelum tidur, giliran sang kakek yang menghibur mereka. Sang kakek seharusnya menceritakan kisah dongeng atau petualangan ksatria, bukan cerita yang menyeramkan. Tetapi, keempat anak itu terlihat antusias. Mereka suka cerita hantu atau roh bergentayangan. Cerita-cerita seram membuat mereka jadi pemberani. Sang kakek pun tersenyum. Kemudian dipadamkannya lilin-lilin dan hanya menyisakan satu yang dipegangnya. Lalu didekatkannya lilin itu ke wajahnya sehingga wajah sang kakek terlihat menakutkan. Dengan suara yang dibuat serak dan berat, dimulailah cerita seram itu.

Begini ceritanya.

*

Tepat di tengah-tengah hutan yang lebat, yang dihuni berbagai hewan dan roh-roh bergentayangan, berdiri sebuah pondok sederhana. Pondok itu satu-satunya di hutan tersebut, jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari desa terdekat. Bukan tanpa alasan pemilik pondok mendirikan pondok di tengah hutan. Saat itu sedang terjadi perang dahsyat, sehingga satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, empat anak laki-laki dan seorang kakek melarikan diri ke dalam hutan. Namun, itu bukan berarti mereka pengecut. Sang ayah merupakan seorang prajurit sejati, sementara sang ibu seorang perawat yang cekatan. Keduanya hanya bermaksud mengamankan keempat anak mereka dan kakek yang renta, setelah itu mereka akan kembali ke desa untuk ikut berperang.

Sebulan kemudian, ketika waktunya tiba, sang ayah dan sang ibu meninggalkan keempat anak mereka. Mereka pergi menjelang tengah malam di saat anak-anak mereka sedang tidur. Sang ayah berkata kepada sang kakek, “Ayah, hiburlah cucu-cucumu dengan bercerita seperti engkau pernah menghiburku dengan cerita-ceritamu.”

Pagi pun datang dan keempat anak malang itu tidak menemukan kedua orang tuanya. Mereka sangat sedih. Dua anak yang paling tua sudah memahami alasan kedua orang tuanya pergi. Mereka mengisi hari-hari dengan membantu sang kakek, mencari kayu bakar atau memasak. Mereka juga mengajak adik-adik mereka bermain di sungai, jalan-jalan, memetik buah beri dan kembali pulang sebelum hari gelap.

Malamnya, sebelum tidur, giliran sang kakek yang menghibur mereka. Sang kakek seharusnya menceritakan kisah dongeng atau petualangan ksatria, bukan cerita yang menyeramkan. Tetapi, keempat anak itu terlihat antusias. Mereka suka cerita hantu atau roh bergentayangan. Cerita-cerita seram membuat mereka jadi pemberani. Sang kakek pun tersenyum. Kemudian dipadamkannya lilin-lilin dan hanya menyisakan satu yang dipegangnya. Lalu didekatkannya lilin itu ke wajahnya sehingga wajah sang kakek terlihat menakutkan. Dengan suara yang dibuat serak dan berat, dimulailah cerita seram itu.

Begini ceritanya.

**

Komentar