Kisah Dua Jembatan

Tentu saja tempat itu jadi spot instagramable terbaik.

Tepat di tengah kota berdiri megah sebuah jembatan penyeberangan orang nan indah. Jembatan ini berbentuk melengkung menyerupai jembatan klasik di Eropa, terbuat dari baja terbaik, campuran beton kokoh dan dicat berwarna merah gelap. Tidak ada atap seperti kebanyakan jembatan penyeberangan orang, sebagai gantinya, tumbuhan rambat yang menjalar dari ujung ke ujung menaungi jembatan tersebut.

Beruntung kalau kau datang saat musim panen ketika tanaman rambat itu berbuah anggur yang ranum. Jembatan tersebut cukup lebar, cukup untuk dilalui pejalan kaki dari dua arah, jalur khusus pesepeda, dan jejeran bangku taman yang artistik. Tentu saja tempat itu jadi spot instagramable terbaik.

Ide membangun ulang jembatan itu datang dari Mr Hans Willem, Duta Besar Belanda yang juga seorang arsitek ternama. Beliau prihatin dengan kondisi jembatan penyeberangan orang yang kumuh dan membahayakan. Setelah berkonsultasi dengan gubernur, maka dimulailah proyek tersebut. Beliau sendiri yang mendesainnya. Dengan dukungan dana dari perusahaan swasta Belanda dan beberapa donatur, pembangunannya dimulai tepat di tanggal 17 Agustus.

Meski memakan biaya hampir 100 miliar rupiah, jembatan tersebut dibangun dengan efisien. Pekerjanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang digaji cukup besar. Rangkanya dibuat di bengkel-bengkel rakyat dengan pengawasan dan uji mutu yang ketat.

Tidak banyak masyarakat yang tahu perihal pembangunan tersebut. Mereka mengira jembatan tersebut sama seperti jembatan lainnya, kecuali dibuat lebih tinggi dan lebih besar. Barulah, setelah hampir satu tahun, peresmian jembatan tersebut diberitakan di media nasional dan internasional. Atas kesepakatan bersama, jembatan itu bernama Jembatan Jakarta – Amsterdam.

Setiap orang yang melewati Jembatan Jakarta – Amsterdam punya pengalaman tersendiri. Selain kesan teduh dan sejuk, tidak sedikit dari pengguna mendapatkan inspirasi saat berada di atasnya. Sutono Alto, seorang penulis kenamaan Jawa-Spanyol yang mendapat ide untuk novel kedelapannya saat menulis di atas jembatan ini mengatakan, seperti yang kukutip dari blognya, bahwa ia mencintai jembatan ini seperti ia mencintai tulisan-tulisannya.

Seniman lain, Dadang Sabarna, beberapa kali mendapat inspirasi untuk lukisannya saat merenung di atas jembatan. Pengamat psikologis terkenal asal Australia, Clark Bennet, saat berkunjung ke Jakarta menyarankan agar masyarakat sering-sering berjalan di jembatan ini karena bisa memberikan perubahan positif dan menambah kepercayaan diri.

Ribuan orang melintasi jembatan ini setiap harinya, dengan setengah diantaranya datang untuk mencari inspirasi. Kau bisa mendengar teriakan gembira mereka saat mendapatkan inspirasi, yang kemudian disusul suara tepuk tangan memberikan selamat.

Kita sudahi dulu kisah yang menginspirasi tersebut untuk beralih ke jembatan lain nun jauh di sana. Jembatan tersebut bernama Jembatan Kacapi.

Jembatan Kacapi bediri di atas sebuah sungai besar, terbuat dari kombinasi batang bambu dan kayu besi, yang sengaja dibangun lebih tinggi supaya perahu bisa lewat di bawahnya. Jembatan Kacapi menghubungkan dua desa. Di usianya yang sudah lebih dari seratus tahun, jembatan tersebut sudah melewati berbagai cobaan; diempas derasnya air sungai, diguncang gempa, hingga disapu angin puting beliung. Namun, jembatan Kacapi tetap berdiri kokoh.

Sore itu, seorang pemuda bernama Hamdan berdiri tepat di tengah jembatan tersebut. Hamdan baru saja balik dari Bekasi setelah melalui delapan jam perjalanan yang melelahkan. Ia tampak lelah, lusuh, lapar dan … putus asa. Perasaan malu membuatnya enggan langsung pulang ke rumah. Ia lebih memilih memandangi kilauan air sungai dan anak-anak yang baru selesai berenang. Kalau saja pandangannya menoleh sedikit ke sebelah kiri, maka ia bisa melihat rumahnya beserta kebun pisang milik keluarganya yang terlantar. Ia tahu, dalam rumah itu ada ibunya yang sedang mendo’akannya.

Dua bulan lalu Hamdan pamit pada ibunya untuk mencari kerja di Bekasi. Ibunya tidak bisa melarang, keinginan sang anak terlalu kuat, apalagi temannya sudah menjanjikan akan memasukkannya kerja di pabrik ban. Tapi Hamdan tidak pernah menemukan temannya. Nomor selulernya tidak aktif, alamatnya pun tidak ketemu. Dengan uang yang pas-pasan, ia bertahan hidup di Bekasi.

Sebentar lagi masuk waktu maghrib, namun kaki Hamdan masih berat untuk melangkah. Hamdan berpikir mungkin kota bukanlah tempat yang cocok untuknya. Mungkin takdirnya ada tempat ini. Di desanya.

Kini ia memikirkan kebun pisangnya. Kebun pisang yang seharusnya dikelola olehnya malah ditinggalkan begitu saja. Entah kenapa, sejak ayahnya tiada, Hamdan merasa hampa. Kebun pisang itu menyimpan banyak kenangan akan sang ayah. Ketika ia dan sang ayah membawa bertandan-tandan pisang ke pasar di desa seberang dengan gerobak sepeda motor. Ketika ia menunggu pembeli sambil mengerjakan PR. Ketika ia dibuatkan ayahnya senapan mainan dari pelepah daun pisang. Ia merasa bersalah telah menelantarkan kebun pisang itu.

Dengan kuota yang masih tersisa, ia membuka YouTube di ponsel dan menonton berbagai resep pisang. Ia pikir, sepertinya membuat keripik pisang, pisang sale atau es pisang ijo terlihat cukup mudah. Apalagi kebun pisangnya bisa ditumbuhi berbagai jenis pisang, mulai dari pisang keprok sampai pisang raja. Hamdan tersenyum. Ia tahu apa yang akan ia lakukan dengan kebun pisangnya: ia akan membuat sebuah taman. Taman Pisang.

Hamdan membangun taman impiannya dengan kerja keras, do’a sang ibu dan uang tiga juta hasil penjualan sepeda motor. Taman tersebut terdiri dari kebun pisang, saung, taman baca, arena bermain anak, dan tentu saja warung kue pisang ibunya. Tidak ada yang tidak suka keripik pisang buatan ibunya, atau pisang goreng renyah, atau es pisang ijo yang enak dinikmati di musim panas. Pada saat kutulis ini, Hamdan dan ibunya sudah memiliki 15 orang karyawan.

“Taman Pisang Fenomenal,” tulis sebuah artikel koran lokal setelah mewawancari Hamdan beberapa waktu lalu. Dalam artikel tersebut dan beberapa artikel sebelumnya,  Hamdan selalu menekankan bahwa kesuksesannya berawal dari renungannya di atas jembatan.

JEMBATAN, kata itulah yang menjadi kuncinya.

Orang-orang pun mulai mendatangi Jembatan Kacapi. Tapi bukan untuk menyeberang. Mereka melakukan apa yang Hamdan pernah lakukan: merenung.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, dalam waktu singkat kisah-kisah sukses mulai bermunculan. Ada Salon Teh Nining yang penuh gaya, Mie Ayam Mang Karta yang super pedas, Pijat Asep Mandiri yang menyegarkan dan puluhan kisah lainnya. Kesuksesan mereka menyebar seperti virus. Orang-orang terus mendatangi jembatan hingga memenuhi tiap sudutnya, jumlahnya semakin bertambah dari hari ke hari.

Sayangnya, kisah Jembatan Kacapi harus berakhir di bulan Januari. Usai hujan lebat selama tiga malam berturut-turut serta derasnya air sungai, kaki-kaki jembatan tidak mampu lagi menahan bebannya yang sudah teramat berat. Jembatan itu pun runtuh, ratusan orang jatuh ke sungai. Beruntung tidak ada yang mati. Untuk sementara tidak ada niat untuk membangun jembatan kembali, setidaknya sampai pemerintah daerah menyediakan anggaran untuk membangun jembatan dari beton atau baja. Sebagai gantinya, mereka menggunakan rakit atau getek untuk menyeberang. Mereka juga mengganti tempat merenung dengan memanjat pohon. Begitulah, mereka mengira selama berada di tempat tinggi, mereka akan dapat inspirasi.

Antara Jembatan Kacapi dan Jembatan Jakarta – Amsterdam sama-sama menghubungkan dua tempat, sama-sama tempat yang ideal untuk mencari inspirasi. Bedanya, jembatan Kacapi sudah runtuh sementara Jembatan Jakarta – Amsterdam masih tetap berdiri kokoh. Akan tetapi, belum genap satu tahun berdiri, Jembatan Jakarta – Amsterdam menjadi masalah baru Jakarta: sampah-sampah bertebaran, penuh corat-coret, banyak orang melakukan berteriak-teriak sendiri, melompat-lompat tak karuan dan menari tidak jelas. Di malam hari jembatan tersebut terkesan menyeramkan, bahkan beberapa YouTuber pemburu hantu kapok membuat video di sana.

Sebelumnya tidak ada yang mengadu mengenai masalah ini sampai suatu hari Duta Besar Inggris mendatangi Gubernur Jakarta. Ia menceritakan pengalamannya diikuti seorang pria dari belakang dan melakukan persis yang Pak Dubes lakukan. Mendengar pengaduan itu, Pak Gubernur segera turun tangan menyelesaikan permasalahannya. Jembatan Jakarta – Amsterdam dibersihkan, catnya diganti warna putih, bangku-bangkunya dicabut, lalu diberlakukan larangan berdiri di jembatan lebih dari sepuluh menit.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi
Articles: 41

Leave a Reply