Kisah Cinta Tom Love – Eps. Pilot

Awal Mula

Dua setengah tahun lalu, dua puluh toko buku dikejutkan dengan kedatangan tumpukan novel misterius. Tanpa nama pengirim. Tanpa tagihan. Satu-satunya informasi tentang buku itu hanya nama sang penulis: Tom Love. Dua puluh tiga ribu sembilan ratus delapan puluh tiga kopi bukunya ludes hanya dalam waktu satu jam. Tidak ada foto penulis. Tidak ada biografi singkat. Siapakah Tom Love?

“Semua terkunci. Aku tidak tahu bagaimana buku itu bisa ada disini,” kata seorang manajer toko buku di Jakarta. “Lima puluh persen penjualannya kami sumbangkan untuk tiga panti asuhan seperti pesan Tom Love.”

Satu bulan kemudian tumpukan novel misterius itu datang lagi dengan kisah cinta yang lebih memikat.

“Tom menyatukan cinta kami kembali,” kata Fani, seorang Teller Bank.

“Dari mana kautahu buku itu dijual di sana?” tanyaku.

“Seseorang mengirim surat. Tanpa nama. Tanpa alamat.”

“Datang begitu saja?”

“Iya.”

“Aneh.”

Tepat dua bulan setelah kedatangan novel kedua, Tom Love meluncurkan novel cinta lainnya.

“Tom membuat buku lain jadi nomor dua,” kata manajer toko buku sama yang pernah kutanya.

Tiga bulan kemudian, Tom meluncurkan buku ketiganya.

“Dari mana kautahu Tom Love akan meluncurkan novel terbarunya hari itu?” tanyaku pada Rissa, seorang arsitek.

“Seseorang mengirim SMS. Aku tahu SMS itu dari Tom Love karena inisial TL-nya.”

“Dikirim begitu saja?”

“Iya. Bagaimana denganmu? Kau sudah membacanya?”

Empat bulan setelah itu, novel keempat Tom Love diluncurkan. Orang-orang yang telah mendapat pemberitahuan dari Tom Love (lewat surat, SMS, email atau bisikan teman) menyerbu toko buku yang sudah ditentukan. Puluhan ribu bukunya habis dalam sekejap.

“Sungguh, itulah yang pernah kubilang,” kata seorang pakar motivasi dalam sebuah wawancara di TV. “Tom Love membuat ribuan orang bergandengan tangan, mengubah kebencian dengan kasih sayang, membuat tirani tunduk di hadapan rakyat dan meluluhkan hati yang keras.”

“Satu kata: Awsome!” puji seorang sastrawan terkenal dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia.

Seorang pakar psikologi pesimistis mengatakan bahwa sosok Tom Love bukanlah siapa-siapa kecuali seorang pria biasa atau di bawah itu yang bermimpi menjadi sosok sempurna.

Spekulasi tentang siapa itu Tom Love terus berkembang dan tidak masuk akal.

“Kukira Tom Love itu Tom Cruise.”

“Sepertinya Bruce Wayne.”

“Sudjiwo Tedjo?”

Dan sayembara.

“Satu miliar bagi siapa saja yang bisa menunjukkan di mana Tom Love!” kata seorang pengusaha baja dalam peresmian pabrik barunya.

Tapi, tetap saja, tidak ada yang pernah tahu siapa Tom Love sebenarnya. Ia masih menjadi Si Penulis Misterius.

“Jadi, kau dapat pesannya lewat surat?” tanyaku pada seorang mahasiswi kedokteran.

“Tidak. Seseorang mendatangiku, kami berkenalan dan nongkrong di kafe. Ya ampun, ia ganteng banget. Kami ngobrol sebentar, lalu ia berbisik di telingku, mengatakan bahwa akan ada penjualan buku Tom Love terbaru. Kemudian ia memberitahu waktu dan tempatnya.”

“Kau tidak mengira orang itu Tom Love, kan?”

“Tentu saja tidak.”

“Kenapa?”

“Kurasa Tom Love belum akan menampakkan diri. Belum waktunya.”

“Kok bisa tahu?”

“Kau belum baca buku pertamanya?”

“Tentang apa? Bisa kauceritakan padaku?”

“Bagian 9. Rudi menyebut tidak akan muncul tahun ini. Pun tahun berikutnya, tahun setelah itu dan tahun berikutnya setelah itu. Kau tahu itu artinya berapa tahun?”

“Lima tahun?”

“Entahlah. Aku hanya menduga-duga.”

“Aneh.”

Tentunya, para penggemar Tom Love tidak sabar menanti buku kelimanya. Kalau menilik pola penjualannya, buku itu setidaknya akan dijual lima bulan lagi. Lalu, seperti apa kelanjutannya? Apakah akan ada kejutan lagi? Pertanyaan itulah yang paling banyak didiskusikan di forum-forum buku di internet.

Ada yang berpendapat, sekaligus berharap, buku kelimanya akan melanjutkan cerita sebelumnya. Mereka sudah terlanjur jatuh cinta dengan tokoh-tokohnya, terutama kepada Yustinah yang sangat sabar dan perhatian. Mereka juga menyukai Amir, karakter yang kurang menonjol itu. Latar belakang Amir yang anak miskin dan penuh perjuangan perlu dibuat satu buku sendiri. Profesor Samudra, yang dari Universitas Brawijaya itu, mengatakan bahwa kisah Amir bisa memotivasi para mahasiswanya untuk mengejar mimpi.

Aku menikmati diskusi mereka tanpa sekalipun ikut mengomentari. Namun, kalau saja boleh memilih, aku berharap Tom Love menulis cerita bergenre horor. Bukannya aku tidak suka cerita romantis atau karena aku penggemar horor, hanya membayangkan seandainya Tom Love menulis cerita horor, akankah ia mengganti namanya menjadi Tom Stab atau Tom Sesuatu Yang Menakutkan? Aku masukkan pertanyan itu ke dalam daftar pertanyaan lain yang akan kuajukan saat bertemu Tom Love nanti.

Bulan yang dinantikan pun tiba, tapi Tom Love belum menunjukkan tanda-tanda akan meluncurkan buku terbarunya. Sekalipun begitu, para penggemarnya masih sabar menunggunya, masih membacakan dan mendiskusikan bukunya di klub-klub buku. Mereka malah berpikir, mungkin saja pola penjualannya bisa saja berubah; bisa enam bulanan, delapan bulanan atau bahkan satu tahunan. Seorang sosiolog terkemuka, dalam sebuah wawancara di TV, mengatakan bisa jadi buku keempat Tom Love jadi buku terakhirnya. Ia menambahkan, bahwa seandainya memang betul terjadi, maka keempat buku Tom Love akan jadi barang koleksi yang mahal. Pendapatnya sepertinya menjadi kenyataan setelah satu tahun berlalu dan Tom Love masih belum meluncurkan buku terbarunya.

Pelan-pelan nama Tom Love mulai tergantikan penulis-penulis lain, buku-bukunya pun sudah jarang dibicarakan. Sampai akhirnya, tepat dua setengah tahun setelah buku pertamanya terbit, nama Tom Love benar-benar hilang bak ditelan bumi. Orang-orang sudah melupakannya.

Bagiku, ini suatu fenomena yang aneh. Belum pernah kudengar beritanya seorang penulis terkenal yang dilupakan begitu saja dalam waktu singkat. Bahkan, Harper Lee, penulis yang di sepanjang hidupnya hanya menulis dua novel masih dibicarakan sampai sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku masukkan pertanyan itu kedalam daftar pertanyaan lain yang akan kuajukan saat bertemu Tom Love nanti.

Untuk beberapa lama aku masih mencari tahu tentang Tom Love, masih memburu keberadaannya. Sampai akhirnya aku tersadar, bahwa aku juga punya banyak hal yang harus dikerjakan. Aku harus mengurus perusahaan, berkebun, membacakan buku cerita untuk para orang tua di panti jompo, dan segudang kegiatan lain. Aku senang ketika menemukan diriku bisa kembali menjalani rutitinas, kembali ke kantor dan memimpin rapat bulanan, kembali berkebun, kembali membacakan buku cerita untuk para orang tua di panti jompo setiap Sabtu, dan melakukan segudang kegiatan lain yang seharusnya bisa mengalihkan perhatianku dari ‘perburuan’ Tom Love. Sekalipun begitu, rasa penasaran akan Tom Love masih terus menggelayutiku. Bahkan, sekarang ia seolah berada di dekatku, dan lucunya, terkadang aku menyangka Tom Love adalah versi diriku yang lain. Sampai pada suatu hari untuk pertama kalinya aku mendapat pemberitahuan itu. Lewat firasatku. Aku tiba-tiba saja tahu kapan dan di mana Tom Love akan meluncurkan buku terbarunya.

Tepat satu pekan setelah libur lebaran, di musim hujan yang sejuk, di saat orang-orang lebih senang bermalas-malasan ketimbang menyelesaikan pekerjaan, ketika inflasi turun setengah persen dan penjualan mobil sedang lesu, Tom Love kembali meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Surat Terakhir. Sebuah cerita cinta lain di episode baru dengan akhir yang mengharukan.

Buku kelimanya sangat berbeda dari sebelumnya. Ceritanya benar-benar baru. Begitu juga dengan tokoh-tokohnya. Akan tetapi, perbedaan yang paling mencolok adalah, kali ini Tom Love memasang foto dirinya di sampul belakang. Kemunculan bukunya dengan foto tersebut seolah menjadi jawaban awal dari pertanyaan: “Siapakah Tuan Misterius Ini?”

Namaku Ismail, seorang CEO, blogger dan relawan panti jompo. Ini ceritaku memburu keberadaan Tom Love.

Lanjut>>

Komentar