Kisah Cinta Tom Love – Eps. 7

Erik

Aku terbangun pukul 04:28, masak air setelah sholat subuh, menyeduh kopi dan merebus mi instan. Susana gelap di luar lebih karena mendung. Angin bertiup kencang dan membuat gaduh atap rumah. Sambil menunggu kepastian hujan turun, aku tidur-tiduran di kursi ruang tamu. Kemudian aku mengirim SMS kepada Gita, salah seorang mahasiswaku, mengabarkan bahwa aku tidak akan mengajar hari ini, lusa dan kemunginan hari setelah lusa. Selama itu aku akan pergi ke Jakarta, tentu saja untuk bertemu Tom Love. Tapi aku tidak menyertakan alasan tersebut pada Gita.

Gita mahasiswa yang bisa kuandalkan. Dia tidak begitu populer, tidak cantik, tidak cerdas, memakai behel, berkacamata bulat besar, rambut coklatnya dikepang kuda. Kecuali Arya, tidak ada yang menyukai senyumnya. Arya merupakan mahasiswa jurusan Fisika yang terkadang muncul tiba-tiba di kelasku. Arya terlalu tampan, terlalu cerdas dan terlalu disukai banyak perempuan. Tapi Arya dan Gita sangat dekat. Bahkan ada cinta di antara mereka. Bukan sebagai sepasang kekasih, mereka kakak-beradik.

Aku dan Arya sering mengobrol usai kuliah, kebanyakan membahas tentang matematika, terkadang membicarakan hal lain, seperti musik dan sepakbola. Arya bilang aku memiliki kesukaan yang sama dengan Erik, sepupunya. Meski belum pernah bertemu, aku dan Erik sepakat bahwa musik di era tahun 70’an adalah yang terbaik. Kau pun pasti setuju. Kami juga menyukai Soto Betawi dan penggemar berat Real Madrid.

“Kurasa kau harus bertemu sepupuku, Prof,” kata Arya.

“Kuharap,” kataku, mempertimbangkan untuk tidak memberitahu perihal undangan rahasia Tom Love padanya. Tapi ternyata aku tidak bisa. Karena aku terlanjur berkata,

“Kau boleh percaya atau tidak. Tom Love mengundangku untuk bertemu.”

“Kau bercanda, Prof?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Tidak. Ini serius,” kataku, menunjukkan undangan tersebut. Aku juga menunjukkan tulisan tangan Tom Love di buku edisi spesialnya.

Arya merebutnya dan membacanya sebentar, lalu berkata,

“Wow, ini benar-benar tulisan Tom Love! Kau beruntung, Prof.”

“Aku tahu. Hanya memastikan saja.”

“Jadi, Tom memintamu membawa alat tulis?”

“Sepertinya aku akan mewawancarai Tom Love.”

“Itu benar, Prof. Atau, mungkin Tom Love akan mengajarimu menulis.”

S **t!”

“Kau baru saja bilang kata ‘S’?”

“Itu bahasa Inggris, spontan aja.”

“Aku tahu Prof.”

Kini aku sedang duduk di ruang tamu menunggu pesan balasan Gita sambil menikmati kopi. Tampaknya hujan tidak jadi turun. Melalui jendela, kulihat awan-awan kelabu bergeser perlahan, dan tidak berapa lama sinar matahari sudah menerangi sebagian jalanan. Gita baru membalas SMS-ku jam 07:02.

“Siap bos!” kata Gita.

Mengirim pesan pada Gita berarti mengirim pesan kepada kelas. Lihat saja, tidak sampai sepuluh menit, aku kebanjiran SMS di ponsel yang berasal para mahasiswaku yang berisi kata-kata yang menyentuh, mendoakanku supaya cepat sembuh.

Lanjut>>

Komentar