Kisah Cinta Tom Love – Eps. 6

Kampus

Perasaan ini masih tidak karuan saat tiba di tempat parkir, membuatku nyaris tidak bisa menemukan Vespaku. Aku menenangkan diri sambil mengingat-ingat sebuah bilangan yang bisa membawaku pada Vespaku. Perasaan diawasi masih berlanjut hingga perlu beberapa waktu untuk mengingatnya.

Aku ingat memarkirnya di depan tulisan H 9 besar berwarna putih. Poisisiku sedang berada di barisan Z 3, di batas yang cukup jauh dari H 9. Untuk menuju ke sana aku mesti berjalan memutar karena tidak bisa mengambil jalur memotong yang sudah dipenuhi ratusan sepeda motor berhimpitan. Aku melewati Z 2, Z 1, Z, Y 15, Y 14 … tapi kemana Y 13? Apakah ini sebuah teka-teki deret ukur?

Aku tidak bisa menuju H 9 tanpa mengetahui letak Y 13. Tampaknya Y 13 sengaja dihilangkan untuk menguji orang sepertiku. Tapi sobat, tidak ada yang bisa mengelabuiku karena aku seorang Profesor. Aku berjalan sambil mencoba mengutak-atik beberapa rumusan dalam kepala dan mencari-cari bilangan yang akan muncul selanjutnya. Aku menemukan bukan hanya Y 13 yang tidak ada, di sepanjang barisan tidak ada bilangan lagi hingga berakhir di tiang V 6. Hal ini tentu saja membuatku semakin penasaran. Dua menit kemudian, peruntungan intelektualku datang dari seorang tukang parkir ramah yang datang menghampiriku.

“Dimana Y 13?”

“Dindingnya baru dicat ulang. Tukang catnya lupa menulisnya lagi.”

“Terima kasih.”

Aku menemukan Vespa telur asinku tidak lama kemudian. Dengan perasaan masih diawasi masih menggelayut, aku mencoba bertindak senyaman mungkin. Namun, ketika merasa tidak ada lagi orang-orang yang memerhatikan, kehadiran mendadak nenek berbaju pink sunggguh sangat mengejutkan. Dia menepuk bahuku dua kali dan berkata:

“Kau anak muda yang beruntung,” dia tersenyum hingga tampak sebuah ruang kosong di dalam mulutnya. Lalu dia mengeluarkan sarung tangan pink dari dalam saku baju dan memakainya, dan setelah itu menaiki skuternya. Sambil tersenyum dia memakai helm pink-nya, lalu menyalakan tombol starter dan memainkan gas seperti pebalap MotoGP. “Sangat beruntung,” lanjutnya. Kemudian dia menjalankan sepeda motornya. Tas anyaman pink-nya tergantung di bahu kirinya, dan bisa kulihat novel Tom Love di dalamnya.

Aku tiba di kampus pukul 12:07, masih ada waktu selama dua puluh menit untuk makan siang dan sholat zuhur. Aku nongkrong di kantin, pesan soto dan segelas es teh manis, lalu makan siang bersama gerombolan mahasiswa. Aku senang makan di tempat ini ketimbang mengobrol dengan sesama dosen atau makan siang eksklusif bersama dekan atau rektor. Aku senang makan siangku terganggu oleh kehadiran mahasiswa yang bertanya tentang materi kuliah. Aku senang mendengarkan bisikan-bisikan ilmu matematika dasar, gosip-gosip diantara mahasiswa hingga keluhan-keluhan yang tidak terdengar para pejabat kampus. Perlukah kampus berterima kasih padaku yang telah mencegah aksi mogok mahasiswa karena kenaikan biaya kuliah bulan lalu?

Memang, belakangan sosok Tom Love lebih sering dibicarakan di kampus kami. Atau, mungkin nama Tom Love telah lama dibicarakan saat diriku masih terkungkung di dalam penjara akademis. Kalau begitu, anggap saja kehidupanku sebelumnya sangat sempit sehingga tidak ada waktu untuk membuka mata dan wawasan akan ilmu dan pengetahuan lainnya. Sesungguhnya itulah yang terjadi pada sebagian rekan-rekan dosen yang menafikkan bahwa ada kesenangan lain di luar kegiatan akademis. Seperti salah seorang kawanku, seorang dosen Biologi UNPAD, yang sering mengucapkan istilah-istilah latin. Pada awalnya dia hanya menggunakannya di kelas, tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaannya dan kini hampir semua ucapannya berbahasa latin.

“Tolong berikan Oryza Sativa itu padaku! Lapar nih,” bisa dipastikan dia tidak peduli dengan obrolan-obrolan fiksi, sesuatu yang sering dihindari ilmuwan sains.

Aku menyelesaikan makan siang pukul 12:16 dan selesai sholat zuhur tepat pukul 12.27. Hitung-hitungan waktuku memperkirakan, seperti biasa, aku akan tiba di kelas sebelas menit sebelum jam satu (12:49). Aku mempercepat langkah menuju ruang dosen untuk mengambil laptop dan membawanya kedalam kelas. Tapi karena siang itu aku telat satu menit (12:50) dari biasanya, maka harus ada satu menit lain yang mesti kusimpan sebagai pengganti satu menitku yang hilang, dan untuk itu aku memutuskan tidak menggigit ujung gagang kacamata setelah memasang kabel proyektor ke laptop.

*

Kelas jam satu kelas favorit dosen mana pun. Empat puluh mahasiswa pandai, antusias dan mengantuk.

Mengajar matematika sekarang ini berbeda dengan mengajar sepuluh tahun lalu. Meskipun teori matematika murni tetap diajarkan, akan tetapi teori dasar dan contoh aplikatif harus lebih diutamakan. Kebutuhan ini bisa dilihat dari perkembangan aplikasi teknologi informasi yang sangat cepat di mana matematika menjadi pondasinya. Untuk menambah semangat belajar para mahasiswa, aku biasa menyampaikan kuliah motivasi di empat puluh menit pertama kuliahku.

“Kalian beruntung mengambil jurusan matematika,” kataku membuka kuliah, yang kemudian kuperjelas pernyataanku dengan menegaskan sebagian besar miliuner baru datang dari mahasiswa matematika (sebagian lain dari mahasiswa fisika drop out).

Tentu saja kata-kataku memotivasi mereka. Hal itu terbukti dari dari kesuksesan puluhan senior mereka menjadi pengusaha IT walaupun tidak disangkal belasan lainnya mesti berurusan dengan polisi akibat ulah mereka meretas situs-situs perusahaan raksasa, sementara sebagian lain mengacaukan situs-situs milik pemerintah dan membobol kartu kredit. Mereka terhipnotis saat kuceritakan pengalamanku memberikan keuntungan jutaan dolar kepada para korporasi, terlebih waktu kubilang aku bisa mengantungi puluhan ribu dolar dalam semalam.

Setengah jam kemudian kelas berubah heboh seperti dalam seminar Tung Desem Waringin (terkadang aku juga sekalem Mario Teguh). Aku memberi komando kepada mereka untuk mengangkat tangan dan mengepalkannya, membuka mulut lebar-lebar dan meneriakkan: “AKU YAKIN! AKU BISA! AKU MATEMATIKA! AKU KAYA!” yang diiringi hentakkan kaki-kaki ke bumi dengan melompat-lompat untuk memberikan guncangan hebat. Dan untuk kesekian kalinya aku mendapat pesan singkat dari dosen kelas sebelah yang meminta kami untuk tidak berisik.

Tapi bukan karena itu kelas kami berubah sunyi. Terdengar ketukan suara di pintu yang cukup keras. Ketukan itu terus berlanjut dan cukup mengganggu, hingga satu menit kemudian ketukan itu berhenti dan berganti bunyi gerendel pintu yang sulit dibuka. Aku memberi isyarat supaya kelas tetap tenang. Kemudian aku melangkah ke pintu dan membantu seseorang di luar untuk membukanya. Seorang perempuan berkacamata bundar melangkah masuk sambil meminta maaf. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju kursinya, lengannya mengapit beberapa buku yang  lumayan tebal. Saat dia meletakkan semua bukunya di atas meja, aku mendengar suara-suara berbisik:

“Dia dapat novel Tom Love terbaru.” … “Bagaimana caranya?” … “Sungguh beruntung” … “Aku cinta Tom Love …”

Lanjut>>

Komentar