Kisah Cinta Tom Love – Eps. 5

Undangan

Perubahan perilaku akademisku berpengaruh pada caraku menyampaikan kuliah. Entah bagaimana kalkulus bisa kusampaikan dalam bentuk puisi, terkadang mendayu-dayu dan malah menjurus romantis. Mungkin itulah alasan mengapa jumlah mahasiswa terkantuk-kantuk di kelasku semakin banyak. Kurasa, perlu penambahan sedikit ketegangan dalam mata kuliah Analisis Abstrak.

Pencarian akan keindahan sastra mencapai puncaknya ketika aku mulai mengenal lebih dalam sosok flamboyan bernama Tom Love. Kau mungkin mengenal Tom Love lebih dulu dariku, membaca karya-karyanya, atau bahkan ikut dalam antrian buku terbarunya beberapa waktu lalu. Aku selesai membaca buku pertamanya di pertengahan Mei 2011, kemudian lanjut dengan menghabiskan tiga ratus dua puluh halaman seri keduanya. Tidak ada jaminan kau akan ketagihan membacanya, tapi Tom menulis dengan sangat memikat. Itulah kenapa orang-orang selalu menunggu karya Tom selanjutnya.

Sisi lain dari Tom Love yang paling kusuka adalah kepribadiannya. Aku mungkin terlalu berlebihan mengatakan Tom Love lebih tampan dari Tom Cruise atau bahkan Tommy Page. Maksudku, jika dikombinasikan antara ketampanan fisik, sifat rendah hati dan keterampilannya menulis, tentu saja Tom Love lebih unggul dari mereka. Aku harus mengatakan sejujurnya, bahwa foto di sampul belakang novel kelimanya bukanlah wajah Tom Love. Kau mengira aku pernah berbohong? Tapi kau pasti tidak akan percaya saat kubilang aku pernah bertemu dengannya. Well, supaya tidak membuatmu semakin curiga dan mengatakan aku seorang pembohong, sebaiknya kuceritakan pertemuan bersejarah itu.

Peristiwa itu dimulai di hari yang tidak normal sejak diumumkan peluncuran novel terbaru Tom Love edisi terbatas, dan diperkirakan akan menjadi salah satu novel langka yang diburu para kolektor. Kau pasti tahu judulnya, Surat Terakhir yang terkenal itu. Pagi itu seolah menjadi peristiwa paling penting sepanjang hidupku bersama ratusan penggemar Tom Love yang sudah menunggu di depan toko buku. Kami tidak sabar menunggu pintu dibuka. Melalui kaca kami mengintip tumpukan novel berwarna merah itu.

Pukul 09:45. Dua satpam mengeluarkan beberapa standing banner promosi dan menyusunnya di depan pintu masuk.

Pukul 10:15. Kami mulai gelisah. Tiga pramuniaga berbaris di pintu masuk, musik instrumental dimainkan. Jumlah kami semakin banyak dan menumpuk di depan toko. Tiga satpam dan tiga pramuniaga menahan kami yang mulai mendesak masuk. Kerumunan semakin banyak dan tidak terbendung, dorongan datang bergelombang, sampai akhirnya kami berhasil menjebol tembok pengamanan dan menyerbu masuk seperti anak-anak kecil berburu mainan. Aku tidak sengaja menabrak seorang pramuniaga cantik dan terjatuh di atasnya.

“Maaf,” kataku, kemudian kami sama-sama bangkit dan berdiri. Dia memandangiku sebagaimana aku memandanginya. Namanya Sari, aku tahu dari name tag-nya. Aku akan selalu mengingatnya.

“Tidak apa-apa,” jawabnya tersenyum. Senyum indahnya menahanku untuk bergerak. “Pergilah, atau kau akan kehabisan.”

Aku baru melangkah beberapa meter ketika seseorang mendorongku dari belakang. Aku jatuh tiarap di samping seorang pria bersemangat yang baru saja mengalami kejadian yang sama. Pria itu terlihat waspada seolah tengah berada dalam medan pertempuran.

“Sersan!” ia berbisik keras memanggilku.

“Kapten?” jawabku spontan.

Kulihat ia mengarahkan dua jari ke matanya, lalu menunjuk ke arah depan.

“Hitungan ketiga.”

Aku melihat sekeliling. Kondisi masih belum aman, pergerakan musuh masih jelas terlihat di depan sana, langit tidak henti-hentinya menumpahkan air. Tapi Kapten sudah terlanjur berhitung.

“Satu …, Dua …, Sekarang!

Dengan cepat kami bangkit dan berlari sambil menunduk menghindari muntahan peluru. Dengan hati-hati kami melewati melintasi rak-rak buku, melompati ranjau dan aral yang melintang sebelum bisa mengamankan diri di belakang rak buku POLITIK. Dari situ aku bisa melihat tumpukan novel Tom Love di bagian BUKU TERBARU. Akan tetapi, apa yang terjadi di hadapanku bukan sebuah perang yang adil. Orang-orang saling menyikut, mentekel, dan mendorong. Tumpukan buku Tom Love habis dalam sekejap!

“Kapten?” aku memanggilnya. “Kapten?” Tapi Kapten tidak menjawab. Ia gugur.

Aku berdoa sejenak untuk Kapten. Kemudian aku berinisiatif bergerak menuju ke bagian FIKSI. Kulihat di sana setidaknya ada seratus lima puluh buku di sana tengah tercabut satu per satu, dan …

Huff!

Aku melompat dan berhasil menarik sebuah buku dua detik lebih cepat dari sambaran pria berjaket merah di sebelah kanan.

Alhamdulillah! Bravo! Eureka!

Masih bisa digambarkan kegembiraanku saat itu. Ini sebuah mimpi yang menjadi kenyataan sejak terakhir kali aku berhasil memecahkan Teori Terakhir Ferguson: The Footbal Puzzle.

Sayangnya, kegembiraan itu hanya sementara, langkahku dihentikan seorang pria tua yang tiba-tiba muncul di hadapanku dengan wajah memelas. Ia menunjukkan lima lembar uang sepuluh ribu lecek di telapak tangan kanan dan beberapa recehan di telapak tangan kiri yang gemetaran. Lama aku memandang wajah sendunya, pikiranku melayang membayangkan kehidupan pria tua itu. Mungkin uang itu hasil dari tabungannya selama bertahun-tahun. Mungkin ia mendapatkannya dengan kerja keras. Mungkin ia membutuhkan buku ini untuk cucunya yang sakit. Setega itukah aku? Tanganku terasa ringan saat menyerahkan buku itu padanya dan menolak pemberian uangnya. Ia berterima kasih dan mendoakanku.

Tapi aku tidak punya waktu untuk mengamini. Aku berlari ke arah bagian buku REKOMENDASI dan beradu cepat dengan pria berjaket merah. Keadaan semakin panas, AC tidak lagi mendinginkan suasana. Dari sisi tidak terduga, pria berjaket merah mendorongku dan membuatku hampir merobohkan jejeran rak buku. Sial! Ia bahkan tidak meminta maaf.

Aku mengejarnya, menarik jaketnya, lalu mengempasnya. Ia membalas dengan melompat dan menerjang sehingga kami sama-sama terjatuh menimpa kerumunan orang. Buku-buku berserakan di lantai. Dadaku terasa sesak, tapi rasa sakit itu seketika lenyap saat menemukan buku Tom Love di bawah dadaku. Sementara itu, di ujung rak, pria berjaket merah melempar sebuah buku ke lantai sambil memaki-maki sendiri.

Pada saat berjalan menuju kasir, kurasakan seseorang menarik-narik bajuku. Aku berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis kecil malang sedang menatapku dengan matanya yang bulat. O, hati mana yang tidak tersentuh melihat wajah tidak berdosa itu? Tanpa bersuara gadis kecil malang itu menunjuk buku di tanganku.

“Baiklah, ini buat kamu,” kataku, memberikan buku itu kepadanya. “Kau memang beruntung, Nak. Kau memang beruntung.”

Setidaknya aku sudah mengikhlaskannya. Aku juga hanya bisa pasrah ketika tidak berhasil mendapatkan buku Tom Love di bagian SASTRA. Orang terakhir yang beruntung mendapatkannya adalah seorang nenek berbaju pink.

Tidak ada lagi buku Tom Love tersisa.

Sebagai seorang ilmuwan, tentunya kegagalan ini menjadi sebuah pelajaran berharga. Aku melakukan kesalahan sejak awal dengan tidak menghitung kemungkinan-kemungkinan peluang mendapatkan buku Tom Love.

Kemudian aku berjalan sepanjang lorong rak buku MASAKAN sambil melirik judul-judul beraroma menggoda tanpa bisa merasakan hasil masakannya. Aku sering tertipu ketika melihat sekilas buku berwarna merah yang kupikir itu novel terbaru Tom Love. Aku berdoa sambil meyakinkan diri bahwa aku masih bisa mendapatkannya.

Sementara orang lain berjalan gontai dan pasrah, aku masih bisa menegakkan kepala saat berjalan keluar. Bukankah orang sukses tidak pernah menyesali kegagalannya? Bukankah orang sukses selalu optimis dan tidak berhenti berharap kepada-Nya?

Aku baru akan pergi ketika kudengar seseorang ber-shhh padaku. Aku melihat Sari memanggilku. Dia bersembunyi di balik rak FILSAFAT dan sepertinya ada hal yang penting yang ingin disampaikan. Aku berjalan menghampirinya, kemudian dia menarik lenganku, lalu membawaku ke belakang rak yang sepi. Matanya mengawasi sekitar. Setelah dipastikan aman, dia berbisik padaku,

“Aku punya sesuatu untukmu.” Kemudian dia mengeluarkan novel terbaru Tom Love dari balik bajunya dan memberikannya padaku. “Pergilah. Mereka akan memburumu. Jangan pikirkan aku.”

“Terima kasih,” bisikku, memasukkan buku tersebut ke balik bajuku. Aku melihat sekeliling dan menyaksikan zombie-zombie yang kelaparan sedang bergentayangan. Aku baru mau mengucapkan selamat tinggal, tapi Sari sudah menghilang. Kemudian aku berpura-pura menjadi zombie, melangkah dengan terseok-seok menuju kasir. Aku senang, akhirnya perjuangan ini berakhir dalam antrian panjang menuju kasir.

“Aduh, coba dapat tanda tangannya,” kata perempuan di belakangku pada temannya yang berambut pirang. Nenek berbaju pink di depanku terlihat tidak sabar ingin membaca. Dia merobek plastik pembungkus buku dan membaca dalam antrian.

*

Tiba-tiba seorang pria menepuk lenganku. Di tangannya ada satu buku Tom Love kelima yang terlihat berbeda – ada tulisan edisi spesial di sampulnya. Sepertinya ia ingin mengambil jalan singkat dengan menitip pembayaran. Tindakannya itu tentunya sangat tidak sopan dan akan mengundang protes orang-orang di belakangku. Aku akan menolak jika ia melakukannya.

“Profesor?” pria itu berbisik dengan suara lembut, lalu memberikanku sebuah kertas putih terlipat. “Tom Love mengundang Anda untuk bertemu.”

“Apa? Aku …?” aku baru akan menanyakan sesuatu padanya tapi ia sudah berjalan menuju kasir. Aku masih bisa melihatnya sedang berbicara dengan seorang kasir, lalu ia menunjuk ke arahku dan memberikan buku edisi spesial itu kepada si kasir. Apa yang dilakukannya itu membuatku cemas. Orang-orang akan mengira aku ada sangkut-paut dengan Tom Love.

Aku memandang berkeliling. Nenek berbaju pink sedang sibuk menghitung uang. Dua perempuan muda di belakangku masih asik mengobrol. Pria berkemeja biru di antrian sebelah sedang sibuk menelpon sementara sisanya terlalu sibuk dengan kegembiraan masing-masing. Aku membuka kertas tersebut dan membacanya.

Dear Profesor Donlot,

Ya, itu namaku.

Temui aku di Janope. Hari Rabu. Jam satu siang.

Salam,

TL

Ps. Bawa peralatan tulis dan senyum

Kenapa Janope? Bagaimana ia tahu tempat favorit ngopiku?

Kemudian aku melipat kembali kertas itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. Kulihat nenek berbaju pink selesai menghitung uangnya. Dia memasukkan semua uangnya kedalam dompet pink-nya dan mengambil kartu kredit untuk membayar.

Antrianku memendek. Aku maju dua langkah.

Sepintas kupikir pria tadi mengingatkanku pada seseorang. Tom Love?

Nenek berbaju pink tidak bergerak meski pria di depannya sudah melangkah maju. Aku baru akan menegurnya, tapi dia sudah bergerak.

Pria tadi tidak mungkin Tom Love. Tom Love pastinya tidak akan memberi undangan itu langsung padaku.

Setelah tiga puluh tiga menit mengantri, aku pun tiba di depan kasir. Kasir yang melayaniku bertubuh gemuk dan berkacamata. Sambil menahan tawa dia memanggilku.

“Tuan Profesor Donlot?”

“Ya, itu nama saya.”

“Anda mendapatkan edisi spesial dari Tom Love. Gratis.”

Jantungku melompat keluar, tapi buru-buru kutangkap.

“Ini dia,” kata kasir itu sambil tersenyum manis, menukar buku yang kubawa dengan edisi spesial. Aku membalas senyumnya. Tapi dia malah memerhatikanku dengan pandangan aneh.

Apakah orang yang bersinggungan dengan Tom Love selalu mendapat perhatian seperti itu?

Aku melangkah keluar toko buku dengan perasaan tidak menentu. Sejumlah mata mengikuti gerakanku bersamaan dengan kata-kata liar yang berseliweran di telingaku.

Hei, sepertinya pria itu baru saja dapat yang edisi spesial … Wah beruntungnya dia …  Aku cinta Tom Love.

Aku lega bisa mencapai lorong yang cukup sepi dan aman untuk membuka buku pemberian Tom Love dengan leluasa. Sungguh aneh berada dalam situasi seperti ini.

Lanjut>>

Komentar