Kisah Cinta Tom Love – Eps. 15

Pilihan Hidup

Aku lahir dan besar di Bekasi. Cintaku pada Bekasi sama besar dengan cintaku untuk bangsa ini. Ayahku seorang pengusaha terpandang dan penyokong pembangunan Bekasi menjadi sebuah kota modern, generasi ketiga keluarga Ferhan Gursel dari Turki. Sementara, ibuku memegang jabatan penting di UNESCO; asli Sunda.

Jalan hidupku akan lurus-lurus saja seperti halnya kehidupan anak-anak orang kaya berwajah tampan dan cerdas. Hidup seperti itu cukup berisiko mengingat tidak ada tantangan. Tidak ada tantangan berarti tidak ada kerja keras. Tidak ada kerja keras berarti hidupku kosong. Kalau kau tidak sepakat, tolong ceritakan padaku tentang seorang anak sekolah yang diantar-jemput supir pribadi dengan Mercedes Benz S Class, yang kemudian melanjutkan studi di Harvard dan mewarisi bisnis sang ayah. Apakah itu yang disebut dengan sukses? Kupastikan tidak akan ada satu orang pun yang mau membaca sebuah buku biografi membosankan tentang dirinya. Karena itulah aku membuat jalur kesuksesanku sendiri.

Dimulai dari penolakanku sekolah di SMP swasta terkenal dan mahal pilihan orang tuaku. Aku memilih bersekolah di SMP negeri. Pada saat itu, minatku terhadap fisika mulai tumbuh. Aku tertarik dengan imajinasi Kopernikus, awal dari teori bumi itu bulat dan planet-planet yang mengelilingi matahari dengan kecepatan konsisten. Aku terpukau pada Kepler, tentang imajinasinya mengubah asumsi tersebut dengan menjabarkan pergerakan planet, dan semakin terpesona saat mengenal Galileo dan teleskopnya, beserta penemuan-penemuan benda baru di luar angkasa. Pada akhirnya aku menjatuhkan hatiku pada Newton. Tiga tahun kemudian, takdir membawaku ke ITB.

Profesor, kalau kau jeli mengingatnya, kita pernah di kelas yang sama beberapa kali, kelas matematika Profesor Saliman. Kau pasti lupa, padahal aku masih mengingatmu sebagai orang yang sok tahu dengan terus-terusan bertanya hingga membuat Profesor Saliman kewalahan. Aku masih ingat Profesor Saliman memuji namamu yang menurutnya futuristik dan menyebut ayahmu sebagai seorang visioner. Seperti kautahu sendiri istilah download baru tenar di tahun 90’an. Ah, kau tersenyum, Prof. Tapi senyummu itu tetap tidak akan mengembalikan ingatanmu tentang aku.

Studiku di ITB berlangsung singkat. Apa yang kupikirkan sebelumnya tentang fisika sebagai sesuatu yang menyenangkan memudar tatkala para dosen menjejali kami dengan rumus-rumus dan hapalan-hapalan, sesuatu yang paling kuhindari. Akan tetapi, dengan berhenti dari ITB tidak serta merta membawaku ke dunia sastra. Aku menjalani beberapa pekerjaan paruh waktu sebagai debt collector, guru privat bahasa Inggris, wartawan majalah lokal, sales gembok, sampai akhirnya aku tidak bekerja sama sekali.

Pada suatu hari aku menelpon ayah lalu dengan jujur mengabarkan keadaanku. Ayah memang sudah berbaik hati mengizinkanku mengambil jurusan fisika, tapi ia sangat kecewa mendengar anaknya menjadi pengangguran.

“Apa Ayah bilang,” demikian ia mengeluarkan kalimat saktinya. Sadar kalimat itu tidak sakti lagi, Ayah menawarkan posisi direktur untukku yang kemudian kutolak.

Namun, supaya tidak membuatnya kecewa dan mencemaskan diriku, aku menyakinkannya bahwa aku sedang membangun kerajaan bisnisku sendiri. Aku mengatakannya pada suatu makan malam yang muram.

“Bayangkan,” kataku, “dalam lima tahun aku sudah bisa mendapatkan keuntungan sepuluh triliun!”

Tetapi, hal itu tidak membuat Ibu berhenti mencemaskanku. Meski tidak banyak bicara, Ibu memastikan aku selalu dalam keadaan baik. Dia sering kali mengirim orang suruhan untuk mengawasiku. Mereka bisa berarti siapa saja: laki-laki atau perempuan, nenek-nenek atau anak kecil. Aku bisa mengetahui kehadiran mereka saat dapat makan gratis di warteg, ibu kos yang mengatakan aku tidak perlu bayar kos, atau kehadiran tiga pria besar yang membantuku menghajar preman yang mengeroyokku.

Januari 2001, aku memutuskan pindah ke Jakarta, menyewa sebuah kamar kecil di dekat kampus IKIP dan menjadi tukang ojek untuk bertahan hidup. Aku mencoba mangkal di pasar, dan untuk itu harus meminta izin kepada 30 tukang ojek lain. Izinnya mudah, yang terpenting kami harus saling menghormati. Yang sulit adalah mendapatkan penumpang. Aku harus mengantri di tepi trotoar dan mengikuti aturan yang pertama datang yang dapat penumpang. Tetapi aturan itu tidak berlaku untukku karena aku anggota baru. Meskipun aku datang lebih dulu, aku selalu ditempatkan di antrian paling belakang. Tentu saja hal ini sangat menyulitkanku. Kalau dirata-rata, dalam sehari aku hanya mendapat lima penumpang. Karena itu aku pun mencari cara, bagaimana mengubah penumpang menjadi pelanggan setia. Aku memodifikasi sepeda motor dengan mengganti shock breaker, meredam suara knalpot, memberikan permen gratis dan kartu nama. Usahaku berhasil. Setiap kali aku mendapat penumpang, penumpang itu pastinya jadi pelanggan setia. Mereka tidak perlu lagi naik gojek di pangkalan. Mereka tinggal menghubungiku lewat SMS.

Aku baru saja menikmati hasil dari mengojekku selama tiga hari ketika suatu hari seseorang mendatangiku dan mengatakan bahwa, aku tidak boleh lagi ngojek di sekitar pasar. Aku menghormati keputusannya, dan sebagai gantinya, aku mangkal di depan gerbang komplek perumahan.

Bahkan, di tempat yang baru pun aku masih tetap mendapatkan banyak pelanggan. Sayangnya, keberuntunganku hanya sebentar, beberapa orang mencoba mengintimidasi dan mengancamku. Mereka para preman yang disewa tukang ojek pasar untuk mengusirku. Dan dalam keadaan terpaksa (dibantu orang suruhan ibuku) aku menghajar pimpinan mereka untuk membela diri. Ia dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami patah hidung dan dua gigi serinya tanggal. Sebetulnya, setelah kejadian itu aku berpotensi menjadi pemimpin kelompok tukang ojek atau ketua preman yang disegani, tetapi aku menolaknya.

Kemudian aku meninggalkan Jakarta, pergi ke suatu tempat nun jauh di pelosok kampung, bersenang-senang di pantai, berkenalan dengan sesama pengembara, berkemah di gunung, membuat api unggun bernyanyi dan mengisap cimeng. Masa senang-senangku berakhir saat aku kehabisan uang. Aku kembali ke Jakarta bak seorang hippie. Rambutku gondrong, wajahku berewok, bajuku lusuh, sepatuku bolong di bagian jempol, sepeda motorku butut. Kali ini aku benar-benar bangkrut. ATM-ku kosong. Tidak ada lagi orang-orang ibuku yang berbaik hati memberiku uang. Putus asa? Tidak. Aku tidak akan pernah menyerah kepada keadaan. Separah apa pun. Kemudian aku menjual sepeda motorku. Dari situ aku mendapat tiga juta rupiah yang kupakai untuk beli pakaian, sepatu, pisau cukur dan gitar baru.

Bersambung>>

Komentar