Kisah Cinta Tom Love – Eps. 14

Tom Love Bercerita

“Profesor … Anda tidak apa-apa?” Tom Love menggoyang tanganku, membangunkanku dari lamunanku.

“Maafkan aku.”

“Mengingat masa lalu?”

“Sedikit.”

“Duduklah.”

“Terima kasih.”

“Barangkali sedikit perkenalan akan membuatmu lebih santai, Prof.”

“Jadi siapa yang mau mulai lebih dulu?”

Tom mengangkat kedua bahunya, tapi ia mendahuluiku berkata di saat aku ingin menanyakan alasannya memilihku.

“Kau pasti ingin tahu mengapa aku memilihmu?”

Bagaimana ia tahu aku ingin mengajukan pertanyaan itu?

“Tentu.”

“Kau pasti kenal Arya. Mahasiswamu.”

“Kakaknya Gita.”

“Keduanya sepupuku, keponakan ayahku. Arya banyak cerita tentangmu. Ia bilang kau memiliki kesamaan denganku. Sama-sama setuju bahwa musik tahun 70’an adalah yang terbaik, sama-sama suka Soto Betawi dan penggemar berat Real Madrid.”

“Ya. Tapi kenapa Arya tidak pernah bilang kau sepupunya?”

“Tom Love maksudmu?”

“Ya.”

“Arya tidak pernah tahu aku adalah Tom Love yang terkenal itu. Ia hanya tahu Erik. Kalau kau bertanya foto siapa di dalam sampul buku kelimaku? Itu foto orang lain. Kau pasti ingat orang yang memberimu undangan.”

“Ya.”

“Ia orang dalam sampul bukuku.”

Lalu kenapa ia menyembunyikan jati dirinya?

“Kau pasti penasaran kenapa aku harus menyembunyikan jati diriku dan tidak menggunakan nama asli?”

Sial, kenapa ia selalu tahu apa yang kupikirkan?

“Aku suka menulis di sini. Ini tempat yang nyaman untuk menulis, memberiku banyak inspirasi dan ketenangan. Tidak ada yang tahu siapa Tom Love sebenarnya, tidak terkecuali editorku atau orang-orang di kafe ini. Biarkan mereka lebih mengenal karya-karyaku ketimbang tahu siapa aku sebenarnya. Biarkan orang-orang mencintaiku karena karya-karyaku ketimbang mencintaiku karena fisik. Tapi sejak memutuskan memasang foto dalam bukuku, aku ingin penggemarku tidak berimajinasi yang salah tentang Tom Love.”

“Tapi kenapa pakai foto orang lain?”

“Karena aku terlalu keren.”

Ya tentu saja.

“Aku bercanda.”

Selera humornya membuat suasana jadi cair. Tom memiliki suara lembut namun tegas. Aku mengagumi sifat rendah hatinya. Rupanya ia ingin mengenal kehidupanku lebih jauh lagi dan mengajakku membicarakan tentang diriku sendiri. Aku sebetulnya ingin bercerita tentang diriku, tapi aku masih terlalu lelah mengingat aku baru saja menceritakannya padamu. Karena itu aku berkata,

“Kenapa tidak kau yang mulai lebih dulu?”

Tom tersenyum sambil menunjuk-nunjuk padaku. Air mukanya tampak gembira seolah memang itulah yang ditunggunya meskipun aku tidak melihatnya sebagai seorang yang narsis.

“Aku tidak sesempurna yang kaukira, tapi pengalaman orang lain bisa sangat berharga bagi yang lainnya. Itulah sebabnya aku hobi membaca buku biografi. Prestasi dan kesuksesan bukanlah sekedar hasil akhir, sering kali proses untuk mencapainya bisa jadi penyemangat buat orang-orang yang sedang berputus asa. Aku memang sangat ingin mendengar kisah hidupmu, Prof. Dari informasi yang kudapat, kau dibesarkan dalam kesabaran. Kautahu-kan, masalah namamu. Kini kau malah ingin mendengar latar belakang hidupku yang panjang dan rumit. Well, jika memang demikian, maka kau harus mendengarkannya baik-baik karena banyak hal mengejutkan yang saling berkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.”

“Kedengarannya menarik.”

“Sekarang dengarlah kisahku.”

Lanjut>>

Komentar