Kisah Cinta Tom Love – Eps. 13

Hantu Itu

Aku menjalani profesi ini selama satu tahun. Cukup lama, bukan? Kau pasti berpikir bagaimana aku bisa bertahan jadi satpam selama itu tanpa merasa takut sedikit pun? Seperti inilah penjelasannya.

Sebelumnya, aku menganggap para hantu ingin diperlakukan tidak sebagai hantu alias mendapat perlakuan sama dengan manusia hidup. Mereka ingin berkomunikasi secara wajar dan menjadi kawan baik. Tetapi mereka bukan hantu Casper. Dalam prakteknya hantu-hantu tidak melihat manusia di dunia nyata. Kalaupun hantu-hantu bisa melihat manusia, mereka menganggap manusia sebagai hantu bagi mereka. Dalam posisi ini, bisa saja manusia malah lebih menakutkan bagi hantu-hantu.

Aku bercanda.

Hantu itu baru muncul satu bulan setelah aku kerja di sekolah. Tetapi hantu itu tidak mengganggu, sehingga kubiarkan saja. Yang dikatakan Mang Jaja ada betulnya. Hantu-hantu tertentu muncul di malam-malam tertentu. Awalnya memang seperti itu, tetapi pola berikutnya berubah. Hantu Kuntilanak yang biasa muncul di malam Jumat berubah jadwalnya jadi malam Kamis. Hantu Noni Belanda yang biasa muncul di malam Selasa berubah jadi malam Rabu. Hantu-hantu juga muncul siang hari, tapi itu sangat jarang. Itu pun dalam bentuk benda-benda yang bergerak sendiri dan kemunculan sosok bayangan putih. Bisa kupastikan hantu-hantu itu hasil rekayasa seseorang untuk menakut-nakuti seisi sekolah sehingga ia bisa mengambil barang-barang di sekolah dengan leluasa. Aku, yang semula membiarkan hantu-hantu berkeliaran untuk hiburan, terpaksa membongkar penyamaran itu.

Saat itu menjelang tengah malam ketika samar-samar terlihat seorang pria sedang berjalan sambil menenteng ember di kedua tangannya. Semakin dekat, semakin jelas sosok pria itu. Itulah hantu van der Berg. Hantu itu berhenti tiga meter di hadapanku, menatapku dengan sorot mata menyeramkan. Aku kagum dengan make-up, tata busana dan tata cahayanya sehingga hantu itu terlihat nyata. Tapi hantu Henrich van der Berg hanya muncul selama dua menit, setelah itu ia menghilang bersama kabut.

Tentu saja hantu itu hanya pengalihan, ada orang lain yang berusaha membobol ruang guru untuk mencuri laptop. Tapi laptop itu tidak akan pernah ada. Itu hanya akal-akalan aku untuk memancing si pencuri. Aku berhasil menangkapnya tanpa perlawanan.

Kau pastinya tahu siapa pencuri yang kumaksud. Betul, pelakunya Mang Jaja. Tapi Mang Jaja tidak sendiri. Ada dua mantan satpam yang membantunya. Pak Juwanto juga pernah menjadi peran pengganti selama Mang Jaja sakit. Meskipun Pak Juwanto mengakui perbuatannya, ia tidak pernah mencuri. Ia melakukannya karena menikmati perannya sebagai hantu. Belakangan, Mang Ujang mengakui kalau ia pernah jadi bagian sindikat Mang Jaja, tapi ia sudah tobat lebih dulu. Mungkin itu jadi alasan Mang Jaja maupun Pak Juwanto membencinya. Bagaimanapun, aku tidak pernah melaporkan kejahatan mereka, kecuali meminta mereka untuk tidak mengulanginya lagi.

Pak kepala sekolah sangat senang dengan hasil kerjaku. Tidak ada lagi properti sekolah yang hilang ataupun hantu-hantu berkeliaran. Dan sebagai rasa terima kasih, pihak sekolah menaikkan gajiku. Meski begitu, antara aku, Mang Jaja dan Pak Juwanto tidak ada perasaan dendam. Kami masih berteman.

Aku menikmati hari-hariku menjadi satpam sekolah. Aku pernah jatuh cinta pada guru Bahasa Indonesia, pacaran selama dua sebulan sebelum akhirnya putus karena aku dituduhnya selingkuh dengan guru biologi. Ternyata tuduhannya tidak terbukti dan dia pun meminta maaf. Dia memintaku kembali, tapi kubilang aku lagi ingin sendiri. Pada 31 Januari 2000, aku mengundurkan diri. Aku harus kembali ke bangku kuliah dan menyelesaikan jurnalku yang tertunda. Para siswa sedih melihatku pergi. Aku menghibur mereka dengan mengatakan, bahwa aku akan kembali lagi suatu saat nanti; bukan sebagai satpam, melainkan sebagai guru matematika. Aku senang sekolah sudah mendapatkan penggantiku, seorang pemuda yang sangat bersemangat, sehingga aku tidak perlu cemas sekolah akan kecurian lagi.

Dua hari kemudian ketika aku kembali ke sekolah untuk mengambil gaji terakhirku, Pak kepala sekolah memberitahuku sebuah kabar mengejutkan.

“Kondisi kejiwaan Pak Jaja mengkhawatirkan, sekarang ia dirawat di rumah sakit jiwa,” katanya. “Ngomong-ngomong, siapa itu Henrick van der Berg ?”

Tentunya kabar itu membuatku berspekulasi bahwa pengkhianat Henrick van der Berg adalah kakek buyut Mang Jaja.

Lanjut>>

Komentar