Kisah Cinta Tom Love – Eps. 12

Henrick van der Berg

Dahulu kala Cimenja terkenal dengan perkebunan kopinya yang membentang di sepanjang daerah perbukitan dan penduduknya yang ramah. Cimenja hanya akan jadi perkebunan kopi yang sepi kalau kalau bukan karena tangan dingin Henrick van der Berg, yang membuat Cimenja jadi tempat yang banyak dikunjungi turis dan ilmuwan. Henrick van der Berg merupakan perpaduan Sunda-Belanda dari seorang wanita bernama Raimas yang asli Cimenja dan seorang pria tampan bernama Hans Pieter; seorang pengacara terkenal dari Batavia. Pertemuan keduanya terjadi di kedai kopi kecil milik Raimas.

“Ya ampun, nikmatnya,” kata Hans Pieter. “Di mana bisa kudapatkan biji kopi jenis ini.”

“Di sana, Tuan,” kata Raimas, menunjuk suatu tempat di balik bukit di hadapannya. “Kami memilih biji terbaik, membakarnya dengan sepenuh hati, menggilingnya dengan kegembiraan lalu menyajikannya dengan cinta.”

“Kumohon, bawa aku ke sana.”

Raimas mengantar Hans ke sebuah sebuah bukit nan indah, tempat Hans bisa melihat hutan kopi, hamparan sawah, domba-domba di padang rumput, rumah-rumah penduduk di kejauhan. Ia juga mendengar gemericik sungai, nyanyian burung, dan suara merdu Raimas yang sedang menembang nyanyian Sunda.

“Demi Tuhan, aku cinta tempat ini!” Dan seperti itulah juga ia mengungkapkan perasaannya kepada Raimas setelah satu bulan mengenalnya.

“Raimas, maukah kau menikah denganku?”

Hans menikahi Raimas di bulan Nopember. Ia berhenti dari pekerjaannya di bulan Januari dan memulai mengembangkan perkebunan kopi Cimenja di bulan Pebruari. Dari tangannya lahir ras kopi baru perpaduan arabika dan robusta dengan komposisi tidak normal tapi tetap menghasilkan aroma serta kenikmatan tiada tara. Bisnisnya merambah ke seluruh Jawa Barat, Batavia, dan sebagian Jawa Tengah. Ketika Henrick van der Berg lahir, kopi Cimenja telah disajikan di berbagai kedai kopi di Sumatera. Sayangnya, kisah Hans sangat singkat, ia meninggal di usianya yang ke empat puluh dua akibat pneumonia. Selanjutnya, kuceritakan padamu tentang Henrick van der Berg yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan cerdas.

Sepeninggal suaminya, tentunya Raimas berharap pada puteranya untuk membantu mengelola kebun kopi. Akan tetapi, Henrick lebih memilih mempelajari teknik sipil di Batavia, tempat ia juga mendapat kesempatan menjadi seorang perwira. Ia berhasil membangun banyak jembatan dan merancang mesin yang rumit di berbagai daerah, sementara karir militernya sedikit terhambat karena mata minus-nya. Pada bulan Desember, ia menerima surat dari ibunya.

Anakku tersayang,

Aku tahu kau tidak begitu menyukai kopi dan lebih mencintai pekerjaanmu, tapi kami sangat membutuhkan keahlianmu untuk memperbaiki mesin giling.

Ibumu

Van der Berg  pulang kampung pada bulan Maret, dan untuk pertama kalinya ia mencicipi kopi racikan ibunya.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kopi bisa senikmat ini.”

“Kau harus coba yang lain, kafein tidak akan membunuhmu.”

Van der Berg  mulai mempelajari dasar-dasar kopi selama satu bulan, lalu lanjut tingkat menengah sampai akhirnya ia bisa menyelesaikan ujian tingkat advance. Ia kemudian merancang ulang kedai kopinya dan mengubahnya menjadi kafe seperti kafe-kafe keren di kota-kota besar Eropa. Ia juga mempromosikan Cimenja sebagai tempat wisata dan penelitian holtikutura terbaik kepada para peneliti kopi dunia dan mengundang mahasiswa dari universitas terkenal dunia. Cimenja maju pesat dalam waktu singkat, para turis berdatangan, para peneliti sangat menikmati masa-masa penelitan mereka di sana. Dan sebagai bentuk rasa cintanya kepada sang bunda, van der Berg membangun sebuah vila tiga lantai di tengah kampung. Raimas sangat bahagia dengan rumahnya. Bukan karena mewahnya, melainkan karena vila tersebut dibangun oleh tangan puteranya sendiri. Dari atas balkon ia bisa memandang kebun kopi sambil sambil sesekali memerhatikan kesigapan puteranya dalam mengelola Cimenja. Setiap orang yang melewati rumah itu pastilah akan selalu melihat Raimas di sana, sedang duduk di kursi goyangnya. Bahkan, setelah wafatnya di tahun 1889.

Pada tahun 1891, Jendral Derkan van Horsch mengambil alih pemerintahan di bumi Priangan. Derkan adalah seorang Neo-VOC yang terobsesi mengembalikan kejayaan VOC masa silam. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara, ia mengirim rempah-rempah ke pasar Eropa dari perkebunan di Wonosobo dan berusaha menguasai perdagangan coklat dunia lewat perkebunan di Sumatera. Ia juga memiliki armada kapal yang cukup untuk menguasai jalur distribusi serta pembukaan jalan baru menuju pelabuhan-pelabuhan besar Eropa. Cimenja yang saat itu terkenal dengan kualitas kopi terbaik di Nusantara jadi incaran berikutnya.

Pada awalnya rakyat Cimenja menyambut kedatangan Derkan dengan hangat. Derkan mengambil hati mereka dengan membangun jembatan, jalan, sumur dan masjid. Tetapi untuk menguasai kopi, ia harus bicara dengan van der Berg.

“Ratu ingin berinvestasi di sini,” kata Derkan kepada van der Berg. “Kuharap kau tidak akan menolak.”

“Ini tempat terbaik untuk berinvestasi, Tuan.”

Enam bulan kemudian, pembukaan lahan kopi dilakukan besar-besaran seiring dengan permintaan yang semakin meningkat. Untuk lebih memperlancar jalur distribusi, Derkan membuka jalur kereta menuju pelabuhan. Insinyur terbaik didatangkan dari Jerman, tenaga kerja didatangkan dari rakyat Cimenja, Sukabumi, Cianjur dan Bogor. Para pekerja bekerja siang-malam, bergantian sesuai shift masing-masing. Mereka disediakan tenda-tenda untuk tempat beristirahat, dapur umum yang terbuka setiap saat, puluhan tukang pijat dan klinik supaya pekerja tetap bugar.

Pembangunan jalur kereta itu sepertinya akan berjalan lancar, tetapi dana besar yang dikucurkan membuat pembukuan korporasi jadi minus, apalagi ditambah investasi di berbagai daerah yang belum mendapatkan untung membuat Derkan tertekan. Derkan pun melakukan efisiensi. Tidak ada lagi tenda. Tidak ada lagi dapur. Tidak ada lagi tukang pijat. Jam kerja ditambah. Upah dikurangi.

Akan tetapi, rakyat Cimenja bukanlah orang-orang yang mudah ditaklukkan. Mereka terdiri dari orang-orang keras kepala dan penuh perhitungan. Dipimpin kepala desa, mereka melakukan mogok massal dan gerakan-gerakan lain dalam bentuk pemberontakan kecil. Ketika peristiwa itu terjadi, van der Berg  sedang berada di Semarang untuk membuka cabang kedai kopinya. Ia tidak tahu Derkan sudah mencemari sumur-sumur dan membendung sungai sehingga rakyat tidak bisa memperoleh air bersih. Penderitaan semakin bertambah dengan munculnya wabah kolera dan penyakit kulit. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan balik pasukan Derkan.

Van der Berg  kembali ke Cimenja pada bulan Juni setelah mendapat surat dari seseorang yang kurahasiakan namanya. Tapi Derkan tahu apa yang harus dilakukannya.

“Orang-orang Prancis itu datang dan meracuni kami,” kata Derkan berbohong. “Ini hanya masalah bisnis. Kami sudah mendatangkan dokter. Para pekerja akan baik-baik saja.”

Van der Berg yang sudah tahu peristiwa sebenarnya tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan Derkan, sedangkan satu-satunya cara yang masuk akal adalah dengan melakukan operasi senyap.

Tepat tengah malam, van der Berg mengambil air dari sumurnya di rumahnya, menaruh ember-ember berisi air di atas gerobak kuda, lalu berkeliling kampung untuk mengisi gentong-gentong air di rumah penduduk. Ia meminta mereka untuk merahasiakannya dan tetap bekerja seperti biasa. Ia melakukannya hampir setiap malam dengan kesabaran dan hati-hati. Satu bulan kemudian keadaan rakyat pun berangsur-angsur membaik, mogok massal kembali dilakukan, pemberontakan tidak terelakkan.

Derkan cukup kewalahan menghadapi perlawanan rakyat Cimenja. Pembangunan jalur kereta terhenti selama berhari-hari. Ia terheran-heran bagaimana para pekerjanya bisa mendapatkan air bersih. Jawabannya datang tidak lama kemudian, seorang pengkhianat membisikinya.

Tepat di tengah malam Senin yang menyedihkan itu, diam-diam Derkan mendatangi van der Berg yang sedang menimba air, lalu mendorongnya jatuh ke dalam sumur. Tidak ada teriakan, hanya bunyi air yang begitu keras dan riak tangan raksasa yang seakan menarik wajah Derkan. Tidak ada yang mengeluarkan mayat Henrick van der Berg dari dalam sumur. Tidak ada yang akan pernah.

“Demikian akhir kisah Henrick van der Berg yang menyedihkan ini. Sumur itu masih ada sampai sekarang. Letaknya di belakang sekolah dekat kamar mandi guru. Kakek buyutku menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan kekejaman Derkan. Untuk kauketahui, hantu Henrick van der Berg hanya muncul di malam Senin, bergentayangan menenteng ember dan mencari-cari gentong untuk diisi.”

Mang Jaja menyulut rokoknya, mengisapnya dalam-dalam lalu mengembuskannya ke wajahku. Brengsek.

“Bersiaplah,” lanjutnya, “siapapun yang mendengar kisah ini akan mati.” Ia terdiam sejenak untuk mengisap rokoknya, kemudian setelah itu berkata lagi, “Tapi kematianmu bisa dicegah asalkan kau menceritakan kisah Henrick van der Berg kepada orang lain.”

Pesan kematian berantai, kataku dalam hati. Tetapi, sialnya aku baru saja menceritakannya padamu. Bersiaplah …

Lanjut>>

Komentar