Kisah Cinta Tom Love – Eps. 11

Mang Jaja

Aku terkadang berkerja ganda menjadi petugas kebersihan, bergantian dengan Mang Ujang. Mang Ujang seorang office boy, rumahnya 322 meter di seberang sekolah dekat kebun pisang, aku pernah main ke rumahnya sekali. Pak Juwanto sebetulnya pernah ditawari pekerjan itu, tapi ia menolaknya. Ia bilang kepada Mang Ujang, bahwa ia terlalu tua untuk jadi petugas kebersihan.

Mang Jaja, nama petugas kebersihan itu, sudah sebelas hari tidak masuk kerja. Joseph bilang Mang Jaja lagi sakit. Kecuali Pak Juwanto, Mang Jaja melarang siapapun datang ke rumahnya. Jadi, ketika pihak sekolah akan memberikan buah dan makanan untuk Mang Jaja, mereka akan menghubungi Pak Juwanto.

Untuk mencari tahu lebih banyak tentang Mang Jaja, maka aku harus bertanya Pak Juwanto. Dan supaya tidak terkesan mencari tahu, aku akan membeli nasi gorengnya.

Gerobak Pak Juwanto baru muncul jam 7 malam, terparkir tepat di samping gerbang sekolah. Sudah ada empat pelanggan yang menunggunya. Tidak semuanya makan di tempat. Ada juga yang take away alias dibungkus. Pak Juwanto bilang aku dapat giliran yang kesebelas. Aku harus menunggu satu jam empat puluh sembilan menit sampai tiba giliranku. Selama itu aku tidak bisa ngobrol dengannya karena ia sangat sibuk, sehingga aku masih harus menunggunya lagi sampai gerobaknya sepi.

Harus kuakui nasi goreng Pak Juwanto sangat lezat meskipun aku harus membayar lebih mahal dari tukang nasi goreng biasanya. Salah satu yang membuatnya istimewa adalah nasinya yang gurih, suiran daging ayam dan sesuatu dalam bumbunya yang membuatku merasa aneh. Ganja-kah?

Gerobaknya baru benar-benar sepi di jam 12.25. Aku membantunya mencuci piring dan membereskan gerobak. Ketika aku memuji nasi gorengnya yang lezat, ia menjawab bahwa tidak ada resep khusus. Hanya bumbu racikan biasa dari rempah-rempah buatan istrinya yang disimpan dalam toples selai, yang semakin lama disimpan semakin menggigit. Lalu aku bertanya tentang keadaan Mang Jaja. Pak Juwanto yang baru saja mencantolkan wajan ke paku gerobak menatapku tajam. Tentunya hal itu membuatku merasa tidak nyaman.

“Jaja sudah lama sakit,” jawab Pak Juwanto. “Tapi ia baik-baik saja.”

“Sakit apa?”

“Apa kau seorang dokter?”

“Bukan. Aku bukan dokter. Aku hanya mau kenal Mang Jaja. Sepertinya ia orang baik.”

“Jaja memang orang baik. Semua orang di sekolah orang-orang baik. Kecuali Ujang. Kau seharusnya jangan dekat-dekat Ujang. Mungkin penyakit Jaja datangnya dari Ujang.”

“Aku terkadang bersin-bersin kalau dekat Mang Ujang.”

“Apa kubilang.”

“Jadi, Mang Jaja itu orang baik?”

“Sangat baik.”

“Mang Ujang tidak baik?”

“Sangat tidak baik.”

“Kenapa?”

“Kata Ujang, aku pakai ganja buat bumbu nasi goreng. Itu tuduhan serius.”

“Betulkah?”

“Mana kutahu. Istriku yang meracik bumbunya.”

Kemudian aku terdiam sejenak, berpikir mungkin tidak usah mencari tahu tentang Mang Jaja. Apalagi malam sudah sangat larut dan aku masih harus berkeliling sekolah lagi. Aku baru beranjak berdiri ketika Pak Juwanto berkata,

“Sekolah tidak pernah mempekerjakan Jaja secara langsung. Eksistensi Jaja dimulai jauh sebelum sekolah ini berdiri sehingga memberi kesan adanya keterikatan antara Mang Jaja dengan sekolah.” Kemudian ia menunjuk gedung di sebelah utara yang digunakan sebagai kantor Tata Usaha. “Konon gedung itu pernah ditempati pejabat Hindia-Belanda, tempat kakek dari ayahnya Jaja memulai karirnya sebagai tukang sapu.”

“Kalau begitu, besok aku akan pergi ke rumah Mang Jaja. Sekedar bersilaturahmi. Mungkin kau berkenan memberitahu alamatnya.”

Pak Juwanto terdiam sejenak, seakan ada sesuatu yang mengganjalnya. Kemudian ia menghela nafas lalu berkata, “Rumahnya lumayan jauh, di Cimenja Tengah.”

Aku tidak bisa memperkirakan seberapa jauh yang disebutnya lumayan jauh. Berjalan satu kilometer bagi orang yang punya sakit sendi atau masalah pernafasan itu sangat jauh. Karena itu aku mememintanya menggambarkan petanya. Pak Juwanto mengambil kertas nasi dan aku meminjamkannya pulpenku. Kemudian ia menggambar peta sambil menjelaskan jalan yang akan kulewati. Gambarnya lumayan bagus, saat ia memberitahu bahwa butuh waktu satu setengah jam menuju rumah Mang Jaja, aku pun dengan mudah bisa mengukur skalanya. Dengan kata lain, jarak dari sekolah sampai rumah Mang Jaja tidak lebih dari 5 km. Meski begitu, aku tidak bisa memastikan jarak pastinya, mengingat jalan yang akan kulalui, kata Pak Juwanto, cukup berat.

“Jangan lupa, sampaikan salamku buat Jaja. Ia akan membuka pintu kalau kau menyebut namaku.”

Aku berangkat jam 5.20, membawa sebotol air dan sebungkus camilan keripik. Jalur mula-mula yang kutempuh terletak di belakang sekolah, sangat teduh dengan barisan pohon rambutan. Sapuan angin membawa bau tanah, bau rumput, dan bau kompos, menggoyang dedaunan, membuat suara bergemerisik nan menenangkan. Bunyi patahan ranting yang kuinjak mengusir seekor kelinci yang sedari tadi mengikutiku. Kicauan burung yang bersahutan di atas pepohonan menemaniku di sepanjang jalan setapak.

Matahari sudah bersinar begitu aku tiba di sebuah kampung bernama Cimenja Bawah. Segerombolan kambing yang berjumlah 24 ekor memotong jalanku, penggembalanya seorang bocah dengan kaos putih terikat di pinggang. Aku mencoba bersikap ramah setiap kali berpapasan dengan warga setempat, “Punten, Kang,” … “Punteun, Neng,” sapaku, yang kemudian dibalas mereka dengan senyum yang tulus.

Lalu aku memasuki kebun singkong yang rimbun, akarnya yang lonjong menyembul dari tanah. Dari sela-sela batang pohon terdapat rumah-rumah terbuat dari bambu dan bilik. Aku meninggalkan kebun dan berjalan melewati jalan yang kering, yang di pinggirannya ditumbuhi pohon-pohon pisang tidak terurus dan semak belukar. Aku berpapasan dengan orang-orang yang memikul singkong. Langit tampak bersih, matahari bersinar di balik awan-awan yang setipis kapas. Aku duduk di atas bangku kayu di persimpangan untuk beristirahat, minum tiga teguk air dan menghabiskan satu bungkus keripik. Seorang lelaki tua dengan sepeda melintas di hadapanku.

Setelah lima menit, aku melanjutkan perjalanan, mengambil arah ke kanan, melewati jalan berkelok-kelok dan naik-turun, di sisi jalan hanya ada rumput dan ilalang. Butuh kaki dan paru-paru yang kuat untuk berjalan sampai sejauh ini. Untungnya aku sering latihan. Kebiasaan jogingku sangat membantuku menempuh medan yang berat ini. Aku berhenti sejenak untuk membasahi wajahku dengan sisa air di botol. Aku tidak perlu cemas kekurangan air karena Pak Juwanto mengatakan nantinya aku akan bertemu sungai dan, kalau beruntung, bisa melihat perempuan-perempuan mandi di sana.

Lima belas menit kemudian aku memasuki jalan setapak yang diteduhi rimbunan pepohonan rambutan. Aku bisa mendengar gemericik air sungai dan suara tawa perempuan yang kutaksir berada di jarak 30 meter. Tapi hitunganku salah, jarak mereka ternyata lebih jauh 10 meter, aku lupa memasukkan faktor angin yang membawa suara. Tepi sungainya berpasir, airnya jernih dan dangkal sehingga aku bisa melihat batu-batu ikan-ikan kecil di dalamnya. Aku duduk di atas batu, lalu merendam kedua kakiku di air sungai yang dingin, mengabaikan perempuan yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Tapi aku penasaran. Sekilas aku menoleh ke arah perempuan-perempuan itu, yang sayangnya tidak seperti yang kubayangkan sebagai gadis-gadis muda nan cantik berkain batik basah. Mereka semuanya seumuran nenekku.

Setelah menyegarkan diri dan mengisi air botol minuman, aku melanjutkan perjalanan selama dua puluh dua menit, melewati jalan setapak lainnya, menembus pohon-pohon rindang hingga tiba di kebun singkong. Hanya ada satu rumah di pinggiran kebun yang bisa kupastikan itu rumah Mang Jaja. Rumah berdinding bilik itu dikelilingi pagar bambu.

Pintunya tertutup, sapu lidi tersandar di tiang penyangga teras dekat bale, lima ayam betina berkeliaran mematuk-matuki tanah. Aku melangkah masuk, membuka pintu pagar, menutupnya dan mengucap salam dengan suara keras. Tapi tidak ada jawaban. Aku mengulanginya dua kali, lalu kulihat pintu rumah terbuka sedikit. Sepasang mata dari kegelapan menatapku, embusan asap keluar dari rokok terselip di jarinya.

“Pak Juwanto titip salam,” kataku, berharap nama Pak Juwanto bisa membantuku membuka pintu itu. “Aku satpam baru di sekolah.”

Pintu kemudian terbuka lebih lebar. Tidak ada orang yang mempersilahkanku masuk. Tapi aku memberanikan diri melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap itu.

“Rokok?” tanyanya dengan suara serak.

Setelah tiga puluh detik mataku sudah terbiasa berada di ruangan itu, bisa kulihat ada sebuah meja bundar kecil, sedangkan orang yang duduk di kursi di hadapanku bertubuh kurus dan jangkung, tulang-tulang rusuknya tampak dari balik kaos kutang putih.

“Tidak,” jawabku.

“Bagus,” ia melempar rokoknya ke tanah, menginjaknya dan berdehem dua kali. “Sudah berapa lama jadi satpam?”

“Sembilan hari.”

Dari kesan pertama, aku menganggap Mang Jaja seorang yang tertutup dan misterius, air mukanya menunjukkan sikap tidak suka padaku. Tapi ternyata kesimpulanku lebih dari itu. Mang Jaja seakan sedang menyimpan misteri lain dari kemisteriusannya. Misteri di atas misteri. Salah satu misteri itu terungkap ketika mendadak ia berubah gelisah. Ia mengambil tikar dari atas lemari dan setelah itu pergi ke luar rumah lewat pintu belakang. Lima menit kemudian muncul asap yang memenuhi ruangan. Aku memastikan Mang Jaja sedang mengasapi tubuhnya. Asap tikar memang memberikan sensasi hangat untuk menahan gatal, akan tetapi jika tidak diasapi lagi maka gatalnya akan datang kembali. Setelah setengah jam menunggunya, aku memutuskan kembali ke sekolah.

Aku kembali lagi keesokan harinya dengan membawa ceterizine untuknya. Awalnya ia ragu untuk menerimanya. Mungkin ia berpikir, bagaimana mungkin benda sekecil itu bisa mengobati gatal di seluruh tubuhnya. Selang tiga menit, pertaruhan sains versus mitos berlangsung saat ia menerima saranku dan menelan satu tablet ceterizine tanpa air. Ia masih menggaruk di lima menit pertama, tetapi aku berhasil mengalihkan rasa gatalnya dengan menceritakan keadaan sekolah, tentang festival musik Nopember nanti, tentang nasi goreng Pak Juwanto, tentang berat badan Joseph yang turun dua kilo dan tentang pengadaan dua puluh empat laptop baru buat para guru. Usai bercerita, Mang Jaja tidak lagi menggaruk-garuk badannya. Tidak ada pembicaraan setelah itu, kami sama-sama terdiam selama empat menit sebelum akhirnya aku berkata,

“Kurasa rumahmu butuh penyegaran.” Kemudian aku membuka jendela lebar-lebar, mengeluarkan kasur bututnya dan menjemurnya di atas bale.

Merasa tidak enak melihatku bekerja sendiri, Mang Jaja mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan lantai rumahnya. Setelah itu ia mengeluarkan kursi dan meja lalu membersihkannya di luar. Sepanjang siang kami kerja bakti membersihkan rumah, menyiram lantai tanahnya dengan air, menyapu dinding dari debu dan sarang laba-laba, mengelap lemari dan yang lain. Tiga hari kemudian Mang Jaja sudah kembali ke sekolah dengan wajah segar, bersemangat dan tidak lagi seperti gambaran seseorang yang misterius. Ia memujiku di depan Pak Juwanto.

Ketika aku berkunjung ke rumahnya pada Kamis malam, Mang Jaja bercerita tentang hantu-hantu di sekolah. Pada saat itu rumahnya terlihat sangat bersih, sudah dicat putih dan sangat terang dengan lampu gantung.

“Ada belasan hantu bergentayangan di sekolah,” demikian Mang Jaja memulai ceritanya sambil mengoles batang rokoknya dengan ampas kopi. Untuk memilih hantu apa yang  akan diceritakannya, ia pun bertanya, “Malam apa sekarang?” kemudian ia menyalakan korek api dan menyulut rokoknya. Asap biru mengepul diantara kami, cahaya lampu membuat bayang-bayang aneh di dinding. “Malam-malam tertentu menentukan hantu siapa yang muncul. Hantu Nyi Imas di malam Selasa, hantu Kapten Hashimoto di malam Rabu, Genderuwo di malam Kamis, Kuntilanak di malam Jumat. Ada juga hantu yang datang bulanan, kuartalan, semesteran dan tahunan.” Mang Jaja membuang abu rokok ke dalam cangkir.

Meskipun aku tidak percaya hantu, aku sangat antusias mendengarkan ceritanya. Mang Jaja menceritakan satu per satu hantu yang pernah dilihatnya. Ia tahu latar belakang dan kebiasaan-kebiasaan hantu-hantu tersebut. Tentunya yang paling menarik perhatianku adalah hantu seorang Perwira Belanda si pembawa ember; hantu yang paling sering muncul di sekolah. Mang Jaja sangat fasih menceritakannya seakan ia orang pertama yang mendengar ceritanya. Seperti inilah ia menceritakannya padaku.

Lanjut>>

Komentar