Kisah Cinta Tom Love – Eps. 10

Satpam Sekolah

Pekerjaan pertamaku dimulai dari terhentinya pemberian bea siswaku tanpa alasan jelas. Aku memutuskan ambil cuti kuliah dan mencari pekerjaan penuh waktu. Sebenarnya tidak sulit mendapatkan pekerjaan bagiku, tapi pekerjaan yang benar-benar cocok datang secara tidak sengaja saat aku membaca lowongan kecil di sudut bawah koran Harian Rakyat pada Selasa pagi.

Dibutuhkan:

Satpam untuk sebuah SMA Katolik St. Michael Cimenja. Persyaratan:

–    Usia Max. 35 tahun.

–    Bertubuh tegap dan mahir bela diri.

Jika berminat, silahkan hubungi nomor 022 – 233 xx xx.

Aku menelpon itu keesokan harinya melalui telepon umum dekat kampus.

“Halo,” seorang pria di telepon menyapa dengan suara lembut.

“Tentang lowongan satpam di sekolah, apakah masih tersedia?”

“Anda orang keempat yang menelpon. Ketiga calon sebelumnya tidak ada yang datang setelah kubilang nama sekolahnya. Apakah Anda masih berminat menjadi satpam di SMA Katolik St. Michael?”

“Tentu saja. Ada banyak murid St. Michael kuliah di ITB.”

“Anda ingin tahu berapa gaji yang kami tawarkan?”

“Nanti saja setelah kita bertemu.”

Sedikit yang kutahu, SMA Katolik St. Michael berdiri di atas seluas tujuh hektar di daerah pinggiran Cimenja dan konon memiliki sebuah bangunan yang berumur lebih dari seratus lima puluh tahun. Zaman pastinya telah mengubah kesan kuno gedung menjadi modern. Siswa-siswanya berasal dari kalangan orang berada. Mereka datang dari berbagai suku, kebanyakan Tionghoa dan Jawa, dan sebagian lain dari wilayah timur.

Kemudian aku diberinya nama orang yang akan kutemui dan waktu janji bertemu jam delapan pagi besoknya. Jarak Cimenja yang hanya dua puluh menit berjalan dari tempat kosku membuatku tidak terlalu terburu-buru. Aku memakai sepatu kets warna putih; satu-satunya sepatu yang kupunya, kemeja lengan pendek warna biru dan celana panjang bahan warna biru tua yang belum disetrika, membawa tas selempang yang berisi resume, CV dan dua lembar fotoku dalam baju Karate. Aku melewati jalan yang ditumbuhi pepohonan rindang, di sepanjang jalan aku memikirkan pekerjaanku nantinya: Satpam sekolah. Kedengarannya tidak keren, tapi nama SMA Katolik St. Michael bisa jadi jaminan aku dapat gaji yang lumayan. Sepertinya tidak banyak yang akan kulakukan di sana selain mengawasi anak-anak nakal. Anak-anak nakal? Yang kutahu para alumni SMA Katolik St. Michael berterbaran di ITB, UI, Oxford, Cambridge, Harvard sampai MIT.

Aku tiba di pintu gerbang sekolah delapan menit sebelum waktu wawancara. Seorang pria empat puluh tahun berpakaian serba hitam membuka pintu gerbang untukku. Ia kemudian menyalamiku dan memperkenalkan dirinya sebagai Pak Juwanto. Ia sudah diberitahu perihal kedatanganku melamar pekerjaan di sekolah. Di sepanjang jalan mengantarku, ia bercerita tentang dirinya. Ia seorang tukang nasi goreng yang dibayar menjaga pintu gerbang selama jam sekolah menggantikan penjaga sebelumnya yang mengundurkan diri. Aku kagum dengan sifat rendah hatinya, keramahan dan pilihan kata cerdasnya, seperti kata efisien sebagai pengganti kalimat minyak goreng hemat atau kata fleksibelitas ketika menjawab pertanyaanku tentang bagaimana caranya mengatur jadwal berdagang dan menjaga pintu gerbang sekolah. Bahkan, ia mengucapkan kalimat yang kuanggap sebagai pujian saat kami tiba di lobi.

“Kau memiliki aura keberanian, Nak. Kau memiliki aura keberanian.”

Kemudian ia pamit dengan cara membungkuk di hadapanku sambil melangkah mundur lalu meninggalkanku dalam penasaran.

Kau memiliki aura keberanian, Nak. Kau memiliki aura keberanian. Kata-kata itu masih teringang di dalam kepalaku.

*

Sekolah tampak lebih luas saat aku berada di dalamnya. Kaca jendela menampakkan bayangan deretan siswa yang sedang belajar. Sesekali terdengar suara tepuk tangan dari dalam kelas. Tiba-tiba seorang siswa gendut menyenggol lenganku dari belakang, berlari terbirit-birit menuju toilet samping lobi. Aku memutuskan untuk menunggunya di pinggir lapangan basket. Setelah tujuh menit, ia melangkah keluar dengan santai; rembesan air terlihat jelas di celana abu-abunya.

“Hei, Dik!” panggilku.

Ia berhenti melangkah, lalu mendatangiku sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Telapak tangannya yang basah membuatku ragu untuk menyambutnya.

“Maaf,” katanya menyengir, mengelap tangannya di bagian belakang celana lalu menyodorkan kembali tangannya yang sudah lebih kering. Tapi aku masih tidak ingin bersalaman. “Aku Joseph.”

“Aku ada janji dengan kepala sekolah.”

Please follow me, Sir.”

Kami berjalan melewati empat ruang kelas, sebuah perpustakaan besar, dan berbelok di ruang laboratorium fisika, tempat ia mulai mengoceh soal hantu. Untuk sebuah perjalanan pendek, anak ini terlalu banyak bercerita.

“Mengerikan!” katanya, mengejutkanku. “Hantu dimana-mana … Maunya sih pindah sekolah, tapi ayah bilang tidak boleh. Ayah bilang laki-laki tidak boleh jadi pengecut.”

“Jadi, ayahmu tahu?”

“Apa?”

“Tentang hantu-hantu di sekolah?”

“Dulu ayahku pernah sekolah di sini.”

Aku memperhatikan detil bangunan dan menghitung kemungkinan-kemungkinan munculnya tindak kriminalitas. Setelah melewati ruang guru dan tata usaha, kami tiba di depan ruang kepala sekolah. Joseph mengetuk pintu tiga kali dan membukanya. Tapi tidak ada seorang pun di dalam.

“O iya … lupa, Bos,” Joseph menepuk jidat. “Kepala sekolah lagi ada rapat.” Tapi ia terlihat tidak tega meninggalkanku sendirian. Karena itu ia tetap berdiri untuk menemaniku.

“Joseph …,” kataku. “Aku tidak apa-apa.”

“Aku hanya merasa tidak enak meninggalkan Anda sendiri, Sir.”

“Aku tidak apa-apa.”

“Anda yakin?”

Aku mengangguk.

“Ok. Anda tunggu saja di dalam.”

“Terima kasih.”

Kemudian aku duduk di sofa putih di ruangan yang dipenuhi benda-benda religi. Ada patung Bunda Maria berada di sebuah cerukan marmer di dinding, Salib terpasang di dinding, gambar Yesus berpigura dan Bible di atas meja. Ada juga foto-foto siswa yang sepertinya baru memenangi kompetisi. Aku tahu nama kepala sekolah dari plakat nama ‘Drs. Sardjono – Kepala Sekolah’ di atas meja. Kesejukan pendingin ruangan cukup membuatku nyaman dan ingin tidur sebentar. Namun, kesempatan itu tidak terjadi ketika dua menit kemudian aku dikejutkan suara pintu dan kemunculan seorang pria paruh baya berdasi merah.

“Anda pasti Pak Donlot,” sapanya, suaranya sangat lembut. Atau, lebih tepatnya gemulai? “Kalau aku tidak salah nama.”

Kami bersalaman. Permukaan telapak tangannya lembut seperti kapas, bibirnya kemerahan. Ia tampak gembira bertemu denganku seolah aku orang yang lama dinanti. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Dr. Sardjono, pria yang menjawab teleponku.

Aku duduk di ujung sebelah kanan sofa. Pak Sardjono duduk di bagian tengahnya lalu bergeser mendekat … bahkan sangat dekat sampai-sampai bisa kurasakan nafasnya. Ia menaruh tangannya di atas senderan sofa, jari tengahnya hampir menyentuh pipi kiriku. Aku menarik kepalaku untuk menghindari keintiman diantara kami.

“Sekolah kehilangan dua mesin tik bulan lalu,” ia berkata, menarik tangannya untuk mengusap hidungnya. “Aku tidak berharap Anda bisa menangkap malingnya, tapi setidaknya sekolah ini bisa lebih aman kalau ada satpam.” Ia menyilangkan kakinya hingga celananya sedikit terangkat dan terlihat betisnya yang tanpa bulu.

Aku memberikan lembaran resume, CV dan dua fotoku dalam pakaian Karate. Ia membacanya sambil manggut-manggut, lalu melirik ke arahku saat melihat fotoku dalam pakaian karate.

“Satu juta lima ratus ribu,” ia menyebut gajiku. “Anda bisa tinggal di rumah belakang sekolah. Tapi maaf, tidak ada kamar mandi di sana. Anda bisa memakai kamar mandi guru. Anda juga bisa bebas beribadah. Ada dispensasi waktu untuk sholat Jumat, cuti hari raya, dan kupon makan yang bisa ditukar di kantin.”

“Setuju.”

“Kami akan menaikkan gaji Anda kalau Anda bisa bisa bertahan lebih dari tiga bulan. Anda tahu alasan satpam-satpam sebelumnya mengundurkan diri?”

Sepertinya ia tidak bermaksud menakuti-nakutiku, atau karena sudah terbiasa mengatakannya kepada pelamar sebelumnya, atau mungkin karena aku terlihat seperti seorang laki-laki pemberani.

“Goncangan jiwa setelah melihat hantu? … Gila?”

“Seperti itulah. Anda percaya hantu?”

“Tidak.”

“Satpam sebelumnya juga tidak percaya hantu,” ia tertawa hingga terdengar bunyi tersedak dari dalam mulut dan hidungnya.

Pintu terbuka, seorang pria menyelonong masuk dan memotong pembicaraan kami.

“Say, aku baru coba resep tumis cumi dari kamu …. ” kalimatnya terhenti setelah melihatku. Nantinya kukenal laki-laki itu sebagai guru bahasa Inggris.

“Kurasa aku harus pergi,” kataku, bangkit berdiri.

“Datang lagi Rabu depan,” kata Pak Kepala Sekolah. “Aku akan menyiapkan seragam Anda.”

Aku menyalami keduanya. Tangan guru bahasa Inggris menjabat lama tanganku. Aku menarik tanganku perlahan tanpa bermaksud menyinggung perasaannya lalu pergi meninggalkan mereka. Dari luar, aku bisa mendengar candaan mereka berdua tentang diriku dan menganggapku sebagai laki-laki yang cute tapi macho.

*

Sekolah memberiku dua stel seragam dinas; satu stel baju warna putih dan celana biru tua, satu stel lain berwarna hitam-hitam dan sepasang sepatu PDH. Aku diperkenalkan kepada tiga wakil kepala sekolah, tiga puluh empat guru, tujuh petugas Tata Usaha, dan empat pengurus OSIS. Satu minggu pertamaku cukup menggairahkan, orang-orangnya ramah dan menyenangkan, tidak ada tanda-tanda maling atau hantu yang berkeliaran. Aku bertugas mulai jam sepuluh dengan berkeliling di selang waktu dua jam sampai jam tiga sore, dan setelah itu istirahat sebelum mulai bekerja lagi setelah maghrib. Aku bisa mendengarkan pelajaran berbeda di tiap kelas yang kulewati. Aku menyukai cara guru sejarah menerangkan Revolusi Prancis dengan mengambil kutipan dari novel Les Miserables. Kuis di mading khusus berisi soal matematika dan fisika masih belum terjawab sejak tayang tiga hari lalu.

“Tidak akan ada yang bisa jawab,”  kata Pak Jeffrey, guru Fisika, dengan bangganya mengenai soal itu. “Tentu saja Joseph pengecualian. Tapi ia tidak boleh menjawabnya.”

Pak Norman, yang berdiri di sampingnya ikut berkata, “Itu karena kami mengajar dengan sangat baik.”

Baik Pak jeffrey maupun Pak Norman lulusan dari perguruan tinggi bergengsi dunia: Pak Jeffrey dari Princeton sedangkan Pak Norman dari MIT. Keduanya sama-sama membawa roti isi untuk sarapan, fans berat The Beatles dan mengendarai Corolla coklat. Pak Jeffrey bertubuh tinggi kurus, matanya sayu dengan tulang pipi yang menonjol. Pak Norman sedikit lebih tinggi dan lebih kurus. Matanya lebih sayu dari Pak Jeffrey, sehingga orang akan menyangka ia sedang tertidur. Satu-satunya yang tidak dimiliki Pak Norman dari Pak Jeffrey adalah ia tidak punya kumis. Kekurangan hormon tidak memungkinkan rambut tumbuh di ketiaknya, demikian Pak Jeffrey mengungkapkan rahasia Pak Norman padaku. Keduanya sering membanggakan almamaternya, yang sayangnya malah menyeret Joseph ke dalam kompetisi ‘Matematika versus Fisika’, mana yang lebih baik? Ketika perdebatan itu terjadi, aku berada di sana, di kantin, tepat di sebelah mereka, di meja nomor 3.

“Joseph akan dapat nobel jika dia memilih fisika,” Pak Jeffrey berkata.

“Tidak, Sobat,” sanggah Pak Norman, “Joseph akan menjadi matematikawan sama seperti Newton.”

 “Ah, kau ini. Newton itu seorang fisikawan.”

“Kau salah. Newton itu seorang matematikawan sejati. Bahkan Einstein sekali pun tidak akan memenangkan nobel tanpa ahli matematika.”

Aku mulai menikmati perdebatan kecil mereka tanpa memihak salah satunya. Seperti sudah biasa, para siswa di sekitar mereka tidak merasa terganggu.

“O, ya? Tapi para jenius datang dari fisikawan. Dunia tidak akan modern tanpa fisikawan.”

“Kau lupa bagaimana matematika membuat fisikamu berarti. Tanpa matematika, fisikawan hanyalah sekumpulan pengkhayal.”

“Hawking akan marah jika mendengarnya, Tuan.”

“Pastinya si Xavier itu akan berterima kasih kepada ahli matematika.”

“Dan kau akan berterima kasih kepada fisikawan yang telah menciptakan microwave.”

“Dan terima kasih juga untuk kehancuran Hiroshima-Nagasaki,” kata seorang siswi di meja 4 dengan suara pelan.

“Dan terima kasih juga untuk kehancuran Hiroshima-Nagasaki,” kata Pak Norman.

“Yeah, sama-sama,” jawab Pak Jeffrey, memotong lontong sayurnya dengan sendok. “Dunia juga akan berterima kasih untuk listrik nuklir murah.”

“Kau lupa Chernobyl.”

“Sialan! Itu-kan masa lalu. Lagi pula, kalau bisa dibilang semua kehancuran akibat teknologi disebabkan salah penghitungan maka itu adalah kesalahan para ahli matematika.”

“Kurang ajar! Bisakah kau tidak menyudutkan kami?”

“Tidak. Sebelum kau mengakui fisika lebih unggul dari matematika dan membiarkan Joseph menjadi pewarisku.”

“Pastinya Joseph akan jadi pengangguran jika memilih fisika.”

Well, kurasa ini saatnya aku menjadi penengah dan mengakhiri perdebatan.

“Kalian tahu,” kataku yang kini sudah berada di antara mereka. “Joseph akan tidak pernah menjawab kuis kalian.”

Mereka saling berpandangan.

“Itu karena Joseph tidak akan menjadi ahli matematika ataupun fisika!”

Pak Norman dan Pak Jeffrey bangkit berdiri bersamaan. Mereka melempar serbet ke atas meja dan meninggalkan tempat itu tanpa berkata-kata.

Hari sebelumnya aku bertemu Joseph setelah jam pulang sekolah. Ia tahu ia diperebutkan dua guru dan itulah mengapa ia selalu menghindari dua Corolla coklat itu.

“Jadi Joseph, kau pilih fisika atau matematika?” tanyaku.

“Tidak keduanya,” jawabnya. “Kautahu, aku selalu ingin jadi antropolog seperti Indiana Jones.”

“Maksudmu arkeolog?”

“Ya, maksudku arkeolog.”

Lanjut>>

Komentar