Kisah Cinta Tom Love – Eps. 1

Penyelidikan

Tom Love pastinya meninggalkan jejak yang bisa dilacak, jejak yang sangat jelas tapi tidak diperhatikan. Dengan gaya menulis yang sederhana dan pengulangan di kata-kata tertentu – semisal kata Lalu, KemudianSetelah itu, dan Tetapi – sepertinya aku akan dengan mudah menemukan jejaknya di internet. Hal ini kulakukan karena melihat kemungkinan Tom Love memiliki akun media sosial atau blog pribadi yang ditulis menggunakan gaya atau pola yang sama seperti dalam novelnya. Tapi aku tidak melakukannya. Mencari jejak di internet sama seperti mencari tumpukan jarum dalam jerami, sementara aku tidak punya magnet-nya. Sebagai alternatif, aku akan menyelidiki latar tempat di dalam novelnya.

Gagasan ini seharusnya bisa sedikit membantu mengingat cukup banyak penulis terkenal punya ikatan batin atau pengalaman masa lalu pada sebuah tempat. Misalnya, Stephen King yang sering menceritakan tempat tercintanya: Kota Maine. Atau, Annie Proulx dengan Wyoming-nya. Maka, kemungkinan besar Tom Love pernah tinggal atau singgah di suatu tempat di dalam novelnya. Meskipun semua latar tempatnya dibuat-buat, kutemukan satu latar tempat yang namanya mirip satu daerah di dunia nyata, yakni Slamen. Kau pasti tahu daerah nyata mana yang kumaksud.

Aku pergi ke Sleman keesokan subuhnya, menyetir Mini putihku lewat jalur tol dan tiba di Sleman menjelang jam tiga sore.

Yang sedang kusinggahi adalah bagian kotanya, dan aku masih harus mengemudi lagi ke utara seperti gambaran dalam bukunya yang disebutnya daerah berbukit dan dekat gunung. Tom tidak menjelaskan gunung apa yang dimaksud, tapi aku yakin itu Gunung Merapi.

Ini perjalanan sendirian pertamaku di tahun ini ke daerah pedesaan. Biasanya aku mengunjungi kampung halaman ayahku di Majalengka atau kampung ibuku di Semarang saat lebaran. Tapi karena kesibukanku memburu Tom Love, maka aku merayakan lebaran tahun ini di Jakarta. Bisa dikatakan perjalanan ini sekaligus sebagai penyegaran. Aku menikmati suasananya yang damai, menyusuri jalan yang membelah hamparan sawah, deretan pohon pisang, rumah-rumah berdinding kayu, melintasi jembatan dengan sungai kecil di bawahnya.

Semakin jauh jalan yang kutempuh semakin menanjak jalannya, berkelok-kelok, sisi-sisinya ditumbuhi pohon-pohon tinggi nan rindang. Lama kelamaan suasana sekitar menjadi sepi meskipun sesekali aku berpapasan dengan sepeda motor yang melaju kencang. Sebetulnya aku menikmati suasananya yang sepi, tapi aku malah jadi ragu apakah aku benar-benar tahu tujuanku. Aku menyadari bahwa apa yang membawaku ke tempat ini semata-mata karena firasatku. Rasa-rasanya hampir mustahil aku menemukan jejak Tom Love di tempat seluas ini. Ketika merenungi itu, tanpa kusadari aku sedang melambatkan laju mobilku. Hari sudah hampir sore, langit yang sedari tadi mendung akhirnya memuntahkan air hujan. Kupikir perjalananku untuk sementara berakhir di sini dan aku harus segera mencari tempat penginapan.

Seingatku, sebelum hujan turun aku melihat sebuah papan berwarna biru berbentuk tanda panah menempel di tebing bertuliskan: Penginapan 300 meter. Aku membelokkan mobilku menuju jalan kecil yang menanjak sampai bertemu rumah bertingkat dengan halaman yang luas.

Rumah penginapan itu tampak sepi, hanya ada satu mobil van putih yang terparkir di bawah pohon besar dan sepertinya aku satu-satunya tamu di sini. Hujan yang turun deras memaksaku bertahan di mobil. Aku menyalahkan diriku karena tidak menaruh kembali payung ke dalam mobil. Aku baru akan keluar ketika kulihat seseorang dengan payung berlari menuju mobilku. Aku menurunkan kaca jendela lalu kudengar ia berkata,

“Mau menginap?”

“Iya,” jawabku. Kemudian aku mengambil tas ransel di jok belakang lalu turun dari mobil.

Laki-laki muda itu memayungiku dan mengantarku sampai teras rumah penginapan. Aku menggosok-gosokan sepatuku di keset sebelum masuk ke dalam rumah. Bagian kanan tubuhku basah, untungnya tasku anti air sehingga tidak perlu cemas buku dan laptopku kebasahan. Aku mengisi buku tamu dan membayar sewa kamar untuk dua hari.

Laki-laki muda itu benar-benar melayaniku, ia membawakan tasku saat mengantarku ke kamar. “Ada handuk kering di lemari,” katanya. “Kalau Anda ingin air panas, saya bisa rebus air.”

“Terima kasih,” kataku, memberikan tip sebagaimana yang biasa kulakukan saat menginap di hotel. Tetapi ia menolaknya. Ia malah berkata:

“Anda mau secangkir ramuan jahe hangat?”

“Boleh. Tidak usah diantar ke kamar. Aku akan minum di bawah.”

“Baik, Pak,” katanya, kemudian ia pergi meninggalkan kamarku.

Tampaknya kamar ini memang sudah disiapkan untukku. Ada sebuah meja kerja dekat jendela, lemari pakaian, dan kamar mandi yang bersih. Hal ini membuatku cukup terkejut, karena dengan harga yang murah aku mendapatkan layanan dan fasilitas yang sangat bagus. Setelah membersihkan diri dan sholat maghrib, aku pergi ke lobi.

Ruangan lobinya lumayan luas dan tertata rapih, ada empat meja kayu bulat yang masing-masing diisi tiga kursi kayu. Seekor kucing oranye gemuk tidur nyenyak di salah satu kursi. Aku sedang membaca buku kelima Tom Love ketika seorang pria berusia sekitar enam puluhan mendatangiku. Kami bersalaman, ia duduk di kursi sebelah kananku dan berkata, “Dari mana, Mas?” Aku baru akan menjawabnya ketika laki-laki muda tadi membawakan secangkir ramuan jahe dan meletakannya di atas meja. Ramuan jahe itu disajikan dalam cangkir seng, aromanya kuat. Pria tua di sebelahku mengatakan bahwa ramuan jahenya beda dengan kebanyakan. Namun, ia tidak menjelaskan apa yang membedakannya. Jujur saja, aku jarang sekali minum ramuan jahe sehingga setelah kucoba ramuan jahe itu aku tidak tahu perbedaannya.

Seingatku, aku belum menjawab pertanyaannya, tahu-tahu ia sudah bercerita tentang rumah penginapan ini. Tentu saja ia pemiliknya. Kakeknya membelinya dari seorang arsitek ternama dengan harga murah. Ia tidak tahu seberapa murahnya, yang ia tahu harga rumahnya kala itu seharga seekor ayam jantan. Sebetulnya, kakeknya bisa saja dapat gratis, tetapi ditolaknya. Setelah negosiasi yang singkat, mereka akhirnya menyepakati harganya. Aku bertanya kenapa rumah ini dihargai begitu murah? Pemilik penginapan menjawab, bahwa ketika kakeknya membeli rumah ini sang arsitek belum jadi menantunya. Dan kami pun tertawa.

Kabut sudah menyelimuti lingkungan penginapan, hujan turun deras, namun suasana di dalam penginapan terasa hangat. Kemudian pemilik penginapan melanjutkan ceritanya. Kali ini ia bercerita tentang istri tercintanya yang meninggal delapan tahun lalu, dan ketiga anaknya yang kini tinggal di Surabaya. Ia mengurus rumah penginapannya bersama seorang keponakannya – laki-laki muda itu – selama tiga tahun terakhir. Tidak banyak yang singgah di penginapannya, tetapi bukan karena uang ia membuka rumah penginapan. Ia ingin berkenalan dengan orang-orang baru dan berbagi cerita. Bicara tentang bercerita, ia merasa tidak enak karena terlalu banyak bicara. Karena itu ia bertanya padaku,

“Kalau boleh tahu, apa tujuanmu datang ke sini?”

“Aku mencari penulis buku ini,” kataku menunjukkannya novel Tom Love yang kelima itu. Lalu kubuka halaman 43, kemudian jari telunjukku menekan kata Slamen. “Aku yakin, yang dimaksud pasti Sleman. Tapi Sleman sangat luas. Jadi aku pergi saja sejauh yang kusanggup. Mungkin aku bisa saja sampai lereng Merapi. Tapi hari sudah sore dan turun hujan. Akhirnya tiba di tempat ini.”

“Boleh kupinjam?” tanyanya meminta bukuku. Kemudian ia memakai kaca mata plusnya yang dari tadi menggantung di leher, lalu mengambil novel yang kupegang, membaca sampul buku dan halaman belakangnya, dan berkata, “Tebakanku benar. Tom Love yang kau maksud pernah bermalam di sini.” Ia meletakkan buku tersebut di atas meja, lalu bangkit dan berjalan menuju meja penerima tamu, dan kembali dengan sebuah buku tamu berwarna merah. Dibukanya beberapa halaman sampai akhirnya menemukan tanggal yang dituju, kemudian ditelusurinya nama-nama tamu dan berhenti di nama Lev Moot. “Aku langsung tahu karena namanya yang aneh. Lihatlah tanda tangannya.” Ia menekan tanda tangan berinisial TL.

“Kau benar,” kataku bersemangat. “Itu sebuah anagram.”

“Tom Love menginap di kamar yang kautempati. Yang kuingat ia seorang yang ramah tapi jarang bicara. Jadi maaf kalau aku tidak bisa ceritakan lebih banyak tentang dia”

“Tidak apa-apa. Aku juga mohon maaf karena harus pergi ke kamar,” kataku yang tiba-tiba teringat sesuatu.

Kami bangkit hampir berbarengan, pemilik penginapan berkata, “Selamat beristirahat.”

Kemudian aku bergegas menaiki tangga, melempar tubuhku ke ranjang, membuka-buka halaman buku Tom Love dan menemukan sesuatu yang membuatku terlompat. Semestinya aku menyadarinya dari tadi, bahwa sebagian latar tempat di dalam novelnya berasal dari rumah penginapan ini; meja yang menghadap taman, lemari kayu jati berukir, cermin berbingkai kayu jati. Aku jadi curiga pada pemilik penginapan. Betulkah ia tidak pernah mengobrol dengan Tom Love? Atau, ada sesuatu yang disembunyikannya? Tapi buat apa? Aku terus mempelajari lagi halaman demi halaman dan mendapatkan lebih banyak petunjuk dari yang kukira. Ramuan jahe membuat mataku tetap terjaga, tapi lepas jam dua pagi kuputuskan untuk tidur.

Aku tidur seperti bayi, dan bangun dalam keadaan segar. Kira-kira jam tujuh aku pergi ke luar penginapan. Matahari sudah bersinar terang, sehingga tampak jelas rumah penginapan ini terlihat sangat indah dan persis seperti yang digambarkan Tom Love dalam bukunya. Bangunannya bertingkat dua dan sangat besar, cat putihnya memang agak kusam tapi tidak begitu kentara. Tentunya, kesan pertama melihatnya begitu klasik, elegan dan teduh. Itu karena rimbunan dedaunan dua pohon besar di halaman sampingnya yang luas. Akarnya menyembul, memanjang sampai ke tembok pagar yang diselimuti lumut dan tanaman rambat – dua ekor burung pagi melompat-lompat di atasnya. (Bahkan dua burung itu digambarkan juga dalam novelnya!)

Aku menyusuri rumah penginapan mengikuti alur novelnya; berjalan ke sebuah taman yang ditumbuhi bunga beraneka warna, lalu duduk sebentar di pendapa sambil memandangi ikan-ikan di kolam, dan setelah itu pergi ke luar lingkungan penginapan melalui pintu kayu yang tidak dikunci.

Jalan setapak membawaku ke sebuah tempat yang ditumbuhi pohon-pohon kopi yang tumbuh liar. Hujan deras sepanjang malam menyebabkan tanah jadi berlumpur. Aku melangkah di atas bagian yang ditumbuhi rumput sehingga aku bisa melintasinya tanpa khawatir celanaku terkena percikan lumpur. Jalur itu semakin menyempit karena semak belukar, matahari menembus daun-daun yang rimbun, memantulkan cahaya dari tetesan air di ujung daun.

Lima belas menit kemudian aku sudah berada di permulaan jalan setapak lain. Di belakang sana, di jalan yang baru saja kulalui, yang terlihat hanya semak belukar dan rimbunan pohon kopi. Tubuhku sedikit berkeringat meski udara tidak begitu panas. Aku membuka jaketku, mengikatnya di pinggang dan minum beberapa teguk air.

Lalu aku menyusuri jalan setapak yang menanjak, sisi jalannya ditumbuhi padang ilalang, sementara di sisi lain ada barisan pepohonan. Sinar matahari semakin terik, namun dorongan untuk berada di sana membuatku lupa akan rasa lelah. Aku menapaki punggung bukit sepanjang seratus meter hingga tiba di sebuah padang rumput. Sepertinya jalur yang kulalui merupakan sisi belakang bukit, tapi ketika menengok ke belakang, jalur itu seakan jadi sisi mukanya. Aku bisa melihat rumah penginapan dari puncak bukit yang sepertinya tidak terlalu jauh, dan kurasa, jalur tempat aku datang masih bagian dari wilayah rumah penginapan. Kemudian aku melangkah turun beberapa meter, ke sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi namun rindang.

Aku disambut pemandangan menakjubkan berupa bukit-bukit lain nun jauh di sana, ada juga yang berupa tembok hijau raksasa, dan lebih jauh lagi, di belakang bukit-bukit itu, berdiri Gunung Merapi yang perkasa. Aku juga bisa melihat perkampungan di bawahnya, yang disebut Tom Love sebagai Haida. Aku bisa mengenalinya dari sebuah pondok di dekat sungai. Aku juga melihat beberapa rumah yang sama persis seperti yang digambarkan Tom Love dalam novel terakhirnya, begitu juga dengan jalur-jalurnya, masjid berwarna hijau, pasar yang dipenuhi tenda, dan sekolah. Memang, ada beberapa tempat yang tidak disebutkan, seperti jalan beraspal dengan kendaraan yang lalu lalang, perkampungan lain di sebelahnya, lalu perkampungan di sebelah perkampungan lain, dan perkampungan di sebelah perkampungan lain di sebelah perkampungan lain – setidaknya, ada tiga atau empat kampung di sana. Haida diceritakannya sangat terpencil, jalan tanah, belum dialiri listrik dan sangat tradisional.

Di sini sangat sejuk meski matahari cukup terik. Aku membayangkan diriku sebagai Tom Love yang sedang menulis buku. Setelah kuamati, kupikir, ilhamnya datang dari tempat ini, saat ia duduk memandangi kampung tersebut lalu menulis ide-ide penting di dalam buku jurnalnya. Ia mungkin pernah mendatangi kampung tersebut, bertanya pada penduduknya, berbaur atau bahkan menginap di salah satu rumah penduduk. Tapi, perlukah aku pergi ke sana, untuk menunjukkan foto Tom Love dan bertanya apakah orang di foto tersebut pernah datang ke sini? Perlu ditegaskan di sini, bahwa kedatanganku ke tempat ini untuk mencari keberadaan Tom Love, bukan untuk menapaktilasi perjalanannya. Dan sudah menjadi prinsipku, bahwa aku harus selalu melihat ke depan. Bukan sebaliknya.

Menjelang tengah hari aku kembali ke rumah penginapan. Laki-laki muda itu berdiri di ambang tangga, menyapaku dengan sopan dan mengatakan sajian makan siang sudah siap di meja makan. Aku mengucapkan terima kasih dan berkata akan menyantapnya setelah sholat zuhur. Ketika aku kembali ke lobi, aku tidak melihat laki-laki muda itu maupun pemilik penginapan. Kucing oranye gemuk masih tidur di kursi yang sama. Aku mengelus kepalanya, tapi kucing itu tidak bergerak. Kucing itu tidur sangat lelap, perutnya naik-turun, gigi taringnya menyembul dari mulut yang rapat. Kemudian kuusap perutnya yang gembul dan kucing itu pun menggeliat, membalik badan, mengulet lalu tidur lagi.

Ruang makannya tidak terlalu besar, masih menyatu dengan lobi, bersebelahan dengan halaman samping yang indah, meja makannya yang terbuat dari kayu bulat itu sudah dipenuhi piring bersisi lauk pauk. Rasa-rasanya agak aneh menemukan sayur asem, sambal dan lalapan di tempat ini. Kenapa bukan gudeg atau soto? Tapi pertanyaan yang seharusnya kauajukan adalah siapa yang memasaknya? Setahuku tidak ada orang lain selain pemilik penginapan dan laki-laki muda itu. Barangkali pemilik penginapan memesannya di tempat lain. Namun, terlepas dari itu, semua sajiannya sangat lezat.

Aku jalan berkeliling setelah makan siang, menelusuri koridor samping yang terhubung dengan ruang santai. Ada satu set sofa yang nyaman, TV layar besar dan pemandangan langsung ke taman. Kemudian aku menuju ruangan lain dengan pintu yang sengaja tidak dikunci; sebuah perpustakaan dengan ribuan buku yang tersusun rapih di rak. Masing-masing diurutkan berdasarkan kategori dan urutan abjad nama penulisnya. Aku menelusuri deretan buku yang kebanyakan buku-buku lama dan menemukan satu novel favoritku: The Grapes of Wrath. Ada juga yang edisi Indonesianya yang dicetak dua jilid, yang diterjemahkan dengan judul Amarah. Aku juga menemukan In Cold Blood dan berbagai karya klasik. Perpustakaan ini juga menyimpan buku-buku yang lebih baru yang disimpan di rak yang berbeda. Sebut saja serial Harry PotterThe Hunger Games dan deretan karya Stephen King. Tapi sayangnya, aku tidak menemukan satu pun karya-karyanya Tom Love.

Ruang santai itu juga terhubung dengan ruang makan utama. Mejanya luas dan panjang, yang memuat dua puluh enam kursi dan sebuah lampu hias yang menggantung di tengahnya. Di sebelah ruang makan, ada dapur modern yang menghadap halaman belakang rumah yang dilengkapi dengan lemari es besar, kompor gas mengilap, oven canggih, deretan pisau, sendok dan garpu yang berbaris di atas meja marmer, panci-panci yang digantung di atasnya. Aku melihat halaman belakang yang luas dengan jalan setapak yang menuju entah kemana.

Setelah puas melihat-lihat, aku kembali ke ruang makan dan mendapatkan meja makan sudah bersih. Saat menaiki tangga lobi, kulihat laki-laki muda sedang berjalan masuk ke rumah penginapan. Aku memanggilnya dan menyodorkan sejumlah uang untuk bayaran makan siang. Tetapi ia menolaknya. Ia bilang makan siangnya gratis. Begitu pun dengan makan malam dan kopinya. Semuanya gratis.

Sepanjang hari itu tidak kulihat pemilik penginapan. Aku tidak menanyakannya pada laki-laki muda itu karena aku tidak punya keperluan. Malamnya, aku menulis jurnal perjalananku mencari keberadaan Tom Love seperti yang sudah kaubaca di bab ini dan bab sebelumnya. Lalu aku berbaring di ranjang sambil membaca ulang catatan-catatan wawancaraku dan daftar toko buku yang pernah kudatangi. Untuk kauketahui, di antara toko buku yang masuk dalam daftarku, ada satu toko buku yang dapat kiriman buku Tom Love namun sengaja tidak kukunjungi. Aku punya alasannya. Peristiwa itu sudah sangat lama dan harus kuakui, aku pernah bermasalah di sana. Aku sudah berencana untuk kembali ke sana suatu saat nanti – entah kapan. Tetapi, membaca situasi saat ini, sebaiknya aku mengunjunginya sesegera mungkin.

Lanjut>>

Komentar