Kisah Cinta Tom Love – 2

Penyelidikan

Tom Love pastinya meninggalkan jejak yang bisa dilacak, jejak yang sangat jelas namun tidak diperhatikan. Dengan gaya menulis yang sederhana dan pengulangan di kata-kata tertentu, sepertinya aku bisa dengan mudah menemukannya. Aku mulai dengan pencarian di Google, karena kemungkinan Tom Love memiliki blog pribadi atau pernah menulis di internet menggunakan kata-kata yang sama seperti dalam novelnya.

Tidak mendapatkan hasil, aku mencoba menyelidiki seting tempat dalam novelnya. Cukup banyak penulis terkenal yang punya ikatan batin atau pengalaman masa lalu dengan sebuah tempat, seperti Stephen King yang sering menceritakan Maine atau Annie Proulx dengan Wyoming. Kemungkinan besar Tom Love pernah tinggal di suatu tempat di dalam novelnya meskipun dia tidak pernah menulis tempat yang nyata.

Cisangkela dan Slamen yang sering jadi latar belakang tempat di novel-novelnya Tom Love memang tidak pernah ada dalam peta, tapi aku pastikan dua daerah itu adalah Cicalengka dan Sleman. Selama dua bulan aku menjelajahi dua tempat tersebut dan bertanya pada orang-orang di sana. Tentunya aku tidak menanyakan, “Apakah Anda pernah melihat Tom Love?” sambil menunjukan fotonya, melainkan, “Di mana tempat terbaik untuk menulis?” Rata-rata mereka menjawab kafe, hotel, atau beberapa tempat wisata. Aku pergi ke semua tempat yang disebut dan menelitinya. Hanya sedikit orang yang menulis di tempat-tempat tersebut, tidak ada yang mirip Tom Love.

Selanjutnya, aku berharap ada petunjuk dari toko buku.

Pencarian awalku memang dari toko buku, namun ketika kupikir sudah menyelediki semua toko buku, aku melewatkan satu. Letaknya di jalan Braga, salah satu toko buku tertua di Bandung. Pemiliknya seorang wanita tua berkacamata tebal yang beberapa bukunya pernah pernah kucuri. Tentu saja, kalau bukan karena urusan Tom Love aku tidak akan kembali ke sini. Aku berharap sang pemilik tidak mengenaliku.

Oma sedang membersihkan buku-buku di rak dengan kemoceng saat aku datang. Pendengarannya masih bagus karena dia menengok ke arahku ketika aku membuka pintu. Oma masih sama seperti dua puluh dua tahun lalu dengan rambut putih yang tersisir rapih, baju putih berenda dan rok hitam panjang. Tatapannya hangat dengan wajah yang menyenangkan, membuatku berpikir kalau dia tidak pernah mengenaliku. Seperti biasa aku memperkenalkan diri sebagai seorang blogger.

“Mengenai Tom Love,” kataku. “Apakah ada tanda-tanda Tom Love akan mengirim bukunya lagi?”

Oma menurunkan sedikit kacamatanya untuk melihat jelas wajahku, dan setelah itu dia melihat foto di sampul novel Tom Love. Dia menaikkan kacamatanya lagi dan berkata, “Tunggu sebentar,” lalu dia berjalan menuju rak untuk mengambil sebuah buku.

“Itu bukan Tom Love,” kata Oma. “Ia lebih tampan.”

“Kau yakin?”

Oma kembali dengan membawa sebuah buku.

“Aku masih ingat anak itu walaupun sudah lama tidak melihatnya. Tom pernah meminjam buku ini bertahun-tahun lalu.” Oma menyodorkan The Grapes of Wrath  padaku.

“Bagaimana kau yakin orang itu Tom Love?” tanyaku sambil membuka-buka halamannya, berharap mendapatkan petunjuk.

“Bagaimana kutahu kau seorang laki-laki?”

“Aku bisa buktikan …”

Oma tertawa hingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapih. Dia tampak yakin orang itu adalah Tom Love.

“Tom bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam membaca buku. Ia seperti ingin melahap semua buku di sini.”

“Kapan terakhir kali Tom Love ke tempat ini?”

“Hmm, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Tom kira-kira seusia denganmu.”

Aku jadi teringat pada peristiwa dua puluh tahun lalu ketika seorang seorang anak laki-laki yang duduk di bawah tangga menangkap basah diriku sedang mencuri sebuah komik. Ia berkata padaku: “Kenapa kau tidak duduk di sini bersamaku dan kita membaca bersama? Oma tidak akan keberatan.”

Tapi aku tidak menjawab. Yang kupikirkan saat itu hanya meninggalkan tempat itu secepatnya.

“Baiklah. Aku tidak akan memberitahu Oma dan ini akan menjadi rahasia kita berdua.” Ia bangkit dan melangkah mendekatiku. “Kamu nggak banyak ngomong ya?”

“Aku tidak mencuri,” jawabku. “Aku akan mengembalikannya setelah selesai membacanya.”

“Kamu boleh simpan buku itu. Aku yang akan membayarnya.”

“Terima kasih.”

“Siapa namamu?”

“Ali.”

“Aku Denis.”

Mungkinkah Denis itu Tom Love?

“Tom sering duduk disana,” Oma berkata, menunjuk sebuah tempat di bawah tangga. “Ia anak yang baik, sering membantuku disini.”

“Denis?”

Oma tersenyum.

“Kurasa aku harus pergi.”

“Maafkan aku tidak bisa membantumu banyak. Tom sangat berarti bagi orang-orang.”

“Tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih.”

Aku baru akan membuka pintu ketika Oma memanggilku.

“Nak?”

“Ya?”

“Kau mau Batman edisi 1979? Kau tentunya tidak akan melewatkan yang ini.”

Aku tersenyum dalam hati tanpa berprasangka bahwa Denis pernah melaporkanku pada Oma.

“Itu buku yang sangat langka. Simpan saja Oma. Aku akan kembali kapan-kapan.”

*

Tampaknya aku terjebak dalam situasi yang cukup membingungkan. Kalau benar Denis itu Tom Love, seharusnya aku mencaritahu saja tentang Denis dan bisa bertanya pada Oma. Tapi entah kenapa aku tidak berani menanyakannya. Mungkin karena Oma tahu aku pernah mencuri di tokonya. Sekarang, Denis sama misteriusnya dengan Tom Love. Bersamaan dengan itu banyak pertanyaan yang muncul, seperti kenapa Oma tidak memanggilnya dengan nama Denis? Kalau Tom Love masih tidak ingin jati dirinya diketahui, kenapa ia membiarkan Oma mengenalinya? Ada rahasia apa di antara mereka?

Pencarian ini benar-benar menguras seluruh energi dan memakan fisikku; mataku memerah, kantung mataku dobel, dua kali aku kena vertigo. Aku lelah. Bisakah kali ini aku mengizinkan diriku untuk beristirahat, menghibur diri dengan membaca buku sebelum benar-benar tertidur.

Aku terbangun menjelang tengah malam dan menemukan sebuah pesan misterius di email.

Dear Pak Ali,

Aku mengirim ini supaya kau tidak bersusah-susah lagi mencari tahu siapa sebenarnya Tom Love. Aku akan memberitahumu sebuah rahasia penting.

Semuanya berawal dari sebuah undangan misterius Tom Love yang mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe di Jakarta. Tom sepertinya sangat memercayaiku dengan membuka rahasia hidupnya dan memintaku untuk menuliskannya. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak akan melewatkan satu kata pun. Kisahnya sangat menarik namun sekaligus menyedihkan karena harus berakhir dengan kesimpulan yang aneh.

Aku sadar bahwa kegiatan tulis-menulis ini memerlukan intelektualitas yang cukup tinggi supaya bisa menghasilkan karya besar. Akhirnya, meski kuanggap hasilnya cukup lumayan untuk seorang penulis pemula, aku mendapat kritikan hebat dari Tom Love. Gaya bahasa payah, pemilihan kata amatir dan tidak ada irama! Meski demikian Tom tidak pernah menyalahkanku. Itu karena aku tidak menjalani kehidupannya, dan lagi pula butuh kerja keras ekstra untuk membayangkan pengalamannya.

Kautahu, Tom memang sengaja menyembunyikan jati dirinya supaya tidak ada yang memujanya seperti boyband Korea. Tapi sebenarnya Tom Love ada di dekat kita …

Lusa, temui aku di ITB jika kau ingin mendengarkan kisah lengkapnya.

Salam,

DM

Awalnya aku tidak bisa langsung memercayai isi email tersebut. Tentu saja. Mengapa Tom Love tidak menulis sendiri kisah cintanya? Terlalu berisiko, bukan? Tapi aku tidak ingin pikiranku berputar-putar di satu tempat dan berspekulasi kecuali memastikan kebenarannya dan menyelidiki siapa pria dibalik inisial DM.

Singkatnya, tidak terlalu sulit menemukan seorang Profesor berinisial DM di jurusan Matematika ITB. Aku cukup bertanya pada seorang mahasiswa matematika bernama Asep yang kemudian menunjukkanku meja favorit sang profesor di Kantin Salman.

“Seperti ada tulisan SUDAH DIPESAN tidak kelihatan di mejanya,” Asep berkata, setelah mengatakan itu dia meninggalkanku untuk bergabung bersama teman-temannya.

Ruangan Kantin Salman cukup besar dan nyaman. Lantainya bersih bermotif kotak-kotak. Aku melihat-lihat etalase makanan dengan hidangan prasmanan yang bervariasi. Aku baru memesan secangkir kopi ketika kulihat seorang pria datang ke meja SUDAH DIPESAN tidak kelihatan. Ia tidak terkejut dengan kehadiranku, wajahnya ramah dan bersahabat.

Prof. DM, jika kuberitahu nama sebenarnya maka kau akan menganggap namanya aneh. Setelah menyantap sayur asem nan lezat, ia menceritakan tentang dirinya serta pengalamannya bertemu Tom Love.

Seperti inilah kisahnya.

*

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar