man sitting on wooden panel facing in the ocean

Kapan Nikah?

Aku terkejut saat mendengar Herman meminjam uang padaku, karena setahuku ia orang kaya. Ia punya perusahaan sendiri, empat mobil mewah, tinggal di perumahan elit, dua anak yang bersekolah di sekolah swasta terkenal. Sedangkan aku hanya buruh kontrak di sebuah pabrik di Cikarang. Herman bilang uang pinjaman itu nantinya akan dipakai buat ongkos ke Surabaya untuk menagih faktur jatuh tempo yang jumlahnya tujuh puluh juta rupiah. Ia akan membayar hutangnya begitu sudah mendapatkannya Rabu depan. Aku tidak bilang tidak atau meng-iya-kan, kecuali bilang: “Nanti kukabari.”

Esok paginya aku baru mengabarinya, dan men-transfer tiga juta rupiah siangnya. Setelah memastikan uangnya masuk, ia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan membayarnya begitu selesai urusan di Surabaya. Ia juga memberitahu akan main ke rumahku hari Sabtu, karena kebetulan ia ada urusan di Bekasi. “Datang saja,” kataku, “aku tidak kemana-mana. Nanti kukirim alamatnya.”

Hari Sabtu itu lusanya, janjinya ia akan datang jam 10.00 pagi. Aku sudah siapkan jamuan untuknya, istriku masak pisang goreng sebelum pergi ke rumah adiknya bersama dua anakku. Tapi Herman baru datang jam 10.40. Naik sepeda motor. Ia mengeluh tentang jalur Kali Malang yang macet dan menyalahkan google maps karena membawanya nyasar sampai ke Bulak Kapal.

Ia sangat berubah sejak terakhir kali kami bertemu lima tahun lalu. Jenggot dan kumisnya dibiarkan tumbuh, kepalanya sedikit botak di bagian atas belakang dan ditumbuhi uban. Namun, Herman masih seperti yang dulu dengan wangi parfum dan sepatu kets mahalnya. Aku menyuguhkannya pisang goreng, teh manis, dan air mineral. Ia mengambil air mineral, lalu menghabiskannya. Ia mengeluhkan bisnisnya yang seret, empat mobilnya yang sudah dijual untuk bayar hutang ke pemasok dan gaji karyawan, dan masalah dengan istrinya. Istrinya terus mengomel karena tidak bisa berpergian dengan mobil. Karena tidak bisa menggaji lagi pembantu, ia dan istrinya berbagi tugas di rumah. Istrinya mengeluh cuciannya yang banyak, masakannya yang tidak enak, dan lain sebagainya. “Rasanya kepengen cerai saja,” kata Herman, yang kemudian menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa ia punya beberapa tagihan sebanyak tiga ratus juta rupiah. Aku membayangkan apa yang bisa kulakukan dengan tiga ratus juta. Buka warteg mungkin?

“Jadi,” katanya, mengalihkan pembicaraan, “bagaimana kabarmu? Kabar teman-teman kita?”

“Rijal kuajak ke mari. Sebentar lagi datang.”

“Apa kabarnya Rijal? Sudah nikah?”

“Belum.”

“Ah, sayang sekali. Kasihan teman kita.”

Yang dibicarakan datang tepat jam sebelas. Naik sepeda. Karena sudah biasa datang ke rumahku ia tidak perlu diberitahu lagi tempat parkirnya—di dalam teras mepet ke pagar. Ia selalu pakai pakaian yang sama; kaos hitam, celana coklat, dan topi hitam. Bersepeda rupanya membuatnya terlihat lebih muda. Perutnya rata, rambutnya hanya sedikit beruban, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda usianya hampir empat puluh, genggaman tangannya kuat saat bersalaman.

Di antara kami, Rijal memang yang lebih banyak tahu kabar teman-teman SMA kami. Ia juga yang lebih sering bertemu mereka. “Desi sekarang punya usaha katering,” katanya. Desi dulunya ketua kelas kami. “Dia sudah cerai,” tambahnya. “Anaknya dua, semuanya ikut dia.” Kemudian ia memberitahu kabar beberapa teman kami yang lain. “Beni di-PHK.” Aku tahu kabar itu karena Beni pernah pinjam duit padaku. “Sekarang ia dan istrinya jualan nasi uduk Betawi. Ramai yang beli. Aku pernah makan sekali di sana. Jengkolnya enak.” Lalu ia melanjutkan cerita teman kami yang lain. “Puji baru saja melahirkan. Anaknya perempuan. Sekarang dia punya tiga anak perempuan. Nama depan semuanya dari huruf P. Preti, Prita, dan Putri.” Meskipun sering bertemu teman-teman kami, Rijal sama sepertiku yang baru kali ini bertemu Herman. Herman memang sulit ditemui, ia selalu sibuk dengan bisnisnya. Apalagi rumahnya lumayan jauh, di Pasar Minggu.

Ia mengusulkan untuk diadakan reuni kecil-kecilan di bulan Juli. Aku sih setuju saja, namun Herman mengatakan ia harus lihat jadwal dulu yang kemungkinan padat pada saat itu, karena di tanggal yang belum ditentukan di bulan Juli ia semestinya pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Di bulan Juli juga ia ada meeting dengan calon klien. Ia berharap bisa buka cabang baru tahun ini, katanya, supaya distribusinya mudah. Ia terpikir untuk buka kafe, supaya teman-teman kami yang masih menganggur bisa kerja di kafenya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menyinggung perusahaannya yang katanya hampir bangkrut, empat mobilnya yang dijual untuk bayar gaji karyawan, atau pinjaman uangnya padaku. Aku bisa memaklumi kalau ia ingin terlihat baik-baik saja di depan Rijal.

“Jadi kawan, kapan kau nikah?” tanya Herman kepada Rijal. “Keburu kiamat, Jal.”

Pertanyaan itu sepertinya mengusik Rijal yang sedang menikmati pisang gorengnya. Rijal sudah berusia 39 tahun dan jadi satu-satunya di antara kami yang belum menikah. Pertanyaan serupa pernah diajukan teman kami yang lain di grup WhatsApp, tapi Rijal memilih menjawab: Insha Allah. Doakan saja. Aku tahu pertanyaan itu sebetulnya membuatnya tidak nyaman karena ia pernah mengatakannya padaku. Ia bilang, “Masalahnya di mana?” Aku pun heran, kenapa mereka mempermasalahkan teman yang belum menikah, apalagi setahuku Rijal tidak pernah mempermasalahkan masalah orang lain. Lalu, apa hubungannya kiamat dengan orang belum menikah?

Rijal menghabiskan pisang goreng dan minumannya, ia lalu berdiri, dan pamit kepada kami. Aku bisa melihat wajahnya yang kecewa.

“Kemana, Jal?” tanyaku.

“Balik. Aku ada urusan.”

Aku mengantar Rijal keluar rumah sementara Herman lebih memilih menunggu di ruang tamu. Begitu kembali kulihat Herman sedang memainkan ponselnya, seakan-akan ia tidak merasa bersalah.

“Seharusnya kau tidak usah tanya Rijal kapan nikah.”

“Kenapa? Anggap saja aku bercanda.”

“Bagaimana harus dianggap bercanda sementara kau tidak tahu masalahnya. Rijal masih punya tanggungan di rumah. Ia yang beli semua kebutuhan di rumahnya. Ia juga yang membayar uang kuliah adiknya.”

“Mana kutahu?”

“Jadi, masih mau dianggap bercanda?”

“Harusnya tinggal dijawab saja pertanyaanku. Apa susahnya sih?”

“Ia sudah menjawab. Dengan tidak menjawab.”

“Tapi nikah itu kan sunnah rasul.”

“Kaubilang sunnah, tapi kau melupakan yang wajib.”

“Apa?”

“Jaga mulut.”

“Jadi kau bela Rijal?”

“Iya! Karena ia yang meminjamkan uangnya padamu!”

**

Ali
Ali

Pria tampan nan ganteng ini tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.