Momentum John Grisham

Novel itu pun akhirnya mendapatkan momentumnya.

Maaf, saya baru baca 3 buku karya John Grisham. Itu pun sudah lama sekali. Kalau filmnya hampir semuanya saya tonton. Menurut saya, dua filmnya yang paling bagus itu Runaway Jury dan A Time To Kill.

Tapi cerita karir John Grisham sampai jadi penulis tidak kalah menarik dari novel atau filmnya. Seperti halnya kebanyakan cerita sukses orang-orang yang pernah salah jurusan, John awalnya ingin jadi pemain bisbol profesional. Itu cita-cita masa kecilnya. Impiannya hampir terwujud saat ia main di liga mahasiswa di Mississipi. Bisbol di Amerika memang olahraga populer, tapi John lebih memilih fokus pada akuntansi buat persiapannya sebagai pengacara pajak.

Seperti halnya bisbol, di tengah jalan John mengubah jurusan jadi Hukum Pengadilan, yang akhirnya lulus juga. Setelah lulus dari University of Mississipi Law School, John bekerja untuk sebuah firma di Southaven sebagai pembela untuk kasus-kasus kriminal kecil dan kecelakaan. Ia bekerja selama satu dekade sebelum terpilih menjadi anggota DPR pada tahun 1983, hingga berakhir masa jabatannya di tahun 1990.

Karir menulisnya dimulai dari keprihatinannya mendampingi klien yang tidak punya uang. A Time To Kill pun ditulis berdasarkan pengalamannya selama menjalani sidang kasus pemerkosaan anak 12 tahun. Ia membayangkan, apa yang terjadi seandainya orang tua korban membunuh sang pelaku. Dalam A Time To Kill, korban pemerkosaan merupakan gadis kulit hitam. Sang pengacara, Jake Tyler Brigance, selain menghadapi rumitnya pengadilan, juga harus menghadapi serangan dari kelompok Ku Klux Klan.

A Time To Kill

John harus meluangkan waktu 60-80 jam setiap pekan untuk menulis A Time To Kill, yang dimulai sekitar jam 5 pagi lalu berhenti satu jam sebelum berangkat kerja. Novel tersebut selesai pada tahun 1987 setelah melewati 3 pekan yang melelahkan. Tapi tantangannya tidak berhenti sampai di situ. John Grisham, seperti kebanyakan awal karir penulis terkenal lainnya, mendapat lusinan penolakan dari penerbit. Hingga akhirnya ia bertemu Bill Thompson, seorang editor yang pernah menemukan bakat Stephen King. John menerima 15rb dolar untuk 5000 kopi novelnya.

Ternyata 5000 kopi tidak cukup. John membeli 1000 kopi bukunya untuk dijualnya sendiri supaya bisa menaikkan ratingnya. Tapi usahanya tidak berhasil. Barulah, di novel keduanya ia mendapatkan momentum. The Firm yang terbit di tahun 1991 masuk ke dalam jajaran buku best seller. Tahun 1993, Paramount Pictures membeli hak ciptanya sejumlah 600rb dolar untuk diadaptasi kedalam film. Tampaknya The Firm juga yang mengangkat novel pertama John Grisham. Novel itu pun akhirnya mendapatkan momentumnya. A Time To Kill difilmkan tahun 1996.

* *

Default image
Ali
Pria tampan nan ganteng ini (masih) tinggal di Bekasi

Komentar